
...༻❂༺...
Megan menghabiskan waktu berbelanja hampir satu jam. Dia membeli pakaian cukup banyak. Sekarang hanya tinggal pergi menemui target untuk ditipu.
"Pantai Venice, kita lebih baik bertemu dengan Kevin di sana." Ethan berucap sambil fokus mengemudikan mobil sport barunya. Sedangkan Megan duduk di sebelah.
"Kau akan membiarkanku melakukan dengan caraku bukan? Aku tidak suka di atur-atur." Megan merespon sambil duduk menyilangkan kaki.
"Benarkah? Bukankah saat menjadi istri Ryan kau sering di atur-atur?" balas Ethan.
"Bisakah kau tidak membicarakan perihal masa lalu? Aku muak mendengarnya!" Megan sedikit mengeratkan rahang kesal.
Hanya ada perdebatan. Itulah yang sering menyelimuti kerjasama di antara Megan dan Ethan. Entah bagaimana akhir dari misi yang sudah mereka susun. Keberhasilan ada di tangan mereka.
Sekian menit berlalu. Tibalah Megan dan Ethan di sebuah hotel bintang lima. Letaknya sendiri berhadapan dengan pantai Venice, Los Angeles.
Ilustrasi Pantai Venice, Los Angeles :
Ethan menyuruh Megan pergi ke kamar lebih dahulu. Sementara dirinya akan mengurus pembayaran serta menyusun pertemuan Megan dan Kevin.
Megan melangkah dengan sepatu ketsnya. Dia memasuki kamar mewah dengan dua pintu. Kamar itu berhadapan langsung dengan hamparan laut Venice yang indah.
Tidak lama kemudian, Ethan ikut datang bergabung. Ia membawakan semua barang bawaan milik Megan yang baru dibeli.
"Apa kau sengaja meninggalkan barang-barangmu?" timpal Ethan.
"Maaf, aku lupa." Megan menjawab singkat. Ia justru sibuk menuang sampanye ke dalam gelas. Membawa banyak barang bawaan dengan tangannya sendiri memang bukan kebiasaan Megan. Tidak heran dia selalu membuat orang yang pergi bersamanya kerepotan. "Kenapa kau tidak menyuruh bellboy saja? Pelayanan hotel ini ternyata cukup buruk!" gerutunya. Mencari-cari topik lain untuk dibahas.
__ADS_1
Ethan memutar bola mata malas. "Bawaan kita tidak terlalu banyak. Untuk apa aku menyewa jasa bellboy," pungkasnya. Lalu menghempaskan diri untuk duduk di sofa.
"Tunggu, kita tidak tidur sekamar bukan?" tanya Megan dengan tatapan selidik.
"Memangnya kenapa kalau sekamar? Apa kau tergoda ingin bercinta denganku?" Ethan memberikan pertanyaan menohok.
"Tentu saja tidak! Tertarik pun tidak. Menjijikan!" Megan membantah tegas. Dia bahkan menggedikkan bahunya beberapa kali. Membayangkan mencium Ethan saja tidak terlintas dalam bayangan. Apalagi sampai bercinta.
"Ya sudah kalau begitu. Kenapa kau khawatir satu kamar denganku? Lagi pula aku hanya berusaha mengatur keuangan dengan baik. Aku bukan orang yang boros sepertimu," jelas Ethan sembari menggedik-gedikkan salah satu kakinya beberapa kali.
"Ugh! Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Aku yakin akan secepatnya menyerah dengan misi ini," gumam Megan. Memandang malas ke arah pintu kaca yang memperlihatkan pemandangan laut.
"Maka dari itu. Lakukanlah tugasmu dengan baik. Dekati Kevin sampai membuatnya semakin menyukaimu. Lebih cepat semakin bagus bukan?" ujar Ethan seraya memegangi ponsel. Diam-diam dia mengambil potret Megan sedang memegang gelas berisi sampanye.
Ilustrasi foto yang di ambil Ethan :
"Aku akan menggunakan foto ini untuk menggoda Kevin. Kau tenang saja, kau tampak lumayan." Ethan enggan menyebut Megan cantik. Dia malas melihat Megan besar kepala.
"Beri aku seratus dollar." Megan membuka lebar telapak tangan. Mendesak Ethan untuk memberikan uang.
"Apa?! Enak saja. Nanti aku akan memberimu bagian setelah berhasil menipu Kevin!" hardik Ethan. Dia langsung mendapatkan tendangan dari Megan. Serangan tak terduga tersebut sukses mengenai betisnya.
Ethan hanya bisa mengaduh seraya memegangi bagian tubuhnya yang sakit. "Mentang-mentang kau perempuan, bisa-bisanya kau terus menyerang lelaki sesuka hatimu. Kau pikir aku tidak berani melawan?" geramnya.
Megan tidak memperdulikan keluhan Ethan. Ia meletakkan gelas ke atas nakas. Kemudian berjalan keluar dari pintu kaca. Megan berdiri melihat pemandangan dari balkon. Matanya memejam sejenak. Angin laut yang berdesir menerpa rambut pirangnya.
Tatapan Megan terpaku ke arah jejeran manusia yang asyik berjemur. Dia tertarik untuk bergabung. Dari pada terus-terusan naik darah akibat Ethan, lebih baik pergi bersantai di pantai.
__ADS_1
Megan berbalik dan kembali masuk ke ruangan. Dia segera melepas pakaian atasan serta celana jeans. Tindakannya yang tiba-tiba, tentu membuat mata Ethan terbelalak. Wajah lelaki itu langsung memerah bak tomat matang.
"Kau gila! Kenapa melepas pakaian tepat di depan mataku?!" tukas Ethan sembari membuang muka. Dia mengira Megan mau mengganti pakaian di hadapannya.
Megan yang tampak sudah mengenakan bikini, memasang ekspresi datar. Dirinya tidak berminat memperpanjang obrolan dengan Ethan.
"Aku mau berjemur sebentar. Jika Kevin datang, suruh dia menemuiku di pantai." Megan berbicara tenang sambil mengenakan pakaian kimononya. Kemudian barulah dia beranjak keluar dari kamar.
Ethan tertegun melihat aksi Megan. Dia kehabisan kata-kata menghadapi kelakuan gadis kelewat percaya diri itu.
Megan yang sudah keluar dari area hotel, berjalan menuju pantai. Dia membuka setelan kimono. Lalu merebahkan diri ke kursi pantai yang telah tersedia. Dia tidak lupa untuk mengenakan sunscreen di setiap jengkal tubuhnya. Terakhir Megan memasang kacamata hitam untuk perlindungan indera penglihatannya.
Nafas dihela cukup panjang oleh Megan. Setidaknya aktivitas dia sekarang cukup menenangkan pikiran. Tanpa terasa, Megan jatuh ke dalam lelap.
Setelah setengah jam tertidur, Megan akhirnya terbangun. Dia merubah posisi menjadi duduk. Kemudian memesan minuman segar kepada pelayan hotel yang berjaga.
Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu minuman datang. Megan bahkan mendapatkan salad buah dari pelayan.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati waktu bersantai, Megan menoleh sejenak ke arah pelayan yang tak kunjung pergi. Sejak awal dia memang tidak mengamati baik-baik pelayan itu. Namun kala memperhatikan dengan seksama, barulah Megan sadar kalau sosok pelayan adalah Kevin.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Kevin sembari duduk ke kursi pantai yang ada di dekat Megan. Ia tampak mengenakan topi dan kemeja berbahan tipis. Kevin sengaja merebut tugas pelayan, agar bisa mengobrol langsung dengan Megan.
Megan berseringai tipis. Sebelum bicara, dia menyedot minuman segar terlebih dahulu. "Dari mana kau tahu aku ada di sini?" ujarnya.
"Kakakmu memberitahuku. Setidaknya dia lebih ramah dibanding dirimu." Kevin menunjuk Ethan yang sibuk bicara dengan seorang bartender.
"Apa yang kau mau dariku?" Megan duduk sambil melipat dua tangannya ke atas paha. Sedangkan pandangannya di alihkan ke hamparan laut. Deburan ombak yang menghantam pasir menyambut penglihatannya.
"Entahlah. Aku hanya sangat ingin bertemu lagi denganmu, itu saja." Kevin menerangkan asal. Sedari tadi matanya terus jelalatan memperhatikan lekuk tubuh Megan yang seksi.
__ADS_1
"Jika keinginan utamamu adalah bercinta denganku, katakan saja yang sejujurnya. Aku tidak akan tersinggung. Aku tahu kau adalah tipe lelaki yang tidak ingin kalah. Kau tidak akan melepaskanku sebelum mendapatkan apa yang kau mau bukan?" sahut Megan tenang. Kini dia mengarahkan bola matanya ke arah Kevin.
"Aku tidak bisa membantah. Kau menghancurkan harga diriku malam itu. Aku tidak berhenti mengingat penghinaan yang sudah kau lakukan kepadaku." Kevin mencondongkan wajahnya. Dia hendak menatap Megan lebih dekat. Jarak wajah di antara mereka hanya terhelat beberapa senti.