Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 14 - Bersembunyi


__ADS_3

...༻❂༺...


Mendengar banyak derap langkah yang mendekat, Ethan dan Megan saling membulatkan mata. Lalu menutup pintu kamar rapat-rapat. Selanjutnya, mereka bergegas keluar dari jendela.


Megan dan Ethan turun secara bergantian. Mereka masih sama-sama marah. Keduanya bahkan tidak berniat saling membantu.


Ketika berhasil melompat turun dari jendela, Megan dan Ethan justru dikepung oleh lima orang rekan Edgar. Lama-kelamaan jumlahnya kian bertambah. Wajah orang-orang itu terlihat begitu mengancam.


Ethan mengambil bak sampah besar yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya ke orang-orang Edgar. Komplotan berandalan tersebut tumbang bersamaan bagaikan pin dalam permainan lempar bowling. Saat itulah Megan berlari lebih dahulu. Di iringi oleh Ethan dari belakang.


Orang-orang Edgar benar-benar banyak. Jumlahnya terus bertambah. Ethan dan Megan kebingungan harus kabur kemana. Pelarian mereka bahkan memakan waktu satu setengah jam. Keduanya selalu saja menemukan jalan buntu. Rasa lelah bahkan mulai menggerogoti. Sepertinya seluruh orang yang ada di gang, memang bekerjasama dengan Edgar.


"Megan!" panggil Ethan. Dia mengajak Megan masuk ke sebuah bangunan. Tempat itu tampak kumuh. Akan tetapi nampaknya masih ditinggali oleh beberapa orang. Semuanya dapat diketahui dari lampu-lampu yang menyala.


Akibat tidak punya opsi lain, Megan terpaksa mengekori Ethan. Dia mungkin membenci Ethan, tetapi dalam keadaan genting sekarang, dirinya hanya bisa mengandalkan lelaki berambut cepak tersebut.


"Mereka tidak berhenti mengejar!" seru Megan dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal.


"Kita sebaiknya mencari tempat sembunyi. Aku sudah lelah. Mustahil juga kita berdua melawan orang-orang sebanyak itu," sahut Ethan. Dia memilih membuka sebuah ruangan secara acak. Setelah Megan masuk, barulah Ethan mengunci pintu.


Ruangan yang dimasuki Ethan dan Megan ternyata sebuah kamar kecil. Mereka sekarang sama-sama sibuk mengontrol nafas. Tanpa diduga, terdengar keributan dari dalam kamar mandi. Belum lagi dari arah luar yang sepertinya memiliki jumlah orang lebih banyak.


"Kita harus sembunyi. Aku sudah tidak bertenaga melakukan perlawanan..." ungkap Megan. Masih mencoba menenangkan diri.


"Aku juga," tanggap Ethan sembari mengusap keringat yang menetes di pelipis.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terdengar terbuka. Megan segera menarik Ethan untuk ikut bersembunyi. Satu-satunya tempat yang bisa memuat badan mereka adalah kolong tempat tidur.

__ADS_1


Ketika pemilik kamar keluar dari kamar mandi, Ethan dan Megan bergegas membungkam mulut. Ethan dalam keadaan tengkurap. Sementara Megan telentang di sebelahnya. Tatapan mereka sama-sama tertuju ke arah sosok yang keluar dari kamar mandi.


Terlihat ada dua orang yang keluar dari kamar mandi. Sosok lelaki dan wanita. Terdengar juga suara kecup-mengecup dari mereka. Menandakan kalau dua orang itu sibuk berciuman.


"Sial!" umpat Megan seraya menutup rapat matanya.


"Aku harap mereka tidak meneruskan ke atas kasur," harap Ethan dengan nada berbisik.


"Impossible. Mereka pasti sebentar lagi naik ke kasur," jawab Megan. Balas berbisik. Tetapi matanya masih terpejam rapat.


Tok!


Tok!


Tok!


"Alfred! Bisakah kau membuka pintunya?!" seseorang terdengar ada di depan pintu. Dua sejoli yang bermesraan lantas berhenti bercumbu. Ethan dan Megan otomatis dalam mode waspada.


"Ada apa?!" timpal Alfred kepada orang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Kami sedang mencari dua pasangan gila. Yang satu penipu ulung, dan satunya lagi pembunuh berdarah dingin. Mereka sudah membunuh sebagian orang-orang kita di sini," jelas sosok lelaki yang ada di depan pintu. Dia terdengar tidak sendiri. Satu per satu temannya berdatangan. Ethan dapat melihat banyak kaki dari bawah kasur.


"Lalu kenapa kalian mencarinya ke sini? Tidak ada siapapun di kamarku selain Becca kekasihku." Alfred terdengar gusar. "Kalian juga tahu, aku benci dengan penyusup. Aku tidak akan segan-segan membunuh orang yang berani masuk ke tempat pribadiku," tambahnya. Keterangannya itu sukses meyakinkan semua orang. Alfred lantas menutup pintu kembali.


"I'm sorry, baby. Kita bisa lanjutkan yang tadi bukan?" tanya Alfred dengan suara seraknya.


"Apa perlu kita serang mereka? Aku tidak sanggup beristirahat di bawah--" Ethan berhenti berucap kala kasur di atasnya bergerak. Terdengar suara lenguhan dari Alfred dan kekasihnya.


Ranjang yang ada di atas Megan dan Ethan bergoyang seiring pergerakan intim Alfred. Mendengar dua orang yang bercumbu memang terasa di neraka. Setidaknya hal itulah yang dirasakan Megan dan Ethan.

__ADS_1


"Kita habisi saja jika mereka sudah selesai. Aku juga tidak sanggup beristirahat di sini semalaman." Megan berkata dengan nada sangat pelan.


"Aku baru saja mau mengusulkan itu." Ethan menyahut dengan suara yang tak kalah pelan.


"Apa perlu kita habisi sekarang?" Megan memutar tubuh menjadi tengkurap. Dalam posisi yang sama dengan Ethan.


"Haruskah? Sebenarnya ini waktu yang tepat. Karena Alfred pasti sedang lengah!" ujar Ethan sambil melirik ke arah Megan. Keduanya lalu bergulung di lantai. Mereka segera berhenti saat sudah keluar dari kolong tempat tidur.


Ethan mengambil gunting yang ada di atas nakas. Sedangkan Megan meraih botol alkohol yang tergeletak di lantai. Tanpa pikir panjang, mereka berdiri. Kemudian menyerang dalam waktu bersamaan.


Sambil membekap mulut Alfred, Ethan melayangkan tusukan dengan gunting. Ia menusuk leher Alfred sekuat tenaga.


Sementara itu, Megan bertugas menutup mulut kekasih Alfred. Dia memukulkan botol ke kepala wanita itu. Alfred dan kekasihnya langsung tidak sadarkan diri.


"Sepertinya wanita ini belum mati. Kita kurung saja dia dan Alfred di dalam kamar mandi," imbuh Megan. Dia dan Ethan segera menggulung Alfred sekaligus kekasihnya dalam selimut. Kemudian mengunci mereka ke dalam kamar mandi. Megan tidak lupa menjerat kekasih Alfred dengan kabel listrik. Dia menggunakannya, karena tidak menemukan tali di kamar.


Ethan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia merasa sangat lelah akibat terlalu lama melakukan pelarian. Ethan hanya ingin tidur dengan tenang. Bercak darah Alfred yang ada di kasur, tidak menjadi penghalangnya untuk beristirahat.


Megan baru selesai membasuh wajah. Dia ikut telentang di samping Ethan. Nampaknya Megan sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Ethan di sampingnya.


"Sebaiknya kita lanjutkan pelarian kita besok saja..." lirih Ethan dalam keadaan mata yang tertutup. Dia telah diselimuti rasa kantuk.


"Ya, kali ini aku sependapat denganmu," jawab Megan. Matanya terlihat sayu. Nampaknya dia merasakan hal serupa dengan Ethan.


"Kita besok lakukan strategi ninja saja." Meski matanya tetutup rapat, Ethan masih belum berhenti bicara.


"Maksudmu semacam menggunakan pedang katana?" anehnya Megan menanggapi saja perkataan Ethan. Parahnya lagi pembicaraan mereka tetap terhubung.


"Bukan. Itu namanya samurai. Teknik menyelinap ninja adalah yang terbaik. Lain kali aku ingin mempelajarinya langsung ke Jepang." Ethan mulai mendecapkan lidah.

__ADS_1


"Hmmh..." Megan tidak menjawab lagi karena sudah terlelap.


"Nanti kau ikuti saja caraku. Kebetulan aku mempelajarinya dari buku." Ethan masih bergumam tidak jelas. Dia membalikkan badan menghadap Megan. Lalu memeluk Megan dengan erat. Ethan tersenyum tipis, seolah telah berada di posisi ternyaman.


__ADS_2