
...༻❂༺...
Megan memutar bola mata sebal. Dia mencoba melangkah masuk ke bar lebih dulu. Namun Edgar bergegas mencegat.
"Kenapa buru-buru, cantik?" Edgar lagi-lagi cekikikan bersama dua temannya.
"Kalian sibuk tertawa, lebih baik aku langsung masuk saja." Megan melepaskan paksa genggaman tangan Edgar.
"Oke, oke. Kita akan masuk sekarang." Edgar menoleh ke arah dua temannya, lalu meneruskan, "pegangi dia!"
Dua teman Edgar segera memegangi Megan. Mereka tidak membiarkan Megan pergi kemana-mana selain mengikuti Edgar.
Ketika memasuki bar, Megan disambut dengan lorong yang panjang. Selanjutnya, barulah sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh orang bermain judi. Semua pasang mata tertuju ke arah Edgar serta Megan. Banyak orang yang menyapa Edgar. Pertanda bahwa posisi Edgar di tempat itu cukup berkuasa.
'Mungkinkah Ethan sedang mencari anggota untuk organisasi mafianya?' batin Megan menduga-duga.
"Tunggu di sini! Aku perlu memberitahukan sesuatu kepada semua orang." Edgar menyuruh Megan berhenti di dekat meja. Di sana terdapat banyak orang yang sibuk bermain judi.
Megan hendak bergerak, tetapi dua teman Edgar masih memegang erat kedua tangannya. Meskipun begitu, Megan sudah tidak tahan lagi. Dia merasa marah dan ingin segera pergi secepatnya.
Tanpa basa-basi, Megan langsung menginjak kaki dua orang yang menjaganya secara bergantian. Dengan sepatu hak tinggi, dia dapat memberikan kesakitan yang parah terhadap dua musuhnya.
"Ugh!" dua lelaki yang kena serangan Megan mengaduh kesakitan. Saat itulah Megan mencuri pistol yang terpaut di pinggang mereka.
Apa yang dilakukan Megan menimbulkan keributan. Perempuan pirang itu menjadi pusat perhatian dalam sekejap. Semua orang mencoba melawan karena menyadari kehadiran Megan adalah ancaman.
Edgar yang tadinya hendak mengumumkan sesuatu ke atas panggung, harus mengurungkan niat. Dia terpaksa mengurus Megan terlebih dahulu.
Megan sudah menggenggam dua pistol di tangan. Dia dengan lihai memutar-mutar pegangan pistol itu. Ketika ada yang mendekat untuk menyerang, Megan hanya perlu menekan pelatuk.
Dor!
Dor!
__ADS_1
Dor!
Beberapa orang langsung ambruk akibat tembakan di kepala. Cairan merah nan segar otomatis menyebar ke segala arah. Menodai wajah Megan yang tadinya mulus akan make up.
Kartu-kartu poker serta botol alkohol berhamburan. Suasana di bar kumuh benar-benar seperti kapal pecah.
"Kau membunuh pacarku!" pekik seorang wanita dengan tato kupu-kupu di lehernya. Dia mengambil sebilah pisau lipat dari saku celana. Kemudian berlari cepat untuk menyerang.
Megan terbelalak. Dia menyadari ada serangan beringas dari seorang wanita. Megan sontak melepas sepatu hak tinggi, lalu berlari menghindar.
"Arrrgghhh! Jangan biarkan dia lolos!" ujar Edgar. Ia yang tadinya tertarik dengan Megan, justru dibuat geram. Bagaimana tidak? Separuh komplotannya sudah mati karena ulah Megan. Sekarang Edgar hanya menginginkan kematian Megan.
Bruk!
Si wanita bertato kupu-kupu menabrakkan diri. Menyebabkan Megan tidak kuasa menahan keseimbangan. Alhasil mereka terjatuh bersamaan ke lantai.
Megan yang kebetulan berada di bawah badan wanita bertato, hampir terkena tusukan pisau di salah satu matanya. Adu kekuatan lantas terjadi. Megan berusaha keras menahan ujung pisau yang sedikit lagi menyentuh iris matanya.
"Cuh!" Megan tidak punya pilihan selain meludahi wajah wanita bertato.
"Hahaha! Rasakan..." Megan yang sempat merasa senang, langsung terdiam. Ia bahkan tidak meneruskan kalimat arogannya. Sebab peluru yang ada di pistol telah habis. Berapa kali Megan menekan pelatuk, senjata apinya bergeming.
Tara tertawa geli. Megan yang tidak tahu harus berbuat apa, sengaja ikut tertawa bersama musuhnya. Dua wanita tersebut tergelak seperti orang gila. Padahal mereka sedang sama-sama memikirkan cara untuk menang.
Di waktu yang tak terduga, Megan berupaya merebut pisau dalam genggaman Tara. Namun Tara tidak membiarkan begitu saja. Aksi saling memperebutkan pun terjadi.
Beberapa orang yang ada di bar, berkeliling di sekitaran perkelahian Megan dan Tara. Mereka menonton seperti melihat pertandingan laga. Sebagian besar orang tersebut tentu lebih mendukung Tara.
Megan mendorong Tara sekuat tenaga. Setelah berjuang keras, akhirnya dia berhasil melepaskan diri dari belenggu Tara. Ia tidak lupa mengambil pisau Tara yang tidak sengaja terjatuh ke lantai.
Megan mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia yang merasa terancam, memutuskan berlari sambil membawa pisau milik Tara. Dirinya tidak segan-segan menusuk siapa saja yang menghalangi jalan.
Megan menerobos masuk ke sebuah ruangan dua pintu. Lorong dengan banyak pintu di kiri dan kanan langsung menyambutnya. Sebelum menelusuri, Megan bergegas mengunci pintu. Dia melakukannya agar Edgar dan orang-orangnya tidak mampu mengejar.
__ADS_1
Selain mengunci, Megan tidak lupa mendorong sebuah meja ke depan pintu. Apalagi orang-orang dari bar tengah berusaha keras mendobrak pintu.
"Awas saja bila kami mendapatkanmu! KAMI AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Tara yang dipenuhi amarah.
"Ayo dobrak lagi! Kita tidak bisa membiarkannya lepas. Wanita itu sudah membantai beberapa teman-teman dekat kita!" ujar Edgar. Memberikan semangat berapi-api. Semua orang otomatis semakin menggila. Mereka bersikap seperti hewan buas yang bertekad mengejar mangsa.
Sementara itu, Megan masih mencoba menemukan keberadaan Ethan. Dia melakukan pencarian dengan cepat.
"Ethan! Kau di sini?!" panggil Megan sembari membuka pintu yang ada satu per satu.
Di ruangan paling ujung, Megan sukses menemukan Ethan. Lelaki itu justru sibuk bersantai sambil mendengarkan lagu dan menikmati bir.
Megan menggertakkan gigi kesal. Dia bergegas mematikan musik yang terputar. Ethan yang tadinya tidak sadar dengan kedatangan Megan, akhirnya menoleh. Telinganya kini dapat mendengar keributan dari arah bar.
"Keributan apa yang terjadi di luar sana?" tanya Ethan dengan semburat wajah serius. Dia tiba-tiba merasa khawatir. Terutama ketika menyaksikan penampilan Megan yang acak-acakan dan dipenuhi bercak darah.
"Aku pergi ke sini tanpa strategi. Makanya aku langsung melakukan serangan saja kepada semua orang!" jelas Megan yang sesekali menoleh ke belakang. Berharap tidak menyaksikan seseorang datang.
"Oh my god. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerang mereka? Ka-kau tidak seharusnya..." Ethan mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa kau malah berkata begitu? Aku hampir mati hanya karena ingin menyelamatkanmu. Kau tahu itu bukan?" omel Megan. Dia merasa kecewa terhadap tanggapan Ethan.
"Edgar dan teman-temannya akan bekerjasama denganku, jika kau mau melakukan pertunjukan tari striptis di panggung." Ethan menerangkan.
Megan tercengang. "Harusnya kau bilang yang sebenarnya kepadaku!" sahut Megan.
"Aku yakin kau tidak akan datang bila aku meminta baik-baik. Makanya aku melakukan rencana penculikan agar bisa membuatmu datang ke sini. Tetapi kau justru adu baku hantam dengan orang-orang Edgar!" Ethan menggaruk kasar rambutnya. Sekarang dia tidak akan mendapatkan kerjasama, melainkan perlawanan dari Edgar serta orang-orangnya.
"Kau bodoh, Ethan! Kau membuatku masuk ke dalam masalah besar!" pungkas Megan.
"Kaulah yang bodoh, pirang!" Ethan membalas pelototan tajam Megan.
"Enak saja! Kebodohanmu bisa terlihat dari rencana yang kau lakukan! Tidak heran kau belum bisa menjadi seorang ketua mafia! Aku pikir kau tidak akan pernah mampu menjadi seorang pemimpin!" komentar Megan. Menyebabkan Ethan tambah dibuat kesal.
__ADS_1
"Sebelum kau mengejekku, harusnya kau lihat dahulu dirimu! Kau wanita yang sangat menyedihkan! Makanya Ryan menolakmu mentah-mentah!" Ethan dan Megan adu tatapan penuh amarah. Keduanya saling mengepalkan tinju di tangan masing-masing.
Tanpa disangka terdengar suara tubrukan yang sangat nyaring. Ternyata sumber suara itu berasal dari pintu depan. Pertanda kalau Edgar dan orang-orangnya telah berhasil mendobrak pintu.