Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 20 - Berkunjung Ke The New Life Technology


__ADS_3

...༻❂༺...


Megan terpaksa duduk di teras rumah Clara. Ia melepas sepatu hak tingginya. Kemudian mendengus kasar. Megan merasa sangat lelah. Belum lagi udara malam yang terasa begitu mengikat.


Ceklek...


Pintu perlahan terbuka. Suara derap kaki yang tingkat pergerakannya terdengar agak laju, menjelaskan kalau sosok itu bukanlah Clara.


"Sepertinya kau berhasil," imbuh sosok yang tidak lain adalah Ethan.


Megan lantas berdiri dan berbalik. Dahinya berkerut. Dia tentu heran melihat Ethan ada di rumah Clara lebih dulu. Lelaki itu bahkan keluar dari pintu dengan santainya.


"Bagaimana kau bisa di sini? Jangan bilang kau mencariku?" timpal Megan dalam keadaan sedikit memiringkan kepala.


Ethan lekas membuang muka. Tebakan Megan benar seratus persen. Semenjak Megan tidak kunjung kembali ke kamar, Ethan berupaya melakukan pencarian. Hal terakhir yang bisa Ethan lakukan adalah mendatangi rumah Clara, dan dia tidak menyangka bisa menemukan Megan di sana.


"Tidak juga. Aku hanya ingin berkunjung ke sini saja," jelas Ethan. Tanpa membalas tatapan Megan. Atensinya langsung tertuju ke arah bingkisan yang tergeletak di teras.


"Kenapa Kevin selalu memberimu bingkisan seperti ini? Dan obat yang ada di dalam paket? Kenapa banyak sekali?" Ethan yang merasa penasaran, menanyakan pertanyaan beruntun.


"Entahlah. Ada yang aneh dengan kepribadian Kevin." Megan menjawab seraya masuk ke dalam rumah. Dia sudah tidak tahan lagi dengan hawa dingin malam.


Ethan mengambil parsel buah-buahan serta cokelat. Lalu melangkah mengikuti Megan ke rumah. Mereka duduk di sofa untuk membicarakan apa yang terjadi.


"Bisakah kau jelaskan, bagaimana keanehan Kevin?" tukas Ethan. Menatap Megan yang telah telentang di sofa panjang.


"Dia mengikatku di tiang tempat tidur. Selain itu, dia sering membaui rambutku. Tadi bahkan Kevin menjilat leherku. Aneh bukan?" Megan merubah posisi menjadi duduk. Mendadak terlintas suatu hal dalam benaknya.


"Ya, itu memang aneh. Tetapi dia tidak menyakitimu bukan?" tanggap Ethan.


Megan yang sempat berkalut dengan pikiran baru, memasang raut wajah serius. "Aku tadi bertemu dengan seseorang. Sebenarnya aku berusaha tidak memikirkannya karena tak mau mengingat insiden pembantaian keluargaku, tetapi... aku tidak ingin diam sekarang. Aku harus melakukan sesuatu," ungkapnya panjang lebar.


Kening Ethan bertautan. Dia tidak mengerti maksud dari pembicaraan Megan. Ethan juga dapat menyaksikan ada kecemasan di semburat wajah Megan.

__ADS_1


"Maksudmu kau tadi bertemu orang yang pernah terlibat insiden pembantaian keluargamu?" terka Ethan. Menyebabkan Megan otomatis menganggukkan kepala.


"Bisakah kau membantuku mencari tahu tentang mereka? Hanya mencari tahu saja." Megan menatap penuh harap.


Ethan terkesiap. Untuk yang pertama kalinya dia melihat ada sisi lemah dari seorang Megan. Ekspresi wanita itu nampak seolah mengkhawatirkan sesuatu. Kesan kepercayaan diri serta keangkuhan tak terlihat lagi.


"Aku pernah mendengar cerita dari bawahan Ryan. Katanya kau menolak untuk balas dendam. Makanya sekarang penjahat itu terus berkeliaran hingga sekarang. Kenapa kau tidak pernah meminta bantuan Ryan untuk balas dendam?" Ethan meletakkan sikunya di atas lutut. Memandangi Megan yang sibuk gigit jari.


"Aku punya alasan. Oke?" balas Megan seraya mengulurkan tangan ke depan.


"Jadi apa tujuanmu mencari tahu orang-orang itu? Apa kau akan memajang informasi tentang mereka di dinding kamarmu?" pungkas Ethan.


"Stop it, Ethan! Aku bersedia membantumu. Sekarang saatnya kau membantuku." Megan bertekad. Meski masih terdapat keragu-raguan dalam rencananya.


Ethan akhirnya memilih bungkam. Dia menyandar ke sofa sambil memejamkan mata. Hal serupa juga dilakukan Megan dalam beberapa detik kemudian.


...***...


Megan otomatis membuka mata. Ia menyaksikan Clara berdiri dengan senyuman yang merekah. Ethan bahkan tampak sudah mengenakan pakaian rapi.


"Kau mau kemana? Apa kau berniat mencari para gangster lagi?" tanya Megan dengan dahi yang berkerut. Setahu Megan, Ethan akan pergi jika mengenakan pakaian rapi.


"Kali ini tidak. Kevin mengajak kita mengunjungi perusahaannya. Kita akan melihat-lihat markas organisasi mafiaku." Ethan menerangkan dengan senyuman arogan. Dia menyilangkan tangan di depan dada.


Ethan memang sudah membuat jadwal janji kepada Kevin. Dia hanya beralasan kalau dirinya sangat mengagumi perusahaan The New Life Technology. Posisinya yang dianggap Kevin sebagai kakak lelaki Megan, tentu langsung mendapat persetujuan.


"Hehh! Perusahaan itu belum sepenuhnya menjadi milikmu," sinis Megan.


"Sebentar lagi. Kita hanya perlu menunggu waktu. Kau sebaiknya mandi dan bersiap-siap. Jangan lupa berdandan cantik agar Kevin semakin menyukaimu. Oh satu hal lagi! Clara membuatkan kita sandwich untuk sarapan." Ethan menuturkan sambil sesekali memeriksa layar ponselnya.


Baru menyebut nama Clara, wanita lansia itu sudah muncul dari arah dapur. Dia memaksa Megan untuk pergi ke meja makan.


Megan menurut saja, lagi pula perutnya terasa lapar. Semenjak tadi malam dia belum mengisinya dengan apapun. Mungkin hanya ada cairan wine serta sampanye yang menggenang di lambungnya.

__ADS_1


Setelah makan sandwich buatan Clara, Megan segera membersihkan diri dan mengganti pakaian. Dia mengenakan celana jeans dan kemeja putih yang dibalut blazer hitam.


Megan dan Ethan pergi sehabis berpamitan dengan Clara. Ethan kebetulan mengendarai mobil sportnya. Kini dia dan Megan telah berada di mobil. Dalam perjalanan menuju perusahaan The New Life Technology milik Kevin.


"Aku pikir mobilmu di ambil oleh Edgar," celetuk Megan.


"Untuk apa aku pergi ke lingkungan Edgar dengan membawa mobil mewah begini." Ethan menyahut tenang. Hening terjadi selang beberapa saat. Tidak lama kemudian mereka sampai di lokasi tujuan.


Mulut Ethan perlahan menganga. Ia berdecak kagum dengan pemandangan gedung pencakar langit di hadapannya. Benar-benar tampak berkelas dan canggih.


Ilustrasi Perusahaan The New Life Technology :



"Kelas perusahaan ini memang sesuai reputasinya" komentar Megan. Matanya tidak mengedip sejak menyaksikan perusahaan milik Kevin.


"Ayo kita masuk!" Ethan keluar lebih dulu dari mobil. Di ikuti Megan setelahnya. Mereka disuruh menunggu di lobby.


Sosok lelaki paruh baya terlihat berjalan mendekat. Dia tidak lain adalah Thomas Winters. Orang yang dipercayai Kevin untuk memegangi posisi CEO di perusahaan.


"Selamat datang, Tuan dan Nona Baker." Thomas menyapa dengan nada ramah. Walaupun begitu, raut wajahnya tampak serius.


Megan dan Ethan otomatis bangkit dari tempat duduk. Mereka saling berkenalan, dan menyalami Thomas secara bergantian.


"Maafkan aku. Tetapi Kevin tidak bisa ikut ke sini, karena ada jadwal syuting. Jadi dia mengirimkanku untuk mewakilkan kehadirannya. Silahkan ikut aku!" ujar Thomas sembari berjalan memimpin lebih dahulu. Megan dan Ethan lantas mengikuti.


Megan perlahan mendekatkan mulut ke telinga Ethan. Lalu berbisik, "Baker? Apa tidak ada nama belakang yang lain?"


Megan mengkritik nama belakang palsu yang dibuat Ethan. Menurutnya itu terlalu biasa. Baker? Seperti tukang pembuat roti saja.


"Aku menyebutkannya secara spontan. Lagi pula bagiku nama itu tidak terlalu buruk," jawab Ethan.


"Terserah..." Megan memutar bola mata malas.

__ADS_1


__ADS_2