
...༻❂༺...
"Bukan aku yang bertanya. Tetapi lelaki yang sedari tadi kalian kerjai." Megan menunjuk ke arah Ethan. Membuat semua remaja yang ada di hadapannya menoleh ke belakang. Tepat dimana Ethan berada.
"Great! Sekarang kalian melihatku." Ethan mengangkat kedua tangan. Jujur saja, sejak awal dia merasa terhina.
"Tanyakan saja apapun. Kami tidak punya banyak waktu," ujar remaja berambut gimbal.
Ethan memutar bola mata sebal. Lalu segera menanyakan perihal orang yang akan ditemuinya. Ethan mencoba mencari seorang hacker berjulukan Dark Skull.
"Ah... ternyata pecundang berusaha mencari pecundang lainnya. Hahaha..." Ethan justru mendapat tanggapan remeh dari para remaja. Namun dia tak peduli.
"Dia ada di lantai tiga. Nama aslinya adalah Eggy Ferdinan. Dia selalu menyebut dirinya sebagai Dark Skull. Dia anak yang aneh!" jelas remaja berambut gimbal.
"Tunggu, tunggu! Anak? Maksudmu dia masih kecil?" Megan agak kaget mendengar kebenaran tentang hacker yang dicari Ethan.
"Dia mungkin seumuran dengan remaja-remaja di sini, Megan. Ayo!" Ethan beranjak masuk lebih dulu masuk ke apartemen. Padahal Megan belum sepenuhnya mencerna kenyataan yang dia terima.
"Thanks, guys!" Megan melambaikan tangan kepada para remaja. Dia bergegas mengekori Ethan. Memanggil lelaki itu beberapa kali, tetapi tidak kunjung mendapat respon.
"Ethan! Apa kau tuli?" Megan akhirnya mampu meraih pundak Ethan.
Ethan langsung berbalik. Memasang raut wajah yang tidak pernah dilihat Megan sebelumnya. Sangar dan tegas. Dia menepis kasar. Lalu mencengkeram erat lengan Megan.
"Kau tidak usah berlagak! Di sini akulah bosnya! Aku yang memutuskan siapa dan bagaimana organisasi mafiaku nanti. Kau tahu, Megan? Masih banyak hal yang kau tidak tahu tentang jati diriku. Kau mungkin selalu menganggapku bodoh. Tidak! Mungkin tidak hanya kau yang beranggapan begitu." Ethan bicara sambil mengeratkan rahang. Ada kilatan yang tergambar dari binar matanya. Menyebabkan Megan tak mampu berkata-kata.
"Sebentar lagi, kau akan mengenalku. Orang yang selalu kau anggap bodoh dan pecundang ini akan menunjukkan sesuatu tak terduga. Tunggulah momen itu terjadi di depan matamu!" sambung Ethan lagi. Dia semakin mendekatkan wajahnya.
Tanpa sadar, Megan mematung dan menelan ludah. Ia bahkan tidak bisa memutuskan pandangan dari mata Ethan. Ada satu hal yang Megan lupa, Ethan merupakan ahli hipnotis. Mungkin sekarang dirinya tengah menjadi korban pelampiasan.
__ADS_1
Setelah puas berucap, Ethan perlahan melepaskan Megan. Kemudian lanjut melangkah. Dia dan Megan segera menemui Eggy.
Ethan mengetuk pintu beberapa kali. Sedangkan Megan berdiri di belakangnya. Mereka menunggu pemilik rumah membuka pintu.
Ceklek...
Pintu perlahan terbuka. Muncullah sosok remaja berkulit hitam dengan mengenakan hodie. Raut wajahnya terlihat sinis. Seakan tidak suka dengan kedatangan Ethan dan Megan.
"Kau Dark Skull bukan?" tanya Ethan.
Remaja keturunan negro itu langsung mengangguk. Ia bahkan tersenyum kala mendengar Ethan menyebut dirinya Dark Skull.
"Siapa kau?" tanya Dark Skull yang tidak lain adalah Eggy.
"Aku Ethan, dan dia Megan. Maksud kedatangan kami adalah untuk meminta bantuanmu." Ethan berututur kata lembut. Satu tangannya dengan berani memegangi pundak Eggy.
"Oke... silahkan masuk!" Eggy membuka pintu lebar-lebar. Membiarkan Ethan dan Megan masuk ke tempat kediamannya.
"Apa kau lupa apa yang aku katakan di lorong tadi? Sudah kubilang akulah yang berwenang membuat keputusan!" tegas Ethan. Dia sepertinya kesal kepada Megan akibat insiden di lapangan basket tadi. Ethan merasa harga dirinya di injak-injak oleh Megan.
Megan terdiam seribu bahasa. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Lalu melipat dua tangan di depan dada. Megan melihat-lihat ruangan yang sekarang dimasukinya. Dari pengamatannya, Eggy pasti tinggal sendirian. Semuanya terlihat jelas dari perabotan yang berantakan serta banyak kotak makanan di bak sampah.
Ethan berdiskusi dengan Eggy. Mereka membicarakan perihal kerjasama. Saling bernegoisasi tentang bayaran terlebih dahulu. Di akhir, Eggy setuju setelah mendapat tawaran menggiurkan dari Ethan. Yaitu menjadi anggota tetap di organisasi mafia yang akan dibangun Ethan nanti.
"Bisakah kau memberitahuku nama organisasi mafiamu nanti?" tanya Eggy bersemangat. Remaja sepertinya memang mudah ditipu. Apalagi dengan keahlian hipnotis Ethan.
"Aku akan memberitahu jika semua telah siap. Lebih baik kita bicara mengenai rencana selanjutnya," ujar Ethan santai. "Eggy, apa kau punya papan tulis dan spidol? Aku akan menjelaskan strategiku," lanjutnya.
Eggy bergegas bangkit. Dia berlari memasuki salah satu ruangan. Nampaknya Eggy berupaya mencari papan tulis dan spidol. Saat itulah Megan berjalan ke hadapan Ethan.
__ADS_1
"Sekarang aku paham, kenapa kau memilih remaja itu." Megan menunjuk posisi Eggy dengan dagunya.
Ethan menarik sudut bibirnya ke atas. Dia memasang ekspresi angkuh. "Baguslah kalau kau sudah paham," tanggapnya. Mengharuskan Megan memutar manik birunya dengan malas.
Menurut Megan, Ethan memilih Eggy karena anak itu mudah dikendalikan. Andai Ethan memilih hacker yang cukup dewasa, mungkin akan lebih sulit mempengaruhinya.
Eggy terlihat kembali membawa papan tulis dan spidol. Ethan lantas segera memberikan penjelasan.
"Apa ini perlu dilakukan? Kita hanya bertiga." Megan menyela saat mulut Ethan sudah menganga.
"Perlu, karena di sini aku dan Eggy-lah yang bertindak. Kau silahkan duduk manis saja menjadi pacarnya Kevin," pungkas Ethan ketus. Dia segera lanjut menjelaskan. Sementara Megan memutuskan membungkam mulut saja. Berdebat dengan Ethan memang tidak pernah ada habisnya.
"Kau tahu teknologi apa yang paling sering digunakan saat ini?" Ethan memberikan pertanyaan kepada Eggy.
"Laptop? Smarthphone?" Eggy menjawab dengan ragu.
"Salah! Ayolah, Eggy. Bukankah kau seorang hacker? Kau menggunakannya setiap hari!" seru Ethan.
Eggy berpikir sejenak. Matanya mendelik ke atas sebentar. Sampai akhirnya jawaban yang tepat muncul di kepala. "Aku tahu! Internet bukan?" katanya.
"Benar sekali. Internet..." Ethan menulis kata internet di papan tulis.
"Aku yakin, setiap perusahaan terkoneksi dengan internet. Apalagi perusahaan berbasis teknologi seperti The New Life Technology. Kita hanya perlu mengirim virus perangkat lunak ke basis internet perusahaan itu. Tetapi kita butuh virus yang kuat. Virus yang akan menghancurkan otak mesin dalam waktu cepat." Ethan menjelaskan panjang lebar.
"Lalu setelah virus itu tersebar?" Megan menuntut Ethan meneruskan. Dia mulai tertarik dengan ide Ethan.
"Jika virus itu sudah bekerja, kita hanya perlu memastikan semua kinerja di perusahaan The New Life Technology hancur. Sampai posisi Thomas sebagai CEO terancam. Pokoknya kita harus membuat perusahaan itu runtuh terlebih dahulu. Saat itulah aku dan Megan beraksi mendekati Kevin." Ethan menerangkan kembali.
"Kenapa kau ingin menghancurkan perusahaan itu? Bukankah kau berniat mengambil alihnya? Apa gunanya mengambil alih perusahaan yang sudah tidak berguna?" Megan mengulurkan kedua tangan heran.
__ADS_1
Ethan lantas bergerak ke dekat Megan. Hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Aku tidak membutuhkan uang mereka, Megan. Tetapi fasilitas hebat yang ada dalam perusahaan itu." Ethan berpindah posisi ke depan jendela. "Dengan hancurnya basis internet mereka, maka semua ilmuwan Biologi tidak dipakai. Kemungkinan besar mereka akan dipecat. Sebab perusahaan mengutamakan ahli teknik saja. Aku yakin itu," lanjutnya sembari menatap lurus keluar jendela.