Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 29 - Kematian Thomas


__ADS_3

...༻❂༺...


Dahi Ethan mengerut. Menyaksikan Megan berjalan tak tentu arah. "Megan, jalan menuju rooftop bukan ke sana. Tapi di sini," tegurnya sembari menunjuk arah yang benar.


Ethan mencoba menahan tawa. Dia paham betul Megan salah tingkah akibat insiden ciuman tadi. Sebenarnya hal yang sama juga dirasakan Ethan. Namun lelaki itu lebih pandai mengendalikan diri.


Megan sontak berhenti melangkah. Dia memejamkan rapat matanya. Entah kenapa Megan diserang rasa malu bukan kepalang. Alhasil dia tidak punya pilihan selain berbalik dan mengikuti Ethan. Megan berusaha keras menyembunyikan rasa malu dengan kepercayaan dirinya.


Sesampainya di rooftop, Ethan berjalan ke depan dinding pembatas. Lalu duduk di atas dinding tersebut. Ia duduk dalam keadaan kaki yang menjuntai. Sedangkan Megan lebih memilih meletakkan tangan di jarak yang tidak begitu jauh.


"Jadi, apa yang ingin kau perlihatkan?" tanya Megan. Menatap Ethan dengan sudut matanya.


"Tunggulah sebentar lagi. Thomas akan muncul di rooftop." Ethan menunjuk ke arah perusahaan The New Life Technology. "Mungkin dia akan muncul dalam beberapa menit kemudian," lanjutnya.


"Oke." Megan menjawab singkat.


"Mengenai apa yang terjadi di lift. Aku pikir kau menikmatinya. Bukankah begitu?" Ethan bertanya sambil menggerak-gerakkan kaki yang menjuntai ke bawah. Dia duduk di ketinggian sekitar tujuh puluh meter.


"Aku tidak bisa membantahnya," sahut Megan tak acuh.


"Sepertinya makanan yang diberikan Kevin kepadamu cukup berguna," komentar Ethan.


"Aku pikir begitu. Kemarin saat mandi di bath up bersamanya, aku juga cukup merasakan sedikit percikan." Megan mengungkapkan sembari mendengus kasar.


Ethan terkekeh. "Kalau begitu, kau tidak usah lagi bertemu dengan Ryan. Sepertinya perlahan-lahan kau akan kembali menikmati hidupmu. Semuanya terjadi saat aku muncul bukan?" pungkasnya seraya melipat tangan di depan dada.


"Hehh! Berlagak sekali." Megan lekas membuang muka. Sikap menyebalkan Ethan membuatnya ingin muntah.


Dari kejauhan, Thomas terlihat sudah muncul dari rooftop perusahaan The New Life Technology. Dia berjalan dengan tatapan kosong. Thomas terus melangkah lurus. Hingga tibalah dirinya ke dinding pembatas. Sama seperti Ethan, Thomas langsung menaikinya. Dia memilih berdiri dan tidak duduk santai seperti Ethan.


Mantel panjang yang dikenakan Thomas berterbangan kala ditiup angin. Tidak ada ketakutan atau gemetar yang ditampakkan olehnya.


Kini pandangan Ethan dan Megan sama-sama tertuju ke arah Thomas. Cuman mereka tidak merasakan rasa yang serupa. Ethan terkesan santai dan tidak sabar. Sedangkan Megan sibuk menebak apa yang dilakukan Thomas selanjutnya.

__ADS_1


"Tunggu, Ethan. Jangan bilang kau..." belum sempat Megan selesai bicara, Thomas sudah menjatuhkan diri ke bawah. Tepat dari rooftop perusahaan. Tingginya sendiri sekitar kurang lebih delapan puluh meter.


Mata Megan membulat sempurna. Badannya tersentak ketika mendengar tubrukan nyaring. Tubuh Thomas nampak menghantam atap sebuah mobil terlebih dahulu, lalu mengguling jatuh ke aspal.


Ethan bersiul untuk merayakan. Dia sukses memergoki Megan mematung.


"Aku jenius bukan? Kita tidak perlu mengotori tangan dengan susah payah," cetus Ethan. Berseringai puas sambil turun dari dinding pembatas. Dia mengambil posisi berdiri ke sebelah Megan.


Ethan menatap tubuh Thomas yang bersimbah darah di aspal. Kehebohan seketika terjadi. Terlihat sudah banyak orang yang mengerumuni Thomas. Suara sirine ambulan perlahan terdengar.


Megan menghembuskan nafas berat. Kemudian memandangi Ethan. Dia sekarang tidak bisa membantah betapa jeniusnya sosok Ethan. Akan tetapi, Megan sama sekali tidak berminat memberikan pujian.


"Kenapa? Apa aku semakin terlihat menarik bagimu sekarang?" Ethan yang menyadari tatapan Megan, perlahan mengarahkan manik abu-abunya ke sudut mata.


"Tentu saja tidak!" Megan membantah tegas.


"Sayang sekali. Padahal jika kau mengaku tertarik, aku bersedia tidur denganmu malam ini." Ethan menopang kepala dengan satu tangan. Memancarkan senyuman yang terlalu lebar.


Megan melayangkan sebuah tendangan ke betis Ethan. Dia benar-benar tidak tahan dengan sikap Ethan yang over confident.


"Aaaa!" Ethan gemetar sambil berusaha memegang betisnya yang sakit. Matanya segera mendelik ke arah Megan.


"Kenapa? Apa kau mau membalas? Aku akan menerimanya. Kau pikir aku takut?" timpal Megan sembari mengepalkan tinju. Dia siap menantang.


"Baiklah kalau itu maumu!" Ethan melepas mantel panjangnya. Ia tampak meregangkan tangan dan kakinya terlebih dahulu.


"Oke, kita akan bertarung sekarang." Megan ikut menanggalkan jaket. Kebetulan musim telah memasuki musim gugur. Jadi cuaca cukup dingin dan mengikat. Namun itu tidak menjadi penghalang terjadinya pertarungan dadakan Megan dan Ethan.


Megan berlari lebih dulu menghampiri. Dia langsung melayangkan bogem beruntun ke wajah Ethan. Namun Ethan menghindarinya dengan tenang, bahkan dalam keadaan dua tangan yang tersembunyi di balik punggung.


Akibat tinjuannya tidak kunjung kena, Megan kini melemparkan tendangan. Tetapi sekali lagi bidikannya harus melesat.


"Sudah selesai? Kalau begitu giliranku." Ethan melakukan serangan balasan. Dia memukul perut Megan dengan telapak tangan. Ethan melakukannya dengan cepat, sehingga Megan tidak sempat lagi untuk menangkis.

__ADS_1


Megan terhuyung. Saat itulah Ethan mengunci tangannya ke balik punggung. Ethan juga tidak lupa menendang belakang lutut Megan. Dalam sekejap Megan ambruk dan pada akhirnya duduk bersimpuh.


Ethan masih dalam keadaan memegangi dua tangan Megan. Dia mencengkeram begitu erat. Sampai Megan tidak mampu untuk melepaskan.


"Arrrghh!" Megan berusaha keras melepaskan diri. Geramannya yang nyaring, pertanda bahwa dia tengah mengerahkan tenaga maksimal.


"Mulai sekarang. Lebih baik kau jangan pernah meremehkanku lagi. Ingat itu, Pirang!" bisik Ethan sambil melepas kedua tangan Megan.


"Tidak! Aku tidak pernah meremehkanmu. Hanya saja, tidak mempercayaimu!" Megan berbalik badan. Kemudian mendorong dada Ethan dengan satu kakinya. Untuk yang pertama kali, serangan Megan sukses besar.


Bruk!


Ethan otomatis terhempas ke tumpukan barang bekas. Barang-barang tersebut menjadi berhamburan tidak karuan di lantai.


"Sekarang kita impas." Megan tersenyum puas seraya mengibaskan tangan. Seakan baru saja membersihkan sebuah kotoran dari sana.


Ethan perlahan berdiri. Dia melenggang ke hadapan Megan. Keduanya lantas saling bertukar pandang. Bukan tatapan romantis atau pun lembut. Melainkan tatapan tajam yang menantang. Seakan ada pancaran berapi dari sorot mata mereka.


"Aku akan pastikan, tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita sepertimu!" pungkas Ethan sembari mengeratkan rahang. Kali ini dia merasa sangat kesal. Bagaimana tidak? Megan sudah berkali-kali menginjak-injak harga dirinya.


Megan tercengang. Manik birunya memutar jengah. Dia menempelkan jari telunjuk ke dada Ethan.


"Jangan bilang begitu. Bukankah saat di lift tadi kau yang lebih bersemangat dariku..." cicit Megan. Jari telunjuknya berjalan menyentuh perut Ethan yang berotot. Sentuhan itu berhasil membuat sekujur badan Ethan merinding hebat. Megan sengaja menguji ketahanan lelaki tersebut. Baginya penyangkalan Ethan tadi adalah sebuah penghinaan.


Ethan menarik sudut bibirnya ke atas. Dia sangat paham, bahwasanya Megan hanya bermaksud bermain-main. Jika itu yang di inginkan Megan, maka Ethan juga akan ikut bermain.


Ketika jari telunjuk Megan hampir menyentuh area bawah perut, Ethan berkata, "Teruskan. Lebih ke bawah lagi... Oh yes..."


Bukannya menang, Megan malah kalah telak. Ethan terlihat menikmati sentuhannya. Tidak tanggung-tanggung, lelaki itu bahkan memejamkan mata sambil mendongakkan kepala.


"Sial!" rutuk Megan. Dia langsung menjaga jarak dari Ethan. Lalu bergegas mengenakan jaket.


Ethan tergelak kecil kala melihat raut wajah Megan yang cemberut. Entah kenapa rasanya begitu menyenangkan bisa membuat wanita itu marah.

__ADS_1


__ADS_2