
...༻❂༺...
Sedikit lagi hiasan lampu yang dipegang Megan lepas dari tembok. Ketakutan mendadak menyelimuti.
Megan memang pernah melakukan percobaan bunuh diri. Ia sempat tidak takut melawan maut. Tetapi entah kenapa sekarang dia ingin bertahan hidup. Terutama saat memiliki tujuan jelas yang diberikan Ethan untuknya.
"Tik tok, tik tok, tik tok..." Ethan sengaja mendesak Megan.
"Baiklah! Aku akan memanggilmu Bos setelah ini. Sekarang selamatkan aku!" seru Megan. Tanpa diduga, hiasan lampu yang dipegangnya terlepas dari tembok. Saat itulah Ethan meraih tangan Megan. Kemudian membawanya untuk naik ke atas.
"Kau gila!" maki Megan. Nafasnya tersengal-sengal akibat insiden terjatuh tadi. Dia sudah sepenuhnya berdiri di rooftop.
"Ayo! Kita harus pergi dari sini!" ajak Ethan. Ia mengajak Megan turun ke bangunan lantai dua. Seterusnya, mereka berlari ke jalanan raya.
Megan dan Ethan berbaur dengan orang-orang di jalanan trotoar. Keduanya mampu melakukan pelarian secara mulus. Kini mereka duduk berdampingan di dalam kereta bawah tanah.
"Kita akan kembali ke hotel bukan?" tanya Megan.
"Tentu saja. Aku yakin Kevin pasti mencarimu," jawab Ethan.
"Kau yakin dia masih di sana? Aku rasa sudah tidak." Megan mengungkapkan pendapat.
"Megan!" Ethan yang tadinya tersandar, segera menegakkan badan. Megan sontak menoleh ke arahnya.
"Jangan lupa untuk memanggilku dengan sebutan Bos." Ethan memasang mimik wajah arogan. Menyebabkan Megan meringis jijik. Namun sayangnya dia telah terlanjur berjanji.
Sesampainya di hotel, Megan dan Ethan segera memesan makanan. Mereka kebetulan sama-sama kelaparan. Dalam sekejap, hidangan yang mereka pesan langsung ludes.
"Kau sebaiknya menemui Kevin." Ethan berucap sambil mendongakkan kepala ke sofa.
"Semuanya akan berjalan lancar, jika kau tidak meneleponku!" sahut Megan dengan tatapan sebal.
"Aku sedang berada di posisi terdesak, oke?" balas Ethan. Melakukan pembelaan. "Dan mulai sekarang, aku adalah bosmu bukan?" Ethan memicingkan mata. Berlagak tegas.
__ADS_1
"Aku hanya memanggilmu dengan sebutan bos. Bukan berarti aku benar-benar menjadi bawahanmu!" Megan mengerutkan dahi.
"Astaga, Megan. Aku menyuruhmu untuk memanggilku Bos, karena aku ingin kau menjadi bawahanku. Apa kau tidak mengerti?" Ethan mengulurkan kedua tangan ke depan. Terheran dengan pemahaman Megan yang sama sekali tidak sesuai dugaan.
"Terserah!" Megan memutar bola mata kesal. Tidak lama kemudian terdengar suara bel pintu. Pertanda ada seseorang yang hendak berkunjung.
"Aku yakin itu adalah pengawal Kevin!" terka Megan sembari bangkit dari tempat duduk. Ia segera membuka pintu, dan menemukan Morgan dengan raut wajah merengut.
"Ikut aku!" Morgan langsung meraih pergelangan tangan Megan. Lalu menyeretnya untuk ikut.
"Apa yang kau lakukan?! Bisakah kau membawaku dengan cara yang lebih sopan?!" geram Megan seraya mengeratkan rahang. Dia tidak terima dirinya diperlakukan semena-mena.
"Ethan!" panggil Megan sambil menoleh ke belakang. Berharap Ethan bersedia menolong. Akan tetapi lelaki berambut cepak itu tampak santai saja. Bahkan melambaikan tangan sembari mengukir senyuman.
"Bos, Megan. Panggil aku bos!" ujar Ethan. Dia membalas dengan gerakan mulut tanpa suara. Namun Megan begitu paham dengan ucapannya.
Megan menggertakkan gigi. Dia pasrah mengikuti arahan Morgan. Megan dibawa ke kamar suit yang luas. Ia disuruh duduk menunggu.
"Sekarang kau akan lihat siapa Tuan Kevin sebenarnya. Dia juga sudah tahu lebih banyak tentang dirimu." Morgan mengarahkan jari telunjuk ke wajah Megan. Kemudian beranjak pergi keluar ruangan.
"Akhirnya aku bisa melihatmu juga." Kevin tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
Megan sontak berbalik dan mengembangkan senyuman. "Maaf, kemarin aku harus mengurus masalah mendesak," jelasnya sambil berjalan mendekat.
"Sepertinya sangat penting, sampai kau nekat mencuri mobil orang asing. Kau tahu? Aku sudah membantumu untuk mengganti rugi mobil yang kau curi," cetus Kevin. Sorot matanya tampak tajam. Entah karena marah atau memang hanya kesal. Sesuai dengan namanya, Winters. Sikap Kevin terasa dingin seperti musim dingin.
"Benarkah? Kalau begitu, terimakasih." Megan memegangi wajah Kevin dengan satu tangan.
"Aku sudah tahu tentang dirimu. Kebetulan saat kau pergi, orang suruhanku berhasil menguak identitasmu yang sebenarnya!" Kevin mendekatkan wajahnya. Melayangkan binaran mata yang mengancam.
"Menyedihkan bukan?" tanggap Megan santai.
"Ya, tragis dan menyedihkan. Tetapi kau semakin membuatku tertarik dua kali lipat." Kevin memainkan rambut Megan dengan jari-jemarinya. Lalu mengendus dengan hidung.
__ADS_1
"Kau aneh. Kenapa kau tertarik pada wanita sepertiku?" komentar Megan.
"Karena aku merasa kita senasib. Aku juga baru ditinggal seluruh keluargaku. Mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat." Kevin bercerita singkat.
"Ya, aku ada membaca berita tentang itu di internet." Megan perlahan menjauh dari Kevin. Sebab dia mulai merasakan ada aura yang berbeda dari pemuda tersebut.
"Aku juga menyedihkan bukan? Sekarang bagaimana kalau kau menikmati minuman yang aku buat." Kevin berjalan memasuki dapur. Di iringi oleh Megan dari belakang. Ada banyak beragam botol yang berisi cairan berwarna-warni.
"Apa kau dahulu seorang bartender?" Megan bertanya sambil menyandar ke meja. Dua tangannya terlipat di sana.
"Aku dahulu sempat bekerja di sebuah bar. Sebelum seseorang memberikanku tawaran untuk syuting film," terang Kevin sembari sibuk membuat segelas cocktail untuk Megan. Tanpa sepengetahuan Megan, dia memasukkan serbuk putih ke minuman. Lalu barulah meletakkannya ke atas meja.
"Minumlah! Beritahu aku bagaimana rasanya," ujar Kevin.
Megan mengambil cocktail buatan Kevin. Dia segera meminumnya tanpa rasa curiga. Awalnya tidak ada terjadi apapun. Megan merasa baik-baik saja.
Lama-kelamaan rasa pusing mulai menyelimuti Megan. Matanya bahkan terasa berat. Megan otomatis menekan jidatnya.
"Kenapa aku merasa sangat pusing..." lirih Megan. Penglihatannya mulai mengabur. Saat melihat Kevin, dia melihat wajah lelaki itu terbagi dua. Megan perlahan kehilangan kesadaran. Entah serbuk apa yang dimasukkan Kevin ke dalam minuman cocktail.
"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu kabur." Itulah kalimat terakhir yang didengar Megan sebelum pingsan. Selanjutnya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
...***...
Megan membuka pelan matanya. Dia menemui dirinya dalam keadaan terikat. Dua tangannya di ikat ke tiang kasur. Tetapi tidak kakinya.
Megan tentu merasa kebingungan. Ia juga dapat mendengar suara mesin kapal yang berdengung. Megan berpendapat kalau dirinya sedang berada di sebuah kapal.
Setelah beberapa menit berlalu, barulah Kevin masuk ke dalam ruangan. Dia langsung mengukir seringai diparas tampannya.
"Beginikah caramu sekarang?!" timpal Megan dalam keadaan mata yang melotot.
"Karena aku sudah tahu jati dirimu, maka aku harus melakukan ini. Bawahanku berhasil menemukan fakta, bahwa kau tidak hanya seorang wanita yang berdalih sebagai model. Tetapi juga merupakan salah satu penjahat kelas kakap." Kevin berujar sambil duduk ke ujung kasur. Di tangannya ada segelas sampanye yang tersisa tinggal sedikit.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" tukas Megan. Tanpa membalas tatapan Kevin.
"Tentu saja dirimu," sahut Kevin sembari meletakkan gelas ke nakas. Lalu merubah posisi ke hadapan Megan. Dia menekan kedua kaki Megan dengan tangannya.