
...༻❂༺...
Ethan dan Megan duduk saling berhadapan. Sedangkan Thomas sibuk berbicara melalui ponselnya.
"Setelah ini kita harus benar-benar bergerak. Kau sudah punya rencana bukan?" Megan bertanya sambil melipat tangan di atas meja.
"Tentu saja. Sehabis pulang dari sini aku akan langsung melakukannya. Kita akan mendekati salah satu karyawan di sini," sahut Ethan dengan nada berbisik.
"Maksudmu ilmuwan Biologi bukan?" tebak Megan. Sukes membuat Ethan tercengang.
"Bagaimana kau tahu?" Ethan memastikan.
Belum Megan sempat menjawab, Thomas sudah datang dengan derap langkah tergesak-gesak. Thomas meminta izin untuk pamit. Sebab ada sesuatu yang mendesak harus di urusnya.
"Baiklah, Tuan Winters. Terima kasih banyak atas sambutan ramahnya. Kau tidak usah mengkhawatirkan kami. Aku dan Megan akan pulang setelah makan," ucap Ethan sembari sedikit membungkukkan badan.
"Thanks, Thomas." Megan malas berdiri. Dia hanya melambaikan satu tangan sambil tersenyum tipis.
Thomas balas tersenyum. Ia lalu beranjak keluar dari restoran. Sekarang hanya tinggal Megan dan Ethan. Hanya mereka satu-satunya pelanggan restoran kala itu.
"Restoran ini mewah. Tetapi..."
"Sangat sepi." Ethan menyahut sembari menikmati sajian minuman yang baru disuguhkan.
"Aku tahu alasannya. Coba kau lihat daftar menunya." Megan membuka daftar menu yang ada di meja. Kemudian memperlihatkannya kepada Ethan.
"Sial!" rutuk Ethan yang kaget. Bagaimana tidak? Semua makanan dan minuman yang ada di restoran sangat mahal. Satu porsi makanan setara dengan harga sebuah laptop keluaran terbaru.
"Apa semua makanan ini terbuat dari emas? Atau mereka juga robot?" Megan berpendapat sembari tergelak kecil.
"Kesukaanmu bukan? Kau suka segala hal yang berbau elit. Kevin sangat cocok denganmu. Mungkin kau bisa mempertimbangkannya sebelum kembali bertemu Ryan," komentar Ethan. Namun dia justru mendapat pelototan dari Megan.
Ethan reflek mengangkat dua tangan ke udara. Terutama saat Megan memainkan pisau makan dengan tangan. Tidak lama kemudian sebuah robot pelayan mengantarkan hidangan makanan yang lain.
__ADS_1
"Kita tidak akan membayar bukan?" Ethan menatap penuh tanya.
"Jika bayar, maka kau yang harus melakukannya." Megan tersenyum singkat. Lalu segera melahap makanan yang sudah tersedia.
Ethan memutar bola mata malas. Meskipun begitu, dia tetap menikmati makanan yang ada.
Lima belas menit berlalu, Ethan dan Megan bersamaan keluar dari restoran. Kebetulan mereka tidak membayar hidangan yang disajikan tadi. Sebab Kevin memang menyiapkannya sebagai sambutan khusus.
"Kau bilang tadi akan mendekati ilmuwan biologi. Tetapi kenapa malah masuk ke mobil?" tanya Megan seraya mengenakan sabuk pengaman. Dia dan Ethan sudah berada di dalam mobil.
"Kita akan menemui seorang hacker dahulu. Dia agak psiko, tetapi keahliannya tidak diragukan." Ethan memberitahu sambil menjalankan mobil.
"Kau tidak akan membawaku masuk ke lingkungan berbahaya lagi bukan?" tukas Megan. Dia terlihat sibuk memainkan ponsel.
"Tenang saja, lelaki ini adalah orang biasa. Kita hanya perlu menyiapkan uang yang banyak."
"Sialan!" bukannya menanggapi perkataan Ethan, Megan justru mengeluarkan kata makian.
"Apa kau mengejekku?!" balas Ethan. Mengira Megan merutuk dirinya.
Ethan melirik selintas. Tetapi dia tampak biasa saja dengan informasi yang diberikan Megan. "Aku sudah melihatnya tadi pagi. Kulihat wajahmu tidak terlalu jelas di foto itu. Semua orang masih berusaha mencari tahu tentang dirimu. Bahkan ada judul artikel yang menulis, 'Kekasih baru Kevin yang misterius'. Semua orang berlagak jadi detektif sekarang. Apalagi penggemar berat Kevin..." ujar Ethan santai.
"Nama Kevin sedang menjadi trending di internet. Mereka berusaha mencari tahu tentangku. Kau yakin semua ini tidak akan masalah dengan rencana kita?" Megan menghela nafas panjang. Menatap nanar ke arah bulir-bulir air gerimis yang berjatuhan di kaca mobil.
"Tidak. Kalau kau mau, silahkan saja menerima tawaran Kevin. Kau bisa menjadi super model. Bukankah itu mimpimu?" balas Ethan.
"Enak sekali kau bicara begitu. Kau tidak tahu bagaimana dunia hiburan bekerja. Percayalah kepadaku, dunia hiburan lebih buruk dibanding dunia mafia." Megan tampak bicara serius.
"Tetapi... kau bertahan hingga sekarang." Ethan menatap Megan dengan sudut matanya. Kebetulan dia menghentikan mobil karena lampu merah.
"Aku bertahan, karena aku tidak pernah berurusan dengan orang yang sangat terkenal. Dan sekarang... mungkin aku harus bersiap terhadap segala hal terburuk yang akan menimpaku." Megan berucap sambil memejamkan mata. Dia menyandar tenang ke kursi yang didudukinya.
"Bukankah itu bagus? Kau juga akan ikut terkenal jika ketahuan memacari selebriti pesohor seperti Kevin. Kau bisa memanfaatkannya." Ethan mengungkapkan pendapatnya. Dia kembali menjalankan mobil karena lampu hijau telah menyala.
__ADS_1
"Aku akan mencoba. Jika aku nanti tiba-tiba menjadi lebih kaya darimu, maka aku akan meninggalkanmu." Megan membalas tatapan Ethan. Melipat tangan di depan dada.
Ethan terkekeh geli. "Bukankah kau butuh bantuanku untuk bertemu Ryan? Selain itu, kau juga ingin mencari tahu orang yang terlibat insiden pembantaian keluargamu," katanya. Kini Ethan mengarahkan mobilnya masuk ke area perumahan. Lingkungan tersebut sebagian besar di isi oleh orang-orang berkulit hitam.
"Aku bisa melakukan apapun jika punya uang." Megan menjawab dengan arogan.
"Ya, tetapi menjadi seorang super model tidak akan membuatmu sekaya itu." Ethan tidak ingin kalah. Ucapannya tersebut sukses membuat Megan tak bisa menyahut lagi.
Ethan menghentikan mobil di depan sebuah apartemen kumuh. Di sana terlihat sekumpulan remaja keturunan negro bermain basket. Atensi mereka sontak tertuju ke arah mobil Ethan. Apalagi ketika Megan dan Ethan keluar secara bersamaan.
"Sekarang apa?" tanya Megan dengan dahi berkerut. Dia menyaksikan Ethan celingak-celingukan kesana kemari.
"Lebih baik kita bertanya." Ethan melangkah lebih dulu mendekati gerombolan remaja yang bermain basket. Sedangkan Megan memilih menunggu di pinggir lapangan. Jujur saja kemunculannya sejak tadi banyak mencuri perhatian banyak pasang mata. Bukan karena skandal atau apa, tetapi karena kecantikan Megan yang cukup menonjol.
"Halo, semuanya. Adakah yang bisa membantuku?" Ethan bertanya dengan percaya diri. Dia berjalan santai ke tengah lapangan basket depan apartemen. Sayangnya, tidak ada satu pun remaja yang merespon pertanyaannya. Ethan seperti kerikil batu di jalanan. Berada di depan, tetapi diabaikan. Alhasil Ethan mencoba kembali bertanya.
"Halooo? Aku di sini! Kalian melihatku bukan?" Ethan berusaha menampakkan diri. Memperhatikan satu per satu remaja yang bermain basket. Namun tetap saja dirinya tidak mendapat tanggapan.
"Anak zaman sekarang memang sangat menyebalkan!" gerutu Ethan. Dia akhirnya memutuskan ikut bergabung bermain basket.
"Menyingkirlah, pecundang!"
"Jangan biarkan dia mendapatkan bolanya!"
Para remaja yang ada malah mempermainkan Ethan. Mereka tidak membiarkan Ethan menyentuh bola. Ethan bahkan sesekali terhuyung dan tersandung kakinya sendiri.
Megan tertawa kecil. Menurutnya Ethan sangat lucu. Rambut pirangnya yang panjang, sesekali dia kaitkan ke daun telinga. Megan lalu melenggang pelan masuk ke lapangan. Tanpa diduga, bola melayang tepat ke arahnya. Saat itulah Megan langsung menangkap bola dengan sigap.
Para remaja terlihat saling tersenyum. Terutama kala Megan mengembangkan senyuman tipis menenangkan. Salah satu anak remaja lantas berucap, "Bisakah kau berikan bolanya, Miss?"
"Tentu saja aku akan memberikannya. Tetapi sebelum itu, bisakah aku menanyakan sesuatu?" ujar Megan sambil memainkan bola basket dengan dua tangan.
"Silahkan tanyakan apapun. Mengobrol seharian dengan kami juga boleh," goda salah satu remaja berambut gimbal. Dia dan teman-temannya tergelak malu.
__ADS_1
Megan menggerakkan bola mata ke arah Ethan. Dia sekali lagi tersenyum geli. Sebab keadaan Ethan terlihat begitu menyedihkan. Pakaian lelaki berambut cepak itu sudah berantakan, belum lagi raut wajahnya yang tiba-tiba tampak lesu dari biasanya.