Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 6 - Perdebatan Di Dalam Taksi


__ADS_3

...༻❂༺...


Megan melipat tangan di depan dada. Perlahan dia melirik ke arah Clara yang sibuk dengan buket bunga.


"Miss, Tuan Kevin ingin bertemu denganmu lagi. Kami..." ucapan Morgan terhenti saat Megan mengangkat satu tangan ke depan wajah. Megan memang sengaja membuat Morgan diam.


"Sudah kuduga, kalian ada maunya." Megan merespon sinis. Dia menyerahkan semua bingkisan kembali kepada Morgan dan Adam. Kecuali buket bunga, sebab Clara terlihat begitu menyukainya.


"Sampaikan kepada Tuan kalian. Kalau aku tidak berminat untuk bertemu dengannya lagi." Megan menegaskan sembari berkacak pinggang.


"Tapi--"


"Kau ingin aku mengumumkan nama bos kalian ke semua orang?" ancam Megan. Sekali lagi dia sengaja memotong perkataan Morgan.


Morgan dan Adam tidak bisa berkata apa-apa. Mesipun begitu, mereka tidak meraih kembali bingkisan yang diserahkan Megan. Keduanya justru terlihat saling berdiskusi.


Megan yang tadinya sudah terganggu akibat kehadiran Clara, kini tambah risih dengan kemunculan Morgan dan Adam. Megan ingin lekas-lekas pergi dari rumah sakit. Sebelum itu, Megan menanyakan alamat rumah Clara terlebih dahulu.


"Aku tinggal di A. Rainy Street. Di rumah dengan nomor... nomor...." Clara hanya berhasil mengingat nama jalan dimana tempat dirinya tinggal. Tetapi tidak ingat secara spesifik.


"Lupakan!" Megan tidak sabar menunggu. Dia segera mengobrak-abrik tas milik Clara. Di sana Megan mencoba mencari-cari tanda pengenal Clara. Usahanya membuahkan hasil. Dalam sekejap dirinya sukes menemukan kartu tanda pengenal milik Clara.


"Ayo, Clara. Aku akan mengantarkanmu pulang." Megan berucap seraya melakukan bahasa isyarat. Dia segera menyeret Clara untuk ikut dengannya.


"Bunganya. Kita tidak boleh meninggalkannya," seru Clara. Enggan meninggalkan buket bunga mawar merah pemberian Kevin.


Megan menghela nafas berat. Dia mengambil beberapa tangkai bunga dan membawakannya untuk Clara. "Segini cukup bukan? Ayo kita pergi!" ajaknya sembari merangkul Clara keluar dari ruangan.


"Tunggu, Nona. Kau dan Ibumu belum membayar biaya rumah sakit!" ujar seorang perawat. Memekik dengan suara yang cukup lantang.


Megan sontak menghentikan langkah kakinya. Kemudian menoleh ke arah perawat yang memperingatkan tadi.

__ADS_1


"Kau lihat dua pria besar itu?" Megan menunjuk Morgan dan Adam dengan jari telunjuk. "Merekalah yang akan menanggung biaya rumah sakitku dan Clara," sambungnya. Lalu meneruskan pergerakan kakinya bersama Clara.


Menyadari kepergian Megan, Morgan dan Adam dibuat panik. Mereka bergegas melakukan pengejaran. Akan tetapi Morgan terpaksa berhenti sejenak, karena seorang perawat menuntut biaya tagihan kepadanya. Alhasil Morgan menyarankan Adam untuk mengejar Megan lebih dahulu.


Adam berlari secepat mungkin. Hingga akhirnya dia dapat melihat sosok Megan yang kebetulan sibuk mencari taksi. Saat itulah sebuah tangan tiba-tiba menyentuh salah satu bahunya.


"Biar aku saja yang membujuknya. Kalian hanya perlu menyuruh Kevin duduk tenang menunggu," ujar sang pemilik tangan yang ternyata adalah Ethan.


"Kau yakin? Perempuan itu terlihat sangat sulit dibujuk." Adam bicara dalam tahap pengaturan nafas.


"Ya, setidaknya aku lebih mengenalnya dibanding dirimu." Ethan menepuk pelan pundak Adam. Dia lantas beranjak untuk mengekori Megan. Masuk begitu saja ke dalam taksi dimana Megan dan Clara sedang berada.


"Arrghhh!!! Ethan!!" geram Megan. Menggertakkan gigi kesal ketika Ethan muncul di hadapannya.


"Siapa ini? Dia sangat tampan." Berbeda dari Megan, Clara menyambut kedatangan Ethan dengan ramah. Senyumannya merekah tulus di wajah.


"Terima kasih, beautiful lady. Aku adalah saudara lelaki Megan," jelas Ethan. Dia tidak tahu kalau wanita tua yang di ajaknya bicara mengalami gangguan pendengaran.


Megan mencoba mencuri perhatian Clara. Kemudian memberitahukan kalau Ethan hanyalah seorang pengganggu. Tetapi Clara malah tidak terima. Menurutnya Ethan adalah orang baik.


Dahi Ethan mengerut kala menyaksikan interaksi Megan dan Clara. Dia sekarang sadar bahwa Clara mengalami ketulian. Semuanya terbukti dari bahasa isyarat yang digunakan oleh dua perempuan di depannya.


"Bisakah seseorang memberitahuku, kemana aku harus membawa kalian?" sopir taksi yang sedari tadi menunggu perintah, sudah tidak tahan melihat tingkah ketiga penumpang anehnya.


"Bawa kami ke jalan A. Rainy Street! Dan sebelum itu..." ujar Megan. Dia menjeda kalimatnya karena hendak mengusir Ethan dari taksi.


"Pergilah, Ethan!" Megan mencoba membukakan pintu mobil. Namun pergerakannya langsung dihentikan oleh Clara. Kini perdebatan harus terjadi lagi di antara Clara dan Megan.


Sang sopir taksi keturunan negro, hanya bisa memutar bola mata malas. Dia memilih menjalankan taksi tanpa sepengetahuan Megan.


"Hei! Kenapa kau menjalankan taksinya?!!!" ujar Megan. Suaranya berhasil memekakkan telinga semua orang. Bahkan Clara yang tuli, tersentak akibat lengkingan suaranya.

__ADS_1


Ketika Megan sibuk mengomeli sopir taksi, Ethan berinisiatif meminjam buku kecil serta pulpen dari Clara. Di sana Ethan menuliskan sesuatu untuk memberitahukan Clara tentang dirinya.


...'Aku adalah saudara lelaki Megan. Kami sudah lama tidak bertemu. Bantu aku berbaikan dengannya.'...


Kira-kira begitulah pesan yang ditulis Ethan di buku kecil milik Clara. Dia membiarkan Clara membacanya. Semua yang Ethan tulis tentu adalah kebohongan belaka.


"Terus jalan saja! Biar aku yang mengurus wanita pemarah ini!" saran Ethan kepada si sopir taksi. Perkataannya sontak membuat Megan melotot tajam.


"Ethan! Apa sebenarnya maumu?!" timpal Megan.


"Biarkan saja dia, my dear. Kita akan bicara baik-baik bila sudah tiba di rumah, oke?" Clara yang duduk di antara Ethan dan Megan, mencoba menenangkan suasana.


Megan menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Berupaya menghilangkan kekesalan dengan cara membuang muka ke arah jendela.


Selang beberapa menit, taksi sudah memasuki wilayah A. Rainy Street. Clara segera memperhatikan rumah-rumah yang ada. Mengulik memori ingatan melalui indera penglihatannya.


"Megan, aku ingin membicarakan perihal serius denganmu. Itulah alasan utamaku mengikutimu sekarang," celetuk Ethan.


Megan memilih bungkam. Baginya tidak ada hal serius yang perlu dibicarakan. Apalagi dengan sosok pembuat onar seperti Ethan. Mungkin lelaki berambut cepak tersebut hanya akan membuat masalah menjadi semakin pelik.


Ethan melirik pelan ke arah Megan. Perempuan yang dia ajak bicara itu, sama sekali tidak menggubris ucapannya. Bahkan terkesan tidak peduli. Ethan tidak punya pilihan lain selain menggunakan jurus rahasianya. Seringai perlahan terukir.


"Ini tentang Ryan..." lirih Ethan sambil sedikit memajukan bibir bawah. Kali ini dia yang mengalihkan pandangan ke jendela. Keadaan berbalik, sekarang Megan yang malah menoleh ke arah Ethan.


"Apa yang terjadi kepadanya? Dia tidak ditangkap oleh polisi lagi bukan?" Megan penasaran bukan kepalang.


"Kita akan bicara saat sudah sampai ke rumah..." belum Ethan selesai bicara, taksi sudah berhenti. Clara tampak menunjuk sebuah rumah yang sepertinya adalah tempat huniannya.


"Clara," Ethan meneruskan kalimatnya sembari keluar dari taksi. Kemudian di ikuti oleh Megan dan Clara setelahnya.


"Ayo masuk! Kalian harus beristirahat." Clara mengajak Ethan dan Megan untuk mengikutinya. Ia berjalan cukup pelan dan agak gemetaran. Walaupun begitu, Clara bisa terbilang masihlah bugar jika terkait kesehatan fisiknya.

__ADS_1


Ethan memperhatikan Megan sebentar. Dia dapat melihat kegelisahan Megan saat memeriksa tas bawaaan. Dari sana Ethan dapat menduga, selain krisis pertemanan, sepertinya Megan juga mengalami kesulitan keuangan.


__ADS_2