Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 27 - Hypnotyze Man


__ADS_3

...༻❂༺...


Ethan terus mengajak Richy mengobrol. Dia juga mengutarakan segala hal yang diperlukan. Terutama berkaitan dengan misi pembangunan organisasi mafianya.


Awalnya Richy terlihat ragu. Pria itu berpikir cukup lama dan berakhir setuju untuk bekerjasama. Namun Richy menginginkan bayaran yang pantas.


"Kau tidak perlu khawatir mengenai masalah uang. Lakukan saja pekerjaanmu. Bersiap-siaplah untuk kembali ke perusahaan The New Life Technology lusa nanti," ujar Ethan. Lalu menyesap gelas berisi bir.


"Kembali ke perusahaan? Kau yakin?" Richy mengerutkan dahi heran.


"Percayalah kepadaku. Besok perusahaan itu akan dikelola olehku." Ethan mencoba meyakinkan. Sekali lagi dia menggunakan keahlian hipnotisnya. Dengan satu sentuhan di lengan, Richy langsung percaya. Ethan juga tidak lupa untuk memberikan sugesti berupa ketakutan dan rasa hormat. Apalagi ketika Richy mencoba menatap matanya.


"Tidak apa-apa bukan, jika aku terlambat membayarmu?" tanya Ethan. Menatap tajam manik abu-abu milik Richy.


"Te-tentu saja. Itu tidak masalah." Seolah telah menjadi seorang budak. Richy terus saja mengiyakan segala hal yang di inginkan Ethan.


"Hah... beginilah seorang penjahat jenius melakukan pekerjaannya," gumam Ethan. Menyandarkan punggung sambil merentangkan tangan. Dia merasa bangga kepada dirinya sendiri.


Ethan berpikir sebentar. Matanya memejam rapat. Mengabaikan pertanyaan Richy yang sedari tadi ingin bertamitan untuk pulang. Ketika menemukan sesuatu dalam pikirannya, barulah Ethan membuka lebar matanya.


"Richy, apa kau punya nomor telepon Thomas?" tanya Ethan.


"Ya, aku akan memberikannya kepadamu. Kau mau apa?" Richy berbalas tanya.


"Lebih baik kau fokus saja pada tugasmu, selagi aku menyiapkan semua fasilitas untuk penelitianmu. Dan jangan lupa, cari satu atau dua rekan yang dapat kau percaya. Aku tahu kau tidak akan bisa bekerja sendiri!" ucap Ethan.


"Kau tidak perlu cemas. Aku justru senang bisa bekerja sendiri," sahut Richy. Melambaikan tangannya ke depan wajah. Ia merasa percaya diri dengan keahliannya.


Ethan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Kini dia fokus untuk melakukan rencana selanjutnya. Yaitu menemui Thomas secara empat mata.


...***...


Keesokan harinya, Ethan segera menghubungi Thomas. Dia memberikan iming-iming untuk membantu Thomas menyelesaikan permasalahan perusahaan. Akan tetapi Thomas tidak bersedia menemui Ethan. Sekarang Ethan tidak punya pilihan selain mencari Thomas.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" tanya Megan. Dia dan Ethan berada di rumah Clara. Kebetulan Megan berhasil memergoki Ethan hendak keluar dari rumah.


"Aku akan mengurus Thomas." Kali ini Ethan memberitahukan tujuannya.


"Aku ikut! Sepertinya menyenangkan. Kau pasti berharap aku ikut bukan?" Megan tampak bersiap-siap untuk pergi.


"Tidak juga." Ethan menatap malas Megan.


"Jujur saja, alasanmu ikut denganku karena kau sedang bosan sekarang. Bukankah begitu?" tebak Ethan. Mengangkat salah satu alisnya.


"Ayo kita berangkat!" ajak Megan. Mengabaikan pernyataan dari Ethan. Sebenarnya Megan hanya malu untuk mengakui. Wanita berambut pirang itu memang tidak bisa membantah kalau dirinya sedang merasa bosan.


Saat tiba di perusahaan milik Kevin, Ethan perlahan menghentikan mobil ke tepi jalan. Dia memutuskan untuk menunggu di situ. Sampai Thomas terlihat keluar dari perusahaan.


"Kita akan menculik atau membunuh?" Megan bertanya sambil melirik Ethan.


"Tidak dua-duanya." Ethan menyahut tenang.


"Apa?! Lalu apa rencanamu?" timpal Megan. Ia agak terperangah dengan sikap santai Ethan. "Dengar, Ethan. Jika kau mau menjadi seorang ketua mafia, maka setidaknya kau harus mampu membuat banyak orang takut kepadamu. Bukannya mengajak mereka mengobrol dan akrab denganmu." Megan memberikan nasehat dadakan.


"Aku hanya tidak mau kau dikhianati lagi seperti saat memimpin The Drugs. Kau bahkan dengan mudahnya bertekuk lutut di depan Ryan." Megan menghela nafas panjang. Mengingat ketika dirinya pertama kali bertemu Ethan.


Dahulu Ethan pernah memiliki organsasi bernama The Drugs. Sebuah kelompok gangster khusus yang hanya mau mengurus transaksi dan kerjasama obat-obatan terlarang. Namun organisasi tersebut luluh lantah akibat adanya pengkhianat. Markas utama milik Ethan hancur karena ledakan bom. Menyebabkan Ethan harus kehilangan semua anak buahnya. Tidak heran, hingga sekarang dia selalu sendirian.


"Aku melakukannya demi bertahan hidup. Ketahuilah, Megan. Aku akan melakukan apapun agar bisa bertahan hidup. Bahkan jika wabah zombie benar-benar ada di dunia." Ethan menjelaskan panjang lebar.


"Apa kau menyindirku?" balas Megan seraya melipat tangan di dada.


"Baguslah kalau kau sadar diri." Ethan tak ingin kalah. Dia langsung mendapat tatapan sebal dari Megan.


Atensi Megan tiba-tiba tertuju ke arah sebuah map di dashboard mobil. Akibat merasa penasaran, dia meraih map berisi berkas buatan Ethan itu.


"Apa ini?" tanya Megan sembari mengamati berkas yang ada di dalam map.

__ADS_1


"Muslihat untuk menipu Kevin." Ethan menjawab singkat.


Megan yang sebenarnya tak mengerti, memilih bungkam. Lagi pula dia tidak pernah mengerti rencana Ethan yang aneh.


Ethan dan Megan menunggu kemunculan Thomas dari mobil. Mereka bersikap seperti detektif yang sedang mencari tersangka. Waktu yang tadinya satu jam berubah menjadi hampir tiga jam.


"Aku menyesal ikut denganmu." Megan turun begitu saja dari mobil. Dia mendapat panggilan alam. Yaitu buang air kecil.


"Aku tidak menyuruhmu ikut." Ethan mengulurkan dua tangannya ke depan.


"Kau tahu, Ethan? Jika kau nanti berhasil menjadi seorang ketua mafia, maka aku jamin kau adalah bos mafia yang paling membosankan di dunia! Bagaimana bisa misi yang kau lakukan selalu dilakukan dengan santai?" Megan meluapkan kekesalannya.


"Apa kau bilang?! Kau merasa bosan dengan hidupmu dan melampiaskannya kepadaku?! Itu tidak adil!" seru Ethan tak terima.


Bruk!


Megan justru merespon dengan cara membanting pintu mobil dengan kuat. Meninggalkan Ethan begitu saja.


Sepuluh menit berlalu. Thomas tak kunjung muncul. Ethan mulai merasa menanti sesuatu hal yang sia-sia. Bahkan ketika Megan sudah kembali, Thomas masih juga tidak kelihatan batang hidungnya. Hari sudah sore, matahari tampak hampir tenggelam ke ufuk barat.


"Apa Thomas belum keluar juga?" tanya Megan. Dia terlihat membawa sebungkus popcorn serta minuman soda.


"Apa kau bercanda? Popcorn?" Ethan geleng-geleng kepala.


"Aku biasanya menikmati popcorn ketika menonton film yang membosankan," ungkap Megan sambil memasukkan popcorn ke dalam mulut.


Ethan yang merasa lapar, malah ikut-ikutan memakan popcorn. Keheningan di dalam mobil dipecah dengan suara kunyahannya dan Megan.


Saat tenggelam dalam kenikmatan popcorn yang berbalut karamel, Thomas akhirnya muncul.


"Ethan! Lihat!" Megan yang menyaksikan lebih dahulu, segera memberitahu.


Tanpa pikir panjang, Ethan segera keluar dari mobil. Kemudian menghampiri Thomas. Megan yang masih ada di mobil, mengamati dari kejauhan. Jujur saja, siapa yang tidak penasaran dengan rencana Ethan?

__ADS_1


"Sial, jangan bilang dia menggunakan jurus hipnotisnya lagi." Megan bergumam sendiri.


Benar saja, Ethan terlihat mengambil jalan lurus dan membiarkan Thomas melewatinya. Ethan sebenarnya menunggu Thomas lengah. Agar sugesti yang dia berikan dapat langsung bekerja.


__ADS_2