
...༻❂༺...
"Apa aku harus melakukannya sekarang?" tanya Eggy memastikan.
"Lebih cepat, semakin baik." Ethan menanggapi. Dia segera duduk ke sebelah Eggy. Memperhatikan bagaimana cara Eggy membuka domain utama milik perusahaan Teh New Life Technology.
"Kita perlu menunggu virus menyebar sampai terupload seratus persen," imbuh Eggy. Dia terlihat sibuk menghadapi laptop.
Sementara Megan duduk di sofa. Ia sedari tadi meringis jijik. Sebab keadaan kediaman Eggy begitu berantakan dan kotor. Mungkin itulah akibatnya jika seorang anak lelaki ditinggal di rumah sendirian.
Ponsel Megan tiba-tiba berdering. Ketika diperiksa, ternyata Kevin yang memanggil. Tanpa basa basi, Megan segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, my boy?" sambut Megan.
"Megan, bukankah sudah kubilang..." sahut Kevin dari seberang telepon. Dia lagi-lagi memprotes nama panggilan Megan terhadapnya.
"Ah, maaf. Tetapi bisakah kau memahami, kalau itu adalah panggilan sayangku terhadapmu?" Megan bangkit dari sofa. Dia risih dengan Ethan yang terus memperhatikan sejak tadi.
"Baiklah, kalau itu maumu. Bisakah kita bertemu? Kau tidak sedang sibuk bukan?"
"Tidak. Aku kebetulan menghabiskan waktu dengan ibuku di rumah." Megan memberikan alasan asal.
"Ya sudah, aku akan menjemputmu ke rumah," tanggap Kevin.
Mata Megan membulat. Dia tidak menyangka Kevin akan menjemput. "A-apa? Menjemputku? Sekarang?"
"Iya, aku dalam perjalanan sekarang. Aku kali ini menyetir sendirian." Kevin terdengar santai.
"Bisakah kita bertemu di suatu tempat saja? Kau tidak perlu menjemputku." Megan gelagapan. Dia mendadak panik. Kini dirinya harus menanggung resiko akibat berbohong.
"Sebentar lagi aku sampai." Kevin bersikeras.
Megan lantas tidak punya pilihan selain menerima. Dia harus tiba di rumah Clara sebelum Kevin datang lebih dahulu.
"Ethan! Cepat antar aku ke rumah Clara. Kevin akan menjemputku di sana!" seru Megan. Menyebabkan kening Ethan sontak bertautan.
"Tapi aku--"
"Cepat!" Megan mendesak seraya menyeret Ethan ikut bersamanya. Sebelum pergi, Ethan menyempatkan diri untuk memberitahu Eggy melanjutkan rencananya.
Dalam sekejap mobil sport Ethan melaju. Melewati jalanan raya dengan gesit dan cepat. Terutama ketika Megan terus mendorong Ethan agar mengemudi lebih cepat.
Megan tersentak, saat Ethan tiba-tiba membelokkan mobil. Megan otomatis melirik tajam kepada Ethan.
__ADS_1
"Bukankah kau bilang tadi ingin lebih cepat?" ujar Ethan yang kembali menginjak pedal gas sekuat mungkin.
Kini tubuh Megan tersentak ke depan. Untung saja ada sabuk pengaman yang dipakai olehnya. Jadi kepala Megan tidak sampai terbentur dashboard mobil.
Setelah memakan waktu beberapa menit, sampailah Ethan dan Megan di rumah Clara. Sebelum Kevin datang, Megan bergegas berlari masuk ke rumah.
Dari kejauhan terlihat sebuah mobil sedan hitam kian mendekat. Ethan yang baru keluar dari mobil, dapat melihatnya dengan jelas. Ethan memicingkan mata kala mobil sedan hitam itu berhenti di dekat mobilnya. Tidak lama kemudian keluarlah sosok Kevin dari mobil sedan yang baru berhenti.
"Kau juga baru datang?" tanya Kevin seraya melangkah semakin dekat.
"Ya, aku pikir kau sedang ada jadwal syuting. Apakah sudah selesai?" Ethan berbalik tanya.
"Syuting bagianku sudah selesai. Aku diperbolehkan beristirahat beberapa hari dahulu," jelas Kevin. Ia memasukkan dua tangan ke saku celana.
Ceklek!
Megan terlihat sudah membuka pintu. Dia menyempatkan berganti pakaian terlebih dahulu. Lalu melenggang untuk bergabung bersama Kevin dan Ethan.
"Ngomong-ngomong, kau akan membawa adikku kemana?" Ethan menatap serius Kevin.
"Hanya sebentar, Ethan. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga Megan dengan baik." Kevin mengembangkan senyuman.
"Sebenarnya akulah yang bertugas menjaga Kevin," sahut Megan. Menyebabkan Kevin otomatis reflek menoleh ke arahnya.
Setelah saling mengobrol beberapa menit, Kevin dan Megan memutuskan beranjak. Entah akan pergi kemana, yang jelas semuanya adalah rencana Kevin.
...***...
Mobil terus bergerak. Hingga tanda jalan bertuliskan Nevada, membuat Megan dapat menduga dirinya akan dibawa kemana.
"Las Vegas? Kau membawaku ke Las Vegas?" Megan memastikan dalam keadaan mata yang mendelik.
"Aku dengar kau punya banyak kenangan di kota ini." Kevin menjawab tenang.
"Ya, kenangan buruk! Di sinilah mantan suamiku mulai mencampakkanku secara perlahan," terang Megan sambil mendengus kasar. Dia merasa berat hati kembali menginjak kota Las Vegas. Memang mantan suaminya sudah tidak tinggal di sana lagi, namun tetap saja ada banyak hal yang membuat Megan terganggu.
"Kalau begitu, biarkan hari ini aku memberikan kenangan yang indah..." tutur Kevin. Ia mengarahkan mobilnya memasuki sebuah gedung mewah.
Kevin membukakan pintu mobil untuk Megan. Kemudian segera memimpin jalan ke suatu tempat.
Kevin menuntun Megan memasuki sebuah penthouse. Tempatnya lebih besar dibanding kamar VIP pada hotel bintang lima. Terdapat kolam renang pribadi, bath up besar, dan banyak lagi.
Megan dan Kevin memilih menikmati makan malam. Suguhannya berupa kaviar, tenderloin bahkan spageti dengan bahan keju berkualitas.
__ADS_1
"Katakan kepadaku. Apa hal yang membuatmu bahagia, Megan?" celetuk Kevin di tengah-tengah kegiatan makan malam.
"Pergi ke salon, makan, dan..." sebenarnya terlintas nama Ryan dalam benaknya. Tetapi Megan ragu untuk mengatakan.
"Dan?" Kevin menuntut jawaban.
"Uang!" Megan memilih berbohong. Jawaban terakhirnya itu langsung membuat Kevin tergelak sebentar.
"Kau benar. Uang terkadang bisa merubah segalanya. Kenapa kau tidak menyebut seseorang sebagai sumber kebahagiaanmu? Seperti keluarga mungkin. Ethan bahkan tidak termasuk," ungkap Kevin. Dia tampak terheran.
Megan menenggak minumannya dan berkata, "Ethan tidak terlalu penting bagiku. Kau tidak tahu betapa menyebalkannya orang itu."
"Benarkah? Padahal dia satu-satunya keluargamu yang tersisa. Tapi aku akan mencoba memahami." Kevin menyesap wine dari gelas. Dia hanya meminum seteguk. Tidak seperti Megan yang langsung menelan wine sampai tandas.
Kevin mengukir seringai. Dia menatap Megan dengan tatapan penuh akan ketertarikan. Kevin menjadikan satu tangan sebagai penopang kepala yang sedikit memiring. Pemuda itu jelas sangat tertarik kepada sosok Megan.
"Spageti ini sangat enak!" Megan makan cukup lahap. Sebab sejak tadi pagi dia hanya memakan sandwich buatan Clara. Ethan memang tidak pernah peduli terhadap isi perutnya.
"Setelah ini, ayo kita pergi ke kasino. Buktikan kepadaku bahwa kau adalah penghuni lama Las Vegas," ajak Kevin.
Megan lantas mengembangkan senyum percaya diri. Dia dan Kevin segera pergi setelah menyelesaikan makanan. Mereka menghabiskan waktu sekitar tiga jam di kasino. Kemudian kembali ke penthouse dalam keadaan tertawa bersama-sama. Bagaimana tidak? Megan meraih kemenangan di kasino selama tujuh kali berturu-turut.
Bruk!
Megan dan Kevin menghempaskan tubuh ke kasur bersamaan. Keduanya masih tenggelam dalam kemenangan.
"Sebaiknya kita apakan uang hasil kemenanganmu itu?" Kevin menatap Megan dengan sudut matanya.
"Entahlah... biarkan aku berpikir lebih dulu." Megan menjawab sambil memegangi area jidatnya.
"Kau mau teh panas? Di luar tadi agak dingin. Mungkin tubuh kita akan sedikit membaik jika meminum minuman panas." Kevin bangkit dari kasur.
"Aku mau satu gelas." Megan mengacungkan jari telunjuk ke udara. Membentuk angka satu dengan bahasa tubuh.
"Baiklah, Babe." Kevin segera beranjak ke dapur. Dia kembali sambil membawa dua cangkir teh di tangan. Kevin menyerahkan salah satunya kepada Megan.
Kepala Megan terasa nyaman setelah menyesap teh pemberian Kevin. Perlahan-lahan dia mulai diserang rasa kantuk. Alhasil Megan telentang dan tertidur.
Satu malam berlalu. Megan akhirnya terbangun dari tidur. Ia menemukan dirinya telentang bersebelahan dengan Kevin.
Megan mengerjapkan mata. Lalu beringsut untuk duduk di ujung kasur. Anehnya dia merasa seluruh badannya sakit semua. Apalagi alat vitalnya.
Megan melangkah masuk ke kamar mandi. Di sana dia berniat memeriksa segalanya. Mata Megan membulat ketika menyaksikan beberapa titik tubuhnya terdapat memar serta tanda berwarna merah.
__ADS_1
"Sial! Apa yang Kevin lakukan kepadaku?" gumam Megan tak percaya.