
...༻❂༺...
Kevin mengajak Megan bicara dengan seorang wanita bernama Emily. Kevin memberitahukan bahwa Megan ingin mengembangkan karir modelnya ke jenjang lebih tinggi.
"Kevin, kau tidak perlu melakukan ini." Megan diam-diam berbisik kepada Kevin.
Kevin justru semakin bersemangat untuk membujuk Emily. Dia melakukannya, agar Megan dapat kesempatan untuk menjadi model di bagian manejemen milik Emily.
"Baiklah. Dari proporsi wajah dan tubuhmu, kau memang cocok menjadi bagian anggota modelku. Masukkan nomor teleponmu. Mungkin suatu hari aku bisa menghubungimu." Emily menyodorkan ponsel kepada Megan.
"Kau bisa hubungi Kevin saja. Biar dia yang memberitahuku. Kebetulan aku lupa nomor teleponku, ditambah ponselku ketinggalan sekarang." Megan menjawab dengan raut wajah datar. Dia memang tidak membawa ponsel, karena Kevin memaksanya pergi begitu saja.
"Ah, benar. Beritahu saja aku." Kevin mengiyakan usulan Megan.
"Baiklah. Tunggulah kabar dariku nanti." Emily tersenyum tipis, lalu beranjak untuk bicara kepada orang lain.
"Apa kau akrab dengannya?" tanya Megan. Menatap Kevin dengan sudut matanya.
"Aku hanya mau akrab dengan orang-orang penting. Termasuk dirimu." Kevin membuka lebar telapak tangan. Bermaksud mengajak Megan untuk berdansa.
"Aku? Penting bagimu?" Megan menunjuk ke arah dirinya sendiri. Ia tentu merasa heran. Megan mendadak merasa ganjal dengan sikap Kevin yang terasa berubah-ubah. Sebenarnya seperti apa karakter pemuda berusia dua puluh lima tahun itu?
Tanpa sadar, Megan menyambut tangan Kevin. Mereka bergabung dengan beberapa pasangan yang sudah berdansa.
"Sangat penting. Kau selalu menghantui pikiranku," tutur Kevin seraya mencium punggung tangan Megan. Selanjutnya, dia dan Megan segera menggerakkan badan untuk berdansa.
Megan melingkarkan tangan ke pundak Kevin. Sementara Kevin memegang pinggul ramping Megan. Walau Kevin memiliki usia lebih muda, tinggi badannya lebih tinggi dibanding Megan. Bahkan sampai harus membuat Megan mendongak untuk menatapnya.
"Kau sangat pintar merayu. Jika kau mengatakannya kepada gadis yang lebih muda darimu, aku jamin dia pasti langsung luluh." Megan berkomentar sambil memutar badan. Tepat ketika Kevin memegang erat satu tangannya ke atas kepala. Mereka hanya melakukan tarian pasangan sederhana. Jujur saja, kedekatan keduanya sedang menjadi pusat perhatian semua orang.
"Itu benar. Kaulah satu-satunya wanita yang berhasil menginjak-injak harga diriku. Terutama saat di ranjang." Kevin kembali melingkarkan tangan ke pinggul Megan. Mendorong lebih kuat, hingga jarak wajahnya dan wajah Megan menjadi sangat dekat.
"Awalnya kau memaksaku. Kedua, karena aku memang sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hubungan itu." Megan menjelaskan sambil menarik sudut bibirnya ke atas.
__ADS_1
"Mulai sekarang, aku akan membantumu. Aku akan menyisihkan jadwal kosong hanya untuk dirimu," ungkap Kevin. Lalu menggigit bibir bawah Megan dengan pelan.
Megan ingin sekali menampar wajah Kevin. Namun dia berusaha keras mengendalikan diri. Apalagi sekarang dirinya sedang menjadi bahan tontonan orang banyak.
"Aku akan mencoba." Megan perlahan melepaskan tangan Kevin dari pinggulnya. Kemudian mengajak untuk segera pulang.
Kevin menganggukkan kepala. Dia dan Megan pulang menggunakan mobil. Sepertinya Kevin sudah menyuruh Morgan lebih dulu untuk menyiapkan mobil.
Megan dan Kevin duduk bersebelahan. Mereka duduk di kursi belakang. Sedangkan Morgan bertugas menyetir di depan. Kebetulan ada banyak buah-buahan serta cokelat di mobil. Terdapat juga obat-obatan tertentu yang sama sekali tidak diketahui oleh Megan. Dahi Megan otomatis mengerut heran.
"Untuk apa semua ini? Jangan bilang semuanya untukku?" Megan melebarkan kedua kelopak matanya.
"Tentu saja untukmu. Pertama ada cokelat. Aku diberitahu oleh dokter profesional bahwa cokelat cukup ampuh untuk membangkitkan gairah wanita. Dia juga merekomendasikan, alpukat, pisang, stroberi, dan banyak lagi." Kevin menjelaskan panjang lebar. Menyebabkan Megan terperangah tak percaya. Seniat itukah Kevin ingin menghabiskan waktu yang indah di ranjang bersamanya?
Megan mengedipkan mata beberapa kali. Dia kehabisan kata-kata. Belum sempat dirinya berucap, Kevin sudah lebih dahulu bicara kembali.
"Dan obat-obatan itu. Kau bisa meminumnya saat berada dalam periode subur." Kevin menunjuk obat-obatan yang terlihat sudah dibungkus satu paket di sebelah parsel buah-buahan.
"Dimana rumahmu, Miss? Jangan bilang anda ingin kembali pulang ke hotel?" Morgan tiba-tiba bertanya.
Bola mata Megan meliar. Sebab dia bingung harus menjawab apa. Bagaimana tidak? Selama ini Megan hidup dengan cara berpindah-pindah tempat. Dia tidak memiliki lokasi untuk ditinggali dalam waktu lama.
Megan berpikir sejenak. Sempat terlintas alamat apartemen Ethan. Tetapi jujur, Megan merasa apartemen Ethan terlalu biasa untuknya. Setelah berpikir cukup lama, terbersitlah nama Clara.
Megan ingat, tempo hari dia dan Ethan mengantarkan Clara ke rumah. Kediaman wanita lansia tersebut lumayan besar dan pantas dijadikan tempat tinggal palsu Megan.
"Jalan saja ke A. Rainy Street." Megan menyebutkan alamat rumah Clara.
"Kau tinggal di sana?" tanya Kevin.
"Ya, lebih tepatnya itu rumah ibu angkatku. Aku akhir-akhir ini sering ke sana. Karena ibuku itu menderita demensia." Megan menjelaskan asal. Kevin hanya memanggut-manggutkan kepala seakan mengerti.
Tanpa sepengetahuan Megan dan Kevin, dari arah belakang ada mobil hitam misterius yang mengikuti. Di mobil hitam tersebut ada seorang fotografer yang hendak mencuri informasi pribadi Kevin. Fotografer seperti itu biasanya disebut paparazi. Kerjaan paparazi biasanya dilakukan oleh satu orang. Tugas mereka adalah membuntuti orang-orang terkenal.
__ADS_1
Berita tentang asmara Kevin selalu ditunggu-tunggu oleh publik. Tidak heran dia selalu menjadi korban incaran para paparazi. Sebab ketika wartawan hendak menulis artikel gosip, maka mereka harus membeli foto bukti terlebih dahulu kepada paparazi.
Morgan menghentikan mobil di depan rumah Clara. Dia bergegas memindahkan parsel buah-buahan serta obat-obatan ke teras rumah.
Megan dan Kevin baru keluar dari mobil. Mereka berdiri sambil berhadapan. Kala itu Megan merasa harus memberikan kesan kuat kepada Kevin. Dia ingin melakukannya karena harus secepatnya bergerak terhadap rencana Ethan. Megan tidak mau terlalu banyak mengulur waktu.
Sebuah pelukan erat diberikan Megan untuk Kevin. "Aku akan mengucapkan terima kasih. Meskipun awalnya kau mengikatku seperti seorang tawanan," tuturnya. Penuh akan sandiwara. Padahal secara logika, Megan merasa aneh dengan sikap Kevin yang mengikatnya di tiang tempat tidur.
Kevin terkekeh. Hingga menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi. Dia membalas pelukan Megan. Bahkan meletakkan satu tangan ke bokong Megan.
"Maafkan aku..." ucap Kevin seraya menenggelamkan wajah ke ceruk leher Megan.
Jepret!
Paparazi yang mengikuti Kevin mendapatkan jakpot. Dia mengambil gambar dengan rekahan senyum bahagia. 'Jika begini aku akan dapat uang yang banyak. Dollar-dollar, tunggulah aku!' batinnya, kesenangan.
Megan meringiskan wajah, ketika dia merasakan sentuhan berlendir di lehernya. Megan yakin Kevin nekat menjilat kulitnya.
'Apakah Kevin sudah gila? Baru pertama kali aku menemui pria seaneh ini?' benak Megan bertanya-tanya. Dia perlahan mendorong Kevin menjauh.
"Ibuku sepertinya sedang tidur." Megan menoleh ke arah rumah Clara sejenak. "Apa kau mau mampir dulu?" tawarnya. Berlagak ramah. Megan berharap Kevin menolak.
"Tidak perlu. Aku ada jadwal syuting setelah ini." Untungnya Kevin menolak.
"Bukankah ini hampir tengah malam?" Megan mengernyitkan kening.
"Jadwal untuk syuting film tak menentu, Megan. Apalagi jika harus bekerjasama dengan sutradara yang cerewet dan perfeksionis." Kevin menerangkan. Seterusnya dia menyuruh Megan masuk ke rumah terlebih dahulu.
Megan berjalan dengan ragu menuju rumah Clara. Dia mencoba membuka pintu. Akan tetapi pintunya terkunci. Dari pada menanggung malu, Megan lebih baik menyuruh Kevin pulang.
"Pergilah! Aku ingin melihatmu pergi." Megan menyilangkan tangan di dada. Bersikap seolah-olah santai.
"Baiklah. Sampai jumpa, Megan." Kevin masuk ke mobil. Dalam sekejap mobilnya menghilang ditelan jarak. Kini Megan dapat mendengus lega. Dia dengan risih mengusap leher yang tadi sempat kena jilatan Kevin.
__ADS_1