
...༻❂༺...
Megan dan Ethan sempat terdiam dalam selang beberapa saat. Ethan terlihat mengamati keadaan Thomas yang telah diangkut ke mobil ambulan.
"Aku akan pastikan, sebentar lagi Kevin akan menghubungi salah satu dari kita," celetuk Ethan sambil memasang gaya berkacak pinggang. "Satu, dua, ti..." belum sempat menyebut kata tiga, ponsel Megan sudah berdering. Ethan lantas merekahkan senyuman puas.
Megan menatap Ethan dengan serius. Dia heran kenapa Ethan bisa menebak apa yang akan terjadi. Apakah pria itu juga mempelajari tentang ilmu ramalan?
Megan lekas menggeleng. Mencoba menepis dugaan gila yang bersarang dalam kepala. Ia segera menjawab panggilan yang tidak lain dari Kevin.
"Megan, bisakah kita bertemu? Satu-satunya orang yang aku percaya hanya dirimu. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang. Ada sesuatu hal tak terduga menimpa Thomas. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba melakukan ini. Oh my godness..." nada bicara Kevin terdengar ambigu. Tidak sedih, panik atau pun bingung.
"Benarkah? Apa yang terjadi?" Megan bersikap seolah khawatir. Atensinya tertuju ke arah mobil ambulan yang baru saja berjalan. Di belakang ambulan tersebut, ada mobil Kevin yang mengikuti.
"Thomas bunuh diri. Dia melakukannya setelah memberikan berkas-berkas penting kepadaku," ungkap Kevin. Menyebabkan mata Megan langsung mendelik ke arah Ethan. Kini Megan paham separuh dari rencana Ethan. Memang brilian. Sekali lagi, Megan tidak bersedia memuji Ethan dengan mulutnya.
"Itu tragis sekali. Maaf, kau pasti kesulitan menerimanya..." komentar Megan sembari menggunakan nada bicara sedih. Raut wajahnya bahkan terkesan dibuat-buat.
"Ya..." Kevin menjawab singkat sambil menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku akan menemuimu secepatnya. Sampai jumpa!" ujar Megan. Dia hampir menutup panggilan lebih dulu, namun Kevin terdengar memanggil kembali.
"Ada apa?" tanya Megan.
"Ajaklah Ethan untuk ikut bersamamu. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya," jelas Kevin. Membuat Ethan otomatis tersenyum lebar. Terutama ketika manik biru Megan kembali menatapnya.
Setelah memberitahukan keinginannya, Kevin dan Megan berhenti bicara di telepon. Megan lantas pergi bersama Ethan untuk melakukan rencana berikutnya.
...***...
__ADS_1
Hari pemakaman Thomas diselimuti oleh hari yang cerah. Daun-daun yang berguguran menjadikan suasana terasa lebih kelam. Semua orang tampak mengenakan pakaian serba hitam. Termasuk Megan dan Ethan.
Kevin terlihat menundukkan kepala. Menatap lurus ke gundukan tanah yang berisi jenazah Thomas. Dia tidak tahu kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian untuk Megan dan Ethan.
"Aku rasa, dia tidak terlalu sedih dengan kematian pamannya." Ethan berbisik pelan ke telinga Megan.
"Aku tahu. Itu aneh bukan? Ah benar. Aku belum menceritakan mengenai memar aneh yang kuterima setelah tidur bersama Kevin." Megan balas berbisik. Ia tiba-tiba mengingat kala dirinya mendapati banyak memar di beberapa bagian tubuh.
"Memar? Apa dia melakukan hal gila?"
"Aku rasa begitu. Tetapi saat aku tanya, Kevin membantah tegas. Dia bahkan bersedia memberikan bukti rekaman kamera pengawas." Megan dan Ethan terus saja saling mengobrol. Bahkan saat pendeta sibuk membacakan do'a-do'a dari alkitab.
"Mungkinkah Kevin memiliki kelainan jiwa yang sengaja disembunyikan? Kau harus mencari tahunya Megan," ujar Ethan.
Megan melotot tajam. "Kenapa aku? Kenapa kau terus saja memberikanku perintah!" bentaknya dengan suara yang cukup lantang. Hingga semua orang dapat mendengar. Pendeta yang tadinya sibuk membaca do'a, menatap Megan dengan risih.
Megan tidak sadar kalau dirinya tengah menjadi pusat perhatian. Sebab dia terlalu sibuk mengancam Ethan dengan pelototan mata.
Senyuman kecut langsung terukir diwajah Ethan. "Maaf... Aku dan adikku memang sedang memiliki sedikit masalah hari ini. Silahkan teruskan do'anya, Mr. Brandon," ujarnya lembut.
Megan yang akhirnya tahu dirinya sedang menjadi sorotan, otomatis ikut tersenyum. Walau senyumannya tampak begitu canggung.
Pendeta hanya geleng-geleng kepala. Kemudian melanjutkan sesi pembacaan do'a.
"Kau kenapa berteriak, pirang?" Ethan lagi-lagi memulai pembicaraan.
"Aku marah! Kau terus saja memperlakukanku seperti anak buah!" geram Megan. Kali ini dia bicara dengan nada pelan.
"Kau memang anak buahku. Apa kau lupa dengan janjimu saat di rooftop?" timpal Ethan. Sedikit memiringkan kepala ke kanan.
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku memberitahu. Kau hanya menyuruhku untuk memanggilmu bos. Bukan berarti aku bersedia menjadi budakmu," pungkas Megan tak terima. Karena kesal, dia sengaja menginjak salah satu kaki Ethan. Senyuman senang mengembang diwajahnya. Entah kenapa Megan mulai terbiasa dengan pertengkaran kecilnya bersama Ethan.
"Mulutmu memang tidak bisa dipercaya. Kau bahkan belum pernah sekali pun memanggilku dengan sebutan bos," komentar Ethan seraya menarik kakinya dari pijakan kaki Megan. Dia sukses besar dan langsung memberikan balasan.
Megan yang menyadari kakinya akan di injak, sontak berusaha menghindar. Alhasil dia dan Ethan saling mendorong satu sama lain. Hingga tanpa sengaja, Megan terhuyung ke belakang.
Ethan yang kebetulan berada di posisi terdekat, dengan sigap menangkap tubuh Megan. Tanpa sengaja, tangan lelaki itu berpegang kuat ke bokong Megan. Akan tetapi Ethan lekas-lekas menarik tangannya dan berupaya bersikap biasa.
Semua pasang mata sempat terpusat kepada Megan dan Ethan lagi. Mereka berhenti menatap saat Megan dan Ethan terlihat menundukkan kepala dengan khusyuk.
Beberapa menit berlalu, sesi pemakaman Thomas sudah berakhir. Orang-orang segera melenggang menuju mobil masing-masing.
Jujur saja, penjagaan orang terhadap Kevin sangat ketat dilakukan. Hal itu dikarenakan banyak wartawan yang sangat ingin mendapat info tentang keadaan Kevin. Tempat pemakaman Thomas bahkan dirahasiakan sangat rapat dari publik. Hanya orang terdekat dan terpercaya yang boleh menghadiri proses pemakaman.
"Apa kau baik-baik saja?" Megan bertanya sambil menyelaraskan jalannya dengan Kevin.
"Aku akan membaik jika kau selalu ada di sisiku. Ikutlah ke lokasi syuting denganku nanti," ajak Kevin. Mengembangkan senyuman tipis yang menawan. Seolah tidak sama sekali merasakan duka atas insiden yang menimpa Thomas.
"Aku akan memikirkannya. Kau tahu itu adalah resiko besar untukku," sahut Megan. Perlahan Kevin menggenggam jari-jemarinya.
Ethan sibuk berjalan mengiringi dari belakang. Dia mencoba menguping pembicaraan Megan dan Kevin. Tetapi entah kenapa atensi Ethan selalu saja terfokus ke arah bokong Megan yang berisi. Nalurinya sebagai lelaki, tidak bisa membantah kemolekan tubuh Megan.
Ethan meneguk salivanya sendiri. Benaknya tiba-tiba mengingat insiden ciuman di lift kemarin malam. Setelah sempat teralihkan, Ethan langsung menggeleng tegas. Berusaha keras untuk menyadarkan diri.
"Ada apa denganmu, Ethan?" gumam Ethan sambil menampar pipinya sendiri satu kali. Saat itulah Megan berbalik badan. Meskipun begitu, Megan santai saja dengan sikap aneh Ethan. Baginya keanehan yang dilakukan pria itu memang sudah sering terjadi.
"Ethan, Kevin ingin bicara denganmu!" seru Megan.
Ethan sontak tersadar dari lamunan. Dia agak salah tingkah karena Megan mendadak memanggilnya.
__ADS_1
"Oke," tanggap Ethan singkat. Dia beserta Kevin dan Megan pergi ke sebuah tempat untuk membicarakan perihal serius.