
Luna terkejut mendengar Elena Fox langsung menyetujui keinginan Marvin kali ini dan jadi merasa tidak nyaman pada perempuan itu.
"E...Vin sebaiknya aku...".
"Kau sudah selesai bukan sayang ayo kita berangkat",ajak Marvin dengan berdiri dari duduknya yang terpaksa diikuti oleh Luna.
"Saya permisi nyonya",pamitnya yang hanya ditanggapi dingin oleh Elena Fox.
"Vin aku merasa bersalah pada mamamu",celetuk Luna setelah mereka berada didalam mobil.
"Mama akan baik baik saja jangan khawatir dia ",jawab Marvin dengan melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Fox.
"Tapi kalau aku kekantormu apa yang aku kerjakan Vin?",tanya Luna terdengar bingung.
"Tentu saja menemaniku lalu apa",jawab Marvin dengan menggerling nakal kearah Luna.
"Huffft menyebalkan",gerutu Luna dengan menatap tajam kearah Marvin.
"Lalu kalau tidak menemaniku kau ingin melakukan apa sayang?".
"Aku ingin jalan jalan bersama Sela saja hari ini.Sudah lama aku tidak bertemu dengannya banyak yang ingin kuceritakan padanya".
"Kurasa lebih menyenangkan ikut bersamaku dari pada mengobrol bersama temanmu itu".
"Bukankah kau sudah janji aku boleh melakukan apa saja yang aku mau kalau aku terus menemanimu dikantor tanpa melakukan apapun sama saja kau mengurungku lebih baik aku pergi bersama mamamu kalau begitu, dibandingkan harus diam tanpa melakukan apa apa,gerutu Luna dengan wajah cemberut.
"Pasti banyak yang bisa kau lakukan didalam kantorku sayang dan aku yakin kau tidak akan merasa bosan".
"Vin!",hardik Luna kesal karena dia berpikir Marvin memintanya kekantornya untuk melakukan hal hal mesum saja nanti.
"Baiklah hari ini kau boleh pergi bersama temanmu bersenang senang lah dengannya tapi besok kau harus ikut aku kekantorku bagaimana?".
"Baiklah kalau aku tidak berubah pikiran".
"Aku akan mengikatmu dari rumah sampai kantor agar kau tidak bisa berubah pikiran",celetuk Marvin yang membuat Luna menjadi semakin cemberut karenanya.
"Keterlaluan",makinya yang dibalas Marvin dengan tertawa.
"Jadi antar aku kekantor dan pergilah bersenang senang hari ini bersama temanmu lalu jemput aku lagi nanti saat pulang kerja",perintah Marvin.
"Itu tidak ada bedanya dengan menjadi asisten mamamu hanya orangnya saja yang berbeda yang kulayani".gerutu Luna.
"tidak akan sama percayalah akan lebih menyenangkan menjadi asistenku dibandingkan Asisten mamaku",balas Marvin lalu menghentikan mobilnya didepan kantor.
"Sampai jumpa nanti sore sayang",ucapnya dengan mengecup bibir Luna sekilas , lalu keluar dari mobil.
"Huffft, akhirnya aku punya waktu bebas",ucap Luna dengan penuh semangat lalu segera menghubungi Sela sambil melajukan mobilnya meninggalkan kantor Marvin.
__ADS_1
"Halo Sela".
"Luna!Akhirnya kau menghubungiku setelah sekian lamanya .Apa kau sudah melupakanku karena sekarang sudah menjadi menantu Orang kaya?!".
"Oh shitt mulutmu benar benar menyebalkan!",balas Luna ketus.
"Karena aku kesal denganmu.Kau seperti kata pepatah kacang lupa kulitnya tau!".
"Berhentilah menjelek jelekanku karena aku bisa menuntut mu".
"Oh Shittt!".
"Sela ayo kita bertemu banyak yang ingin aku ceritakan padamu".
"Baiklah dimana dirimu?".
"Kita bertemu dikafe biasa.Aku tunggu kau disana".
"Baiklah aku akan segera kesana".
***
Sementara itu dikantor Marvin.
"Tuan Marvin ini laporan yang anda minta kemarin",ucap Bela pada Marvin.
"Letakkan saja nanti akan aku periksa",jawab Marvin masih tetap sibuk dengan laptop didepannya.
"Tuan Marvin",panggilnya membuat Marvin terkejut.
"Kenapa kau belum pergi bukan kah aku menyuruhmu meninggalkan saja berkas itu nanti kalau sudah selesai aku akan memanggilmu.Sekarang aku sangat sibuk keluarlah!",usir Marvin.
"Sepertinya proyek Hotel Stradivarius itu membuat anda sangat sibuk apa anda mau saya buatkan kopi tuan?".
"Ya",jawab Marvin singkat masih tetap melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama Bela masuk lagi dengan membawa Secangkir kopi diatas nampan untuk Marvin.
"Ini kopi anda tuan",ucap Bela dengan meletakkan kopi itu diatas meja Marvin.
"Letakkan saja disitu".
"Mau saya pijat pundak anda tuan agar merasa rileks",tawar Bela yang membuat Marvin menghentikan pekerjaannya dan langsung menatap kearah Bela.
"Bela",panggil Marvin dengan nada penuh penekanan.
"Ya tuan"jawabnya dengan sedikit maju kedepan mendekati Marvin.
__ADS_1
"Aku suka gaya berpakaiannya hari ini",puji Marvin yang membuat Bela tampak senang mendengarnya.
"Saya mencoba mendengarkan saran nyonya Elena Fox tuan".
Marvin hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Oh iya apa tuan mau saya pijat tengkuknya supaya otot otot anda kembali lemas".
"Apa kau pintar memijit?",tanya Marvin.
"Cukup bisa dan kata yang pernah saya pijit, pijitan saya lumayan berhasil menghilangkan lelah".
"Kekasihmu pasti sangat beruntung punya dirimu",puji Marvin membuat wajah Bela memerah karenanya.
"Saya tidak punya kekasih tuan".
"Karena itu kau berani menawari mau memijitku Bela?".
"Saya hanya ingin membantu anda tuan",jawabnya.
"Tapi aku tidak bisa menerima bantuanmu Bela karena aku sudah menikah dan aku tidak suka perempuan lain menyentuhku selain istriku",jawab Marvin dengan menatap dingin kearah Bela yang langsung terdiam dan seolah merasa serba salah karenanya.
Marvin menghela nafas sebelum kembali bicara.
"Bukankah sudah kutegaskan diawal pada kalian semua kalau aku tidak perduli dengan penampilan dan masa lalu kalian asal kalian punya kinerja yang bagus.Apa kau pikir yang kumaksud kinerja juga mencoba pura pura bersikap baik padaku . Seperti nya kau salah mengartikan maksud ucapanku itu jadi mulai sekarang aku tidak ingin kamu masuk kekantorku lagi".
Seketika wajah perempuan bernama Bela itu memucat mendengar apa yang dikatakan Marvin karena tidak menyangka hanya karena tawarannya itu Marvin langsung berniat memecatnya.
Dan sebelum dia sempat mengatakan apapun tiba tiba Marvin memencet interkom.
"Peter keruangaku sekarang!",perintah Marvin dengan suara dingin membuat Bela semakin pucat mengetahui itu.
"Tu..tuan Marvin sa..saya mohon beri saya kesempatan lagi saya tidak sengaja melakukannya".
"Apa kau pikir aku bisa percaya semudah itu dan perlu kutegaskan lagi disini aku adalah bosnya kau tau artinya bukan?!".
Bela semakin gemetar mendengar nada bicara Marvin yang dingin.Niatnya semula yang hanya ingin mencoba merayu CEO Marvin.Corp itu malah berujung pada kemungkinan dipecat membuatnya benar benar kalah telak.
Tok.... Tok.
"Masuk!",perintah Marvin dengan nada suara dingin.
Orang yang berada diluar ruangan kerja langsung masuk mendengar hal itu.
"Maaf tuan Marvin ada apa anda memanggil saya?",tanya kepala sekretaris dengan menatap kearah sekretaris baru yang ada di ruangan Marvin sekarang.
"Kau pasti tau siapa dia bukan?",tanya Marvin dengan menunjuk kearah Bela.
__ADS_1
"Iya tuan apa ada masalah dengannya?".
"Bawa dia keluar dari kantorku dan disiplinkan dia",perintah Marvin dengan menyuruh kepala sekretaris nya itu keluar bersama perempuan bernama Bela itu.