Pesona Sekretaris Cupu Ku

Pesona Sekretaris Cupu Ku
20.Rencana Marvin.


__ADS_3

Marvin menghubungi Garend setelah dia tiba dikantor.


"Ada apa sampai kau berinisiatif untuk menghubungiku Vin",jawab Garend dari seberang telpon.


"Datang saja kesini ada hal yang ingin kubahas denganmu sekarang".


"Apa itu?".


"Aku menyuruhmu kesini jadi kesini saja karena aku bosmu apa kau lupa!".


"Maaf tuan Marvin karena saya melupakan hal itu".


Setelah sengaja mengatakan hal itu Garend lalu mematikan panggilannya.


Tak lama kemudian pintu ruangan Marvin diketuk dari luar yang diyakini Marvin itu Garend.


"Masuk!",perintahnya.


Mendengar perintah itu Garend masuk kedalam ruangan Marvin.


"Apa ada masalah diproyek kemarin yang kurang beres Vin?",tanyanya langsung karena biasanya Marvin memanggilnya untuk menangani pekerjaan yang bermasalah.


"Tidak...ini tentang hal lain dan aku ingin kau memberiku saran".


"Hah..saran?".


Garend terlihat tidak percaya mendengar permintaan Marvin yang tidak biasanya.


"Iya...dalam hal ini aku butuh saranmu karena aku tau kau ahlinya".


" Hal apa itu?".


Garend semakin bingung mendengar perkataan Marvin yang terdengar berputar putar sekarang.


"E...tentang perasaan",jawab Marvin merasa ragu waktu akan mengatakannya.


"Perasaan?Perasaan siapa?".


"Tentu saja perasaanku".


"Stop Vin mari bicara serius sekarang karena aku mulai pusing dengan apa yang kita bicarakan sekarang!".


"Aku juga sedang serius sekarang Rend apa kau tidak paham juga!".


Garend menarik nafasnya keras sebelum mulai bicara lagi.


"Baik jadi ..kau ingin minta saran tentang perasaan padaku bukan?".


"Iya...".

__ADS_1


"Apa itu maksudnya sekarang kau sedang tertarik pada seorang perempuan dan kau ingin mengatakan tentang perasaanmu itu Vin?".


"Ya begitu tepatnya".


"Lalu...perempuan seperti apa yang sedang kau sukai itu sampai kau perlu saran dariku".


"Luna".


"What!!!Siapa?...Luna?!".


Garend tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar apa yang baru saja dikatakan Marvin tentang perempuan yang sedang disukainya sekarang.


"Iya",jawab Marvin dengan santainya menjawab rasa terkejut Garend barusan.


"Wait Vin,biar aku mencerna sebentar siapa sebenarnya yang sedang kau sukai sekarang itu apakah Luna sang sekretaris atau Luna yang lain".


"Keduanya karena mereka satu orang dengan penampilan berbeda".


"Maksudmu?ternyata penampilan Luna sebenarnya tidak seburuk yang terlihat sekarang?".


"Iya...bukankah kau kemarin bilang dia cantik jadi ..".


"Tapi itu kan hanya ucapan Sela sementara kenyataan sebenarnya...".


"Dia memang sangat cantik".


"Hah!Apa kau sudah melihat wajah Luna yang sebenarnya Vin?".tanya Garend penasaran.


"Tadi malam lalu kau langsung jatuh cinta padanya begitu?",tanya Garend tidak percaya.


"Bukan, tapi sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengannya sebelum ini dan aku mulai tertarik padanya sejak itu tapi karena akhir akhir ini banyak hal yang sudah terjadi jadi aku melupakan sesaat wajah itu lalu waktu tadi malam aku melihatnya lagi aku baru mengingatnya".


"Sepertinya memang hubungan kalian terjalin karena hal yang tidak biasa tapi itu bukan urusanku karena itu hidupmu".


"Itu memang bukan urusanmu yang aku ingin kan darimu adalah beri aku saran bagaimana bisa membuat dia jatuh cinta padaku".


"Apakah itu juga perlu bertanya lagi Vin kau kan tinggal bersikap baik padanya dengan mengajaknya makan malam memberinya hadiah mengatakan ucapan ucapan manis lalu..."


"Bukan itu maksudku Garend tapi....Ah sudahlah akan aku pikirkan sendiri karena saranmu barusan tidak sesuai dengan sikapku selama ini".


"Lalu bagaimana sikapmu selama ini.Suka dengan perempuan mengajaknya tidur lalu memberinya hadiah sebagai ucapan terimakasih setelah itu baru menikahi perempuan itu tanpa melakukan lamaran romantis begitu?,benar benar membosankan",sindir Garend pada Marvin.


"Kenapa tidak,bukankah inti dari semua hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah itu jadi aku hanya memutar urutannya saja agar lebih cepat".


"Tapi itu bukan cinta itu keegoisan Vin dan sampai kapan kau akan seperti itu karena perempuan juga butuh hal lainnya lagi seperti ngobrol bersama atau...".


"Baiklah tidak perlu kau katakan lagi padaku karena aku sudah mengerti sekarang".


"Hah mengerti kenapa semudah itu?",tanya Garend heran.

__ADS_1


"Karena IQ ku diatas rata rata",jawab Marvin asal lalu mengusir Garend dari kantornya.


"Kau yakin ingin aku pergi sekarang?",tanyanya lagi sengaja untuk meyakinkan Marvin.


"Hemm...kerjakan pekerjaanmu saja Sana bukankah kau bilang akan mengambil cuti bulan depan.Aku tidak mau kau pergi dengan meninggalkan sisa pekerjaan dikantor nanti".


Mendengar itu Garend langsung berdiri dan berjalan keluar dari kantor Marvin.


"Aku pasti tidak akan meninggalkan pekerjaan yang tidak selesai sebelum pergi nanti",janji Garend dengan menutup pintu ruangan Marvin.


Setelah Garend pergi Marvin segera menghubungi Luna.


"Bisa kau bawakan berkas berkas tentang proyek hotel yang sedang aku teliti itu kemari Sekarang",perintahnya yang langsung diiyakan oleh Luna.


Tak lama pintu ruangannya diketuk dari luar yang diyakini Marvin itu adalah Luna.


"Tuan ini berkas berkas yang anda minta barusan",ucapnya dengan meletakkan setumpuk berkas dihadapan Marvin.


"Letakkan saja disitu sekarang bersiaplah untuk ikut aku menemui klien".


"Menemui klien maksud anda saya....".


"Ya...kita akan pergi keluar siang ini untuk bertemu klien penting",terang Marvin.


Mendengar hal itu Luna sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia keluar dari kantor hanya berdua dengan Marvin .


"E...itu tuan saya menemani anda sebagai apa ya,maksud saya...".


"Kamu ingin sebagai apa?",tanya balik Marvin pada Luna membuat Luna bingung.


"Apa maksud anda?".


"Kalau aku mengenalkan kau sebagai istriku apa kau nyaman berpenampilan seperti itu dihadapan klienku nanti?",terang Marvin yang membuat Luna tertunduk.


"Apa anda malu kalau mengenalkan saya sebagai istri anda dengan penampilan seperti ini?",tanya balik Luna karena sejujurnya dia merasa malu bertemu orang terkenal dengan penampilannya sekarang tapi jawaban yang diberikan Marvin cukup membuatnya terkejut dan tenang.


" Tidak,Bagiku bagaimana penampilanmu tidak masalah yang penting kau merasa nyaman dengan itu".


"Anda yakin dengan apa yang anda katakan?",tanya Luna masih tidak percaya Marvin mau membawanya dengan status sebagai istrinya sekarang.


"Tentu saja apa kau meragukan ucapanku Luna".


Luna menggeleng.


"Saya hanya khawatir anda merasa malu dengan penampilan saya".


"Lalu kalau aku bilang ingin kau berpenampilan lain kau akan setuju melakukannya?",balas Marvin dengan menatap kearah Luna yang langsung terdiam mendengarnya.


"Bersiap lah kita akan berangkat sebentar lagi dan jangan terlalu memikirkan tentang apa yang kau kenakan sekarang tapi buktikan saja kemampuanmu entah itu sebagai istriku atau sekretarisku aku akan menghargai pilihanmu itu".

__ADS_1


Mendengar itu Luna mengangguk dan pamit untuk keluar dari ruangan kerja Marvin.


"Aku menunggumu dimobil",ucap Marvin sebelum Luna benar benar keluar dari dalam ruangannya yang langsung dijawab anggukan oleh Luna lalu keluar.


__ADS_2