PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 10


__ADS_3

Excel mengantarkan Alexa ke apartemennya. Setelah mengantar, Excel segera pergi untuk pulang ke apartemennya sendiri. Alexa turun dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Sampai di depan pintu dia sangat terkejut karena sang kakak telah berada di sana.


"Ka-kakak sejak kapan di sini?" ucap Alexa gugup.


"Kenapa kamu kaget karena aku bisa menemukanmu? Sekarang ikut aku pulang. Aku membutuhkan bantuan mu," ucap Muller pada adiknya.


Muller menarik paksa tangan adiknya turun ke lantai bawah. Alexa memberontak dan menarik tangannya lagi. Namun, kekuatan Muller sangatlah kuat sehingga Alexa tak berdaya.


"Kak, lepaskan tanganku! Aku tidak ingin pergi dengan mu!" teriak Alexa dengan keras.


"Kamu harus ikut aku ke Las Vegas, karena aku sudah berjanji pada bos untuk membawamu."


Sesampainya di bawah, langkah Muller berhenti. Dia dihadang oleh seseorang yaitu Excel. "Lepaskan dia! Bukankah dia tidak ingin ikut? Seharusnya kamu tidak memaksa," ucap Excel pada Muller.


"Siapa kamu? Aku hanya ingin membawa adikku pulang karena aku Kakaknya," jawab Muller dengan percaya diri.


Excel berjalan mendekat, dia menarik tangan Alexa dari genggaman kakaknya. Muller merasa kesal dan menarik lagi tangan adiknya. Alexa menjadi ajang tarik menarik oleh dua pria. Hingga akhirnya, Excel lah yang mendapatkan tangan Alexa.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, karena ini bukan kawasanmu." Excel mengancam Muller untuk pergi.


Muller menatap adiknya penuh dengan kebencian. "Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Alexa. Aku akan kembali lagi! Ingat itu."


Setelah itu, Muller pergi dari tempat itu. Excel langsung menarik Alexa untuk masuk ke mobilnya. Entah kenapa dia begitu peduli dengan gadis itu. Excel menghidupkan mobilnya dan pergi dari tempat itu.


"Maafkan aku telah merepotkan mu, Kak El," ucap Alexa. Namun ucapannya tidak dijawab oleh Excel.


Excel terus melajukan mobil menuju ke apartemennya. Dia ingin membawa Alexa ke tempat tinggalnya. Beberapa menit kemudian, Excel telah sampai. Dia turun dan Alexa juga mengikutinya. Tiba-tiba saja handphonenya berdering. Excel langsung mengangkat panggilan itu.


Panggilan itu dari Renata, dia meminta Excel untuk datang ke rumahnya. Renata berkata kalau keadaan ayahnya memburuk.


"Alexa, kamu naik ke atas sendiri. Aku ada urusan sebentar. Kode pintu 093729 diam di dalam tunggu aku pulang," ucap Excel pada Alexa.


Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya, dia gugup sekali melihat keseriusan wajah dosennya itu. Excel langsung masuk ke dalam mobilnya lagi dan pergi dari kawasan apartemen.


"Apa ada sebuah masalah? Kenapa bisa seserius itu? Lalu apa artinya ini? Apakah aku akan tinggal bersamanya? Sepenting itu kah aku? Sampai Prof. Eldric begitu peduli dengan orang miskin sepertiku? Ahh, sudahlah. Sebaiknya aku berterima kasih atas kebaikannya."

__ADS_1


Alexa terus bergumam dalam hati. Dia masih bingung dengan sikap Excel yang begitu baik padanya. Setelah itu, Alexa masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kode yang diberikan Excel tadi.


Sesampainya di atas, Alexa langsung masuk ke dalam. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang tampak sepi dan hampa. "Apa Prof. Eldric tidak mempunyai keluarga? Kenapa rumah ini tampak sepi sekali? Tidak ada foto apapun di sini," ucap Alexa dalam hati.


Gadis itu pun duduk diam di ruang tamu sembari menunggu kedatangan Excel.


Di Tempat Lain


Evelyn merasa bosan di kamarnya. Dia bangun dari tempat tidur dan mengambil kanvas beserta kuasnya di dalam tas. Setelah itu, Evelyn keluar dari kamar dan berkeliling ke setiap ruangan.


Gadis itu tampak biasa dan tidak mempunyai rasa takut sedikitpun. Meski perutnya masih terasa sakit tak membuatnya duduk dengan tenang.


Evelyn berjalan menghampiri beberapa penjaga di lantai bawah. "Hei, apa di sekitar sini ada tempat dengan view yang bagus?" tanya Evelyn.


Para penjaga itu saling berpandangan lalu menjawab, "Nona ingin melukis di sini?"


Evelyn menggangguk. "Ya, aku merasa bosan jika terus berada di kamar."


"Nona bisa pergi rooftop, tangganya ada di samping rumah. Disana pemandangannya cukup bagus," jawab penjaga itu.


"Hanya Tuan yang tau kode untuk memberikan jaringan ke handphone anda, Nona!" ucap penjaga itu.


Evelyn menghela nafas dalam kemudian dia langsung pergi menuju ke rooftop. "Sial, sampai kapan aku akan terjebak di sini. Daddy, aku ingin pulang!" gerutu Evelyn dalam hati.


Sesampainya di atas, Evelyn dibuat tercengang oleh pemandangan indah yang ada di depan matanya. "Wow, ini view yang sangat menakjubkan sekali. Padang Savana terlihat dari sini," ucap Evelyn dengan sangat kagum.


Setelah itu dia mulai bersiap untuk melukis pemandangan yang ada di depannya itu dengan raut wajah senang. Evelyn memainkan kuas dan juga cat airnya. Dia melukis dengan penuh semangat.


Di lantai bawah, Vander sedang mencari keberadaan Evelyn. Dia menanyakan pada anak buahnya. "Apa kalian melihat gadis penyelamatku?"


"Dia sedang berada di atas rooftop Tuan," jawab penjaga itu.


Vander mengerutkan dahinya. "Rooftop, sedang apa dia di atas sana," gumam Vander dalam hati. Setelah itu dia berjalan untuk menghampiri Evelyn di rooftop.


Sesampainya di atas, Vander melihat Evelyn yang sedang melukis. Dia berhenti dan memperhatikan gadis yang ada di depannya itu. Vander terpesona melihat senyuman Evelyn saat sedang melukis. Vander mengambil handphonenya dan memotret Evelyn dari belakang, kemudian dia berjalan tanpa suara untuk mendekati Evelyn.

__ADS_1


Vander melingkarkan tangannya ke pinggang Evelyn, sehingga membuat gadis itu melakukan gerak refleks. "Jangan macam-macam padaku, dan singkirkan tanganmu itu!" ucap Evelyn dengan mencekal kedua tangan Vander.


Vander tersenyum, dia terkejut melihat gerak reflek Evelyn yang begitu cepat. "Ternyata gerakanmu bagus juga dan aku tidak menyangka kalau kamu jago melukis," ucap Vander dengan menampilkan senyumnya.


Evelyn melepaskan tangan Vander dan mendorongnya menjauh. "Jangan ganggu konsentrasi ku, karena aku tidak suka imajinasi ku ini hancur dan menghilang. Sana pergi, jangan merusak moodku," ucap Evelyn sangat ketus.


Vander tetap berdiri melihat keluesan tangan Evelyn yang sedang memegang kuasnya. Tiba-tiba Evelyn menghentikan gerakan tangannya. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Oh, ya! Apa kamu mengenal tempat ini dengan baik? Apa kamu pernah pergi ke Padang Savana yang ada di sana?" Evelyn bertanya dengan menunjukkan jari telunjuknya.


"Why? Apa kamu ingin pergi ke sana? Itu sangatlah mudah sekali jika kamu mau menuruti syarat dariku," jawab Vander dengan senyuman.


Evelyn terdiam, dia sudah menduga kalau tidak akan semudah itu meminta bantuan pada Vander. "Oke Fine, katakan syaratnya. Jangan mengajukan syarat yang konyol," ucap Evelyn, dia memalingkan wajah dan melanjutkan kembali lukisannya.


Vander berjalan mondar-mandir di depan Evelyn yang sedang melukis. Dia mulai menyebutkan syaratnya, "Syarat dariku sangat mudah. Pertama kamu harus bersikap baik padaku dan menurut. Kamu tinggal dulu di sini sampai lukamu sembuh. Jika lukamu sembuh maka aku akan mengajakmu keliling Afrika mengunjungi tempat yang kamu inginkan. Sebelum itu perkenalkan identitas mu padaku, karena aku tidak mungkin menampung seseorang tanpa mengetahui identitasnya."


Evelyn melirik tajam Vander. Dia benar-benar terganggu dengan syarat yang diajukan. "Baiklah aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Evelyn, asal Italia. Tujuan ku ke Afrika adalah liburan akhir tahun. Tapi aku tidak menyangka harus terjebak di sini."


"Evelyn nama yang cantik, secantik orangnya. Kalau begitu perkenalkan aku juga. Namaku Vander pria tampan dari San Fransisco. Kamu adalah gadis pertama yang mengetahui nama asliku, karena biasanya aku menggunakan nama samaran untuk berkenalan," jelas Vander.


"San Fransisco, cukup dekat dengan California. Aku lahir di California tapi tumbuh besar di Italia. Sudah lama aku tidak berkunjung ke sana," ucap Evelyn sedih, dia teringat dengan kepergian sang ibu.


"Mungkin kita berjodoh," sahut Vander pelan.


Evelyn langsung menegakkan kepalanya. "Kamu bilang apa tadi?" tanya Evelyn untuk memastikan.


"Nothing dan lupakan. Lanjutkan lah lukisan mu, setelah itu turunlah! Nanti malam aku ingin memeriksa lukamu sudah sembuh apa belum."


"Pertama-tama aku mengucapkan terima kasih. Tapi kamu tidak perlu repot-repot untuk memeriksa lukaku, karena aku sudah baik-baik saja. Oke!" Evelyn menolak ucapan Vander dengan senyum yang dipaksakan.


"Ya tentu saja kamu boleh menolak, aku hanya perlu membatalkan keinginan mu saja untuk pergi ke Padang Savana," ucap Vander berlalu dari rooftop itu.


Evelyn mengepalkan kedua tangannya, dia menahan kesabarannya untuk menghadapi sikap Vander yang cukup menyebalkan bagi Evelyn.


"Sangat sial, aku sampai lupa kalau pria itu sangat menyebalkan sekali," gerutu Evelyn dalam hati. Setelah itu dia melanjutkan kembali lukisannya yang belum selesai.

__ADS_1


__ADS_2