Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 10 - Sentuhan Berondong


__ADS_3

...༻❂༺...


Megan mengembangkan senyuman tipis. Lalu menepuk salah satu pipi Kevin dua kali. "Maafkan aku, Boy. Aku tidak akan tergoda meskipun kau sangat tampan. Aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku akhir-akhir ini," ungkap Megan.


"Apa maksudmu? Apa kau tidak tertarik kepadaku?" tanya Kevin, memastikan.


"Mungkin." Megan menjawab jujur. Sebab memang begitulah kenyataan yang dia rasakan.


"Kau tidak tertarik kepada Kevin Winters? Aktor muda yang telah meraih nominasi Oscar?" Kevin terperangah tak percaya. Bola matanya memutar sebal. Dia heran kenapa pria tampan dan super populer sepertinya bisa membuat Megan tidak tertarik.


"Itu hanya nominasi bukan?" komentar Megan meragu.


"Ya, tetapi tidak banyak aktor bisa meraih penghargaan besar itu. Aku diberi uang yang banyak walau hanya meraih nominasi." Kevin mengulurkan dua tangan ke depan.


"Ah, begitu. Maaf aku tidak tahu karena tidak pernah mendatangi acara seperti itu," tanggap Megan.


"Bisakah kita kembali ke topik sebelumnya? Aku akan langsung ke intinya saja. Aku ingin kau membayar apa yang telah terjadi di klub malam. Kau mengerti maksudku bukan?" ujar Kevin. Menyilangkan tangan di depan dada.


"Aku mengerti. Tetapi aku tidak menjamin akan menyukai permainanmu. Gairahku agak mati dalam beberapa bulan terakhir. Kau kemungkinan bisa merasa terhina lagi." Megan menyahut sembari meraih gelas berisi minuman segar.


Kevin menyunggingkan mulut ke kanan. Ia merasa percaya diri dalam hal menaklukkan Megan. Keheningan terjadi dalam beberapa saat. Hingga akhirnya Megan berdiri sambil mengenakan setelan kimono.


"Ayo kita lakukan!" seru Megan. Menyebabkan mata Kevin membulat sempurna.


"Sekarang?" meski terkejut, Kevin tidak bisa menyembunyikan ekspresi girang di semburat wajahnya.


Megan berjalan lebih dahulu. Barulah Kevin mengikuti. Namun langkah Kevin harus terhenti, tatkala ada gerombolan gadis yang menghampiri. Mereka ingin meminta tanda tangan sekaligus berfoto.


Para gadis yang mengelilingi Kevin tampak tidak berhenti tersenyum. Mereka juga menatap kagum ke arah sosok aktor pujaan. Akibat ulah mereka, beberapa orang lain juga tertarik untuk mendekat. Kegiatan jumpa fans tak disangka terjadi begitu saja.


Megan menghentikan pergerakan kakinya. Terutama ketika dia baru tersadar kalau Kevin tiba-tiba sibuk. Megan menoleh dan menghela nafas panjang. Ia terpaksa duduk bergabung bersama Ethan. Segelas cocktail langsung disuguhkan bartender untuknya.


"Kau mau mengajak Kevin kemana?" tanya Ethan. Menatap Megan melalui sudut matanya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Megan membalas tak acuh.


"Urusanku, karena ini adalah rencanaku." Ethan bicara dengan nada berbisik.


"Apa perlu aku mengajakmu ikut ke kamar?" secara tidak langsung, Megan memberitahukan apa yang akan dilakukannya bersama Kevin.


Ethan melantunkan siulan menggoda. Dia paham dengan apa yang dimaksud Megan. "Kau akan menghabiskan waktu dengan aktor terkenal, Megan. Tidak banyak perempuan yang bisa merasakannya," komentar Ethan.


"Apa kau menganggapku sebagai wanita jala*ng?" balas Megan sinis. Ia tersinggung dengan pernyataan Ethan.


Ethan menganga lebar. Dia tidak menyangka Megan justru marah dengan perkataannya barusan. Padahal Ethan hanya berniat memberi semangat.


"Kenapa kau marah?! Apa kau sedang dalam masa menopause?" tukas Ethan.


Megan yang mendengar segera melayangkan cap lima jari ke mulut Ethan. Dia tidak terima dirinya disebut sudah menopause.


"Ouch!" Ethan sontak memegangi mulutnya yang terasa pedas akibat geplakan Megan. Dia hanya geleng-geleng kepala. Ethan memutuskan menutup mulut dari pada dirinya harus mendapat tamparan bertubi.


Megan terdiam sejenak. Dia mendadak memikirkan ucapan Ethan. Jika dipikir-pikir, sepertinya Ethan ada benarnya. Megan merasa khawatir kalau dirinya mengalami menopause. Karena akhir-akhir ini dia merasa tidak menikmati sepercik gairah dalam bercinta.


"Bisakah kalian pergi?! Aku ke sini untuk berlibur, dan bukannya meladeni kalian. Ada waktu khusus untuk melakukan ini!" suara pekikan Kevin terdengar lantang. Dia memarahi orang-orang yang berniat meminta foto.


Suara derap langkah dari dua pengawal Kevin berdatangan. Mereka tidak sendiri, ada pihak keamanan hotel yang membantu. Mereka mencoba menjauhkan orang-orang yang mengerumuni Kevin. Dalam sekejap, Kevin dapat melanjutkan pergerakannya. Dia melenggang tanpa menoleh kepada sekumpulan penggemar setianya.


Bukannya Kevin tidak menghargai penggemar. Dia hanya tidak suka momen pribadinya diganggu. Menurutnya, seorang penggemar harusnya tahu dimana tempat yang tepat untuk meminta foto dan tanda tangan.


"Ayo, Megan. Kita pergi!" ajak Kevin yang sudah berdiri di sebelah Megan. Dia segera menoleh ke arah Ethan yang posisinya tidak terlalu jauh.


"Aku boleh membawa adik perempuanmu bukan?" tanya Kevin. Meminta izin kepada Ethan. Dia benar-benar sudah beranggapan bahwa Ethan adalah kakak lelaki dari Megan.


"Sudahlah! Kenapa kau meminta izin kepada si bodoh itu. Dia tidak akan peduli dengan apa yang kita lakukan," ucap Megan seraya menarik tangan Kevin untuk ikut bersamanya.


"Megan! Begitukah sikapmu kepada Kakakmu?!" protes Ethan. Dia marah karena disebut bodoh oleh Megan. Sebuah kursi yang ada di sebelahnya, harus menjadi korban tendangan amarah Ethan.

__ADS_1


Megan sengaja tidak menanggapi Ethan. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan misi. Walau baru beberapa jam bersama Ethan, rasanya Megan sudah lelah.


"Kau tidak akan memukuliku lagi bukan?" tanya Kevin, saat Megan perlahan melepas pergelangan tangannya.


"Tidak. Kau ingin aku membayar bukan?" Megan membalas sambil menoleh ke belakang. Tepat dimana Kevin berada.


"Kita ke kamarku saja." Kevin meraih tangan Megan. Dia bergegas membawa Megan masuk ke dalam lift. Mereka langsung pergi ke kamar Kevin.


...***...


Bruk!


Kala sudah masuk ke dalam kamar, Kevin langsung membanting pintu. Lalu berdalih melepas setelan kimono Megan. Tanpa sepatah kata, dia menyambar mulut Megan dengan ganas.


Megan terpaksa ikut bermain. Dia membiarkan Kevin mengulum bibirnya lebih dalam. Salah satu tangan lelaki muda itu bahkan mulai mencengkeram bokong. Sedangkan tangan yang lainnya sibuk menggenggam buah dada Megan.


Deru nafas Kevin yang memburu, menghantam kulit Megan. Memberikan rasa panas yang membara. Namun hal tersebut tidak memunculkan gairah untuk Megan.


Mata Megan hanya mendelik tidak karuan. Dia berusaha mendalami sentuhan dari Kevin. Akan tetapi dirinya sama sekali tidak memiliki semangat untuk bercinta. Megan merespon biasa saja seolah tidak merasakan apa-apa. Melenguh pun tidak.


Merasa ada yang aneh, Kevin lantas menghentikan cumbuannya. Gairahnya tertahan karena sikap Megan yang dingin.


"Kau kenapa tidak mendesa*h? Kau membiarkanku bermain sendirian." Kevin melakukan protes. Keningnya mengerut heran.


"Aku sudah bilang kepadamu sejak awal. Kalau beberapa bulan terakhir, aku tidak bergairah lagi dalam berhubungan intim." Megan bicara sambil berjalan mendekat ke arah kasur.


Kevin menyusul Megan. Dia memaksa Megan telentang di kasur. Kemudian melepas kain yang tersisa di tubuh Megan. Kini Megan dalam keadaan telanjang bulat. Menatap datar Kevin yang sibuk menanggalkan kemeja.


"Kalau begitu, biarkan aku mencoba memunculkan sepercik api dalam dirimu." Kevin bicara dengan nada sensual. Dia memposisikan diri berada di atas badan Megan. Membelenggu dengan dua kaki dan tangannya.


Kevin sudah menelan ludahnya berkali-kali. Tubuh Megan benar-benar menggoda. Putih bersih serta dihiasi dengan warna merah muda di beberapa titik tertentu. Belum lagi buah dadanya yang berukuran cukup besar.


Catatan kaki :

__ADS_1


Menopause : Kondisi berakhirnya siklus menstruasi. Biasanya, ini terjadi ketika Anda tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan.


__ADS_2