
...༻❂༺...
Megan tersentak kaget saat mendengar suara tembakan. Setelahnya, sang pria misterius menutup panggilan telepon lebih dahulu.
"Apa Nona sudah selesai menelepon? Kita harus segera melanjutkan sesi rias kita," ujar salah satu pelayan. Dia mempersilahkan Megan duduk kembali.
"Sepertinya aku harus pergi. Suruh Tuan kalian menunggu nanti saja." Megan yang sudah mengenakan gaun berwarna merah, langsung meraih tas. Lalu berjalan menuju pintu. Dia juga tidak lupa mengenakan jaket kulit. Namun Morgan segera mencegat pergerakannya.
"Tidak bisa! Kau tidak boleh pergi!" cegah Morgan dalam pose menghentikan langkah Megan.
Dahi Megan berkerut. Dia bersikeras mencari celah untuk jalan keluar. Akan tetapi Morgan malah menyuruh semua pelayan agar ikut membantu.
"Jangan biarkan Nona ini pergi. Kita semua bisa kena amukan Tuan!" ujar Morgan. Ia masih berdiri di depan pintu.
"Oh my god. Apa kalian serius melakukan ini? Lagi pula aku hanya pergi sebentar!" protes Megan tidak terima.
"Anda harus menurut, Nona. Riasannya tinggal sedikit lagi." Seorang pelayan membawa Megan duduk kembali. Kemudian memoles blush on ke pipi Megan secara bergantian.
Megan memutuskan mengalah. Toh dia bisa melarikan diri saat dalam perjalanan menemui Kevin nanti. Meskipun begitu, dia merasa sangat kesal kepada Ethan.
'Ethan sialan! Apa dia sengaja menghapus nomor lain di ponselnya selain milikku? Sepertinya Ethan sengaja membuatku terlibat. Atau mungkin... karena dia memang hanya seorang pecundang,' batin Megan seraya memasang raut wajah cemberut.
Sepuluh menit berselang, pelayan akhirnya selesai merias wajah Megan. Kini Megan dipersilahkan untuk menemui Kevin. Kebetulan hari sudah menunjukkan jam 7.30 malam.
"Aku boleh tetap memakai jaketku bukan?" tanya Megan.
"Silahkan saja. Kau bisa melepasnya saat menemui Tuan," sahut Morgan sembari membukakan pintu untuk Megan.
Megan melenggang santai. Di iringi oleh lima pelayan. Sementara Morgan sengaja memimpin jalan lebih dahulu.
Saat hampir memasuki lift, Megan malah berlari ke jalur tangga darurat. Dia yang terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi, dapat kabur dengan mudah. Meskipun begitu, lima pelayan serta Morgan langsung melakukan aksi pengejaran. Mereka tidak akan melepaskan dengan mudah.
Sambil menuruni tangga, Megan terpaksa melepas sepatunya terlebih dahulu. Kemudian barulah dia dapat berlari lebih laju.
Megan memilih memasuki lift di lantai tujuh. Sebab kamarnya dan Ethan berada di lantai sepuluh. Dengan tergesak-gesak Megan masuk ke dalam lift.
Ketika pintu lift hampir menutup, Morgan tiba-tiba datang. Megan sontak tidak punya pilihan selain melakukan perlawanan. Perkelahian terjadi, karena Megan kali ini tidak mau kalah.
__ADS_1
Megan melayangkan tinju ke arah Morgan. Akan tetapi langsung mendapatkan tangkisan. Morgan lantas membalas dengan cara memelintir kedua tangan Megan. Saat itulah Megan memberikan tendangan asal ke kaki Morgan. Lalu mendorongnya hingga terduduk ke lantai.
Kini Megan bisa masuk ke dalam lift. Pintu lift perlahan menutup. Dia bahkan sempat-sempatnya melambaikan tangan kepada Morgan.
"Sialan! Awas saja kau! Kau belum tahu siapa jati diri Tuanku yang sebenarnya!" geram Morgan, yang mencoba kembali menghentikan pergerakan pintu lift. Tetapi pintu lift terlanjur tertutup.
Morgan tidak menyerah, dia memilih berlari melewati tangga darurat. Morgan juga tidak lupa menyuruh Adam berjaga di lantai pertama. Tempat Megan nanti akan melewati pintu keluar.
Ting!
Pintu lift terbuka, setelah bunyi dentingan terdengar. Tanpa pikir panjang, Megan langsung berlari sekuat tenaga. Dari kejauhan dia dapat melihat Adam sudah berjaga di depan pintu.
Megan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Benar saja, dirinya menemukan pintu keluar lain di samping kanan.
Adam tercengang, kala menyaksikan Megan pindah haluan. Sekarang dia terpaksa melakukan pengejaran.
Megan dengan cepat bersembunyi ke tempat tertutup. Usahanya sukses besar. Sebab Adam dan Morgan terfokus mencarinya ke arah jalanan raya.
Dengusan lega dilakukan oleh Megan. Ia memperhatikan dua kakinya yang sedang tidak mengenakan alas apapun. Sementara sepatu hak tingginya masih ada dalam genggaman.
Megan meraih ponselnya. Dia memastikan alamat yang dikirim oleh pria misterius terhadapnya. Barulah dia bergerak untuk mencari alat transportasi.
"Bisakah kau menolongku? Aku baru saja melihat sesuatu di dekat pohon itu. Coba kau lihat! Aku takut salah lihat." Megan menunjuk sebuah pohon tunggal sembari tidak berhenti merengek. Dia berlagak seperti gadis polos yang baru melihat sesuatu hal mengerikan.
"Ah, baiklah." Dengan bodohnya sang pemilik keluar dari mobil. Bahkan meninggalkan kunci menempel di dekat setir.
Megan tidak membuang waktunya. Apalagi ketika Morgan terlihat sudah menyadari keberadaannya. Megan sontak masuk ke mobil. Lalu menjalankan dalam kecepatan tinggi.
Tiga orang sekaligus melakukan pengejaran. Mereka bahkan berteriak merutuki Megan. Terutama dari si pemilik mobil. Lelaki itu merasa kesal bukan kepalang kepada pencuri mobilnya.
Di dalam mobil, Megan malah tertawa kecil. Dia menginjak pedal gas lebih kuat. Sehingga kelajuan mobil menjadi bertambah. Megan meninggalkan orang-orang yang mengejar, dalam keadaan berlari tergopoh-gopoh.
"Awas saja kau, Ethan. Aku akan memberimu pelajaran setelah ini," gumam Megan bertekad.
Megan memasuki area gang gelap. Di sana dipenuhi oleh orang-orang berandalan. Dari lelaki hingga wanita. Terlihat dari penampilan sangar mereka. Bertato serta bertindik di beberapa bagian tubuh. Namun Megan sama sekali tidak terintimidasi.
Seperti sebuah karma, sekumpulan orang menghalangi jalan Megan. Mereka berjumlah sekitar tujuh orang. Memenuhi jalan yang kebetulan dilewati oleh Megan.
__ADS_1
"Ah... kalian cari mati," ujar Megan seraya geleng-geleng kepala. Bukannya berhenti, dia justru mempercepat mobilnya. Tindakannya sontak membuat orang-orang yang menghalangi jalan bubar secara serentak. Kecuali satu orang wanita yang menindik hidungnya. Dia tetap mematung di tengah jalan. Tidak takut dengan mobil Megan yang melaju ke arahnya.
Seringai terukir di semburat wajah Megan. Hal serupa juga dilakukan wanita bertindik.
Deg!
Deg!
Deg!
Makin lama posisi mobil Megan tambah dekat dengan posisi wanita bertindik. Keduanya sama sekali tidak merasa panik.
Saat hampir dekat dengan posisi wanita bertindik, Megan dengan sigap memutar setir. Setelahnya, mobilnya melingus pergi tanpa melukai siapapun.
"Loser!" umpat sang wanita bertindik. Mengacungkan jari tengahnya ke arah Megan.
Megan yang dapat menyaksikan segalanya dari kaca spion, reflek menjulurkan lidah. Dia merasa menjadi pemenang.
...***...
Tiga menit berselang, tibalah Megan di sebuah tempat yang tampak seperti bar. Akan tetapi terlihat agak kumuh.
Megan berniat mencari senjata sebelum turun dari mobil. Dia berhasil menemukan pistol dari laci dashboard mobil. Tanpa basa-basi, Megan langsung menyimpannya di saku jaket.
Ketika Megan keluar dari mobil, dua pria berambut pirang menyambut kedatangannya. Salah satu dari mereka tampak berbicara dengan ponsel.
"Kau ternyata benar-benar datang. Edgar sudah menunggu lama kedatanganmu." Pria berambut pirang menilik Megan dari ujung kaki hingga kepala. Megan yang kebetulan baru merias diri, tentu menarik perhatian.
"Sebelum masuk, kami harus memeriksamu. Kami ingin memastikan, kau tidak membawa barang berbahaya." Pria berambut pirang itu mendekat.
"Aku tidak membawa senjata apapun!" ungkap Megan.
Sang pria berambut pirang hanya berdecih. Dia menyuruh Megan untuk mengangkat dua tangan ke atas. Saat itulah dia memeriksa setiap jengkal tubuh Megan. Hingga pada akhirnya pistol simpanannya harus direlakan.
Sesosok pria yang dipenuhi tato, keluar dari bar. Atensinya langsung tertuju ke arah Megan. Senyuman licik serta tatapan nakal terukir di wajahnya.
Pupil mata Megan membesar. Ia sedikit memiringkan kepala. Sebab dia mengenal sosok lelaki yang baru keluar dari bar. Lelaki penuh tato itu ternyata orang yang pernah ditendang Megan saat di klub malam. Tepat ketika Megan melakukan tari striptis.
__ADS_1
"Halo, Megan. Kau ingat denganku bukan?" si pria bertato berjalan mendekat. "Kenalkan namaku Edgar," lanjutnya.
"Dimana Ethan?" timpal Megan tak peduli. Namun Edgar dan dua temannya malah tertawa geli.