
...༻❂༺...
Kevin yang tidak sabaran, segera mengecup bibir Megan. Seterusnya dia beralih ke ceruk leher, dada, pusar dan tentu saja bagian bawah perut. Lelaki muda itu tentu melakukannya dengan penuh hasrat. Gairahnya menggebu. Namun tidak untuk Megan. Sedari tadi dahinya terus mengerut.
Megan mendorong Kevin menjauh. Lalu menghela nafas panjang. Dia menatap malas Kevin dan berkata, "Tidak menyenangkan."
"A-apa kau bilang?" Kevin tertegun.
"Maafkan aku. Kita akhiri di sini saja," ujar Megan sembari mengenakan bikininya kembali.
Kevin dengan cepat menghentikan pergerakan Megan. Dia merasa belum selesai dengan urusannya. Kini Megan kembali dipaksa telentang di kasur. Dua tangannya dalam keadaan dikekang oleh Kevin.
"Jika kau memaksa, maka itu namanya pemerkosaan. Kau tidak akan menikmatinya andai aku tidak melakukan apapun. Kecuali, kalau kau memang seorang psiko!" seru Megan dengan raut wajah datar.
Kevin segera melepas tangan Megan. Dia cepat menyerah karena tidak mau mendapatkan pukulan lagi. Kevin tidak menyangka akan mendapat penghinaan kedua. Setidaknya kali ini bibirnya tidak berdarah.
Megan beringsut duduk mendekati Kevin. Saatnya dia beraksi untuk melakukan rencana sebenarnya.
"Apa kau sangat menginginkanku?" tanya Megan. Menatap Kevin dengan senyuman tipis penuh akan maksud tertentu.
"Tidak juga. Aku hanya tertarik denganmu, itu saja. Tarianmu saat di klub malam menggoda siapapun yang melihat." Kevin menerangkan seraya berseringai.
"Kau ternyata nakal juga. Apa kau selalu meninggalkan wanita setelah puas mencumbunya?!" tukas Megan. Kemudian mengenakan setelan kimono.
"Itu yang dilakukan banyak pria bukan?" tanggap Kevin santai.
"Apa semua perempuan yang tidur bersamamu menikmati permainanmu?" tanya Megan iseng. Dia mulai mengaktifkan mode kelicikan. Salah satu kepandaian Megan adalah membuat orang kesal. Banyak orang yang sudah menjadi korban. Termasuk Ethan salah satunya.
"Tentu saja. Mereka bahkan tergila-gila kepadaku. Kau juga akan begitu jika--"
"Tidak. Maafkan aku, Kevin. Aku sama sekali tidak menikmatinya," kata Megan. Sengaja memotong perkataan Kevin. Ia menyandarkan pinggulnya ke nakas.
"Maka dari itu, biarkan--"
"Andai aku menikmati permainanmu, maka aku mungkin akan lebih gila darimu. Bahkan menari khusus untukmu." Sekali lagi Megan sengaja memotong ucapan Kevin. Dia memang berniat membuat perasaan Kevin memanas. Sampai lelaki muda itu tertantang untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
Usaha Megan tidak sia-sia. Kevin tambah kesal dan melangkah lebih dekat. Dia memegang kuat dagu Megan.
"Kau sangat berlagak!" ujar Kevin dengan seringai remeh.
Megan tergelak kecil. Dia sama sekali tidak terancam dengan perlakuan Kevin. "Kau kalah, Kevin. Ternyata kau sama saja dengan lelaki yang kutemui sebelum-sebelumnya. Bukan apa-apa," balasnya seraya menekan-nekan dada Kevin dengan jari telunjuk.
"Kalau begitu, aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan menaklukkanmu, Megan. Aku punya banyak pengawal yang siap mengikutimu kemana saja. Itu mudah bagiku." Kevin tidak ingin kalah.
"Benarkah?" Megan menghempaskan tangan Kevin dari dagunya. "Sia-sia saja kau melakukannya. Terutama bila aku sama sekali tidak tertarik kepadamu," lanjutnya dengan nada bicara mengejek.
"Aargghh!!!" Kevin memekik kesal. Tubuhnya yang atletis itu terlihat gemetar akibat merasa saking jengkelnya. Mulut Megan benar-benar seperti kobaran api yang siap membuat siapa saja naik pitam.
"Sudahlah, Boy. Kau hanya membuang waktumu jika terus mengurus orang sepertiku. Lebih baik kau menjadi anak baik dan bekerja saja dengan giat, oke?" Megan tersenyum sambil mengusap salah satu bahu Kevin. Seolah membersihkan kotoran dari sana.
Megan lantas mencoba beranjak. Akan tetapi Kevin dengan sigap memegangi lengannya. Langkah Megan ototmatis terhenti.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Kau berhasil membuatku semakin tertarik! Jadi terimalah akibatnya! Mulai hari ini, aku akan mengusik hidupmu," ujar Kevin bertekad.
"Aku tidak masalah dengan itu. Buktikan kau bisa membuatku tertarik juga kepadamu, Kevin. Maka kemungkinan aku akan melakukan apapun untukmu." Megan mendekatkan mulut ke telinga Kevin. Dia meneruskan dengan berbisik, "termasuk bercumbu denganmu."
Megan melepaskan genggaman Kevin. Kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar. Setelah memisah dari Kevin, Megan mendengus lega. Dia bergegas menemui Ethan.
Megan kembali ke kamar. Ethan terlihat mengenakan pakaian rapi. Nampaknya dia hendak pergi ke suatu tempat.
"Kau mau kemana?" tanya Megan.
"Sudah selesai? Bagaimana? Apa Kevin tertarik kepadamu?" Bukannya menjawab Ethan malah berbalik tanya.
"Seratus persen. Kau tidak usah meragukan kemampuanku. Pemuda labil sepertinya tentu akan mudah masuk perangkapku." Megan menjelaskan dengan percaya diri.
"Baguslah kalau begitu. Aku harus pergi sebentar!" Ethan terlihat benar-benar siap akan pergi.
"Mau berkencan? Gadis mana yang mau berkencan denganmu?" ucap Megan meremehkan.
"Kau tidak perlu tahu urusan pembangunan organisasi mafiaku," sinis Ethan.
__ADS_1
"Bukankah aku juga menjadi bagian pencetusnya. Aku membantumu untuk merebut modal utamanya," balas Megan tak terima.
"Kau tampak tidak tertarik sama sekali. Imbalan yang kau inginkan hanya menghabiskan waktu satu malam bersama Ryan," imbuh Ethan. Menyebabkan Megan tertohok dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Ethan segera menghilang di telan pintu. Sedangkan Megan memilih berendam sendirian di bath up. Dia menenangkan pikiran sambil mendengarkan musik melalui ponsel. Megan tenggelam dalam suasana cukup lama. Bahkan hampir satu jam lamanya.
Bel pintu berbunyi, ketika Megan baru selesai mengenakan pakaian. Dia melangkah untuk membuka pintu. Lalu menyaksikan ada lima pelayan sudah berdiri di depannya.
Megan melakukan tatapan selidik. Setelah menyadari ada Morgan dan Adam, barulah Megan sadar kalau sekarang dia berhadapan dengan rencana Kevin.
"Kalian mau--"
"Ayo semuanya masuk! Dan lakukan tugas kalian dengan baik!" perintah Morgan kepada para pelayan. Kalimat Megan terjeda akibat seruannya.
Dalam sekejap, lima pelayan itu mendorong Megan masuk ke kamar. Mereka merias Megan dengan make up, gaun mahal serta sepatu terbuat dari permata yang indah. Entah apa rencana Kevin, namun Megan bisa menebak dengan mudah. Kevin pasti berencana melakukan hal romantis. Atau setidaknya begitulah dugaan Megan.
'Ah, rencananya biasa sekali. Sangat mainstream,' batin Megan sembari memejamkan mata. Meskipun begitu, dia menikmati pelayanan gratis yang diberikan kepadanya.
Ponsel Megan tiba-tiba berdering. Salah satu pelayan berinisiatif mengambilkan. Nama Ethan tertera di layar ponsel. Dengan wajah merengut, Megan terpaksa mengangkat panggilan tersebut
"Ada apa?" jawab Megan.
"Apa ini benar wanita cantik yang pernah menari di klub malam The Nighton?" suara pria asing terdengar dari seberang telepon. Megan juga dapat mendengar suara gumaman seseorang yang mencoba berteriak. Tetapi suaranya tidak jelas, nampaknya mulut orang itu sedang dibekap.
Megan bangkit dari tempat duduk. Dia menjauh dari pelayan-pelayan kiriman Kevin sebentar. "Apa urusanmu? Dimana Ethan?" tanya-nya.
"Apa Ethan pacarmu? Sayang sekali, dia terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kami mau bekerjasama dengannya, bila kau datang ke markas kami," ungkap pria misterius yang sedari tadi bicara dengan Megan.
"Dia bukan pacarku!" bantah Megan tak terima.
"Benarkah? Tapi dia orang penting bagimu bukan? Kau harus kemari jika ingin Ethan selamat. Aku kasihan dengannya, dia hanya memiliki satu nama di kontak telepon. Yaitu dirimu. Tapi aku senang saat mengetahui kita pernah bertemu."
"Siapa kau?" tanya Megan. Dua alisnya tampak hampir bertautan.
"Datang saja, maka kau akan tahu. Sebelum itu, kau sepertinya harus mendengar ini." Si pria misterius terdengar menekan sesuatu. Tidak berselang lama, bunyi tembakan yang nyaring melengking di telinga.
__ADS_1
Dor!
"Mmpphhhh!!!" bunyi erangan pria yang terdengar, tidak asing bagi Megan. Ia yakin itu suara Ethan.