
...༻❂༺...
Kevin dan Megan segera berangkat ke perusahaan. Adam juga ikut. Tetapi menaiki mobil yang berbeda. Setelah memakan waktu beberapa menit, tibalah mereka di tempat tujuan.
Kevin melajukan langkahnya memasuki area perusahaan. Sedangkan Megan, berusaha keras mengikuti dari belakang.
Megan mengekori Kevin hingga memasuki ruangan dengan pintu kaca. Di sana terlihat karyawan teknisi tengah kebingungan mengatasi masalah komputer mereka yang terganggu.
"Apa yang terjadi?! Bagaimana kalian bisa lengah begini?!" Kevin menimpali salah satu manajer yang bertanggung jawab. Dia terus mengomel tanpa memberikan solusi.
Dari pengamatan Megan, Kevin sama sekali tidak memiliki keahlian mengurus perusahaan. Pantas saja Pamannya Thomas yang dibiarkan memimpin.
Akibat virus perangkat lunak yang dikirimkan oleh Eggy, semua komputer di perusahaan The New Life Technology mati total. Semua data penting menghilang. Menyebabkan proses produksi serta pemasaran tersendat. Saham perusahaan dalam sekejap mengalami anjlok. Investasi dan kerjasama yang dilakukan harus menerima penolakan dari berbagai pihak.
Orang yang paling pusing bukan Kevin, melainkan Thomas. Sebab dialah yang sepenuhnya bertanggung jawab mengurus perusahaan. Lelaki paruh baya itu sedang memijit-mijit kepala di ruang kerjanya.
Bruk!
Kevin datang dalam keadaan menghempaskan pintu. Dia mengerutkan dahi. Belum lagi wajahnya yang memerah padam. Bersiap mengomeli lelaki yang tentu memiliki usia lebih tua darinya.
Tanpa sepengetahuan Kevin, Megan justru dengan santainya berkeliling perusahaan. Dia melihat-lihat segalanya. Terutama produk-produk perusahaan yang belum rampung.
Megan tidak lupa mendokumentasikan segalanya dengan rekaman video. Dia ingin Ethan membayar semua informasi yang didapatnya.
Kala itu atensi Megan tidak sengaja teralihkan ke arah sosok tidak asing. Yaitu sosok yang sejak awal ingin didekati Ethan. Siapa lagi kalau bukan ilmuwan Biologi yang bernama Richy.
Megan menyunggingkan mulut ke kanan. Apalagi ketika menyaksikan Richy tampak mengukir wajah muram. Pria tersebut juga terlihat membawa kotak berisi perkakas. Megan bisa menyimpulkan kalau Richy sudah dipecat.
Richy melangkah memasuki lift. Hal serupa juga dilakukan Megan. Di sanalah Megan mengajak Richy untuk mengobrol.
"Kau baik-baik saja?" tanya Megan. Menatap Richy dengan sudut matanya.
"Maybe..." Richy menjawab datar. Mengembangkan senyuman kecut.
"Aku rasa kau baru saja dipecat. Bukankah begitu?" tukas Megan. Kini dia sedikit memiringkan kepala.
__ADS_1
"Apa kau sengaja mengejekku?" Richy sepertinya tersinggung terhadap ucapan Megan.
"Aku tidak bermaksud begitu. Justru aku punya seorang teman yang nampaknya tertarik menawarkanmu pekerjaan. Aku hanya memastikan kau dipecat atau tidak. Jika tidak, ya sudah..." Megan memutar bola mata tak peduli. Bertepatan dengan berhentinya lift. Megan lantas beranjak saat pintu lift telah terbuka.
"Tunggu!" Richy mencegat. Dia tentu tertarik dengan tawaran Megan tadi.
"Apa kau yakin ingin menawarkan pekerjaan untukku? Apa temanmu itu memiliki perusahaan, atau bekerja di bagian penelitian pemerintah?" Richy berlari menghampiri Megan. Dia berbicara dengan kikuk.
"Tidak. Dia hanya seorang gangster individualis," jawab Megan.
"Gangster? Bukankah berarti dia seorang kriminal? Untuk apa orang sepertinya memerlukan saintis sepertiku?" Richy yang tadinya bersemangat mulai meragu.
"Kau akan tahu jika bertemu dengannya. Dia mengatakan kepadaku, kalau dirinya sedang merencanakan sesuatu hal besar." Megan memegangi pundak Richy dengan satu tangan.
"Megan!" Kevin tiba-tiba memanggil dari belakang. Dia terlihat melenggang semakin mendekat.
Megan lantas bergegas memberikan nomor Ethan kepada Richy. Ia tidak lupa untuk menyuruh Richy merahasiakan segalanya. Bahkan tawaran kecil yang diberikannya tadi. Alhasil Richy beranjak pergi keluar dari perusahaan.
"Kau ternyata di sini. Aku mencarimu kemana-mana!" ujar Kevin sembari mengusap kasar wajahnya.
"Bagaimana aku tidak marah? Perusahaanku mengalami keanjlokan besar-besaran. Produksi tidak akan berjalan dalam waktu dekat ini," ungkap Kevin.
"Tidak apa-apa. Aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik. Bagaimana dengan Thomas? Aku percaya dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik." Megan sengaja memancing pertanyaan mengenai Thomas. Namun sayang, dia justru mendengar kabar yang tidak di inginkannya.
"Aku menyuruh Thomas agar segera memperbaiki semuanya. Sebab dialah satu-satunya orang yang kupercaya mampu mengelola perusahaan," terang Kevin.
"Okay..." Megan memaksakan diri tersenyum. Dia agak kecewa terhadap kenyataan yang diterimanya. Hal itu mengartikan bahwa kerja samanya dengan Ethan akan berlangsung lama.
Megan membisu sesaat. Terlintas dalam benaknya untuk berpura-pura mendapat panggilan terdesak. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat pergi meninggalkan Kevin.
"Apa yang terjadi?" tanya Kevin yang penasaran.
"Ibuku mendatangi rumah tetangga lagi. Dia membuat keributan cukup parah. Aku harus segera pulang!" jawab Megan.
"Kau mau aku bantu?" tawar Kevin.
__ADS_1
"Tidak perlu, my boy. Kau juga punya banyak masalah untuk diselesaikan. Aku janji, kita akan secepatnya bertemu..." Megan memberikan kecupan ke pipi Kevin. Dia sengaja berbuat begitu agar Kevin tidak mampu menolak keingingannya. Benar saja, Kevin membiarkan Megan pergi.
Saat di dalam taksi, Megan mendapatkan panggilan telepon dari Ethan. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengangkat.
"Megan, apa kau yang menyuruh Richy untuk menemuiku?" Ethan menimpali dari seberang telepon.
"Ya, aku tidak mau basa-basi. Lakukan saja rencana brilianmu itu!" balas Megan. Terdiam sejenak. Dia bicara kembali ketika mengingat tentang sesuatu hal penting. "Satu hal lagi! Kevin tidak memecat Thomas. Sepertinya kau harus membuat rencana baru, Ethan..." ucap Megan lagi.
"Tenang saja. Aku sudah punya rencana. Anehnya kau seolah tahu rencanaku itu, Megan. Apa kau mengintip isi kepalaku saat aku tidur?"
"Cih! Apa-apaan itu. Aku sangat jijik mendengarnya. Jangan pernah coba-coba merayuku, Ethan!" seru Megan sambil meringiskan wajah.
Ethan terkekeh. "Aku hanya merasa terkesima. Terutama saat mengetahui Richy mendadak meneleponku. Sebab rencanaku itu berkaitan dengannya. Richy akan membantu kita merebut perusahaan," jelasnya panjang lebar.
"Aku akan menunggu. Lakukanlah secepatnya!" Megan mematikan panggilan lebih dahulu.
Lidah Ethan berdecak kesal kala Megan mematikan telepon begitu saja. Dia sekarang tengah duduk di sebuah bar. Menunggu kedatangan Richy.
"Ethan?" suara bariton seorang lelaki mengalihkan perhatian Ethan dari gelas berisi bir.
"Richy bukan?" Ethan menanggapi sembari mengarahkan jari telunjuk kepada Richy.
Richy mengangguk. Kemudian segera duduk di kursi yang ada di hadapan Ethan. Dia menilik Ethan dari ujung kaki hingga kepala.
"Tampilanmu memang seperti seorang gangster," komentar Richy. Tanpa merasa takut sedikit pun. Padahal dia tahu kalau dirinya sedang berhadapan dengan seorang penjahat.
"Apa Megan yang memberitahumu?" tanya Ethan.
"Ya, dia mengatakan kau adalah gangster individualis. Makanya aku tidak takut. Aku tidak akan dikeroyok oleh pria-pria yang memiliki badan seperti aktor Dwayne Johnson." Richy memberi penjelasan.
Jleb!
Ethan merasa dirinya kembali terhina. Hal yang paling dia inginkan sekarang adalah memberi pelajaran kepada Megan.
'Dasar si pirang itu!' gerutu Ethan dalam hati. Tangannya mencengkeram erat gelas berisi bir.
__ADS_1