
...༻❂༺...
Megan keluar dari kamar mandi. Ia menunjukkan raut wajah cemberut. Menatap nyalang ke arah Kevin yang masih asyik tertidur.
"Kevin!" panggil Megan dengan suara cukup lantang. Hingga berhasil membangunkan Kevin dari lelap. Lelaki itu lantas merubah posisi menjadi duduk.
"Apa yang kau lakukan kepadaku?!" timpal Megan. Menuntut penjelasan.
Kevin hanya mengerjapkan mata. Memasang wajah polos seakan tak mengerti. Dahinya bahkan berkerut heran.
"Apa maksudmu?" tukas Kevin.
Megan memutar manik birunya dengan kesal. Lalu menunjukkan memar yang ada di bagian bahu kanan.
"Kau kenapa?" Kevin justru terlihat cemas. Ia langsung bangkit dari kasur. Mencoba memperhatikan baik-baik memar yang ada di bahu Megan.
"Tidak usah berlagak tak mengerti. Kau yang melakukannya bukan?" Megan melayangkan tatapan tajam.
"Apa? Aku? Bagaimana bisa aku menyakitimu? Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku bersumpah!" ungkap Kevin. Ekspresi wajah yang ditampakkannya terlihat meyakinkan.
Megan sebenarnya tidak mempercayai Kevin. Tetapi saat mengingat rencananya dengan Ethan, dia akhirnya memutuskan menahan kekesalan. Megan tidak ingin memunculkan pertengkaran. Sebab dirinya masih perlu lebih dekat lagi dengan Kevin. Lagi pula dalam waktu dekat perusahaan milik Kevin akan hancur. Setidaknya begitulah anggapan Megan. Dia hanya perlu berhati-hati lagi.
"Kau bahkan tidak punya bukti kalau aku yang melakukannya kepadamu. Coba cek saja kamera pengawas! Tidak ada apapun yang terjadi. Aku hanya tidur di sampingmu," jelas Kevin panjang lebar.
"Baiklah, cukup. Aku mempercayaimu," ucap Megan dengan berat hati. Kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Kau mau berendam bersama di bath up?" tawar Kevin. "Mungkin badanmu akan lebih baik. Kau juga akan punya teman bicara. Kita bisa mengenal lebih dekat lagi," sambungnya sembari tersenyum tipis.
Megan menoleh. Terpaksa membalas senyuman Kevin. Dia mengangguk dan lebih dahulu masuk ke kamar mandi.
Kevin bergegas melepas pakaiannya. Hingga menyisakan celana pendek hitam sepangkal paha. Dia memiliki tubuh atletis. Otot bisep serta perutnya tampak menonjol membentuk garis tertentu. Kevin segera berderap masuk ke kamar mandi.
Megan tampak sudah melepas sebagian pakaian. Sekarang dia hanya mengenakan bra serta sabuk segitiganya. Megan menuang sabun terlebih dahulu ke dalam bath up. Dalam sekejap bath up dipenuhi oleh busa. Bau aroma buah apel seketika menyeruak memenuhi ruangan.
Ketika Megan masih sibuk menyiapkan bath up. Sepasang tangan menyentuh lembut perut langsingnya. Kevin memeluk Megan dari belakang. Lelaki itu mengecup bahu Megan yang memar. Tidak tanggung-tanggung, kecupannya berlanjut hingga ke beberapa bagian memar lainnya.
Entah kenapa darah disekujur badan Megan berdesir hebat. Sentuhan lembut mungkin lebih membuatnya terangsang dibanding jamahan liar yang sering dia terima. Meskipun begitu, Megan berusaha keras menutupi apa yang dirasakannya.
Kevin berhenti mengecup, saat berada pada memar yang ada di pangkal paha Megan. Posisi Kevin saat itu berjongkok di bawah kaki Megan. Ia mendongak menatap Megan.
__ADS_1
"Mungkin ciumanku tadi bisa menyembuhkan memarmu dengan cepat," celetuk Kevin.
"Mungkin..." sahut Megan seraya mengangkat dagu Kevin dengan jari telunjuk. Lalu masuk ke dalam bath up yang sepenuhnya telah siap.
"Ayo masuklah!" ajak Megan. Ia sudah duduk nyaman dalam balutan busa bath up.
Kevin menurut saja. Dia memilih duduk berhadapan dengan Megan. Tatapan matanya terus saja terfokus kepada wanita berambut pirang di hadapannya.
"Berhentilah menatapku begitu, dan bicarakanlah tentang sesuatu hal." Megan menyandarkan kepala ke bath up. Tulang belikat nampak menonjol pada kulit putihnya.
"Kau harus menjadi super model. Itulah satu-satunya yang ingin aku katakan sekarang. Semua orang harus melihat pesonamu. Buatlah mantan suamimu hanya bisa meneteskan air liurnya. Terutama saat melihat foto cantikmu di majalah ternama." Kevin mengungkapkan isi hatinya.
Megan tergelak lepas. Menurutnya penuturan Kevin sangat lucu. Megan lantas membalas, "Kau benar. Apa perlu aku menghubungi rekan kerja yang kau kenalkan saat di pesta?"
"Harus. Kau harus menghubunginya. Emily terkenal sebagai pembina model terbaik di negara ini. Dia tidak pernah mempermainkan harga diri wanita. Semua modelnya bahkan banyak yang sukses."
"Jangan membuatku semakin tergiur, ma boy." Megan meletakkan salah satu kakinya ke dada bidang Kevin. Salah satu alisnya terangkat.
"Itulah yang aku inginkan. Yaitu membawamu masuk ke dunia hiburan. Apa kau tahu? Orang-orang dari dunia hiburan itu hebat. Menurutku mereka lebih pandai menguasai dunia dibanding presiden atau apapun itu. Kau paham maksudku bukan?" Kevin memegang lembut kaki Megan yang bertengger di dadanya.
"Aku tidak bisa membantah." Megan menyunggingkan mulut ke kanan. Saat itulah Kevin merangkak lebih dekat.
"Hanya ciuman..." jawab Megan.
Kevin lekas mengangguk. Kemudian memagut bibir Megan yang kebetulan sedang tidak memakai lipstik. Mulut keduanya memadu kasih.
Lama-kelamaan, indera pengecap yang mengambil alih. Megan dan Kevin saling mengulum lebih dalam. Deru nafas mereka kian memburu.
Tak!
Tak!
Tak!
Terdengar suara derap langkah orang berlari dari luar. Dari tempo pergerakannya sepertinya ada sesuatu yang mendesak.
"Tuan! Apa anda di sini? Aku membawa kabar buruk!" pekik sosok lelaki yang tidak lain adalah Adam. "Tuan?!" panggilnya lagi.
Mendengar seruan Adam, Kevin dan Megan otomatis saling melepaskan. Kening Kevin mengernyit. Ia merasa sangat terganggu terhadap kedatangan Adam.
__ADS_1
"Lebih baik kau temui dia. Sepertinya sangat penting!" saran Megan. Menyebabkan Kevin terpaksa bangkit, lalu segera mengenakan handuk kimono yang tersedia.
Megan ikut keluar dari bath up. Bergegas mengenakan handuk kimono. Dia berfirasat kalau kabar yang dibawa Adam berkaitan dengan rencana Ethan. Megan hendak memastikan keberhasilan rencana rekan pecundangnya tersebut.
Ceklek!
Kevin membuka pintu sambil mengukir semburat wajah masam. "Ada apa?!" timpalnya kesal. Dagunya terangkat dengan angkuh.
"Tuan Thomas menyuruhku untuk menemui anda. Katanya anda tidak kunjung mengangkat panggilan teleponnya," terang Adam. Dalam keadaan dua tangan bertautan di depan badan.
"Thomas? Dia membuat masalah apa lagi?!" tanya Kevin. Kelopak matanya melebar seketika.
"Ka-katanya, basis utama internet di perusahaan sedang mengalami masalah. Produksi menjadi terkendala. Apalagi proyek utama yang sudah hampir anda persiapkan dengan matang." Adam memberitahu dalam keadaan takut.
"Apa?!" Kevin mencengkeram erat kerah baju Adam. Matanya membuncah hebat. Memberikan tatapan tajam yang pastinya membuat Adam menciut ketakutan.
Bruk!
Prang!
Kevin menghempaskan Adam tepat ke meja kaca. Sampai menyebabkan meja itu pecah berkeping-keping. Adam yang posisinya sebagai bawahan, hanya bisa pasrah. Bahkan ketika beberapa titik tubuhnya mengalami goresan berdarah.
Kevin terlihat tak peduli. Dia hanya ingin cepat-cepat pergi ke perusahaan dan menemui Thomas.
Megan yang menyaksikan segalanya sejak tadi, mematung di tempat. Dia membantu Adam untuk berdiri. Kemudian beranjak mengikuti Kevin.
"Kau akan pergi?" tanya Megan. Dia melajukan langkah kakinya dari belakang.
Kevin tampak sudah mengenakan kemeja rapi dan celana. Dia berbalik saat Megan memanggil.
"Kenakan pakaian dan ikutlah denganku!" titah Kevin. Raut wajahnya terlihat tegas dan serius. Sesuatu yang belum pernah dilihat Megan sebelumnya.
Megan setuju. Dia tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas. Mungkin saja Megan mendapatkan informasi penting mengenai perusahaan Kevin. Dengan begitu, organisasi mafia Ethan akan lekas didirikan. Kerjasamanya dengan Ethan juga akan cepat berakhir.
...____...
Catatan Author :
Guys, kalau suka sama ceritanya jangan lupa like, komen, hadiah dan vote ya. Soalnya aku jatuh bangun banget nerusin novel ini. Sempat terpikir buat hiatusin juga. Bukan hanya karena udah bosan sama latar luar negeri, tapi juga karena novel ini jadi yang paling sepi dibanding novelku lainnya.
__ADS_1