
Keesokan harinya.
Excel bangun dari tidurnya, dia segera bersiap untuk pergi ke San Fransisco. Selesai bersiap, Excel menyambar tasnya lalu turun ke bawah. Sesampainya di bawah, Excel melihat Alexa yang sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Alexa sepagi ini kamu sudah bangun?" seru Excel menuju ke meja makan.
Alexa tersenyum lalu dia menyiapkan sebuah piring dengan sandwich di atasnya. "Ya aku sengaja menyiapkan sarapan untuk Kak El sebelum pergi. Sarapanlah dulu, Kak!" ucap Alexa.
Excel pun duduk di meja makan, meski terburu-buru dia tetap menghargai usaha Alexa. Excel memakan sandwich itu dan juga meminum susu yang telah disediakan.
"Berapa lama Kak El pergi?" tanya Alexa untuk mencairkan suasana yang sepi.
Excel menoleh ke arah Alexa, lalu dia menjawab, "belum tahu karena ada sebuah masalah yang harus aku tangani di San Francisco. Jaga dirimu baik-baik, jangan tertangkap oleh kakakmu lagi."
Alexa mengangguk-angguk. "Baiklah, aku akan menjaga diri baik-baik," jawab Alexa.
Setelah menyelesaikan makanya Excel langsung bergegas pergi. "Alexa aku pergi dulu," pamit Excel.
"Hati-hati Kak," sahut Alexa.
Excel turun ke lantai bawah menuju ke basement. Sesampainya di sana dia langsung melajukan mobil menuju ke San Fransisco.
Di Hutan.
__ADS_1
Matahari menyinari dan menyilaukan mata Evelyn yang masih terpejam. Perlahan dia mengerjapkan matanya, lalu melihat Vander yang masih tertidur di pangkuannya.
"Vander, bangunlah!" Evelyn berusaha untuk membangunkan Vander, tetapi dia masih tidak sadarkan diri.
Setelah itu, samar-samar Evelyn mendengar suara orang yang sedang berjalan ke arahnya. Dia menajamkan pendengarannya untuk memastikan suara tersebut.
"Apa mereka bagian dari anggota musuh? Kalau iya, berarti aku sedang dalam bahaya. Aku harus cepat pergi dari sini," ucap Evelyn dalam hati.
Evelyn segera bangkit, dia berdiri dan memapah tubuh besar Vander. Evelyn menghilangkan jejak dengan mengubur bekas darah yang tercecer di tanah. Dalam keadaan tubuh yang lemas serta kaki yang sakit, Evelyn tidak bisa berjalan dengan cepat. Dia sangat kesulitan ketika menahan beratnya tubuh Vander.
"Kamu harus membayar mahal semua ini. Jika, aku menyelamatkanmu dan kita bisa keluar dari sini," ucap Evelyn pelan.
Evelyn terus berjalan menjauhi tempat berbahaya tadi. Dia takut kalau musuh menemukan keberadaannya.
"Oh, sial! Aku sudah tidak kuat berjalan lagi," desah Evelyn dengan napas yang berat.
Sikap keras kepala Evelyn bisa dikalahkan oleh rasa pedulinya. Jadi dia akan melakukan apapun ketika dia sudah peduli terhadap orang lain. Akhirnya penjahat itu sampai di tempat Evelyn terjatuh tadi malam. Mereka menelusuri setiap tempat untuk menemukan jejaknya.
"Dari lokasi mobil yang meledak, mereka pasti terjatuh di area ini, Bos. Aku yakin mereka tidak lari jauh dari tempat ini," ucap salah satu musuh.
"Kita harus cepat menemukan mereka. Kalau tidak habislah riwayat kita nanti. Ayo cepat kita pergi cari mereka!"
Para penjahat itu pun pergi menjauh dari lokasi tersebut. Evelyn bisa bernapas lega, akhirnya dia bisa mencari jalan keluar dengan aman.
__ADS_1
"Aku akan bersembunyi di sini untuk sementara waktu. Aku yakin anak buah Vander pasti akan mencarinya di sini. Aku sudah tidak sanggup berjalan lagi. Kalau dia tidak cepat diselamatkan, takutnya bisa mati."
"Hei, bangunlah! Ayo kita keluar dari sini. Jangan mati dulu! Kamu punya janji untukku, Vander! Please, bangunlah!" ucap Evelyn, dia hampir putus asa.
Evelyn menyandarkan tubuhnya di pohon. Hingga sore hari tiba, bantuan tak kunjung datang. Evelyn semakin bingung dan juga panik. Tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil Vander.
Dia langsung berdiri dan segera mencari sumber suara itu. Dari kejauhan Evelyn melihat segerombolan anak buah Vander. Evelyn berteriak memanggil mereka, "Hei, kalian! Kemarilah, Vander ada bersamaku!"
Segerombolan orang itu langsung berlari ke arah Evelyn. "Nona, anda selamat!"
"Kalian tidak usah khawatirkan aku. Sebaiknya cepat bawa Vander ke rumah sakit. Kepalanya terluka parah, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya," ucap Evelyn.
Setelah itu, mereka mengangkat tubuh Vander dan membawanya keluar dari hutan. Evelyn juga ikut dalam rombongan anak buah Vander. Membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di luar hutan.
"Nona, silakan ikut kami ke San Fransisco. Ini atas permintaan Tuan kami," ucap salah satu pengawal itu.
"Aku tidak bisa ikut kalian, karena aku juga mempunyai tujuan di sini. Antarkan aku kembali ke hotel tempat ku menginap," tolak Evelyn.
"Tapi Nona, ini perintah dari Tuan. Kalau Nona menolak nanti nyawa kami yang terancam," sambung mereka.
Evelyn berpikir sejenak sebelum mengiyakan. Tak lama kemudian dia berkata, "Baiklah, aku akan kalian."
Setelah itu, Evelyn masuk ke dalam mobil dan ikut bersama Vander ke San Fransisco. Perjalanan kali ini, mereka sudah menyiapkan 2 buah helikopter. Tujuannya adalah untuk menghilangkan jejak pada musuh.
__ADS_1
Evelyn dan rombongannya sampai juga di sebuah tanah lapang. Dia bersama Vander masuk dalam satu helikopter. Setelah semua masuk, helikopter itu pun terbang meninggalkan kota Afrika Selatan.
Liburan dan petualangan yang diidamkan oleh Evelyn pun gagal karena kejadian tak terduga itu. Evelyn hanya bisa menarik napas dalam untuk melegakan sesak dalam hatinya.