Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 31 - Berjalan Sesuai Rencana


__ADS_3

...༻❂༺...


Kevin mengajak Megan dan Ethan ke sebuah restoran mewah. Di sana mereka menempati ruangan privat. Tidak ada orang lain selain mereka. Kecuali dua pengawal Kevin yang berjaga di depan pintu.


Kevin menghela nafas panjang. Dia melirik ke arah Megan terlebih dahulu. Tepatnya ke belahan dada yang sedikit terlihat. Megan yang tidak sadar, tampak asyik bermain ponsel.


Ethan sukes memergoki apa yang dilakukan Kevin. Entah kenapa dia agak terganggu dengan hal itu. Ethan lantas angkat suara.


"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" celetuk Ethan. Sukses membuat atensi Kevin teralih.


"Ini tentang Thomas. Sebelum bunuh diri, dia memberitahu nama orang yang pantas menggantikan posisinya. Dan... dia menyebut namamu, Ethan." Kevin memasang raut wajah serius.


Mendengar perkataan Kevin, Ethan dan Megan menyempatkan diri bertukar tatapan singkat. Keduanya seolah berbicara melalui tatapan itu.


"Benarkah? Bagaimana bisa? Padahal aku baru bertemu dengannya satu kali." Ethan kaget seraya memegangi dada. Dia tentu hanya berpura-pura. Mengingat apa yang terjadi kepada Thomas merupakan bagian rencananya.


"Aku tidak tahu. Thomas bilang kau adalah orang yang bisa dipercaya dan mampu mengelola The New Life Technology," ucap Kevin. Ia memanggil salah satu pengawalnya untuk mendekat. Lalu menyuruh mengambilkan berkas misterius.


"Jujur, aku tidak mau menjual The New Life Technology kepada siapapun. Dan beruntungnya, Thomas memberitahukanku nama yang pantas untuk menjadi penggantinya. Aku harap kau bersedia menandatangani berkas ini." Kevin menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Ethan. Berkas tersebut tidak lain adalah surat persetujuan untuk menjadi direktur utama The New Life Technology.


"Kau yakin bisa mempercayai Ethan? Apa kau tidak punya keluarga untuk memegang posisi itu?" tanya Megan. Menyebabkan mata Ethan langsung mendelik. Tidak seharusnya Megan berucap begitu.


Kevin lekas menggeleng. "Tidak! Thomas adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Percayalah, semua keluargaku adalah bajingan," jawabnya. Kemudian menenggak beberapa teguk minuman beralkohol.


Puas meminum alkohol, Kevin meletakkan gelas ke meja. "Ethan, jika kau menerima tawaranku. Maka otomatis hubungan kita berubah menjadi keluarga. Aku juga berharap kau merestuiku untuk memacari Megan," ucapnya lagi seraya melirik nakal ke arah Megan.


"Aku akan memikirkannya. Mengelola perusahaan tentu bukan hal yang mudah. Aku akan membawa berkas ini bersamaku." Ethan mengambil berkas yang diberikan Kevin. Diskusi berakhir disitu. Mereka menikmati makanan sejenak.


"Aku ke toilet sebentar." Ethan bangkit dari tempat duduk. Dia beranjak meninggalkan Kevin dan Megan berduaan.


Kevin langsung menoleh ke arah Megan. Tersenyum manis sambil menopang kepala.

__ADS_1


"Kau sangat kekanak-kanakan. Sungguh, kau lebih cocok menjadi adikku saja," komentar Megan seraya mengambil minuman beralkohol Kevin. Kemudian menggantinya dengan soda.


Kevin terkekeh geli. "Kau harus meyakinkan Ethan agar mau menandatangani berkas itu," ujarnya. Sengaja tidak menggubris pernyataan Megan tadi.


"Percayalah, dia pasti setuju," jawab Megan percaya diri.


"Aku suka sikapmu yang tidak kenal takut itu. Kau benar-benar tipe wanita idamanku, Megan..." goda Kevin. Tangan nakalnya perlahan menyingkap rok hitam yang dikenakan Megan.


"Thanks." Megan tersenyum singkat. Lalu menyesap wine beberapa teguk. Membiarkan tangan Kevin meliar di alat vitalnya.


Tidak hanya itu, Kevin bahkan mulai mencumbu ceruk leher Megan. Dia mencium, mengecup, hingga menjilat.


"Kevin!" pekik Megan, tatkala Kevin menggigit lehernya.


"Maaf. Aku tidak bisa menahan diri..." desis Kevin. Dia tetap lanjut mencumbu Megan. Saat itulah Ethan tiba-tiba datang. Membuat Kevin sontak menjaga jarak.


"Ethan! Ayo kita pulang! Ibu pasti sudah menunggu." Megan reflek berdiri. Sentuhan Kevin tadi sepertinya membuat dia tidak nyaman.


"Apa kau lupa? Hari ini kita berjanji akan merayakan ulang tahun mendiang ayah," cetus Megan berkilah. Dia segera menoleh ke arah Kevin.


"Maafkan aku, baby. Aku lupa kalau ada kegiatan setelah ini. Sampai bertemu lagi, oke?" pamit Megan. Dia mengajak Ethan untuk bergegas pulang. Namun belum sempat melangkah jauh, Kevin dengan cepat menghentikan.


"Apa kalian akan memakai taksi? Padahal aku bisa mengantar kalian pulang," seru Kevin.


"Tentu--"


"Kau sedang berduka. Kau lebih baik memanfaatkan waktu luangmu untuk beristirahat. Aku yakin, setelah ini kau akan menerima banyak sekali jadwal syuting." Megan sengaja memotong perkataan Ethan. Dia segera menyeret lelaki itu keluar dari restoran.


Megan membawa Ethan ke gang sepi. Mereka berhenti melangkah di sana.


"Apa yang akan kita lakukan di tempat sepi begini? Ini tidak seperti yang aku pikirkan bukan?" Ethan menatap nakal Megan dengan sudut matanya. Namun dia langsung mendapat satu tamparan dari Megan.

__ADS_1


"Sadarlah, bodoh! Aku hanya ingin bicara serius tentang Kevin. Dia tadi menggigit leherku. Sekarang aku tahu kenapa badanku memar tempo hari," ungkap Megan.


"Mungkin dia hanya punya kelainan dalam hal bercinta." Ethan mengutarakan asumsinya.


Mata Megan memicing rapat. Dia mencoba menduga-duga perihal jati diri Kevin.


"Kau satu-satunya orang yang bisa dekat dengan Kevin. Jadi hanya kau yang bisa mencari tahu kebenarannya," cetus Ethan.


"Perlukah aku mencoba bercinta dengan Kevin satu?" ujar Megan. Menyebabkan mata Ethan membulat sempurna. Pria tersebut langsung membuang muka. Entah kenapa ada perasaan mengganjal di dadanya.


"I-itu ide yang bagus. Mungkin kau bisa mencari tahu dengan cara begitu," tanggap Ethan yang sedikit tergagap. Dia bersikap tak peduli. Lagi pula hubungannya dan Megan hanyalah rekan biasa. Disebut teman saja mereka tidak mau.


Megan mengangguk setuju. Bola matanya perlahan melirik Ethan yang asyik menyandar ke tembok.


"Kau tadi kenapa tidak langsung tanda tangan saja?! Apa kau sengaja membuang-buang waktu?!" Megan tiba-tiba menimpali.


"Aku harus jual mahal agar tidak terlalu kentara. Itu salah satu rencanaku sejak awal," jelas Ethan seraya mengulurkan dua tangan ke depan.


"Stupid!" komentar Megan. Dia segera beranjak meninggalkan Ethan. Kemudian berdiri ke pinggir jalan. Berusaha mencari taksi yang lewat.


"Aku jamin kau akan berhenti menyebutku bodoh, jika melihat apa yang kulakukan dengan perusahaan Kevin!" kata Ethan. Ia bergegas mengekori Megan. Berdiri tepat di samping perempuan itu.


"Maaf, Ethan. Aku tidak mengejek otakmu. Tapi wajahmu," sahut Megan. Menatap malas Ethan. Dia memutar tubuh menghadap lelaki tersebut. Mengarahkan jari telunjuknya yang lentik ke wajah Ethan.


"Wajah itu terlihat sangat bodoh. Bahkan saat kau memiliki IQ mencapai tiga ratus sekalipun, wajahmu tetap menunjukkan kebodohan," jelas Megan. Sebuah taksi baru saja berhenti di depannya. Dia lantas bergerak untuk masuk ke dalam taksi.


Mulut Ethan menganga lebar. Penghinaan Megan tentu membuatnya geram.


"Dasar janda menyedihkan! Wajahmu itu sangat mirip boneka yang terpajang di toko pinggir jalan!" balas Ethan. Bermaksud menghina.


"Boneka barbie maksudmu? Wow, aku merasa tersanjung. Boneka barbie memang kebanyakan punya rambut pirang." Megan tersenyum tenang sambil memegangi ujung rambutnya.

__ADS_1


"Sialan!" rutuk Ethan yang kalah telak. Bersamaan dengan itu, taksi yang dinaiki Megan berjalan. Menyebabkan kata makian Ethan kembali keluar.


__ADS_2