Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 8 - Hate Meets Hate


__ADS_3

...༻❂༺...


Ethan menjelaskan rencananya secara lengkap. Dari mulai misi pencurian sampai pendekatan terhadap Kevin.


"Kita lakukan sekarang saja. Lebih cepat maka semakin baik!" ujar Megan. Lalu menyesap teh hangat yang sudah lama menganggur di atas meja.


"Kau tidak sabaran sekali. Tapi aku tidak bisa membantah, kalau kau ada benarnya," tanggap Ethan.


Clara baru ikut bergabung. Dia membawakan pie apel yang baru matang. Wanita tua itu segera menyuguhkannya untuk Megan dan Ethan. Senyuman yang disertai keriput, merekah diwajahnya.


"Jujur, siapa sebenarnya nenek tua ini?" Ethan bertanya sambil menunjuk Clara dengan gerakan bola mata.


"Entahlah, aku hanya kasihan dengannya." Megan mulai mencoba segigit pie apel buatan Clara.


"Kasihan atau memanfaatkannya?" pungkas Ethan meragu.


"Keduanya mungkin." Megan tak acuh. Pie apel membuatnya ketagihan untuk melanjutkan kunyahan berikutnya.


"Apakah seenak itu?" Clara menyatukan kedua tangan ke depan dada. Ia senang melihat Megan makan begitu lahap.


Setelah makan dan membersihkan diri, Megan pergi bersama Ethan. Meninggalkan Clara sendirian. Wanita tua yang selalu mengira Megan adalah putrinya itu, melepas kepergian dengan lambaian tangan.


"Jangan pergi terlalu lama, my dear..." ungkap Clara. Berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka.


Megan dan Ethan tak peduli. Keduanya terus melajukan langkah senada. Sepertinya mereka tidak berniat kembali lagi menemui Clara.


Ethan mengajak Megan berdiri di seberang sebuah bank. Di sana mereka mengamati orang keluar masuk dari kantor penyimpanan uang tersebut.


"Aku pikir kau sudah menyiapkan segala kebutuhan. Termasuk uang. Ternyata tidak sama sekali," ucap Megan. Menyandarkan punggung ke tiang tanda lalu lintas.


"Aku memang sudah menyiapkan uang. Tetapi sepertinya belumlah cukup. Aku perlu menambah sedikit lagi," sahut Ethan. Dia menegakkan badan saat menyaksikan seorang pria baruh baya keluar dari bank. Tanpa pikir panjang, Ethan segera menyusul pria paruh baya tersebut.


Sementara Megan memilih mengamati dari jauh. Dia memicingkan mata. Penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ethan selanjutnya.


Ethan tampak mengajak si pria paruh baya mengobrol. Menyebabkan dahi Megan berkerut dalam. Sebenarnya apa strategi Ethan mengenai pencuriannya?


Megan mengalihkan pandangan dari Ethan. Dia mencoba tidak peduli. Lagi pula, Ethan-lah yang membutuhkan dirinya untuk membantu.


Selang sepuluh menit berlalu. Ethan terlihat kembali seraya menenteng briefcase. Dia langsung menyuruh Megan untuk mengikuti.


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Megan. Memposisikan diri berjalan di sebelah Ethan.

__ADS_1


"Markasku!" jawab Ethan.


Megan terkekeh sejenak. "Kau punya markas? Apa anak buahmu komplotan tikus bawah tanah?" ejeknya yang merasa tak percaya.


"Bingo! Seekor kecoak bahkan menjadi sekretarisku." Ethan merespon santai ejekan Megan. Dia justru tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.


"Ya, tentu saja. Mana ada manusia yang bersedia menjadi sekretaris Bos cerewet sepertimu!" imbuh Megan yang berhenti melenggang sebentar. Lalu lanjut mengekori Ethan dari belakang.


Sampailah Ethan di gedung apartemen yang cukup besar. Dia mengajak Megan masuk ke dalam lift terlebih dahulu.


Sebelum pintu lift sempat menutup, seorang gadis muda ikut menerobos masuk. Dia nampak tergesak-gesak, lalu segera bergabung bersama Ethan dan Megan.


"Hai, Emma. Baru pulang kuliah?" sapa Ethan kepada si gadis muda.


"Ya..." Emma menjawab malu-malu. Dia terlihat berupaya keras menutupi wajah dengan cara menundukkan kepala.


Megan menghembuskan nafas berat. Ia menyenderkan salah satu siku ke pundak Ethan. Namun Ethan tidak terima dan mendorong siku Megan menjauh darinya.


Lift berhenti dengan suara berdenting. Ethan bergegas keluar. Di ikuti Megan setelahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Emma.


"Masuklah!" titah Ethan sembari membukakan pintu apartemen untuk Megan. Dalam sekejap mereka menghilang ditelan oleh pintu.


"Gadis muda tadi nampaknya menyukaimu. Apa yang sudah kau lakukan kepada gadis malang begitu?" timpal Megan seraya melihat-lihat tampilan kediaman Ethan.


Megan tidak menanggapi perkataan Ethan. Atensinya terpaku ke tumpukan buku yang ada di atas nakas dan rak. Dia mengambil salah satu buku yang ada. Yaitu buku tentang hipnotis.


"Hipnotis?" Megan berpikir seraya memiringkan kepala heran. "Apa ini trik yang kau lakukan terhadap pria paruh baya tadi?" Megan menyimpulkan.


"Benar, hipnotis salah satu cara ampuh untuk melakukan pencurian uang dengan mudah. Kita hanya perlu mengajak korban mengobrol," terang Ethan. Ia baru selesai meminum segelas air putih.


"Oke. Sekarang beritahu, apa yang harus kita lakukan?" Megan mengalihkan topik pembicaraan. Dia melakukannya karena tidak ingin terlalu lama berada di sisi Ethan.


"Berbelanja mungkin. Uang kita sudah cukup." Ethan memperlihatkan dollar yang memenuhi isi briefcase.


Megan tercengang. "Lalu apa tujuanmu mengajakku ke apartemen yang bau ini?!" geramnya. Memasang pose berkacak pinggang.


"Tentu saja mengambil semua uangku. Kau tidak tahu atau memang benar-benar bodoh?" cetus Ethan yang tak mau kalah.


Megan memilih tidak menjawab. Kedua tangannya terangkat ke udara. Pertanda kalau dia menyerah dengan segala ocehan Ethan.


...***...

__ADS_1


Megan dan Ethan memisahkan diri. Mereka berbagi tugas untuk berbelanja kebutuhan yang berkaitan dengan misi.


Di depan sebuah salon besar, Megan berhenti dengan ekspresi terpesona. Wanita pemuja mode sepertinya memang sangat gemar pergi ke salon.


Tanpa ba bi bu, Megan berderap memasuki salon. Di sana dia melakukan creambath, predicure, manicure, bahkan waxing.


Megan sangat pandai merawat kecantikan. Dia sudah terbiasa melakukannya sejak kecil. Menurutnya, menjaga badan tetap bersih adalah suatu keharusan. Tidak heran Megan memiliki kulit putih bersih nan menggoda. Kecantikan dan lekuk tubuhnya nyaris sempurna.


Ponsel Megan tiba-tiba berdering. Nama Ethan terpampang jelas di layar ponsel. Dia lantas mengangkat panggilan tersebut.


"Kau dimana? Kenapa lama sekali?" timpal Ethan dari seberang telepon.


"Aku sedang predicure." Megan menyahut tenang. Dia memperhatikan kinerja tukang salon yang tengah sibuk mewarnai kuku kakinya.


"Apa?! Bukankah tadi kau bilang lebih cepat semakin baik. Tapi ternyata kau sendiri yang mengulur-ulur waktu!" seru Ethan.


"Ayolah, Ethan. Kau mau aku tampil sempurna saat bertemu Kevin nanti kan? Jadi inilah usahaku." Megan menjelaskan.


"Whatever! Aku menunggu di depan pusat perbelanjaan. Hurry up!" desak Ethan. Lalu mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.


Megan tergelak kecil sambil menyimpan ponsel ke dalam tas. Baru kali ini dia menemui Ethan marah. Ternyata menyenangkan juga membuat lelaki berambut cepak tersebut marah.


Waktu berlalu satu jam lebih. Megan baru saja keluar dari salon. Dia berjalan menuju pusat perbelanjaan dimana Ethan sedang menunggu.


Setibanya di tempat tujuan, Megan sama sekali tidak menyaksikan kehadiran Ethan. Kini dia hanya bisa celingak-celingukan. Berupaya mencari sosok yang katanya sudah menanti.


Tanpa diduga, sebuah mobil sport bermerek bugatti berhenti di hadapan Megan. Kening Megan sontak mengernyit. Apalagi ketika kaca jendela mobil perlahan terbuka. Tampaklah Ethan yang asyik duduk di depan setir.



"Kau tahu hal paling menyebalkan dalam hidupku?" Ethan keluar dari mobil. Berdiri menghadap Megan dengan tatapan sebal. "Yaitu menunggumu menghabiskan waktu di salon. Aku hampir menjadi kue kering karena terlalu lama menunggu!" keluhnya.


"Apa kau sudah membelikanku pakaian bagus? Sepertinya belum. Ayo kita shopping!" Megan berbalik badan. Tak menggubris segala kritikan Ethan. Dia melajukan pergerakan kaki memasuki pusat perbelanjaan.


Ethan terpelongo melihat tingkah menyebalkan Megan. Dia mengusap kasar wajahnya. Menandakan bahwa kekesalannya hampir mencapai ubun-ubun.


Catatan kaki :


Predicure : Perawatan kaki.


Manicure : Perawatan tangan.

__ADS_1


Waxing : Penghilangan rambut dari akarnya dengan menggunakan zat lengket, seperti lilin, yang ditempelkan pada rambut atau bulu badan.


__ADS_2