
Dua hari berlalu Zea selalu bolak balik rumah sakit dan rumah untuj mengurus anak-anak nya ia bahkan tidak sempat mencari pembantu baru menggantikan bi Ani. Pagi ini Zea baru ke rumah sakit setelah mengantar ketiga nya ke sekolah ia sendiri yang mengantar membawa mobil karna pak Udin sakit.
"Selamat pagi"sapa Zea masuk ke dalam dengan membawa makanan.
"Kemana lagi papa mu Vin"tanya Zea tak menemukan siapa pun di dalam kecuali Kevin.
"Aku tidak tau"jawab Kevin.
"Bunda akan buka perbannya sekarang jadi duduk lah"ujar Zea mengambil gunting.
"Apa aku benar-benar tidak buta"tanya Kevin.
"Tentu saja"jawab Zea mulai membuka perban di kepala Kevin pelan-pelan.
"Jangan buka mata mu dulu ikuti intruksi dari bunda"ucap Zea.
Setelah perban itu terbuka ia meletak kan gunting dan perban tersebut.
"Sekarang buka mata mu pelan-pelan saja"perintah Zea di angguki Kevin membuka mata nya perlahan.
"Apa terasa sakit atau tidak nyaman"tanya Zea saat Kevin mulai membuka mata nya.
"Tidak ada"jawab Kevin setelah mata nya benar-benar terbuka.
"Syukurlah jika nanti terasa perih teteskan obat ini"ucap Zea meletak kan obat tetes di samping Kevin.
"Ayo makan dulu bunda harus segera bekerja juga"ujar Zea membuka kotak makan yang ia bawa dan meletak kan nya di pangkuan Kevin.
Kevin mengangguk mulai makan dengan diam sambil memperhatikan Zea yang sibuk mengeluarkan beberapa kotak makanan lain dari tas yang ia bawa dan meletak kan nya di atas meja. Saat baru saja selesai ponsel nya berbunyi nyaring membuat ia menghela nafas kasar.
"Kenapa Lex?"tanya Zea saat melihat Alex yang menelpon nya.
"Bunda bisa ke sekola?"tanya Alex.
"Ada apa?"tanya Zea.
"Kenan berkelahi bun dan guru mengatakan harus memanggil orang tua dia sudah menelpon papa nya tapi tidak masuk makanya aku telpon bunda"jelas Alex.
"Bagaimana keadaan nya apa terluka"tanya Zea.
"Sedikit bun"jawab Alex.
"Kau tidak ikut bukan"tanya Zea.
"Anak mu ini anak baik-baik bunda mana mungkin aku ikut"protes Alex.
"Bunda kan hanya bertanya, Sebentar lagi bunda akan ke sana"ucap Zea.
"Cepat ya bun kami tunggu"ucap Alex.
"Iya"jawab Zea mamatikan sambungan telpon nya.
__ADS_1
"Kau tidak papa di tinggal di sini dulu"tanya Zea menatap Kevin yang masih makan.
"Tidak papa"jawab Kevin.
"Kalau butuh sesuatu panggil suster saja"ucap Zea di angguki Kevin.
Zea pun mengambil tas nya segera keluar dari sana dengan cepat agar ke sekolah mengurus semua nya karna ia juga harus bekerja juga. Rasa nya stok kesabaran nya menitip di buat Bara yang seenak nya saja.
Tiba di sekolah Zea melihat Alex sudah menunggu nya di pagar dengan cepat ia menghampiri anak itu.
"Kenapa tidak masuk kelas"tanya Zea.
"Kami sedang kosong bun"jawab Alex.
"Dimana ruangan nya"tanya Zea.
"Alex antar bunda saja"jawab Alex di angguki Zea mengikuti langkah Alex menuju ruang guru.
"Permisi"ucap Zea membuka pintu.
"Masuk bu"ucap salah satu guru melihat Zea.
"Terimakasih"ucap Zea masuk ke dalam.
"Ibu wali dari murid yang mana"tanya guru tersebut pada Zea.
"Saya ibu nya Kenan"jawab Zea di angguki guru tersebut.
"Apa benar Kenan"tanya Zea menatap Kenan.
"Saya juga sudah menanyakan apa yang membuat mereka hingga berkelahi tapi Kenan tetap diam saja"jawab guru itu.
"Maafkan anak saya bu"ucap Zea.
"Sebagai hukuman nya anak ibu akan kami skor selama seminggu"ucap guru tersebut.
"Baik bu"jawab Zea.
"Kalau begitu kami permisi dulu bu"sambung Zea karna ia harus segera ke rumah sakit.
"Silahkan bu"jawab guru tersebut.
Zea keluar dari ruangan tersebut begitu juga dengan Kenan yang ikut dari belakang.
"Ambil tas mu bunda tunggu di klik bunda melihat anak itu dulu"ucap Zea saat mereka berada di luar.
Tanpa menjawab Kenan segera berjalan menuju kelas nya begitu juga dengan Zea yang berjalan ke klinik.
"Permisi"ucap Zea pada mereka membuat mereka menoleh karna pintu terbuka lebar.
"Silahkan masuk bu"ucap dokter di sana.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan nya"tanya Zea menatap anak tersebut.
"Hanya memar di beberapa bagian bu tidak ada yang begitu serius"jawab dokter itu di angguki Zea.
"Maafkan anak tante ya"ucap Zea menatap anak tersebut.
"Bukan salah nya juga sepenuh nya"ucap anak itu.
"Baiklah semoga cepat sembuh,tante pamit dulu"ucap Zea di angguki anak itu.
Zea pun keluar dari sana dan melihat Kenan sudah berjalan ke arah nya.
"Lex bunda pulang dulu nanti pulang sekolah langsung ke rumah"ucap Zea pada Alex.
"Baik bun"jawab Alex.
"Ayo pulang"ajak Zea pada Kenan melangkah kan kaki nya keluar dari sekolah menuju mobil,Zea pun melajukan mobil nya ke rumah sakit.
"Kenapa bisa kau berkelahi dengan kakak kelas mu"tanya Zea sambil fokus menyetir.
"Urusan anak laki-laki"jawab Kenan.
"Kau ini sudah remaja sudah tau mana baik dan buruk bukan jadi jangan bertingkah seperti anak kecil lagi"ucap Zea.
"Aku tidak menyuruh mu untuk datang ke sekolah ku untuk mengurus ku"ketus Kenan.
Zea tak menjawab lagi memilih diam karna jika ia menjawab pasti akan emosi di buat nya. Tiba di rumah sakit kedua nya turun dari dalam mobil masuk ke dalam menuju ruangan Kevin.
"Kenapa kau cepat pulang"tanya Kevin menatap Kenan heran.
"Dia berkelahi dengan kakak kelas nya dan mendapat skor seminggu"jawab Zea mengambil berkas yang tinggal.
"Bunda kerja dulu kalian baik-baik di sini"ucap Zea lagi segera keluar dari sana.
"Papa tidak datang ke sini"tanya Kenan saat Zea sudah menutup pintu.
"Tidak"jawab Kevin.
"Kenapa bisa dia tau jika kau berkelahi di sekolah"tanya Kevin.
"Pihak sekolah menelpon papa tapi tidak aktif aku pun menelpon nya sama saja kebetulan Alex tidak masuk jadi dia menelpon nya"jawab Kenan.
"Dia datang ke sekolah"tanya Kevin di angguki Kenan.
"Bi Ani sudah tidak bekerja lagi di rumah"ucap Kenan.
"Aku tau"jawab Kevin.
"Kalau belum ada pengganti bi Ani kita bagaimana"tanya Kenan.
"Tanyakan saja pada papa bagaimana"jawab Kevin membuat Kenan terdiam mendengar nya.
__ADS_1