PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 27


__ADS_3

Evelyn memakan makanannya sampai habis. Dia fokus dengan pembicaraan kakaknya dengan Renata. Sampai dia mengabaikan Alexa yang sejak tadi diam memerhatikan.


"Evelyn, berapa lama kita di sini kakakmu sudah pergi dari tadi?" ucap Alexa menyadarkan lamunan Evelyn.


Evelyn terkejut, dia langsung menoleh ke belakang dan tidak mendapati kakaknya di sana. "What? Sejak kapan mereka pergi?" tanya Evelyn tak percaya.


"Sepuluh menit yang lalu saat kamu makan dengan ekspresi melamun," sahut Alexa.


"Oh God, jadi mereka pergi ke mana? Astaga, aku bisa gila jika memikirkan jalan pikiran kakakku. Apa obsesinya mengencani wanita seperti itu?" gerutu Evelyn.


"Sudah saranku kamu tidak usah ikut campur urusan kakakmu. Ya, mungkin dia mempunyai suatu privasi yang tidak ingin kamu ketahui. Atau alasan lainnya yang mungkin terlalu beresiko," ujar Alexa, dia menasihati Evelyn.


"Maksudmu, aku tidak mengerti!" jawab Evelyn dengan mengedikkan bahunya.


Alexa menjelaskan maksud dari perkataannya pada Evelyn. "Menurut pandanganku Kak El itu mempunyai sebuah rahasia yang dia rahasiakan dari semua orang. Aku pernah melihatnya pulang larut malam dan aku mencium bau tubuhnya itu seperti bahan-bahan kimia obat-obatan. Entah apa yang sedang dia kerjakan aku juga tidak tahu, karena kalau untuk urusan pelajaran sepertinya tidak mungkin."


"Aku bukannya ingin ikut campur tapi aku takut kalau dia melakukan hal-hal yang berbahaya. Kamu tidak tahu atau kakakku seperti apa, Alexa? Dia itu menyimpan dendam dan sampai sekarang dendamnya itu belum tersalurkan. Bahkan, masih dia simpan dari lubuk hatinya yang terdalam."


"Kamu tahu kalau masa kecil kami itu bisa dibilang sangat menyedihkan. Aku dan kakak ditinggal pergi oleh orang yang sangat penting dalam hidup ini. Bahkan, sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau Mommy pergi meninggalkan kami dari dunia ini. Aku sudah mencoba untuk merelakan kepergian Mommy. Tetapi, tidak untuk kakakku. Dia masih belum menerima dan bahkan tidak bisa mengikhlaskan kepergian Mommy," jelas Evelyn dengan raut wajah sedih.


"Aku tahu kalau ada sesuatu yang terjadi padanya. Semua itu terlihat dari caranya memandang. Tatapan matanya penuh dengan kesedihan yang mendalam. Dia selalu kesepian tanpa adanya teman. Bahkan, sikapnya bisa sedingin es ketika dia sedang diam," sahut Alexa, dia menceritakan semua tentang Excel.


"Kamu benar kakakku memang seperti itu sejak kecil. Sikapnya yang sekarang lebih parah bahkan untuk tersenyum saja tidak bisa. Kamu tahu kalau senyumannya tadi itu palsu," sambung Evelyn.


Alexa mengangguk menanggapi ucapan Evelyn. Dia sangat mengerti dengan sikap Excel yang selalu dingin kalau dilihat dari luar.


"Baiklah kalau begitu kita pulang saja, aku akan mencari tahu ketika dia pulang nanti. Kalau dia tidak ingin jujur, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan juga tidak bisa memaksanya," ucap Evelyn. Dia meminum habis minumannya, setelah itu pergi dari restoran itu.


Di Tempat Lain.

__ADS_1


Excel pergi berjalan-jalan dengan Renata. Dia mengantarkan sang kekasih untuk shoping. Tujuannya adalah mengalihkan kecurigaan Renata terhadap Excel.


"Sayang, aku mau tas ini. Modelnya limited edition, hanya ada 3 pengeluaran dari brand ini," ucap Renata dengan memegang sebuah tas dari brand terkenal.


"Ambillah, jika kamu suka," ucap Excel.


Renata tersenyum. " Terima kasih, membuatku semakin cinta," jawab Renata dengan meraih wajah Excel lalu mencium pipinya.


Excel hanya bisa menghela napas ketika Renata melakukan hal itu kepadanya. Akan tetapi dia menahan itu demi sandiwara yang dilakukannya. Excel berada di kasir untuk membayar tas branded itu, kemudian mereka keluar untuk berkeliling lagi.


"Sayang, aku ingin menikah denganmu. Kapan kamu melamarku?" tanya Renata.


Excel terdiam dan menjawab, "Secepatnya aku akan menikahimu, tapi tunggu tujuanku tercapai. Oke!" jawab Excel.


Renata mengeratkan pelukan tangannya. "Aku tidak ingin berjauhan denganmu lagi. Kamu tahu, sehari saja aku tidak bertemu denganmu. Hatiku rasanya tidak tenang," ucap Renata dengan seluruh perasaannya.


Mereka pun melanjutkan langkahnya lagi. Berkeliling melihat-lihat baju dan aksesoris lainnya. Tak lama kemudian, kesenangan Renata di ganggu oleh kedatangan anak buah sang ayahnya.


"Nona, anda diminta pulang oleh Tuan," ucap salah satu pengawal.


"Aku tidak mau pulang, jadi jangan memaksaku," sahut Renata dengan tegas.


"Tapi Nona, Tuan meminta anda untuk segera pulang. Kalau tidak, Tuan akan menarik semua fasilitas yang Nona miliki sekarang," balas pengawal itu.


Renata menggenggam tangannya dia tidak bisa mengelak dengan keputusan itu. Excel hanya diam dan memerhatikan, dia menunggu keputusan Renata.


"Sayang, maaf aku harus pulang. Kapan-kapan aku akan usahakan untuk bertemu denganmu," ucap Renata. Lagi-lagi dia mengecup bibir Excel dengan lembut. "Aku mencintaimu,"sambungnya.


Setelah itu, Renata pergi dengan anak buah yang menjemputnya. Excel menggeram, ternyata rencananya sudah terendus dari pihak musuh.

__ADS_1


"Aku harus bergerak sekarang, kalau tidak semuanya akan gagal dan sia-sia. Aku harus segera menghubungi Valen, dia harus segera bertindak untukku," gumam Excel. Setelah itu dia menghubungi asisten Valen agar segera membantunya.


Di Tempat Lain.


Vander sedang frustasi karena handphone Evelyn tidak bisa dia hubungi. "Sial, sial, sial, bisa-bisanya dia mengabaikan aku seperti ini. Awas saja aku tidak akan melepaskannya saat tiba di New York. Akan aku ikat tanganmu dengan tali gadis bodoh," gerutu Vander dari dalam kamarnya.


Tiba-tiba pintu kamarnya terketuk dari luar. "Tuan muda, anda diminta untuk datang ke ruang kerja Tuan Valen," seru seseorang dari luar.


Valen langsung berdiri dan segera menuju ke ruang kerja kakaknya. Sesampainya di sana Vander langsung masuk ke dalam. "Ada apa kakak memanggilku?" tanya Vander.


"Ada tugas untukmu," jawab Valen.


"Aku sedang tidak berminat," sahut Vander, dia berbalik dan ingin keluar ruangan.


Valen tersenyum. "Benarkah tidak tertarik, tugas ini dari New York. Seseorang membutuhkan jasamu untuk meretas sistem komputer sebuah rumah sakit," ucap Valen dengan senyuman licik.


Vander langsung menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan dan berkata, "New York? Apa dia yang memesan jasaku?"


Valen mengangguk mengiyakan. "Besok kamu bisa berangkat. Lalu, bawa racikan obat ini untuknya." Valen melempar selembar kertas pada Vander.


"Aku akan berangkat nanti malam. Sekarang aku bisa persiapkan racikan obat ini dulu." Vander tersenyum menerima selembar kertas itu.


"Aku akan langsung menemui gadis bodoh itu," gumam Vander dalam hati.


"Aku tidak yakin kalau kamu akan mendapatkan adiknya. Aku merasa kamu akan kesal jika bertemu dengannya," seru Valen, dia sengaja menggoda Vander.


"Kakak lihat saja, aku akan mengikatnya di bawah tubuhku" sahut Vander keras. Dia kesal karena selalu diremehkan oleh sang kakak.


Valen tergelak. "Buktikanlah, karena aku tidak yakin," balas sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2