
Marvin duduk diam didalam mobil yang akan membawanya pergi melakukan perjalanan bisnis kali ini dengan pikiran masih tertuju pada sikap dan.....aroma tubuh Luna tadi pagi.
Kenapa dia merasa sangat tergoda waktu mencium aroma parfum yang dipakai perempuan dengan penampilan kuno itu dan kenapa hanya gara gara itu dia menjadi gugup tidak jelas tadi.
Pikiran Marvin terus saja ingat tentang Luna hingga dia tidak mendengar waktu Garend mengajaknya bicara.
"Vin! Marvin!".
Panggil Garend yang membuat Marvin langsung tersentak.
"Hah!".
"Apa ada yang sedang kau pikirkan sampai kau tidak mendengar apa yang tadi kukatakan?".
"Tentu saja,masalah pekerjaan yang akan kita lakukan sekarang".
Garend langsung menatap Marvin tajam mendengar jawaban yang diberikan pria itu padanya.
"Kau yakin?''.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?!".
Kali ini Marvin merasa kesal karena Garend seolah tidak percaya dengan ucapannya.
"Tidak ada tapi kurasa apa yang kau pikirkan barusan sampai tidak mendengarkan perkatakaanku itu bukan tentang pekerjaan ini tapi ada hal lainnya yang sedang mengganggu pikiranmu".
"Sudah kubilang aku sedang memikirkan tentang pekerjaan.Bukankah kau tau aku baru pulang pukul 4 pagi agar proyek yang akan kita datangi ini sukses".
Garend tidak ingin membantah masalah itu lagi jadi sengaja mengalihkan pembicaraan ketopik lain karena perjalanan mereka masih cukup lama sekarang sebelum sampai ketempat tujuan.
"Kudengar kalian tinggal bersama sekarang".
Marvin menoleh kearah Garend mendengar pertanyaan yang diajukan pria itu padanya.
"Itu salah satu bagian dari kesepakatan kami".
Jawabnya dengan kembali menatap ipads yang ada ditangannya untuk berusaha bekerja meski konsentrasinya buyar lagi karena Garend membicarakan tentang Luna sekarang.
"Lalu bagaimana?".
Garend sengaja menggantung pertanyaannya pada Marvin.
"Sudah kubilang pernikahan kami hanya sebuah kesepakatan".
jawab Marvin dengan semakin mencoba berkonsentrasi menatap Ipads dipangkuannya karena pikirannya sekarang mulai teringat lagi pada apa yang terjadi pagi tadi dengan perempuan itu.
"Apa itu berarti kalian menulis semua hal dalam bentuk surat perjanjian seperti difilm film itu".
Tanpa sadar Marvin menarik nafasnya cukup keras membuat Garend langsung menoleh kearahnya.
__ADS_1
Marvin menatap Garend tajam sebelum bicara lagi dengan Garend.
"Apa sebenarnya tujuanmu bertanya seperti itu.Apa kau bermaksud menyelidiki hubungan kami atau kau bertanya begini untuk mendapat bonus besar dari mamaku".
Garend sengaja mengangkat alisnya mendengar perkataan bernada kesal yang diucapkan Marvin padanya.
"Jangan menuduhku sembarangan Vin bukankah selama ini aku selalu berada dipihakmu meski dengan itu aku harus rela sering kena amarah Tante Elena".
"Lalu untuk apa kau bertanya seperti itu padaku?!".
"Karena aku baru saja dapat sebuah bocoran dari Sela tentang Luna.Apa kau tidak penasaran?".
Marvin langsung terdiam mendengar apa yang dikatakan Garend itu dan tanpa sadar langsung menoleh kearah Garend tapi belum mengatakan apapun seolah dia sedang menimbang apakah hal itu ingin didengarnya atau tidak sekarang.
"Bagaimana Vin?Apa kau ingin tau atau.....".
"Apa itu?".
Seketika seringai jahat muncul diwajah Garend waktu mendengar pertanyaan singkat yang diucapkan Marvin padanya.
"Ini sesuatu yang akan merubah pandanganmu tentang perempuan itu dan....".
"Katakan saja jangan berbelit belit.Atau kau sengaja melakukannya karena menginginkan sesuatu dariku?".
Mendengar itu Garend langsung menyeringai senang.
"Shitt sudah kuduga.Apa itu katakan sekarang?!".perintah Marvin dengan kesal.
"Beri aku cuti selama satu Minggu bulan depan".
Marvin langsung berdecak kesal mendengar permintaan Garend itu.
"Untuk apa kau ingin libur selama itu.Apa kau ingin pensiun dini?!".
"Vin!aku bukan robot sepertimu.Aku juga butuh waktu untuk bersenang senang dengan perempuan yang aku suka jadi ...".
"Bukannya kalian sudah bertemu setiap hari.Apa itu belum cukup!".
"Tentu saja belum!.Aku berencana menghabiskan waktu cuti itu untuk mengajak Sela liburan pra bulan madu".
Tanpa bisa dicegah Marvin memelototkan matanya mendengar ucapan Garend.
"A..apa....liburan pra bulan madu?Apa maksudnya itu?".
"Maksudnya adalah aku berencana melamarnya waktu kami pergi liburan nanti karena itu beri aku ijin cuti bulan depan agar aku bisa melakukan rencanaku".
"Apa balasannya untukku?!".
"Aku akan mengatakan rahasia Luna yang kuketahui dari Sela padamu".
__ADS_1
"Apa kau pikir itu cukup.Itu bukan sesuatu yang sangat penting karena bagiku Luna hanya....".
"Sebenarnya Luna punya wajah yang sangat cantik dibalik penampilannya sekarang".
Seketika Marvin terdiam mendengarnya dan tanpa sadar hatinya berdebar keras waktu mendengar hal itu.
Tapi tentu saja dia tidak mungkin mengatakan sangat terkejut dan juga senang sekarang waktu mendengar hal itu karena dia tidak ingin membuat Garend besar kepala.
"Bagiku itu tidak penting.Bukankah aku juga selalu bersama perempuan perempuan cantik selama ini.Contohnya Sasa".
"Bukankah kau bilang Sasa tidak cantik hanya sedikit menarik.Apa kau lupa itu".
"Kalau perempuan dengan wajah seperti Sasa saja aku bilang cuma cukup menarik apalagi seorang Luna yang dari luar terlihat seperti itu".
"Apa kau yakin tidak penasaran karena jujur saja aku sendiri sebenarnya sangat penasaran pada Luna hanya saja tidak ingin Sela marah padaku kalau aku terlalu bertanya tentang itu padanya".
Marvin kali ini tidak lagi menjawab Garend tapi memilih benar benar fokus pada ipads ditangannya karena semakin mereka membicarakan perempuan itu perasaan aneh yang semula dipikirnya tidak nyata itu semakin muncul jadi dia mencoba fokus kepekerjaan untuk menghilangkan perasaan yang tidak disukainya itu waktu menatap Luna.
"Vin!".
Panggil Garend lagi tapi kali ini dibalas tatapan tajam oleh Marvin.
"Kita sudah hampir sampai sekarang fokuslah dengan pekerjaan yang akan kita lakukan karena aku tidak akan menyetujui rencana liburanmu kalau pekerjaanmu dikantor tidak beres".
Mendengar itu Garend tidak lagi ingin bertanya pada Marvin dan memilih memeriksa ipadsnya juga karena benar seperti ucapan Marvin mereka sudah dekat ketempat tujuan.
***
Sementara itu karena hari itu Marvin tidak dikantor jadi Luna hanya mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris biasa dan meski sangat santai tapi dia merasa ada perasaan tidak nyaman saat dia hanya melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakannya.
Sampai waktu pulang Luna seolah enggan pulang kerumahnya jadi dia memilih menghubungi Sela dan bermaksud mengajaknya bertemu.
"Ada apa Lun?".
"Ayo kita bertemu sekarang".
pinta Luna pada Sela yang membuat Sela sedikit bingung karena selama Luna bekerja baru kali ini temannya itu yang minta bertemu lebih dulu dengannya.
"Baiklah ayo kita bertemu sekarang.Kutunggu kau ditempat biasa ya".
"Baiklah aku akan kesana sekarang".
"Setelah mengatakan hal itu Luna berjalan keluar dari kantor menuju lobi untuk memanggil taksi.
Waktu dilobi dia tersentak dan langsung kabur karena melihat mobil Daddynya yang berhenti didepan lobi kantor Marvin.
Luna sampai hampir pingsan waktu melihat pintu mobil sang Daddy terbuka.
Tanpa memikirkan apapun lagi Luna bergegas pergi dari tempat itu melalui jalan belakang.
__ADS_1