
"Kalian yakin akan berbalik berpihak padaku?",tanya Marvin dengan menatap tajam kepada dua pria yang sudah menculiknya itu.
"Tentu saja tuan Marvin kami yakin asal tuan berjanji tidak akan membuat kami masuk penjara".
Marvin sengaja terdiam mendengar apa yang dikatakan kedua penculiknya itu bukan dia tidak ingin melepaskan mereka karena Marvin tau mereka hanya dua preman yang mendapatkan uang dari pekerjaan seperti ini tanpa perduli resiko yang mereka dapatkan dari apa yang sudah mereka lakukan ini.
"Tuan Marvin bagaimana?Apa anda setuju?Kalau setuju kami akan mengantar anda kembali ke Bandara sekarang juga".
"Apakah kalian sama sekali tidak takut pada orang orang yang sudah menyuruh kalian itu?",tanya Marvin yang langsung dijawab gelengan oleh mereka tanpa pikir panjang.
"Kami bisa bilang kalau kami gagal melakukannya tuan".
"Bukankah ini bukan pekerjaan pertama kalian yang diberikan orang itu lalu apa kalian pikir orang yang sudah menyuruh kalian itu akan percaya begitu saja dengan apa yang kalian katakan?".
Kami tidak perduli tuan karena kami yakin dia tidak akan bisa berbuat apa apa dengan kami".
Marvin menarik nafasnya keras.
"Biarkan aku menghubungi seseorang dulu lalu setelah itu aku akan memutuskannya".
"Apa maksud anda?Apa anda berniat menipu kami dengan bermaksud menelpon pihak berwajib?!".
"Aku tidak suka menipu orang meski itu musuhku sendiri tapi aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan seperti kalian,jadi kalau kalian ingin berpihak padaku kalian harus percaya padaku lebih dulu baru setelah itu kita bisa melanjutkan kesepakatan kita",terang Marvin yang membuat kedua preman itu terdiam dan merasa kagum dengan cara berpikir Marvin.
"Anda luar biasa",jawab salah satu dari kedua preman itu dengan menyerahkan ponselnya pada Marvin tapi Marvin diam saja membuat pria yang satu ya menjadi bingung karenanya.
"Kenapa anda tidak menerima ponsel itu bukankah Anda bilang tadi ingin menghubungi polisi tapi ...".
"Tangan ku masih terikat jadi bagaimana aku bisa menelpon?".
Seketika orang yang bertanya tadi langsung melepaskan ikatan ditangan Marvin.
"Maaf kami teledor tuan Marvin",jawabnya lalu setelah tangan Marvin terlepas dia kembali memberikan ponsel nya pada Marvin.
"Pukul berapa orang yang menyuruh kalian berjanji akan datang kesini?",tanya Marvin pada mereka.
"Pukul 22 malam ini",terang salah satu preman yang membuat Marvin menghela nafas keras karena harus menunda lagi kepulangannya kerumah supaya urusan ini benar benar selesai dengan tuntas.
__ADS_1
"Sekarang baru pukul 3 sore jadi masih cukup lama".
Lalu Marvin menghubungi nomor kantor polisi dan melaporkan apa yang terjadi padanya dan meminta mereka untuk datang ke alamat tempat dirinya disekap sekarang dan meminta pihak kepolisian untuk menangkap para penculiknya dengan mengikuti rencananya.
Setelah pihak kepolisian mengerti dan setuju lalu Marvin menghubungi nomor Garend untuk mengabarkan kondisinya sekarang.
"Halo ini dengan siapa,?!",tanya Garend dengan nada dingin.
"Rend ini aku",jawab Marvin yang membuat Garend langsung terdiam sebelum menjawab dengan nada berteriak karena sepertinya dia barusan syok dan tidak menyangka kalau yang menghubunginya sekarang adalah Marvin.
"Vin!Ini benar kau!?",tanyanya dengan nada terkejut.
"Hemmm kau pikir",balas Marvin dingin.
"Bagaimana kondisimu?Dimana kau sekarang dan apa sebenarnya yang terjadi padamu Vin kenapa sampai kau bisa diculik oleh orang orang itu?Apa mereka menyakitimu?".
Berbagai macam pertanyaan meluncur dari mulut Garend membuat Marvin menjadi kesal karenanya.
"Rend stop!!Aku menghubungimu bukan untuk menerima rentetan pertanyaan tidak penting seperti ini tapi untuk memberitaumu kalau sekarang aku baik baik saja dan sudah menghubungi pihak berwajib untuk meminta mereka menangkap para penculik itu ".
"Siapkan sejumlah uang dan pasport pergi keluar negeri untuk dua orang",perintah Marvin dengan menyebutkan jumlah uang yang dibutuhkannya dan nama orang yang membutuhkan paspor itu.
"Baiklah akan aku lakukan dan aku akan mengirim anak buah kita kesana untuk menyelamatkan mu dari para penculik itu".
"Hem lakukan secepatnya karena pukul sepuluh malam ini mereka akan datang kemari dan aku berniat menghancurkan mereka saat itu Rend".
"Siapa mereka itu Vin?",tanya Garend penasaran.
"Apakah kau sama sekali tidak bisa menduganya sama sekali siapa yang akan melakukan hal selicik ini Rend?".
"Aku bisa menduga yang satu tapi siapa orang yang satu lagi,Karena sepertinya pelakunya lebih dari satu orang".
"Para penculik ku itu tidak tau siapa mereka tapi yang pasti mereka dua orang yang sangat membenciku dan kalau disana ada mamaku tanyakan padanya siapa orang yang kira kira melakukan ini padaku karena aku yakin dia tau".
"Tante Elena?",tanya Garend lalu terdiam yang membuat Marvin bisa menduga kalau sang mama Elena Fox juga ada didekat Garend sekarang.
"Ya....bukankah mama yang paling suka menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini",jawab Marvin.
__ADS_1
"Jadi secara tidak langsung kau menyalahkan mama dalam hal ini Vin?!".
Tiba tiba Elena Fox ikut menyela pembicaraan mereka.
"Marvin tidak ingin menjawabnya ma karena sekarang bukan saatnya kita membahas hal ini. Tapi mencari tau siapa satu orang lagi orang yang melakukan ini selain sibrengsek Carlos".
"Benar Tante meski Marvin sudah bisa bernegosiasi dengan para penculiknya kemungkinan para penculik itu berbalik menyakiti Marvin tetap ada jadi sebaiknya kita memikirkan cara menyelesaikan ini dulu sekarang".
Mendengar itu Elena Fox tidak lagi berbicara pada Marvin dengan nada ketus.
"Baiklah, maaf Vin sepertinya aku memang sudah sangat keterlaluan disaat seperti ini malah marah untuk hal yang tidak jelas padamu".
"Lupakan saja ma,sekarang mari kita selesaikan masalah ini karena aku ingin segera bisa pulang dari sini bertemu istriku ma".
"Ya Vin itu juga yang kami semua harapkan dan percayalah kami akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu selamat Vin".
"Terimakasih ma.Aku menyayangi mama"jawab Marvin lalu mengakhiri panggilan mereka sebelum dia merasa lebih sentimentil lagi kalau mendengar jawaban Elena Fox tentang ungkapan perasaannya.
"Ini",Marvin mengembalikan ponsel kepada si preman.
"Bagaimana tuan Marvin?",tanya mereka dengan ekspresi penuh harap.
"Aku sudah mengatur semuanya untuk kalian melalui orang kepercayaanku".
"Benarkah tuan Marvin".
Marvin mengangguk",Selama kalian mau mengikuti semua rencanaku".
"Tentu saja tuan Marvin kami pasti akan mengikuti rencana anda".
"Baiklah kalau begitu sekarang pukul aku dengan keras bahkan sampai hampir pingsan".
Seketika dua orang preman itu saling pandang mendengar apa yang Marvin katakan dan bingung karena Marvin malah menyuruh mereka memukulinya.
"Tuan Marvin,kenapa anda meminta kami memukuli anda bukankah kita sudah sepakat kalau kami akan berbalik berpihak pada anda sekarang".
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan barusan!".
__ADS_1