
"Maaf, gerak refleks," ucap Excel dengan raut wajah tersipu. Dia tidak sempat berpikir dengan cara lain.
"Saya yang seharusnya meminta maaf, Prof. Lagi-lagi anda yang menolong saya dalam masalah," sahut Alexa dengan menundukkan kepalanya.
"Sudahlah sebaiknya kita pergi dari sini, karena bisa juga penjahat itu akan kembali." Excel menarik tangan Alexa keluar dari tempat itu. Excel menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan semuanya aman. Setelah aman, Excel dan Alexa berjalan menuju ke lift.
Alexa terus berjalan mengikuti langkah Excel. Dia juga terus melihat tangannya yang terus digenggam oleh dosen tampan itu. "Situasi ini seperti drama romantis yang sering aku tonton. Seorang pria yang menolong kekasihnya karena dalam bahaya. Bukankah sangat mirip," gumam Alexa dalam hati.
Sesampainya di luar, Excel melepaskan tangannya dan segera menuju ke mobil. Dia meminta Alexa untuk masuk juga ke dalam. "Cepat masuk ke dalam mobil. Kita pergi dari sini."
Alexa mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Setelah masuk dia memasang seat belt, kemudian mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu. Excel melajukan mobilnya menuju ke restoran untuk makan siang, karena memang sudah jamnya. Tidak ada obrolan apapun di dalam mobil. Alexa juga diam karena dia tidak berani bertanya apapun.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka ke sebuah restoran. "Turunlah kita makan siang di sini," ucap Excel keluar dari dalam mobilnya.
Alexa keluar dari mobil, kemudian masuk ke dalam restoran bersama Excel. Sesampainya di dalam mereka duduk dan Excel memanggil pelayan untuk memesan makanan. Alexa masih diam dan memalingkan wajahnya karena malu jika bertatapan mata dengan Excel.
"Sekarang jelaskan masalah mu, kenapa setiap kita bertemu pasti kamu dalam masalah?" tanya Excel penasaran.
"Emm, begini Prof ...."
"Panggil namaku saja, Eldric!" Excel menyela penjelasan Alexa.
Alexa melanjutkan lagi penjelasannya. "Jadi begini, mereka tadi adalah para depcolektor yang ingin menangkap ku. Aku berasal dari keluarga yang miskin di pedalaman Nevada. Aku mempunyai seorang kakak yang suka sekali berjudi di casino Las Vegas. Ia mempunyai hutang pada salah satu bandar, dan ia menargetkan ku sebagai jaminan hutangnya. Jadi aku kabur dari kejaran mereka."
"Jadi ini alasanmu mencari pekerjaan di sela jam kuliah mu?" tanya Excel.
Alexa mengangguk. "Pekerjaan di restoran hanya sampai hari sabtu saja. Hari ini aku ingin mencari pekerjaan tambahan juga untuk mengisi hari libur. Aku harus melakukan itu demi uang kuliah dan juga untuk membantu ibuku yang mempunyai keterbatasan," jelas Alexa dengan raut wajah yang sedih.
"Ibu?" tanya Excel dengan menaikkan satu alisnya.
Alexa mengangguk lagi. "Iya, aku masih ada seorang Mom, yang harus aku bahagiakan karena ia sudah sangat berjasa dalam hidupku. Berkatnya aku bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu."
__ADS_1
Raut wajah Excel langsung berubah jika menyangkut tentang ibu. Dia langsung teringat dengan masa kecilnya yang telah kehilangan seseorang yang sangat berharga.
"Kak El, tidak apa-apa?" ucap Alexa menyadarkan lamunan Excel.
"Nothing! Kalau begitu untuk mengisi hari libur, aku mempunyai tugas untukmu. Akhir pekan nanti kamu ikut aku, nanti akan ku jelaskan apa tugasmu," ucap Excel pada Alexa.
"Terima kasih, Kak El. Ternyata anda sangat baik. Tapi entah kenapa, aku merasa kalau anda memiliki dua kepribadian. Maaf jika aku salah bicara." Alexa langsung menunduk dan tidak berani menatap wajah Excel yang menatapnya tajam.
"Jangan pernah bicarakan hal ini pada siapapun, karena aku tidak suka kehidupan pribadiku diketahui oleh orang lain. Kamu mengerti?"
"Baik, Kak. Aku mengerti dan akan tutup mulut dari semua yang kulihat," jawab Alexa takut.
Tak lama kemudian, makanan yang di pesan pun datang. Excel langsung mempersilakan Alexa untuk makan bersama.
"Makanlah, habis ini aku antar kamu pulang," ucap Excel dengan menyendok makanannya.
Alexa langsung memakan hidangan yang telah disajikan itu dengan perasaan gugup karena sikap Excel yang berubah menjadi dingin.
Di Tempat Lain
"Hei, siapapun yang ada di luar cepat buka pintu ini!" ucap Evelyn berteriak dengan suara keras.
"Maaf, Nona tapi kami tidak berani membuka pintu karena harus ada izin dulu dari Tuan kami," sahut penjaga yang ada di luar.
Evelyn sangat kesal karena dia seperti seorang tawanan. "Kalau begitu panggil Tuan kalian agar segera membuka pintu ini."
"Sebaiknya anda tunggu sebentar, Nona! Tuan kami sedang berada dalam perjalanan."
"Ini sangatlah gila! Kenapa aku bisa terjebak di sini? Seharusnya aku sudah berada di hotel dan menikmati liburan ku. Tapi kenapa bisa bertemu dengan pria itu. Membuatku kesal saja."
Evelyn mendesah frustasi, dia masih merasakan sakit di bagian perutnya. Namun, dia mencoba kuat dan bersikap biasa saja. Sehingga rasa sakit itu perlahan memudar.
__ADS_1
"Siapa pria itu? Apa dia seorang penjahat? Apa aku sedang diculik? Kalau dia penjahat, berarti aku sedang dalam bahaya. Aku harus waspada, jangan sampai lengah," ucap Evelyn dalam hati. Dia masih dengan segudang pertanyaan dalam pikirannya.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Evelyn langsung membalikkan tubuhnya dan berusaha keluar dari kamar itu.
"Eits, wait! Kamu ingin pergi kemana, my Angel?" ucap Vander menghentikan langkah Evelyn.
Evelyn terdorong mundur. "Minggir, aku ingin pergi dari tempat ini. Kamu siapa? Apa kamu sedang menculik ku?"
Vander mengernyitkan dahinya. "Menculikmu? Sepertinya kamu salah paham. Aku hanya membalas jasamu, karena kamu telah menyelamatkan ku dari bahaya. Sekarang berdiamlah disini, karena di luar sangat berbahaya."
"Aku tidak mau karena aku ingin pergi dari sini. Berikan ranselku, aku tidak mau di sini." Evelyn mendorong Vander, kemudian dia menuju pintu. Namun pintu itu tidak bisa dibuka karena Vander menguncinya.
"Jangan memancing amarahku, cepat buka pintu ini! Hei, kamu dengar tid ...."
Vander langsung menggendong Evelyn kembali ke atas ranjang. Tentu saja gadis itu memberontak. "Hei, apa yang kamu lakukan? Jangan berbuat macam-macam padaku!"
"Menurutlah! Jangan banyak protes, aku hanya ingin mengobati lukamu saja!" ucap Vander dengan membuka kotak P3K.
"Sekarang buka bajumu, aku akan mengobatinya!"
Evelyn terkejut dengan mulut menganga. "Apa katamu? Membuka baju, apa kamu sudah gila? Tidak akan, aku tidak mau membuka bajuku." Evelyn menolak perintah Vander.
Vander menarik nafas panjang, biasanya dia tidak sesabar ini. Vander menatap lekat wajah Evelyn. "Buka sekarang! Atau kamu lebih suka kalau aku memaksamu? Maka dengan senang hati aku akan membuka semuanya."
Terlihat senyum seringai di bibir Vander hingga dia mendapatkan tatapan membunuh dari sorot mata Evelyn. Akhirnya, Evelyn menaikkan separuh kaosnya dan menampilkan luka sayatan yang belum kering itu.
Vander duduk di pinggiran ranjang dan segera mengobati luka itu dengan antiseptik. Setelah itu dia membalut lagi luka Evelyn dengan kasa yang baru. Evelyn memperhatikan cara Vander mengobati lukanya. Terbesit satu pemikiran dalam kepalanya.
"Selesai, sekarang mandilah! Ganti bajumu dengan baju yang aku beli. Aku keluar dulu, kalau butuh apa-apa panggil aku! Ingat jangan mencoba untuk kabur, karena wajahmu sudah menjadi target operasi para penjahat itu," jelas Vander memperingatkan Evelyn.
Evelyn menoleh dan menunjukkan wajah kesalnya. Namun hal itu membuat Vander merasa senang. Sikap keras kepala Evelyn membuat seorang Vander merasa tertarik dan penasaran. Dia pun keluar dan kembali mengunci pintu dari luar.
__ADS_1
"Sial, kenapa harus terjebak di sini bersamanya. Bagaimana dengan liburan ku. Daddy, apa yang harus aku lakukan?" Evelyn kesal dan merutuki kondisinya saat ini.
Setelah itu dia turun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.