
...༻❂༺...
Thomas yang berjalan di depan, sesekali melirik ke belakang. Dia terlihat seolah berhati-hati. Meskipun begitu, Thomas terus melangkah untuk melakukan pekerjaannya. Ia mengajak Ethan dan Megan ke bagian tim peneliti terlebih dahulu. Dimana ada cukup banyak ilmuwan di sana.
"Mereka melakukan banyak penelitian demi menciptakan mahakarya baru. Kebetulan kami ingin menjadi perusahaan teknologi yang mengeluarkan ponsel hologram pertama. Kami tidak hanya berusaha menciptakan barang canggih, tetapi juga praktis." Thomas menjelaskan saat menghentikan langkah.
"Hmmm... jadi kalian fokus dengan barang saja?" tanya Ethan sambil memegangi dagu.
"Untuk sekarang benar. Makanya ilmuwan Biologi kami hanya bertugas mengetes keamanan produk baru terhadap manusia," jelas Thomas. Dia menunjukkan tangan ke salah satu ilmuwan Biologi.
"Siapa namanya?" Ethan kembali bertanya.
Megan sontak menoleh. Dia tentu penasaran, kenapa Ethan tertarik dengan ilmuwan Biologi? Menurutnya, itu salah satu rencana Ethan terhadap organisasi mafia yang akan dibangunnya nanti.
"Namanya Richard Gardner. Orang-orang di sini sering memanggilnya Richy. Kenapa kau bertanya? Apa kau sedang mencari seorang ilmuwan Biologi?" Thomas menatap Ethan dengan sudut matanya. Ternyata bukan hanya Megan yang merasa penasaran.
"Tidak juga. Aku hanya ingin tahu," terang Ethan singkat. Kemudian tersenyum tipis.
Tanpa sepengetahuan, Megan, Kevin dan Thomas, ada sesuatu yang berjalan mendekat dari belakang. Dia tidak lain adalah sebuah robot. Kebetulan Kevin dapat mengendalikannya dari kejauhan.
"Halo, Megan..." sapa suara yang terdengar datar namun agak berdengung seperti mesin.
Megan tersentak kaget. Dia merasakan benda dingin yang menyentuh pundaknya. Alhasil Megan menoleh, bersamaan Ethan dan juga Thomas.
"Dia adalah robot kembaran Kevin. Ngomong-ngomong dia juga diberi nama Kevin." Thomas merubah posisi berdiri ke sebelah robot Kevin. "Sepertinya Kevin sudah beristirahat dari kegiatan syuting. Sebab hanya dia yang bisa mengendalikan robot ini," sambungnya.
"Kau melakukan pekerjaan bagus, Tommy..." ujar robot Kevin sembari menggerakkan kepala ke arah Thomas.
"Terima kasih, Kevin. Kau tahu aku ahli dalam pekerjaanku." Thomas berucap seraya memperbaiki kerah bajunya.
Robot Kevin tak peduli. Dia justru merubah pandangannya kepada Megan. Lalu berkata, "Kevin bilang, dia merindukanmu..."
Megan memutar bola mata jengah. Diakhiri dengan menatap Ethan. Dia benar-benar malas menghadapi sesuatu hal yang emosional. Megan bahkan benci segala suasana yang berbau romantis. Baginya itu agak menjijikan. Ia lebih suka menjalani cinta yang jujur dan blak-blakkan.
__ADS_1
"Jawablah, Megan. Jawab kau juga merindukannya," bisik Ethan. Menyebabkan Megan segera melayangkan pelototan. Enak sekali Ethan memerintah begitu.
Megan menoleh ke arah robot Kevin. "Apa kau benar-benar di sana, Kevin?" tanya-nya sembari memperhatikan badan robot yang terbuat dari titanium.
"Ya, aku di sini. Sejak tadi aku memperhatikan kalian." Layar yang ada di dada robot mendadak memperlihatkan wajah Kevin. Kini Megan dapat bicara dengan Kevin seperti melakukan video call dalam ponsel.
"Kau benar-benar mengerikan," komentar Thomas. Sejujurnya dia merasa risih dengan keamanan baru yang diciptakan Kevin. Thomas tidak bisa lagi bekerja secara leluasa.
"Hentikan, Thomas. Kau tahu aku seperti apa. Kenapa terus saja mengeluh," balas Kevin. Thomas lantas terdiam seribu bahasa.
"Apa syutingmu sudah selesai?" tanya Ethan. Dia melangkah ke hadapan robot Kevin.
"Belum. Kami sedang melakukan break. Beberapa menit lagi syuting akan dimulai," jawab Kevin. Dia perlahan menggerakkan bola matanya untuk menatap Megan. "Kenapa kau diam saja, Megan?Tidak penasaran dengan keadaanku di sini?" ujarnya.
Megan memaksakan diri tersenyum. "Bagaimana keadaanmu, my boy?" tanya Megan dengan nada lembut. Membuat Ethan membuang muka, demi menyembunyikan ekspresi jijiknya.
"Ayolah, Megan. Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan panggil aku dengan sebutan boy!"protes Kevin dengan dahi berkerut.
"Sorry... aku terbiasa melakukannya." Megan memberi alasan.
Di waktu yang tak terduga, alarm peringatan bahaya tiba-tiba berbunyi. Lampu yang tadi putih terang, menjadi kacau akibat warna merah berkedip-kedip.
Thomas lantas mengambil ponsel sambil bergegas mencari dimana sumber bahaya. Dia menyuruh Ethan dan Megan untuk menunggu.
Sementara Kevin, sibuk meneriaki Thomas. Akan tetapi teriakannya sama sekali tidak dipedulikan oleh Thomas.
Selagi Kevin sibuk mengomel, Ethan dan Megan mengambil kesempatan untuk pergi. Mereka beranjak tanpa sepengetahuan robot Kevin. Walau tidak menjelajah sampai ke dalam perusahaan, setidaknya Ethan sudah tahu apa saja produk yang dibuat di The New Life Technology.
"Kenapa kau malah pergi? Bukankah kau butuh informasi lebih banyak?" tanya Megan terheran.
"Ini sudah cukup. Lagi pula kita adalah pengunjung. Akan aneh jika kita tidak berlari saat ada alarm bahaya berbunyi," sahut Ethan sembari mencengkeram erat pergelangan tangan Megan. Dia membawa Megan hingga ke lobi perusahaan.
"Oke, tapi bisakah kau lepaskan tanganku? Aku bisa berjalan sendiri!" pungkas Megan.
__ADS_1
Ethan langsung melepaskan Megan. Dia sedikit salah tingkah. Karena tidak sadar memegangi lengan Megan cukup lama.
Kini Ethan dan Megan memilih duduk di lobi. Mereka menunggu Thomas kembali.
"Apa rencanamu? Kau harus memberitahuku." Megan memasang mimik wajah serius.
"Aku akan jelaskan saat kita pergi dari sini," respon Ethan.
Tidak lama kemudian, Thomas akhirnya datang. Dia terlihat tersengal-sengal. Peluh bahkan menetes membasahi pelipisnya. Dengan cepat Thomas mengambil sapu tangan dari saku jas. Dia langsung mengelap keringat yang ada di sebagian wajah.
"Maaf, Thomas. Kami harus berlari keluar karena merasa takut. Memangnya ada bahaya apa tadi?" Ethan bangkit dari tempat duduk. Melontarkan pertanyaan secara gamblang.
"Maafkan aku. Tetapi apa yang terjadi tadi adalah rahasia perusahaan. Aku tidak bisa memberitahumu," tutur Thomas. Kali ini dia menambahkan senyuman ramah. Meski itu adalah senyuman yang dipaksakan.
"Its ok. Sekarang lebih baik aku dan Ethan pulang saja," sahut Megan seraya menaikkan tali tasnya ke bahu.
"Jangan tergesak-gesak! Kenapa kalian tidak makan dahulu. Kami sudah menyiapkan sajian khusus di restoran The New Life." Thomas menunjuk ke arah dimana lokasi restoran The New Life berada.
"Kalian juga punya restoran di sini?" Megan yang tak percaya, mencoba memastikan.
"Ya, restoran kami baru dibuka. Semua pelayan yang ada di sana adalah robot. Manusia yang ada di sana hanya sebagai koki dan kasir," jelas Thomas.
"Menarik!" ungkap Ethan. Lalu melenggang lebih dulu menuju restoran. Sikapnya memang terkesan seperti tidak tahu malu.
"Maaf, kakakku selalu begitu. Dia sangat mengagumi perusahaan berbasis teknologi. Terutama The New Life Technology." Megan menjelaskan dengan canggung. Dia terpaksa mengatasi sikap Ethan yang sama sekali tidak bisa menutupi kebiasaan asli.
Thomas terkekeh. "Tidak apa-apa, aku paham bagaimana sikap seorang penggemar. Ayo, lebih baik kau juga ikut!" balasnya seraya melangkah bersamaan dengan Megan.
Setibanya di restoran The New Life, Megan dan Ethan disambut oleh sapaan ramah dari sebuah robot. Mereka disuruh memilih tempat duduk yang tersedia.
Restoran The New Life sangat mewah. Seting restorannya seperti gambaran masa depan. Persis seperti film-film sci-fi kebanyakan. Canggih, nyaman dan bersih.
Ethan tidak menyangka, keadaan perusahaan The New Life Technology melebihi ekspetasinya. Ia merasa semakin bersemangat mengambil alih perusahaan tersebut dari Kevin dan Thomas.
__ADS_1