Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 15 - Strategi Ethan


__ADS_3

...༻❂༺...


Megan perlahan membuka mata. Mengerjapkannya hingga benar-benar tersadar. Ketika dia menoleh ke samping, dirinya dapat menyaksikan wajah Ethan sangat dekat. Bibir mereka nyaris saja bersentuhan.


Megan lekas-lekas menjauh. Namun dia tak mampu bergerak akibat pelukan dari Ethan. Lelaki itu tidak hanya memeluk dengan tangan, tetapi juga dengan kaki jenjangnya. 'Menyebalkan,' itulah kata yang terlintas dalam benak Megan.


Plak!


Tak tanggung-tanggung. Megan melayangkan sebuah tamparan ke pipi Ethan. Apa yang dilakukannya langsung membuat Ethan terbangun dari tidur.


Kini Megan dapat lepas dari pelukan, karena tangan Ethan reflek memegangi pipinya yang sakit. Ethan meringiskan wajah, lalu merubah posisi menjadi telentang.


"Ugh... siapa yang memukulku pagi-pagi begini..." lirih Ethan yang masih memejamkan mata.


Megan segera telentang miring menghadap Ethan. Menjadikan satu tangan sebagai penopang kepala.


"Ethan, kau mau aku cekik atau di lempar saja dari atas gedung?" tanya Megan dengan nada sensual.


"Apa? Tawaran macam apa itu?" Ethan akhirnya membuka mata. Ekspresi Megan yang menyalangkan mata, membuatnya tersentak kaget.


"Megan! Kau benar-benar terlihat seperti wanita yang baru keluar rumah sakit jiwa," komentar Ethan, yang tentu saja menyebabkan Megan tambah marah.


Tanpa basa-basi, Megan jambak saja rambut Ethan. Akan tetapi usahanya tidak berhasil, karena rambut Ethan begitu pendek. Lelaki itu memang memiliki potongan rambut cepak. Ethan tergelak lepas saat upaya Megan tidak membuahkan hasil.


"Arrghh!!" Megan tidak menyerah. Dia merubah bidikannya. Megan kini menjewer salah satu kuping Ethan. Hingga Ethan reflek mengerang kesakitan.


"Kau luar biasa, Alfred. Tapi bisakah kau hentikan suara-suara surgamu itu?!! Aku sedang mencoba untuk tidur sejak tadi!!!" terdengar suara pekikan seorang lelaki dari sebelah kamar. Sebab kamar yang di tempati Megan dan Ethan tidak memiliki fungsi kedap suara. Sepertinya tetangga Alfred itu mengira teriakan Ethan adalah akibat dari aktifitas intim.


"Kita sebaiknya cepat-cepat pergi dari sini!" usul Megan sembari melepas gaunnya. Lagi-lagi dia melakukannya tanpa aba-aba. Mengharuskan Ethan membalikkan badan.


Ethan kali ini diam saja. Toh dia sudah tahu bagaimana perangai Megan yang tak pernah mengenal malu.


Megan mengganti gaun dengan pakaian biasa. Dia mengambil baju dan celana yang ada di lemari Alfred. Megan juga tidak lupa mengganti sepatu. Karena sepatu hak tinggi terlalu beresiko dipakai saat melakukan pelarian. Selanjutnya, Megan memasukkan gaun dan sepatu hak tinggi ke dalam tas ransel milik Alfred. Dirinya tidak mau meninggalkan benda-benda mahal pemberian Kevin itu.

__ADS_1


"Kau membawa gaun itu juga?" tanya Ethan dengan dahi berkerut.


"Tentu saja. Mungkin Kevin nanti ingin aku memakainya lagi," jawab Megan. "Ah, benar! Coba katakan, bagaimana kita melarikan diri dari sini? Aku ingin mendengar strategi dari calon bos mafia, yang katanya akan membangun organsasi kejahatan berbasis teknologi." Megan meneruskan sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia menyandar ke dinding dekat jendela. Dari sana Megan bisa melihat ada banyak orang-orang Edgar yang berjalan hilir-mudik.


Ethan memutar bola mata jengah. Tantangan Megan sebenarnya lebih terdengar seperti penghinaan. Tetapi Ethan akan membuktikan bahwa dirinya mampu.


"Bukankah tadi malam kau sudah mendengar rencanaku?" Ethan berkacak pinggang. Kemudian mengintip keadaan di jalanan. Kebetulan lokasi kamar dirinya berdiri, ada di lantai tiga.


"Maksudmu dengan cara ninja? Hallo, Ethan? Aku bahkan tidak tahu apa itu ninja?" pungkas Megan seraya melambaikan tangan bak miss world kala di atas panggung.


"Kau tahu kata parkour dari Prancis?" balas Ethan dengan senyuman percaya diri.


Mendengar Ethan, Megan semakin tidak mengerti. Dia baru mengetahui sisi kutu buku Ethan. Mungkin disitulah titik kelebihan Ethan. Lelaki itu hanya perlu mengasah keahlian berkelahi dan harus mengurangi mulut besarnya.


"Jika kau tahu makna parkour, maka kau juga akan tahu cara kerja ninja. Lihat aku." Ethan membuka pintu kamar, lalu berjalan menaiki tangga menuju rooftop. Megan lantas mengekori dari belakang. Keduanya melenggang sambil melakukan mode waspada. Untung saja perjalanan mereka lancar sampai tiba di rooftop.


"Kenapa kau malah naik ke atap, dan bukannya turun ke bawah?" tanya Megan, masih tidak mengerti jalan pikiran Ethan.


"Ah, benar. Sebelum itu. Apa kau tahu lagu Pray For Me?" tanya Ethan yang tiba-tiba saja menanyakan topik perihal musik. Bahkan mengabaikan pertanyaan dari Megan.


"Benar! Aku ingin kau memutar lagu itu dalam kepalamu. Terutama saat kita sudah beraksi," titah Ethan. Kemudian berjalan menjauh dari pembatas dinding rooftop. "Here we go... ikuti aku jika kau ingin selamat!" tambahnya lagi.


[Disarankan mendengarkan lagu yang disuruh Ethan. Pray For Me dari Kendrick Lamar feat. The Weeknd. Author di suruh Ethan :v]


Ethan mulai melajukan langkahnya. Ketika berada di ujung rooftop, dia melompat ke bangunan sebelah. Ethan melakukannya dengan mulus. Pakaian yang dikenakannya berkibar sejenak. Tepat sebelum Ethan mendarat ke rooftop yang ada di seberang. Tanpa menoleh ke belakang, Ethan berniat melanjutkan lompatan kedua.


Megan tercengang. Dia sekarang paham apa itu strategi ninja. Yaitu menyelinap dengan cara melompat atau memanjat bangunan yang ada. Megan sebenarnya tidak asing dengan strategi itu. Hanya saja Megan hampir tidak pernah melakukannya. Bahkan guru bela dirinya Sarah, tidak pernah mengajarinya.


Melihat Ethan sudah melompat ke bangunan kedua, Megan tidak punya pilihan selain mengikuti. Lagi pula, melewati jalanan di gang memang lebih berbahaya. Megan lantas melakukan apa yang dilakukan Ethan. Yaitu berlari dan melompat ke rooftop seberang.


"Aaaaarkkhh!!!" walau Megan merupakan wanita kuat. Tetapi bukan berarti dia tidak bisa berteriak ketakutan. Apalagi saat melompat jauh dari ketinggian hampir 70 meter.


Teriakan Megan sontak menarik perhatian orang-orang Edgar. Parahnya Megan tidak bisa mendarat mulus layaknya Ethan. Dia terjatuh tepat di dinding pembatas rooftop. Sekarang tubuh Megan bergelantungan di sana.

__ADS_1


"Lihat! Mereka ada di rooftop! Cepat kejar!" seru Alexa. Gadis yang sempat bertarung dengan Megan saat di bar. Dia dan komplotannya bergegas berlari menuju rooftop.


Megan lekas-lekas mengangkat tubuhnya ke atas. Dia mengabaikan uluran tangan Ethan. Padahal Ethan sudah susah payah kembali untuk menolong.


"Huhh! Awas kalau kau nanti butuh bantuanku!" imbuh Ethan sinis.


"Aku tidak akan membutuhkan bantuan calon bos mafia yang ceroboh sepertimu," balas Megan. Dia sudah sepenuhnya berdiri di rooftop.


Ethan memutar bola mata kesal. Lalu melanjutkan lompatannya ke rooftop sebelah. Hal serupa juga dilakukan Megan. Mereka berlari beriringan. Mengarungi jejeran bangunan yang mudah dilewati.


Lama-kelamaan, terlihat Edgar dan pasukannya mengejar dari belakang. Ada yang mengejar dari jalanan, ada juga yang mengejar di rooftop.


"Lihat! Sebentar lagi kita akan keluar dari gang neraka ini!" Ethan menunjuk ke arah jalanan raya besar yang dapat terlihat dari kejauhan. Namun kali ini, dia dan Megan harus melompat lebih jauh dari sebelumnya. Ethan yakin dirinya mampu melompat. Tetapi bagaimana dengan Megan? Perempuan tersebut bahkan sudah tampak lelah.


"Apa kau bisa melakukannya?" tanya Ethan.


"Tentu saja. Kau duluan!" tanggap Megan.


Ethan menurut saja. Dia berlari dan melompat ke bangunan sebelah. Ethan mendarat dalam keadaan bersimpuh. Mulus seperti biasa.


Megan sempat termangu. Dia sebenarnya takut. Namun seperti biasa, rasa percaya dirinya lebih tinggi dibandingkan apapun. Megan tidak akan dengan mudah menunjukkan kelemahannya. Tetapi apakah kekuatan yang ditampakkannya akan selalu berakhir baik?


Megan melangkah mundur. Lalu berlari sekuat tenaga. Saat menapaki ujung rooftop, dia melompat. Sayang, dia tidak sanggup mencapai dinding pembatas rooftop. Untung saja Megan berhasil berpegangan pada hiasan lampu yang ada di tembok. Akan tetapi benda itu tidak cukup kuat untuk menahan tubuhnya.


"Ethan, help!" mohon Megan. Raut wajahnya meringis penuh akan keraguan. Sementara kedua tangannya gemetaran. Belum lagi keberadaan musuh yang mulai mengejar posisinya dan Ethan.


"Kau bilang tadi tidak butuh bantuanku!" sahut Ethan. Dia berdiri tepat di atas Megan sedang bergelantungan tak berdaya.


"Perlukah kita membicarakannya sekarang?! Ayolah! Jika aku mati, maka kau tidak bisa merebut perusahaan berharga Kevin!" mohon Megan. Mendongakkan kepala untuk menatap Ethan.


"Aku akan menolongmu, jika kau berjanji akan memanggilku bos setelah ini," ujar Ethan.


"Apa?!" Megan terperangah.

__ADS_1


Trak!


Hiasan yang dipegang Megan mulai retak. Dia tidak punya waktu banyak. Tetapi Ethan justru berjongkok menunggu keputusan Megan.


__ADS_2