Pesona Sang Janda Mafia

Pesona Sang Janda Mafia
Bab 18 - Pesta Di Dermaga


__ADS_3

...༻❂༺...


Megan dan Kevin berjalan sambil bergandengan tangan. Baru satu langkah memasuki area pesta, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Bukan karena Kevin. Melainkan Megan. Wajah baru yang tidak pernah terlihat sebelumnya.


"Kau yakin, kehadiranku di sini tidak akan memberikan dampak apa-apa? Kau tidak takut dengan gosip miring?" Megan berbisik ke telinga Kevin.


"Aku sama sekali tidak peduli dengan gosip. Apalagi jika berkaitan hubungan asmara. Itu hal biasa bagi semua selebriti," tanggap Kevin santai. Ia melenggang sambil menampakkan raut wajah serius. Seolah dirinya sama sekali tidak berminat beramah tamah dengan siapapun. Kevin memang terkenal memiliki sikap dingin.


Kevin mengajak Megan bersantai untuk menikmati minuman dan hidangan yang tersedia. Perlahan Megan memisah dari Kevin. Sebab ada seorang lelaki berkumis mengajak Kevin bicara. Jadi Megan tak ingin mengganggu.


Megan memutuskan menikmati segelas wine. Dia menghela nafas panjang. Tanpa sengaja, perhatiannya tertuju ke arah sosok tidak asing.


Mata Megan membulat sempurna. Seorang pria berkepala botak berhasil membuatnya mengingat masa lalu kelam. Megan ingat jelas, pria yang sekarang dia lihat adalah salah satu bagian kelompok pembunuh keluarganya.


Kilas balik insiden pembantaian segera tergambar jelas di kepala Megan. Suara tembakan serta darah yang berhamburan membuat nafas Megan mulai tidak terkontrol. Sudah lama dia tidak mengingat hal itu. Hanya dengan satu wajah, ingatan tersebut langsung terputar kembali.


Tepat delapan tahun lalu, Megan harus kehilangan seluruh keluarganya. Dia mendapatkan serangan dari kelompok misterius saat merayakan acara pernikahan. Calon suaminya terbunuh bersamaan dengan anggota keluarganya. Seperti sapuan angin topan, nyawa seluruh orang terdekat Megan langsung menghilang dalam sekejap.


Megan adalah satu-satunya orang yang selamat. Dia melarikan diri dalam keadaan masih menggunakan gaun pengantin putih. Saat itulah dia bertemu dengan Ryan. Mantan suaminya yang hingga sekarang belum mampu dilupakan. Itulah salah satu alasan Megan menyebut Ryan adalah secercah harapan. Lelaki tersebut datang seperti seorang pangeran berkuda putih. Tetapi siapa yang mengira, Ryan justru memilih perempuan lain dibanding Megan.


Jika sebagian besar orang menganggap acara pernikahan adalah kebahagiaan, maka Megan tidak beranggapan begitu. Acara pernikahan adalah tempat yang paling dihindarinya. Megan benci saat dirinya merasa lemah. Kelemahan itu datang saat Megan mengingat masa lalu kelam. Ketika dia sadar sudah tidak mempunyai siapapun untuk diandalkan.


Megan reflek melangkah mundur. Seperti terkena serangan panik, kedua tangannya gemetar ketakutan. Dia tidak mau pria yang dilihatnya menyadari keberadaannya.


Prang!


Akibat tidak melihat ke belakang, Megan menabrak sebuah meja. Botol serta gelas yang ada di sana berjatuhan ke lantai. Pecah menjadi serpihan-serpihan kaca yang tajam.

__ADS_1


Kini semua orang menatap ke arah Megan. Termasuk pria yang sukses membuat nyali Megan menciut. Menyebabkan Megan tambah ketakutan. Tanpa pikir panjang, dia beranjak pergi tak tentu arah. Hal yang paling di inginkan Megan hanyalah menjauh dari semua orang. Terutama dari sosok pria asing berkepala pelontos.


"Kau tidak apa-apa?" Kevin menghampiri Megan. Ia tentu cemas terhadap hal yang menimpa Megan.


"Aku tidak apa-apa. Pergilah! Aku ingin sendiri!" usir Megan tak peduli. Dia melajukan langkahnya. Hingga akhirnya menemukan tempat untuk bersembunyi. Yaitu toilet. Namun bukannya menemukan ketenangan, Megan justru harus berhadapan dengan wanita menyebalkan.


"Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Kevin? Tidak biasanya dia mau mengajak seseorang ke pesta. Apalagi wanita," tegur perempuan yang kebetulan bercermin di samping Megan. Namanya adalah Nathasia Brown. Aktris sekaligus penyanyi yang dikenal pernah dekat dengan Kevin.


Megan tidak menggubris ucapan Nathasia. Dia sibuk membasuh wajahnya di depan wastafel.


"Apa kau tuli?!" timpal Nathasia yang tak terima dirinya diabaikan.


"Apa aku mengenalmu?" pungkas Megan sembari melingus pergi dari toilet.


Nathasia terperangah. Dia heran ada orang yang tidak mengenal dirinya. Padahal sudah jelas Nathasia merupakan salah satu aktris yang sering diperbincangkan. Namanya disejajarkan dengan Kevin. Tidak heran banyak penggemar yang berusaha menjodoh-jodohkannya dengan Kevin.


"Kita pernah bertemu bukan?" Pria berkepala pelontos itu berseringai. Menatap Megan dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Tetapi terasa mengancam.


Megan berupaya menghindar. Dia bahkan sengaja membuang muka. Megan melakukannya agar dirinya tidak mengingat lagi insiden pembantaian keluarganya.


"Ah, benar! Kau adalah korban Bloody Wedding. Perampokan terkeren yang pernah aku lakukan selama hidupku." Pria berkepala botak berucap sambil tergelak kecil. Dia menghalangi jalan dengan cara menyandarkan satu tangan ke tembok.


Megan akhirnya mampu menatap pria botak itu. Memberikan tatapan tajam yang disertai kegetiran. Kedua tangannya mengepalkan tinju. Tanpa basa-basi Megan melayangkan bogem secara bergantian. Namun tidak ada satu pun serangannya yang berhasil mengenai lawan.


"Sekarang aku paham kenapa kau tidak pernah mencoba balas dendam." Pria botak itu lagi-lagi menyeringai remeh. Terutama saat memergoki tatapan getir dari Megan. "Kau ketakutan..." tambahnya. Berpose santai dalam keadaan memasukkan dua tangan ke saku celana.


"Aku akan membunuhmu sekarang!" ancam Megan yang tak tahan lagi. Dia mengeratkan rahang penuh amarah.

__ADS_1


"Cobalah!" tantang si pria berkepala pelontos.


Megan lantas melingkarkan tangan ke leher pria botak itu. Dia mengerahkan sekuat tenaga untuk mencekat tenggorokan musuhnya.


"Apa kau ingat bagaimana calon suamimu meninggal? Aku mencekiknya seperti ini dahulu, lalu menembak kepalanya." Sang pria berkepala pelontos sama sekali tidak ketakutan dengan serangan Megan. Justru dialah yang semakin membuat Megan tertekan.


"Kau memang harus takut. Orang-orang seperti kami tidak sebanding denganmu. Mafia atau apapun itu? Mereka bukan apa-apa dibanding kami." Pria botak tersebut dengan cepat memelintir kedua tangan Megan. Kemudian memojokkan Megan dalam keadaan memegangi leher. Kini Megan yang harus menghadapi betapa sakitnya tenggorokan tercekat.


"Kkkkk... Kkkkk..." Megan kesulitan mengatur nafas. Dia berupaya melepaskan diri tetapi tidak bisa. Tangan si pria berkepala pelontos begitu kuat.


"Megan!" panggilan Kevin sukses menyelamatkan Megan dari maut. Sosok pria botak bergegas pergi secepat kilat.


"Sial! Apa yang terjadi kepadamu?! Apa ada seseorang yang mengganggumu?" Kevin mendatangi Megan. Dia melihat leher Megan memerah.


"Aku hanya ingin pulang." ujar Megan. Mimik wajahnya tampak muram.


"Baiklah, kau sebaiknya tenang dahulu." Kevin memegang lembut pundak Megan.


"Kevin, apa semua tamu undangan di sini juga didatangi oleh orang selain selebriti dan sutradara film?" tanya Megan. Dia heran kenapa pria botak tadi bisa hadir di pesta besar.


"Iya, ada pengusaha serta beberapa politikus." Kevin perlahan merangkul Megan. Lalu membaui rambut pirang Megan yang harumnya seperti aroma bunga tulip.


"Kau yakin?" Megan memastikan.


"Tentu saja. Ayo ikut aku!" Kevin mengajak Megan kembali ke ruang pesta. Dia sukses melihat sang pria botak mengamati dari balik dinding.


Sebelum pergi, Kevin menoleh ke arah pria berkepala pelontos. Kemudian saling melemparkan seringai.

__ADS_1


__ADS_2