Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 17 - Lebih Dekat


__ADS_3

...༻❂༺...


Pupil mata Megan bergetar menatap Kevin. Jika Kevin sudah mengetahui identitasnya, bukankah berarti kedoknya dan Ethan ketahuan? Megan harus memastikan sejauh mana Kevin mengetahui hal tentang dirinya.


"Apa yang kau tahu dariku?" tanya Megan. Memandang Kevin yang telentang di sebelahnya.


"Kau pernah menikah dengan ketua penjahat. Selain itu, aku tahu insiden pembantaian yang terjadi kepada keluargamu." Kevin menjelaskan. "Ah, satu hal lagi yang mengejutkan! Kau menjadi bagian wanita yang rela diduakan oleh mantan suamimu. Aku dengar mantan suamimu itu memiliki kepercayaan aneh," lanjut Kevin seraya tersenyum menampakkan deretan giginya yang rapi.


"Sekarang sudah tidak lagi," tanggap Megan. Ia tidak mau memperpanjang pembicaraan mengenai Ryan.


"Aku sudah sepenuhnya memisah dari dunia kejahatan. Semuanya karena kedatangan Ethan. Aku tidak menyangka dia masih hidup." Megan sengaja mengubah topik pembicaraan. Dia juga berniat menyelidiki pengetahuan Kevin tentang jati dirinya. Jika Kevin telah tahu semuanya, maka lelaki tersebut pasti tahu bahwa Ethan bukan kakak lelaki Megan yang sebenarnya.


"Ethan adalah orang yang menyenangkan. Apa dia dahulu juga penjahat sepertimu?" Kevin bertanya sambil membelai rambut Megan yang lurus.


"Tentu tidak. Aku dengar Ethan lama bekerja sebagai badut di tempat sirkus." Megan tentu saja berbohong. Dia tidak mau mengagung-agungkan sosok menyebalkan seperti Ethan. Baginya Ethan memang lebih cocok menjadi badut di tempat sirkus.


"Benarkah? Pantas saja dia lucu," komentar Kevin. Fix! Informasi yang didapat Kevin tentang Megan hanya sebagian kecil saja. Sampai separuh pun tidak. Sepertinya Kevin memang fokus mengetahui masa lalu Megan.


"Kevin, bisakah kau melepas ikatan di tanganku? Sebenarnya apa alasanmu memberiku obat halusinasi dan menjerat tanganku?" timpal Megan sembari mencoba melepas ikatan yang menjerat tangannya.


"Anggap saja ini pembalasanku terhadap penghinaan yang kau lakukan. Kau mencampakkanku tiga kali!" sahut Kevin.


"Aku pikir kau mau memaksaku berhubungan intim. Ternyata alasannya hanya itu?" Megan mendengus lega. Ia bahkan tergelak kecil.


"Aku tidak suka hubungan yang memaksa. Itu sama sekali tidak memuaskan!" terang Kevin. Dia akhirnya melepas ikatan tangan Megan.

__ADS_1


"Kalau begitu. Mungkin kita harus lebih sering menghabiskan waktu bersama." Megan merubah posisinya menjadi duduk.


Kevin mengembangkan senyuman tipis. Dia kembali mengambil gelas berisi sampanye di atas nakas. Tatapannya tidak teralihkan dari Megan.


"Itulah yang aku rencanakan, dan merupakan salah satu alasanku mengikat tanganmu. Kita akan pergi mendatangi pesta besar di dermaga," ujar Kevin.


"Pesta? Apa tidak apa-apa aku datang ke sana bersamamu?" Megan memastikan.


"Tenang saja. Pestanya mengutamakan privasi tamu. Tidak ada wartawan yang datang ke sana. Bersiap-siaplah! Kau bisa memakai gaun yang ada di lemari." Kevin melangkah keluar kamar. Meninggalkan Megan sendirian.


Megan beringsut ke ujung kasur. Dia segera menuruti keinginan Kevin. Yaitu mengenakan gaun yang ada di lemari. Kali ini Megan mendapatkan gaun berwarna hitam, yang dihiasi manik-manik berkilau. Gaun tersebut memiliki tampilan seperti langit malam yang dipenuhi bintang.


Setelah siap, Megan keluar dari kamar. Dia mendekati Kevin yang sibuk berdiri di bagian dek kapal. Terlihat juga Morgan dan Adam yang tengah duduk di sofa.


"Sedang melamunkan apa?" tanya Megan yang telah berdiri di samping Kevin.


"Thomas?" Megan mengerutkan dahi.


"Dia adalah pamanku. Thomas mengelola perusahaan The New Life Technology milikku. Tetapi akhir-akhir ini ada yang aneh dari kinerjanya. Bukannya mendapatkan uang pemasukan lebih banyak, Thomas justru terlalu banyak mengeluarkan uang untuk hal tidak penting." Kevin bercerita begitu saja. Tanpa menaruh rasa curiga kepada Megan.


Megan terdiam sejenak. Ia mencoba memikirkan sesuatu lalu meneruskan, "Mungkin dia kesulitan mengatur perusahaan. Apa hal ini pertama kali dilakukan olehnya?"


"Ya, ini pertama kali untuknya. Tetapi dia selalu marah jika aku mencoba memperingatkan. Katanya aku hanya perlu mempercayainya," ucap Kevin sembari mendengus kasar. Dia menatap langit malam yang dihiasi dengan bintang.


"Setidaknya kau harus menyelidiki apa yang dilakukan Thomas. Takutnya dia menyembunyikan sesuatu." Megan mengungkapkan pendapatnya.

__ADS_1


"Aku sudah melakukannya. Menurutku dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Mungkin yang salah adalah produk teknologi yang kami luncurkan," terang Kevin. Kini dia menggerakkan bola matanya ke arah Megan.


"Bukankah kau punya banyak ilmuwan di sana?" Megan membalas tatapan Kevin. Rasa penasarannya meningkat.


"Bisakah kita mengubah topik pembicaraan? Kita harusnya fokus membicarakan kesukaan masing-masing." Kevin yang tadinya melipat tangan ke pagar pembatas kapal, perlahan menegakkan badan.


Megan menghembuskan nafas dari mulut. Ia terlalu tenggelam dengan rasa penasaran. Megan lantas mengembangkan senyuman dan berkata, "Apa yang ingin kau tanyakan? Katakan saja."


"Sejak kapan kau mulai kehilangan gairahmu? Kau bilang tidak hanya terkait dengan hasratmu. Sepertinya kejadian buruk membuatmu putus asa." Kevin berusaha membangun obrolan lebih dalam bersama Megan.


"Mungkin semenjak aku berpisah dengan mantan suamiku. Itu adalah perasaan terburuk dalam hidupku. Karena aku selalu menganggap mantan suamiku sebagai secercah harapan. Tetapi... dia lebih memilih perempuan lain. Katanya mereka sudah mempunyai seorang anak. Kabar tersebut semakin membuatku sakit. I feel so small..." Megan menuturkan sambil menundukkan kepala. Entah kenapa dia mendadak merasa emosional. Ketika memikirkan mantan suaminya, Megan hanya bisa merasakan sakit hati. Walaupun begitu, ada rasa rindu menyelip di antara perasaan tersebut.


"Seharusnya kau meninggalkan suamimu semenjak dia menduakanmu. Tetapi kenapa kau tetap bertahan?" balas Kevin. Salah satu alisnya terangkat.


"Aku adalah orang yang gigih dan ambisius. Jika sudah bertekad, maka aku tidak akan menyerah. Bahkan jika badai datang sekali pun," ungkap Megan.


"Kau sangat mirip denganku. Ngomong-ngomong aku juga begitu. Buktinya aku masih belum menyerah kepadamu. Jangan bilang, kau juga belum menyerah dengan mantan suamimu." Kevin menebak. Akan tetapi Megan hanya terkekeh sembari membuang muka.


Dari kejauhan terlihat gemerlap lampu di dermaga. Ada juga tiga kapal pesiar besar yang berjejer di sana. Memperlihatkan banyaknya orang-orang elit berpakaian super mahal.


Megan terkesiap. Mengedipkan matanya beberapa kali. Dia tentu tertarik untuk segera berkunjung ke pesta dermaga.


"Aku akan membantumu, Megan. Aku tidak hanya bicara tentang hasrat di sini, tetapi juga gairahmu tentang hidup. Jika kau berminat, aku bahkan bisa membuatmu menjadi seorang super model." Kevin sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Megan. Ingin sekali dia menyentuh wanita di sampingnya, namun mengingat Megan selalu melakukan penolakan, Kevin merasa harus berbuat sesuatu terlebih dahulu.


"Fix! Kita benar-benar mirip. Aku harap kau berhasil, boy." Megan menepuk dada Kevin dua kali.

__ADS_1


Kevin memutar bola mata malas. "Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan 'boy'? Aku ini pria dewasa!" tukasnya. Lagi-lagi Megan hanya tergelak kecil. Ketika kapal berhenti, mereka segera melangkah memasuki dermaga.


Megan menghentikan pergerakan kaki. Dia berdecak kagum. Bukan karena suasana pesta yang mewah, melainkan karena tamu-tamunya adalah para selebriti tersohor.


__ADS_2