Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 28 - Ciuman Tak Terduga


__ADS_3

...༻❂༺...


Thomas berhenti melangkah tepat di pinggir jalan. Raut wajahnya tampak murung. Sepertinya memang ada sesuatu hal yang dia pikirkan. Thomas tenggelam dalam lamunan. Hingga Ethan memanfaatkan keadaan tersebut untuk beraksi.


Hanya perlu menyentuh pundak, Thomas sudah berada dalam kuasa Ethan. Tanpa pikir panjang, Ethan segera memberikan sugesti. Berbisik ke telinga Thomas cukup lama.


Megan yang masih memperhatikan dari jauh, mengerutkan dahi. Selang lima menit, barulah Thomas bergerak. Bukannya pergi ke perusahaan, melainkan menuju ke tempat Megan berada. Yaitu mobil Ethan.


"Apa-apaan! Kenapa Ethan menyuruhnya ke sini? Apa dia mencoba mengerjaiku?!" gumam Megan tak percaya. Dia bergegas mengunci pintu mobil untuk berjaga-jaga.


Ponsel Megan mendadak berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan yang tidak lain dari Ethan.


"Ethan! Kenapa--"


"Thomas hanya ingin mengambil berkas yang aku siapkan di dashboard. Kau pikir aku mau apa? Menyuruh Thomas memukulimu? Mengenai itu aku bisa melakukannya sendiri." Ethan sengaja memotong perkataan Megan. Dia tidak mau banyak basa-basi.


"Kau memang--" sekali lagi ucapan Megan terjeda. Sebab Ethan mematikan panggilan secara sepihak. Kini Megan semakin tercengang. Lelaki berambut cepak itu memang sangat menyebalkan.


"Arrrghh!!" Megan menggeram kesal. Perlakuan Ethan menyebabkan tingkat marahnya mencapai ubun-ubun. Dia lantas mengambil berkas dari dashboard. Lalu melemparkannya lewat jendela mobil.


Thomas yang hampir sampai ke mobil, urung mendekat. Dia mengambil berkas yang terjatuh ke tanah. Selanjutnya, Thomas tampak kembali lagi menghampiri Ethan.


Ethan merangkul Thomas. Dia terlihat kembali bicara. Lalu masuk ke sebuah cafe dekat perusahaan. Entah apa yang dilakukan Ethan dan Thomas di sana.


Dari kejauhan, Kevin baru keluar dari mobil. Pemuda itu langsung memasuki area perusahaan. Beberapa saat kemudian, barulah Ethan menyuruh Thomas masuk ke perusahaan.


Sekali lagi, Ethan menelepon Megan. Dia hanya memberitahu Megan kalau sebentar lagi akan ada pertunjukkan hebat.


"Jangan main-main denganku, Ethan." Megan menjawab sambil menggertakkan gigi.


"Bos, panggil aku Bos. Setelah melihat pertunjukkan di beberapa menit ke depan. Aku yakin kau pasti kaget," jawab Ethan dari seberang telepon. Dia juga tampak berdiri di seberang jalan. Menatap Megan sembari meletakkan ponsel ke salah satu telinga.

__ADS_1


Megan memutar bola mata jengah. Meskipun begitu, dia keluar dari mobil untuk bergabung dengan Ethan.


"Apa yang mau kau tunjukkan? Sirkus?" sarkas Megan meremehkan.


"Ikut aku!" Ethan mencoba tak peduli. Ia memimpin jalan lebih dulu.


"Ngomong-ngomong mengenai sirkus. Aku mengatakan kepada Kevin, kalau kau dulu bekerja sebagai badut sirkus." Megan melanjutkan dengan gelak kecil. Jujur saja, dia memendam dendam kepada Ethan sejak tadi. Megan bukan wanita yang mau terima dirinya diacuhkan. Makanya hingga sekarang Megan belum bisa merelakan mantan suaminya.


"Maksudnya, kau sudah menyebarkan berita hoax tentangku? Begitu? Aku akan menuntutmu Megan." Ethan menanggapi dengan tenang. Dia dan Megan masuk ke gedung yang berdekatan dengan perusahaan The New Life Technology.


"Haaha... bagaimana bisa seorang penjahat bisa menuntutku?" Megan kali ini tertawa hambar.


Saat berjalan menuju lift, atensi Ethan dan Megan tertuju ke arah tiga orang yang ada di lobi. Mereka terlihat asyik mengobrol dengan resepsionis.


Megan dan Ethan merasa tidak asing dengan tiga orang tersebut. Walaupun begitu, keduanya memutuskan mengambil kesempatan untuk memasuki lift.


"Bukankah dia Edgar dan wanita yang berkelahi denganku saat di bar?" tanya Megan memastikan.


"Ya, aku bisa pastikan pria itu Edgar. Sedangkan dua orang yang lain, aku sama sekali tidak tahu siapa mereka. Bukankah sebaiknya kita bergegas pergi?" sahut Ethan.


"Kita harus bersikap seolah-olah tidak melihat. Berlagak tenang saja sampai kita berhasil memasuki lift." Ethan berbisik pelan.


Megan dan Ethan melenggang bersama memasuki lift. Saat itulah suara Edgar terdengar memanggil.


"Hei! Tunggu! Ayo, guys!" seru Edgar. Dia dan dua temannya ikut berjalan memasuki lift.


"Sial! Mereka juga ke sini." Megan hanya merutuk saat dirinya dan Ethan sudah berada di dalam lift. Untung saja posisi Ethan berdiri membelakangi pintu. Sepertinya lelaki itu memang sengaja melakukannya. Ethan mengira Edgar dan kawan-kawan masih tidak sadar mengenai keberadaannya.


Megan menatap Ethan. Wajah lelaki itu sangat dekat dari biasanya. Kini dia dapat melihat jelas manik abu-abu yang dimiliki Ethan.


"Kau mau apa?! Kenapa masih berdiri di depanku?!" timpal Megan seraya mengeratkan rahang. Dahinya mengerut dalam.

__ADS_1


"Berjaga-jaga jika Edgar dan komplotannya masuk ke sini." Ethan terlihat serius. Bagi Megan aura lelaki itu terasa berbeda. Dia tidak tahu kenapa. Mungkin Ethan terlihat lebih keren saat berlagak serius. "Ingat Megan, kau harus ikut bermain bersamaku andai mereka sudah ke sini," lanjutnya.


"Bermain?" Megan masih belum memudarkan kernyitan di kening.


"Ayo!" benar saja, Edgar sukses menghentikan pintu lift yang hampir menutup. Dia dan dua rekannya segera masuk.


Megan membulatkan mata. Dia hendak melarikan diri. Akan tetapi Ethan mencegat dan justru menyambar bibirnya yang ranum. Sekarang Megan mengerti maksud kata 'bermain' yang disebutkan Ethan tadi.


Aksi pergulatan mulut tak terduga pun terjadi di dalam lift. Suara ciuman Ethan dan Megan memperdengarkan suara kecup-mengecup yang jelas.


Ethan dan Megan benar-benar melakukan ciuman yang nyata. Intens dan menggebu. Deru nafas keduanya perlahan mulai memburu. Mereka berusaha keras menutupi wajah dari Edgar dan kawan-kawan.


"Aku merasa sangat panas. Bos, bisakah setelah ini kau membawa kami ke klub? Aku ingin bersenang-senang dengan orang asing." Salah satu rekan Edgar angkat suara. Dia mengibas-ngibaskan tangan ke depan wajah.


"Ya, kau benar. Semenjak masuk ke lift ini aku juga berpikir begitu," sahut Edgar. Dia melirik ke arah Ethan dan Megan. Lalu menenggak salivanya sendiri.


Tanpa sadar tangan Ethan menjelajah liar tubuh Megan yang molek. Ia terbuai dengan respon yang diberikan Megan. Entah kenapa semuanya terasa candu. Apalagi Ethan sudah lama tidak bersentuhan dengan seorang wanita.


Ting!


Lift berdenting ketika sudah tiba di lantai tujuan. Edgar dan kawan-kawan yang telah sampai segera keluar dari lift.


"Guys, jika ingin bermesraan sebaiknya lakukanlah di dalam kamar." Sebelum pergi, Edgar menyempatkan diri untuk melakukan sindiran. Namun setidaknya dia tidak tahu kalau sejoli yang bercumbu adalah Ethan dan Megan. Dua psiko yang pernah membunuh separuh teman-teman di barnya.


Lift kembali menutup. Tetapi Ethan belum berhenti mengulum mulut Megan yang terasa manis. Lelaki itu lupa diri, dia malah memindahkan kecupan ke ceruk leher Megan.


Sama seperti Ethan, Megan juga sempat terlena. Matanya memejam rapat. Tanpa sadar dia mengeluarkan satu lenguhan dari mulut. Apalagi saat Ethan menyentuh area pribadinya dengan halus.


Ting!


Pintu lift berdenting. Tepat di lantai tujuan Megan dan Ethan. Megan yang lebih dulu tersadar, langsung mendorong Ethan menjauh.

__ADS_1


"Sudah selesai, sialan!" tukas Megan ketus. Lalu keluar dari lift sambil mengibaskan rambut pirangnya ke belakang.


Ethan segera keluar dari lift. Dia berhenti sejenak, lalu berusaha mengatur nafas. Ethan terpaku menatap punggung Megan yang semakin menjauh.


__ADS_2