Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 7 - Rencana Ethan


__ADS_3

...༻❂༺...


Ethan mengikuti Clara masuk ke rumah. Hal serupa juga dilakukan Megan setelah membayar biaya taksi. Mereka telah berada di ruang tamu. Duduk saling berseberangan.


"Rumah teman asingmu ternyata cukup besar," komentar Ethan sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.


"Bisakah kau tidak berbasa-basi?" balas Megan. Duduk sambil menyilangkan kakinya yang jenjang.


Ethan terkekeh. Dia menyematkan jari-jemarinya satu sama lain. Lalu menegakkan badan sebelum benar-benar bicara.


"Aku punya rencana, dan kau satu-satunya orang yang bisa membantu." Ethan mulai menjelaskan.


Salah satu alis Megan terangkat. Penjelasan Ethan terdengar tidak bermakna. "Kau ingin membicarakan perihal Ryan bukan? Apa semua ini berkaitan dengannya?" tanya-nya meragu. Megan mulai mencium adanya kebohongan.


"Tergantung! Tetapi yang jelas, aku yakin kau sedang tidak punya tujuan sekarang. Tidak punya keluarga, teman, dicampakkan suami, dan terakhir aku lihat, sepertinya pundi-pundi uang juga melarikan diri darimu," ujar Ethan. Sudut bibirnya tertarik ke atas untuk mengukir seringai.


"Berani sekali kau menghina harga diriku begitu? Bukankah kau bilang tadi butuh bantuanku?" Megan memiringkan kepala. Matanya mendelik demi memberikan ancaman kepada Ethan.


"Kau terlihat putus asa. Dua kali aku memergokimu melakukan percobaan bunuh diri." Ethan mengulurkan kedua tangan ke depan. Semburat yang ditunjukkan wajahnya tampak meyakinkan. Megan bahkan mengalihkan manik birunya dari lelaki berambut cepak tersebut.


"Aku tidak akan membantah. Jika kau tahu, maka lebih baik kau menjauh dariku. Terutama bila kabar tentang Ryan hanya akal-akalanmu untuk bicara denganku!" sembur Megan sinis.


"Ayolah, Megan! Move on! Kenapa kau masih saja mengharapkan Ryan kembali? Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya." Ethan berniat merubah pola pikir Megan.


"Persetan move on! Kau tahu? Semenjak berpisah dengan Ryan, aku kehilangan segalanya! Aku bahkan tidak bergairah lagi melakukan apapun." Megan berbicara dalam tempo cepat. Pertanda dia bersungguh-sungguh terhadap ucapannya.


Ethan tergelak sampai mulutnya menganga lebar. Menunjukkan deretan gigi gerahamnya yang rapi.

__ADS_1


"Termasuk melakukan sek*s? Ah... pantas saja kau kesana-kemari seperti wanita gila yang kesetanan. Aku--" Perkataan Ethan terhenti saat Megan mendadak mencengkeram kerah bajunya. Mengeratkan rahang sambil menyalangkan mata.


"Berhentilah berceloteh dan enyahlah!!" pungkas Megan. Kemudian mencoba menyeret Ethan menuju pintu keluar.


"Oke, oke! Aku tidak akan berbasa-basi lagi." Ethan melepaskan diri dari kekangan Megan. Dia melakukannya dengan cepat, sehingga cengkeraman Megan otomatis terlepas.


"Aku butuh bantuanmu untuk mendekati aktor terkenal Kevin Winters. Saat di klub, aku bisa melihat ketertarikanya terhadap dirimu. Kau tahu bukan, kalau Kevin adalah pewaris The New Life Technology? Salah satu perusahaan teknologi terbesar di USA." Ethan memberitahu sembari sibuk merapikan kerah bajunya.


"Aku tidak tertarik menjadi terlalu kaya. Bukankah aku tadi sudah bilang, kalau aku sudah tidak bergairah lagi terhadap apapun. Termasuk perihal U-A-N-G!" Megan menunjuk dada Ethan dengan jari telunjuknya. Kotek yang berwarna biru terlihat jelas menghiasi kukunya.


"Aku juga. Uang mudah didapat untuk penjahat seperti kita. Tetapi aku bicara mengenai apa yang akan kubuat dengan warisan milik Kevin. Aku berniat membangun organisasi besar. Yaitu basis mafia yang belum pernah ada di dunia sebelumnya." Ethan mengarahkan bola mata ke atas. Berekspetasi tinggi terhadap rencana yang disebutnya brilian. Memang sepercaya diri itulah Ethan.


Kali ini Megan yang tertawa geli. Dia geleng-geleng kepala melihat tingkah Ethan. Menurutnya Ethan terlalu banyak berkhayal. Merebut harta warisan milik orang lain tidak semudah tepuk jidat bukan?


"Pilihanku tetap sama. Enyahlah, Ethan." Megan melakukan pengusiran seraya mengembangkan senyuman.


Kini Ethan mencoba serius. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Apalagi kepada sosok wanita konsisten seperti Megan.


Megan memandang malas. "Aku sudah pernah bertemu dengannya. Tapi hatiku malah bertambah sakit, karena Ryan berusaha terus mengusirku," terangnya.


Ethan hampir bicara. Namun Megan justru bersuara lebih dulu. Gadis pirang itu berucap, "Kecuali... jika kau berhasil membuat Ryan menghabiskan waktu satu malam denganku. Mungkin aku akan berubah pikiran untuk membantu rencana bodohmu itu."


"A-apa?! Segila itukah dirimu?! Andai kau melakukannya, rumah tangga Ryan dan Ruby bisa hancur." Ethan terperangah dengan permintaan tidak senonoh Megan.


"Lihat, tadi katanya kau akan melakukan apapun untukku. Ternyata begitu saja kau tidak sanggup. Lagi pula aku hanya meminta waktu bersama Ryan sebentar. Tidak selamanya." Megan nampaknya serius dengan keinginannya.


"Tetap saja, kau berusaha merebut Ryan dari istrinya. Dasar tidak tahu malu," cerca Ethan tak habis pikir.

__ADS_1


"Apa kau pernah berpikir? Kalau sejak awal Ruby-lah yang merebut Ryan dariku? Aku tidak tahu kenapa semua orang selalu menganggap diriku sebagai penjahat. Aku hanya berusaha mempertahankan apa yang seharusnya. Termasuk Ryan! Aku adalah wanita pertama yang di nikahinya." Megan terbawa suasana. Dia yang tidak tahan lagi, segera mendorong Ethan keluar dari rumah. Akan tetapi pergerakannya harus terhenti saat Clara memanggil.


"Kenapa kalian bertengkar? Kemarilah! Aku punya kue yang lezat." Clara melambaikan tangan. Seruannya menyebabkan Megan terpaksa mengurungkan niat untuk mengusir Ethan.


Megan dan Ethan duduk saling berhadapan di meja makan. Clara menyuguhi mereka dengan teh hangat serta kue kering.


"Aku sedang menyiapkan pie apel untuk kalian. Kumohon jangan bertengkar lagi. Bicarakan masalah kalian baik-baik, oke?" Clara bicara dengan lembut. Lalu langsung menyibukkan diri ke dapur.


Ethan terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan sesuatu dalam kepala. Satu tangannya menopang jidat yang sedikit tertunduk ke bawah.


"Oh my god! Kue kering ini sepertinya sudah karatan," keluh Megan yang batal mengunyah kue kering pemberian Clara. Ia menjulurkan lidahnya berkali-kali. Akibat merasa jijik dengan kue yang sempat menyentuh area mulutnya tadi.


"Baiklah..." celetuk Ethan. Perlahan mendongakkan kepala. Megan lantas memusatkan seluruh perhatian kepadanya.


"Aku akan mengabulkan permintaanmu. Lagi pula kita bisa melakukannya secara rahasia," lanjut Ethan. Memperjelas maksudnya.


"Kau yakin? Bukankah kau selalu berpihak kepada Ruby?" Megan menyeringai sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Aku juga pantas bahagia bukan?" sahut Ethan. "Tetapi, aku hanya akan melakukannya setelah kita berhasil menipu Kevin," tambahnya, memberikan syarat.


Megan mendengus kasar. "Tidak masalah. Lebih baik beritahu aku mengenai rencana awalmu. Tidak berbelit-belit bukan?" desaknya.


"Pertama-tama, kita harus mengumpulkan uang yang banyak lebih dahulu. Kita harus berpura-pura menjadi adik kakak yang kaya raya. Kau juga harus buktikan kalau dirimu adalah seorang model yang hebat." Ethan meletakkan sikunya ke atas meja. Bertutur kata penuh akan keseriusan.


"Tunggu, tunggu. Adik kakak?" Megan menuntut jawaban.


"Maaf, aku terlanjur mengatakan kepada Morgan dan Adam, bahwa aku adalah saudara lelakimu." Ethan menjawab dengan mimik wajah masam. Seakan bersiap akan ledakan amarah Megan.

__ADS_1


"Pantas saja, dua pengawal itu tahu aku ada di rumah sakit. Ternyata kau yang memberitahu mereka? Dasar kurang ajar!" Megan melempar Ethan dengan kue kering kadaluwarsa milik Clara. Dia tidak melakukannya sekali, tetapi sampai beberapa kali.


"Aku berusaha meyakinkan mereka, oke?" Ethan berupaya menghindari serangan kue kering dari Megan. "Sekarang bisakah aku melanjutkan penjelasan tentang rencanaku?" lanjutnya. Alhasil Megan berhenti, meskipun amarahnya belum sepenuhnya memudar.


__ADS_2