Pesona Sekretaris Cupu Ku

Pesona Sekretaris Cupu Ku
57. Jangan Cemas Luna.


__ADS_3

Luna menyandarkan kepalanya didada Marvin mereka saling diam seolah sedang meresapi kebersamaan mereka sekarang. Meski hanya duduk didalam mobil sambil menatap kearah langit malam yang terlihat dari dalam mobil di tepi jalan yang sunyi setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka tadi direstoran.


"Aku berharap kita akan selalu seperti ini sayang",ucap Marvin membelai wajah Luna dengan penuh perasaan dan sesekali mengecup puncak kepala perempuan itu.


"Aku juga berpikir, akan merasa bahagia kalau mamamu bisa mengakui aku Vin tapi ternyata aku salah.Hal sebenarnya aku inginkan adalah bisa berada didekatmu seperti ini.karena terlalu sibuk mencari pengakuan dari mamamu aku sampai lupa dengan tujuan awalku menikah yaitu ingin bahagia ".


"Aku memahami Luna karena semua yang terjadi padamu akhir akhir ini pasti sangat berat.Aku tidak menyalahkan mama tapi aku tetap tidak setuju dengan ambisi mama yang dilampiaskannya padamu".


"Lalu kalau aku menolak keinginan mamamu apa dia akan marah padaku?".


"Mungkin".


Mendengar itu Luna lalu menegakkan tubuhnya menghadap Marvin.


"Mungkin?Apa maksudmu?",tanya Luna mulai cemas.


Melihat ekspresi Luna itu Marvin lalu merengkuh tubuh Luna dengan menepuk bahunya lembut.


"Jangan khawatir sayang ada aku disampingmu.Mama tidak akan berani marah padamu lagi".


"Tapi apa alasanku tidak mau jadi asistennya lagi?",tanya Luna.


"Bagaimana kalau program hamil",saran Marvin yang membuat bola mata Luna langsung membulat sempurna.


"Program hamil?kenapa harus itu!?Apa tidak ada alasan lain yang bisa dikatakan selain itu?".


"Memangnya apa yang salah dengan alasan itu?".


"kalau kita memakai alasan itu aku khawatir bukannya menyelesaikan masalah tapi akan membuat masalah baru",jawab Luna.


"Kurasa tidak".


"Tentu saja tidak karena bukan kau yang akan mendapat amarah mamamu tapi aku".


"ku rasa tidak. percaya lah padaku sayang".


Bukannya membaik Luna malah menjadi kesal pada Marvin dan langsung menyingkir kan tangan Marvin dari tubuhnya.


"Kita pulang sekarang!",pinta Luna dengan wajah cemberut.


"Tapi kita belum selesai bicara''.


"Aku bilang aku ingin pulang Vin! Aku lelah dan sedang tidak ingin berpikir lagi sekarang",omel Luna.


"Baiklah kita bicara lagi nanti setelah sampai rumah",jawab Marvin lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Sampai dirumah Luna langsung masuk kedalam kamar dan langsung naik keatas ranjang.

__ADS_1


"Sayang",panggil Marvin dengan nada membujuk yang dibalas Luna dengan memalingkan wajahnya membelakangi Marvin.


"Ini sudah malam aku lelah ingin tidur",celetuknya.


Melihat tingkah Luna sekarang akhirnya Marvin tidak bersikeras.


"Baiklah ayo kita tidur saja",jawab Marvin dengan memeluk Luna dari belakang meski Luna mencoba menolaknya.


Mungkin karena lelah yang bercampur kesal tak lama Luna tertidur.


Melihat Luna sudah tertidur Marvin langsung menarik tubuh Luna kedalam pelukannya dan ikut tidur bersam Luna.


**


Esoknya Luna bergegas mandi dan berpakaian lalu bermaksud segera turun kebawah tapi dicegah Marvin.


"Bantu aku berpakaian lebih dulu sayang",pinta Marvin dengan memberikan kemeja dan dasinya pada Luna.


"Baiklah",jawab Luna masih dengan wajah ketus ke Marvin tapi Marvin seolah tidak melihatnya malah tetap bersikap mesra dengan meletakkan tangannya di pinggang ramping Luna.


"Kamu cantik pagi ini",pujinya dengan menggerakkan tangan lembut dibelakang tubuh Luna.


"Hentikan Vin, Ini sudah siang dan hari ini aku harus mengantar mamaku bertemu rekan sosialitanya pukul 8 pagi".


"Oh...aku juga harus kekantor pagi ini karena ada rapat pagi".


"Tidak masalah kalau terlambat mereka tetap akan menungguku karena aku bosnya".


"Dasar sombong",maki Luna dengan merapikan dasi Marvin.


"Sudah selesai ayo turun".


Bukannya melepaskan Luna Marvin malah menarik Luna mendekat lalu memagut bibir Luna dalam.


"Aku serius untuk niatku yang tadi malam sayang",ucap Marvin dengan melepaskan ciuman mereka.


"Bagian yang mana?".


"Program hamil",jawab Marvin dengan meletakkan tangannya dikedua sisi pinggang Luna.


"Berhenti mengatakan itu sekarang ayo berangkat",ajak Luna dengan mencoba mendorong tapi Marvin tapi Marvin menolak bergeming.


"Pasti akan sangat menyenangkan kalau disini tumbuh Marvin junior",ucapnya dengan membelai lembut permukaan perut Luna membuat perasaan Luna jadi berdesir bukan karena gairah tapi karena ikut membayangkan apa yang Marvin katakan.


Melihat Luna terdiam tiba tiba Marvin berjongkok didepan Luna lalu membuka bagian bawah kemeja formal Luna membuat Luna terkejut dan bermaksud protes karena berpikir Marvin akan berbuat macam macam tapi ternyata dia salah karena Marvin hanya menempelkan bibirnya keperut rata Luna.


"Semoga dia akan segera tumbuh disini",ucap Marvin dengan menatap Luna yang hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan Marvin.

__ADS_1


"Bagaimana kalau tidak?",jawab Luna dengan membuang wajahnya kesamping dengan perasaan khawatir sebab mereka sudah bersama beberapa bulan dan tidak menggunakan pengaman apapun tapi sampai sekarang dia belum juga memiliki tanda tanda akan hamil.


"Pasti akan tumbuh.Kenapa kau sepertinya cemas?",balas Marvin dengan menyentuh wajah Luna yang terlihat muram.


"Karena aku mulai khawatir aku tidak bisa hamil".


Tiba tiba Marvin tertawa mendengar itu.


"Apa alasanmu sampai berpikir begitu sayang?".


"Itu karena sudah beberapa bulan kita bersama tapi sampai detik ini belum juga ada tanda tanda aku hamil Vin karena itu aku cemas".


"Jangan cemas ini baru beberapa bulan dan aku masih suka menikmati waktu berdua kita. Dia akan hadir kalau sudah waktunya".


"Tapi mama...".


"Sttt...jangan pikirkan ucapan orang.Kita hanya perlu menghabiskan lebih banyak waktu bersama lagi maka dia akan muncul".


"Baiklah",jawab Luna masih dengan wajah muram.


"Berhenti berekspresi muram seperti itu.Kau harus selalu merasa bahagia dulu baru dia akan hadir".


"Ya...baiklah..ayo kita turun mamamu pasti sudah menunggu kita sekarang".


"Apa kau tidak ingin libur?".


"Maksudmu?",tanya Luna curiga dengan pertanyaan Marvin.


"Bagaimana kalau hari ini kau tidak pergi dengan mama saja karena sepertinya perasaanmu sedang tidak senang".


"Tidak,aku baik baik saja Vin.Aku sudah janji dengan mamamu".


"Ayolah sayang akan kukatakan kalau kau hari ini tidak ingin pergi dengan mama",ucap Marvin dengan menarik Luna keluar dari kamar menuju ruang makan dimana Elena Fox sudah ada disana.


"Selamat pagi ma",sapa Marvin dengan membantu Luna duduk.


"Makanlah lalu ayo kita berangkat Luna karena setengah jam lagi aku harus sudah tiba disana".


"Tapi hari ini Luna tidak ingin mengantar mama",ucap Marvin membuat Elena Fox langsung menghentikan gerakan sendoknya.


Sementara Luna menatap kearah Marvin bermaksud untuk menyuruh Marvin jangan meneruskan ucapannya.


"Kenapa?Apa dia sakit?",tanya Elena Fox dengan menatap kearah Luna.


"Tidak tapi aku ingin mengajaknya kekantorku hari ini",jawab Marvin.


Luna pikir Elena Fox akan marah tapi ternyata dia keliru karena Elena Fox menanggapi perkataan Marvin dengan tenang.

__ADS_1


"Baiklah".


__ADS_2