PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs PB 31


__ADS_3

Alexa dan Excel makan malam dengan saling bercerita. Mereka terlihat sudah membutuhkan satu sama lain. Selesai makan malam, Alexa langsung membersihkan piring yang kotor.


Sekitar lima belas menit kemudian Alexa telah selesai mencuci piring dan membereskan semuanya yang ada di meja. Dia menuju ke kamar untuk mengambil sesuatu.


Sesampainya di kamar Alexa menulis alamat rumahnya. "Alamat ini bisa membuat kak Excel terus mengingatku. Aku sudah mulai jatuh cinta padanya, tapi apakah aku pantas untuknya?" tanya Alexa dalam hati.


Setelah itu dia turun ke bawah untuk memberikan itu pada Excel. Kebetulan saja, Excel keluar dari dalam kamarnya. "Alexa, kamu mau kemana?" tanya Excel.


Alexa menoleh lalu dia memberikan alamat itu. "Ini buat kamu, Kak. Kalau kakak ingin berkunjung datang saja dan cari alamat itu," jelas Alexa.


Excel menerima pemberian dari Alexa. Dia tersenyum dan berkata, "Terima kasih, aku pasti datang saat kesibukanku teratasi. Salam untuk ibumu ya."


Alexa mengangguk, dia sangat senang dengan tanggapan Excel.


"Oh ya, apa Evelyn sudah tahu tentang rencanamu ini?" tanya Excel.


"Evelyn belum tahu dengan tujuanku. Nanti setelah pulang aku akan memberitahunya," jawab Alexa.


"Oke, aku istirahat dulu. Kalau Evelyn pulang larut malam kamu tinggal tidur saja, tidak perlu menunggunya," seru Excel pada Alexa.


Alexa menjawab, "Iya, tapi aku akan menunggunya saja."


Di tempat lain.


Vander dan Evelyn sudah selesai makan. Mereka keluar dari dalam restoran kemudian melanjutkan untuk berkeliling. Evelyn berjalan santai beriringan dengan Vander. Banyak mata yang melirik ke arah Mereka berdua.


"Apa kamu tidak malu berjalan denganku? Lihatlah semua orang memandang aneh ke arah kita," tanya Evelyn pada Vander.


Vander memalingkan wajahnya, dia terlihat kesal dengan semua orang yang melihat Evelyn. Dia semakin posesif dan segera menarik tangan Evelyn menjauh dari keramaian.


Evelyn sedikit terkejut dengan sikap Vander yang tiba-tiba menariknya cepat. "Vander ada apa denganmu?" tanya Evelyn.


Setelah sampai di tempat yang sepi, Vander menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan memepet Evelyn ke tembok. "Apa kamu selalu menarik perhatian orang jika sedang berjalan-jalan?" tanya Vander dengan tatapan tajam.


Evelyn yang awalnya terkejut kemudian tersenyum menyeringai. Dia mengalungkan kedua tangannya ke pundak Vander. "Apa kamu sedang cemburu? Aku kira semua orang sedang memandang aneh terhadapku karena aku jelek," ucap Evelyn dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Jangan berani menggodaku, apa kamu tidak takut aku berbuat nekat? Aku bisa saja memaksa dan membawamu ke tempat yang menyenangkan," balas Vander tak mau kalah.


Evelyn terkekeh. "Apa kamu sungguh berani melakukan itu?" tanya Evelyn, kemudian dia mendorong pelan dada Vander lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Vander dibuat termenung di tempat itu. Dia tidak dapat menyikapi Evelyn terlalu jauh. "Apa-apaan ini, kenapa aku tidak bisa melakukan sesuatu padanya. Sial, sepertinya benar apa kata kakak," gerutu Vander dan tangannya memukul tembok.


Evelyn berjalan sembari tersenyum senang karena bisa membuat Vander salah tingkah. "Jangan harap kamu bisa menggodaku pria bodoh. Sebelum itu terjadi maka aku duluan yang akan menggodamu," ucap Evelyn pelan.


"Vander, jika kamu terus di sana maka aku akan pulang sendiri," teriak Evelyn keras.


Vander segera melangkahkan kakinya. "Kapan aku bisa menjalani kencan yang sesungguhnya? Aku harus mencari cara agar bisa menjalin hubungan dengan Evelyn. Tapi terkadang gadis itu sangat menyebalkan juga," ucap Vander terus menggerutu.


Evelyn berjalan santai menuju ke eskalator. Dia merasakan ada seseorang yang sedang mengikutinya. Tak mau mengambil resiko, Evelyn pun berbalik dan justru menabrak Vander yang berjalan ke arahnya.


Brukkk!


"Aawww, Vander kamu jalan tidak pakai mata ya," sentak Evelyn sembari memegang dahinya.


"Jalan itu pakai kaki, Baby. Tidak ada jalan pakai mata, kamu kenapa berbalik arah?" tanya Vander, dia menatap mata Evelyn yang sedang mengamati keadaan sekitar.


Vander sadar dengan sikap tak biasa Evelyn. Dia berlari dan juga mengamati situasi di sekitarnya. Matanya menangkap sebuah bayangan yang sangat dikenalnya.


"Apa yang mereka lakukan di sini? Apa mungkin aku sedang salah lihat?" gumam Vander dalam hati.


Sesampainya di luar, Evelyn melepas gandengan tangannya. Napasnya terengah-engah karena terus berlari.


Penasaran Vander bertanya pada Evelyn,"Apa kamu tadi menyadari sesuatu saat di sana?"


Evelyn masih menetralkan pernapasannya. "Iya, aku merasa ada orang yang sedang mengikutiku. Jadi aku berlari agar tidak terjadi sesuatu, " jawab Evelyn. "ayo kita pulang, aku capek sekali!" ajak Evelyn.


Vander langsung membukakan pintu mobil untuk Evelyn. Setelah itu dia masuk dan segera melajukan kendaraannya untuk pulang ke rumah.


Di jalan raya, terlihat ada sebuah mobil yang sedang mengikuti mobil Vander. Hal itu disadari olehnya ketika melihat ke spion belakang.


"Sial, ternyata memang mereka. Apa maunya sampai berada di sini?" ucap Vander dalam hati.

__ADS_1


Akhirnya Vander menambah lagi kecepatan mobilnya dan membuat Evelyn protes. "Vander apa kamu sudah gila? Kenapa kamu menyetir sangat kencang sekali?" seru Evelyn panik.


"Kamu diam dan berpegangan yang kencang! Ada seseorang yang sedang mengikuti kita dari belakang," jawab Vander.


Evelyn menoleh ke belakang dan melihat satu mobil yang memang sedang berusaha mengejarnya.


"Jadi dugaanku memang benar, kenapa setiap bersamamu selalu dalam bahaya? Merepotkan sekali, " gerutu Evelyn.


"Sorry Baby, tentu saja hal ini di luar prediksi," balas Vander. Dia terus fokus dalam menyetir mobil.


Kejar-kejaran mobil pun terjadi, mobil yang mengikuti Vander berhasil menyalip lalu menghadang mereka. Vander langsung mengerem darurat sehingga membuat kepala Evelyn membentur jendela.


"Shiitt, apa mau mereka?" umpat Vander, dia langsung keluar untuk melawan mereka.


"Apa maksud kalian menghadang mobilku? Apa kalian sudah bosan hidup? Ha?" sentak Vander kasar.


"Maaf Tuan Muda, kami hanya ingin membawa anda pulang karena ini perintah dari Tuan besar," ucap bodyguard itu. Mereka adalah anak buah yang diperintahkan oleh ayah Vander.


"Sebaiknya kalian pulang, karena aku tidak mau. Lagi pula aku bukan balita yang harus dijemput secara paksa," seru Vander.


Melihat keributan membuat Evelyn penasaran. "Ada apa Vander, kamu kenal dengan mereka?" tanyanya.


"Ya mereka anak buah Daddy ku. Mereka ingin membawaku pulang ke London," jawab Vander.


"Kalian pulang dulu, aku ada satu urusan di sini. Ini tugas dari kakak dan harus aku selesaikan. Kalian sampaikan saja pada Daddy! Aku tidak mau ada pemaksaan ataupun kekerasan, jadi kembalilah dengan baik," ucap Vander dengan tegas.


Para bodyguard itu saling berdiskusi, lalu dia menyetujui ucapan Vander. "Maaf Tuan Muda, kami permisi dulu. Tapi sebaiknya anda menepati janji karena kalau tidak kamilah yang akan di hukum Tuan," jawab salah satu bodyguard.


"Ya, aku berjanji akan kembali setelah urusanku selesai," sahut Vander. Setelah itu mereka pergi dari hadapan Vander dan Evelyn.


Vander langsung melihat dahi Evelyn yang tampak kemerahan. "Dahi kamu tidak apa-apa 'kan? Tampak merah sekali, apakah sakit?"


"Sedikut sakit tapi tidak apa-apa. Ayo kita segera pulang!"


Vander dan Evelyn masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2