PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 11


__ADS_3

Excel telah sampai di mansion Renata. Dia langsung meluncur ketika wanita itu berkata ada sesuatu yang sangat penting. Dia keluar lalu turun dari mobil, setelah itu langsung masuk ke dalam.


Di ruang tamu, Renata sedang kebingungan. Dia terlihat sangat panik. Wajah berubah girang ketika Excel masuk ke dalam. "Eldric, kamu datang! Aku sangat takut sekali," ucap Renata dengan memeluk Excel.


"Ada masalah apa? Kenapa kamu terlihat sangat panik?"


"Kesehatan Daddy memburuk setelah mendengar kabar dari perusahaan. Dia syok dan sekarang sedang ditangani oleh dokter di dalam," jawab Renata dengan terus menempel pada Excel.


"Dokter? Siapa? Kenapa kamu tidak langsung menghubungi ku?" Excel terlihat sangat khawatir.


"Iya tadi, asisten Daddy yang memanggil dokter itu. Kamu masuklah, lihat dan periksa Daddy. Aku takut kalau terjadi hal yang buruk." Renata melepaskan pelukannya dan mengajak Excel menemui Mario.


Excel dan Renata menaiki tangga menuju ke kamar Mario. Sesampainya di atas, Renata langsung masuk ke dalam kamar diikuti oleh Excel.


"Daddy, bagaimana keadaanmu?" Renata bertanya pada ayahnya.


Semua orang melihat Excel yang ikut masuk ke dalam. Tatapan aneh terlihat dari sorot mata asisten kepercayaan Mario.


"Nona, biarkan Tuan istirahat dulu karena keadaannya masih belum kondusif," ucap asisten itu dengan pandangan ke arah Excel.


Renata terlihat sangat kesal, dia membantah ucapan asistennya. "Apa maksudmu? Aku hanya ingin tahu keadaan Daddy? Kenapa kamu seakan menghalangi, aku juga membawa Eldric ke sini untuk memeriksa Daddy."


"Maaf Nona, tapi sepertinya penyakit Tuan ini tidak ada hubungannya dengan Prof Eldric. Dokter yang saya bawa tadi menemukan sebuah kejanggalan pada obat yang di konsumsi Tuan."


Asisten itu berani mengungkapkan maksudnya secara terang-terangan. Excel tersenyum menanggapi tuduhan yang mengarah kepadanya.


"Jadi menurut anda, saya sudah mencelakakan Paman dengan pengobatan yang aku lakukan? Jadi anda sudah meragukanku saya selama ini? Oke tidak apa-apa, saya tantang anda untuk membawa obat yang saya berikan itu untuk uji lab. Kalau saya terbukti bersalah anda boleh menuntut dengan hukum yang berlaku. Namun, jika tuduhan anda itu tidak terbukti, saya yang akan menuntut balik anda," ucap Excel tegas.


"Renata, sepertinya aku harus segera pergi dari sini. Kehadiran ku sudah tidak penting lagi, aku berhenti menangani penyakit Paman. Permisi." Excel pergi dari ruangan itu dan membuat Renata bingung.


"Sayang kamu mau kemana? Aku percaya sama kamu kok, please jangan marah ya!" Renata terus mengejar Excel yang sedang berakting.


"Maaf aku harus pergi, karena aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini." Excel terus berjalan dan mencoba untuk menghindari Renata.


Renata terus mengejar Excel, dia menahannya pergi dengan memeluk tubuh Excel dari belakang. "Stop El, jangan pergi! Aku akan tetap berusaha untuk memercayai mu. Aku akan meyakinkan Daddy bahwa kamu tidak bersalah dalam hal ini."


Excel membalikkan tubuhnya. Dia menatap Renata dan menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. "Bodoh, kamu tidak perlu membuktikan itu. Aku tidak bersalah jadi aku tidak perlu pembelaan. Biar saja obatku di tes ke laboratorium, aku yakin kalau obatku tidak berbahaya. Jadi berhenti bersikap seperti ini, karena bisa membuat orang salah paham."


Renata mengangguk dan tersenyum dengan bujukan Excel. "Aku sangat mencintaimu, Eldric. Kapan kamu akan menikahiku? Aku sangat ingin menikah denganmu," ucap Renata penuh harap.


"Suatu hari nanti aku pasti akan menikahimu. Kamu tenang saja, karena aku juga mencintaimu," balas Excel dengan mengecup kening Renata.


"Sudah ya, aku pergi. Jaga kesehatanmu dan juga Paman. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya."


"Iya aku akan segera mencarimu. Berhati-hatilah di jalan, besok siang kita bertemu." Renata melepaskan pelukannya dan membiarkan Excel pergi.


Sesampainya di luar, Excel menggeram kesal. "Aku sudah muak dengan sandiwara ini. Aku harus mulai bertindak, karena mereka sudah mulai curiga. Aku harus mempunyai koneksi yang satu profesi denganku. Sepertinya aku harus menghubungi pemilik Lucas Group, hanya dia koneksi yang bisa aku percaya."


Excel masuk ke dalam mobil dan kembali ke jalan raya. Dia tidak langsung pulang akan tetapi menuju ke laboratorium untuk melakukan penelitian tentang obat yang diraciknya.


Setengah jam kemudian, Excel telah sampai di laboratorium tempatnya bekerja. Dia segera menyiapkan semua alat danjuga bahan kimia yang akan dia racik untuk membuat obat. Excel membuat obat yang bisa menghentikan sistem peredaran darah manusia. Obat itu bereaksi jika diminum bersama obat yang mengandung bahan kimia lain.

__ADS_1


"Untung saja, aku membuat obat itu dengan penelitian yang akurat. Aku yakin mereka tidak akan bisa menemukan kandungan obat itu kecuali mereka benar-benar jenius. Aku sudah mempersiapkan semuanya ini secara rinci dan detail, jadi aku yakin usaha ku ini tidak akan gagal," gumam Excel dengan meletakkan cairan di sebuah mikroskop.


Excel sangat serius jika sudah berhadapan dengan mikroskop. Dia bisa melupakan sejenak kesedihan yang dirasakannya.


Di apartemen, Alexa sedang duduk di ruang tamu. Dia merasa bosan karena sendirian di dalam apartemen Excel. "Ahh, aku harus melakukan apa? Prof. Eldric dimana sudah malam kok belum pulang? Apa ada urusan yang fatal? Perutku sangat lapar sekali," gumam Alexa dengan memegangi perutnya.


Alexa berdiri dia pergi ke dapur untuk mencari makanan. Akan tetapi dia tidak menemukan apapun. "Astaga, kenapa dapur sebagus ini tidak ada makanan satupun. Perutku lapar sekali."


Alexa kembali duduk di ruang tamu. Lama menunggu hingga membuatnya mengantuk dan tertidur. Malam semakin larut, Excel mulai beranjak dari ruang kerjanya. Dia baru saja menyelesaikan penelitiannya.


"Aku harus membawa obat ini pulang, karena ini harus di uji coba terlebih dahulu. Aku harus mencari objek sebagai alat penguji," gumam Excel dengan membereskan meja kerjanya.


Selesai berkemas, Excel langsung pulang. Dia menuju ke mobil dan segera melajukannya. Hanya membutuhkan waktu setengah jam, Excel sampai di apartemennya. Dia keluar dan langsung naik ke atas. Sesampainya di dalam, Excel langsung menyalakan lampu karena ruangan sangat gelap.


Setelah lampu menyala, Excel dikejutkan dengan Alexa yang tengah tertidur di ruang tamu. "Astaga kenapa aku bisa lupa kalau membawa seseorang pulang ke rumah," gumam Excel dalam hati.


Excel berjalan mendekati Alexa, kemudian dia membangunkannya. "Alexa bangunlah! Maaf aku melupakanmu," ucap Excel pelan.


Alexa pun terbangun dan mengerjapkan matanya. "Kak El, sudah pulang? Aku sampai tertidur menunggumu pulang."


Excel terkekeh. "Iya, maaf aku lupa. Kamu pasti sangat lapar. Baiklah kamu bangun dan segera mandi, aku akan memesan makanan."


"Apa malam ini aku tinggal di sini, Kak?"


Excel mengerutkan dahinya. " Kamu ingin tinggal dimana? Apa kamu ingin kembali ke apartemen itu dan bertemu kakakmu?"


Alexa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Excel kembali tersenyum. "Kalau begitu, cepatlah mandi. Nanti kita makan bersama. Malam ini kamu tidur di kamar samping ku, untuk baju kamu ambil baju yang ada."


"Entah kenapa aku peduli sama kamu. Biasanya aku sangat acuh dengan seseorang."


Setelah itu, Alexa naik ke atas untuk membersihkan badannya. Dia sangat senang karena sikap Excel yang begitu manis padanya.


Di Tempat Lain.


Evelyn sedang bosan di kamarnya. Setelah makan malam dia tidak ada kegiatan apapun. Evelyn masih memikirkan tentang nasibnya yang terjebak dengan pria asing.


Gadis itu menarik nafas dalam sembari menatap langit-langit kamarnya. "Sampai kapan aku akan terjebak di sini? Ingin sekali aku keluar dari tempat ini karena sangat membosankan."


Tak lama kemudian ada suara pintu di ketuk dari luar. Seorang penjaga memanggil Evelyn untuk keluar. Evelyn bangkit dan membukakan pintu. "Ya, ada apa?"


"Tuan memanggil anda untuk turun ke bawah, Nona," ucap penjaga itu.


Evelyn langsung menutup pintu dan mengikuti penjaga itu ke lantai bawah. Sesampainya di bawah, dia melihat Vander yang sedang bertelepon dengan seseorang. Dia tampak marah sekali.


"Kenapa dia? Sebenarnya apa pekerjaannya sehingga mempunyai banyak anak buah dan musuh? Apa dia seorang mafia? Kalau dia seorang mafia, maka aku sudah terjebak dalam masalah besar. Apalagi kemarin aku berhasil menolongnya kabur dari para penjahat itu. Benar-benar sangat sial," gumam Evelyn dalam hati.


Evelyn duduk di kursi dan menunggu Vander selesai menelepon. Dia mengamati laptop yang ada di meja. Sebuah grafik terpampang di layar pipih itu, keterangannya menunjukkan tentang sebuah transaksi yang sangat menguntungkan.


Tak lama kemudian, selesai menelpon dan membalikkan badannya. Dia melihat Evelyn yang sudah duduk di kursi. Untung saja Evelyn sudah menjauh dari laptop itu dan dia berpura-pura tidak tahu.


"Ada apa kamu memanggil ku ke sini?" tanya Evelyn dengan nada ketusnya.

__ADS_1


Vander berjalan dan duduk di samping Evelyn. Gadis itu langsung menjauh dan menjaga jarak dengan Vander. "Aku hanya ingin memberitahu kode untuk membuka jaringan internet. Aku tahu kalau kamu sedang bosan di dalam kamar."


Evelyn diam dan langsung mengeluarkan handphonenya. Dia mencatat sandi yang diperlihatkan Vander ke dalam handphonenya. Setelah tersambung Evelyn langsung mengaktifkan handphonenya. Banyak sekali pesan yang masuk dari sang kakak.


Dia ingin menghubungi kakaknya. Namun, Evelyn berpikir kembali karena sangat beresiko sekali. Excel bisa memarahinya habis-habisan.


"No, aku tidak akan menghubungi kakak. Kalau aku menghubunginya dia bisa berubah menjadi nenek-nenek yang sangat cerewet. Sangat menyebalkan," gumam Evelyn dalam hati.


Vander memperhatikan Evelyn sejak tadi. Namun, gadis itu tidak sadar. Vander tersenyum melihat wajah serius Evelyn. "Apa yang sedang kamu pikirkan my angel. Wajahmu yang sangat serius itu membuatku sangat penasaran."


Evelyn memutar bola matanya. Dia sangat malas mendengar nama panggilan yang dilontarkan untuknya."Siapa yang kamu sebut my angel? Aku tidak suka ada seseorang yang memanggil diriku dengan ucapan seperti itu. Bagiku sangat menjijikan karena kita bukan pasangan."


Vander terkekeh mendengar pernyataan Evelyn. Dia tidak menyangka kalau akan ditolak oleh seorang gadis. "Kamu adalah gadis pertama yang menolakku secara terang-terangan seperti ini, karena di setiap jejakku banyak sekali gadis yang ingin naik ke atas ranjangku."


Evelyn tergelak keras. "Hanya gadis murah yang melakukan hal seperti itu. Kamu pikir kamu adalah pria pertama yang menggoda aku seperti ini. Sudah banyak pria tampan yang ingin menggodaku tapi aku tidak tergoda sedikitpun, karena aku mempunyai kriteria sendiri dalam memilih seorang pria."


Vander menaikkan satu alisnya, dia semakin penasaran dengan sosok Evelyn. "Baiklah kuakui kalau aku sangat tertarik padamu. Aku sangat penasaran karena kamu adalah wanita pertama yang menolakku. Jadi setelah menjalankan misi nanti aku akan berusaha mengejarmu."


"Misi? Sebenarnya apa pekerjaanmu? Apakah kamu adalah seorang ketua perkumpulan pebisnis gelap?" tanya Evelyn penasaran.


"Ya aku hanya menjadi kaki tangan kakakku saja. Dia yang mempunyai bisnis ini, sebagai adik yang sangat berbakti tentu aku membantu bisnisnya. Besok aku akan pergi dari sini untuk menjalankan sebuah misi. Ku harap kamu jangan pergi dari sini, karena kalau kamu pergi maka singa-singa di luar sana akan menerkam mu dan menjadikanmu makanannya. Kamu tidak ingin itu terjadi kan?" ucap Vander dengan menampilkan senyumnya.


Evelyn terdiam dia memikirkan sesuatu. "Apa aku bisa ikut keluar? di sini sangat membosankan. Aku tidak suka jika harus berdiam diri di rumah. Apakah pekerjaanmu terlalu berbahaya?"


"Why? Apa kamu begitu penasaran denganku? sehingga kamu ingin tahu?" balas Vander.


"Ya karena aku di sini tidak mengenal siapapun dan sepertinya kamu bukan pria brengsek. Kalaupun kamu adalah pria brengsek, aku bisa menghajarmu."


Vander terdiam dan memperhatikan sikap Evelyn. "Apa kamu bersedia ikut dalam misiku? Kalau mau besok malam kita pergi ke pesta untuk bersenang-senang, karena misi ku ada dalam pesta itu."


"Baiklah karena aku menyukai tantangan aku terima misi itu. Tapi kamu harus berjanji membawaku ke Padang Savana. Tempat itu tujuanku ke sini, Aku ingin mengabadikan semua yang aku lihat dalam lukisanku," ucap Evelyn penuh harap.


Vander mengangguk-angguk karena dia sangat tertarik dengan Evelyn jadi dia menyanggupi permintaan gadis itu. "Baiklah setelah misiku selesai aku akan menemanimu berkeliling Afrika. Tapi kamu juga harus menuruti semua syarat yang aku sebutkan tadi siang. Bagaimana?"


"Baiklah aku akan berusaha baik padamu. Asal kamu tahu, aku bisa berubah menjadi gadis yang bersikap manis dan juga bisa berubah menjadi wonder woman. Jadi jangan coba macam-macam denganku.


"Ya tanpa kamu sebutkan pun aku sudah tahu kalau karaktermu memang seperti itu." Vander mulai fokus ke laptopnya.


Evelyn menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia tampak gelisah karena perutnya tiba-tiba sangat lapar. "Apakah di dapurmu ada bahan makanan? Perutku sangat lapar."


"Apa kamu tidak takut gemuk sebagai seorang gadis?" tanya Vander tanpa menoleh.


"Aku tidak pernah diet. Aku selalu memakan apa yang ku inginkan. Semua makanan aku suka dan aku memang tidak suka diet. Jadi bolehkah aku memasak malam ini karena aku tidak bisa tidur kalau perutku dalam keadaan lapar," ucap Evelyn sedikit kesal.


Vander mengetik dengan sangat serius. Dia sedang mengerjakan sesuatu. Sebenarnya juga dia ingin memakan sesuatu. "Pergilah ke dapur masaklah apa yang kamu inginkan karena semua bahan tersedia. Jangan lupa buatkan satu untukku," ucap Vander.


"Cih, awas nanti tubuhmu bisa gemuk dan tidak kembali sixpack," cibir Evelyn pergi dari tempat itu.


Vander melebarkan senyumnya. "Hei jangan mengatakan aku gemuk, karena aku selalu menjaga bentuk tubuhku ini agar tetap cool dan sixpack. Suatu hari nanti aku akan membuatmu tergoda dengan ketampananku ini, Evelyn."


"Terserah kamu saja, dan terus bermimpilah."

__ADS_1


__ADS_2