
Dua puluh menit kemudian, Evelyn keluar dari dalam kamar mandi. Dia mengenakan baju yang dibeli oleh Vander. Evelyn membuka paper bag itu dan mendapatkan dress dengan merk yang cukup terkenal.
"Seleranya tidak buruk juga," gumam Evelyn.
Secepatnya Evelyn berganti baju. Namun di saat dia ingin membuka handuk, pintu tiba-tiba terbuka. Evelyn menjerit sekuat tenaga dan mengumpat orang itu. "Aaaaa, Shiit, kamu brengsek! Beraninya masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Pergi kamu dari sini."
"Opps, soryy my angel! Sungguh aku tidak tahu, tapi lumayan juga," sahut Vander dari depan pintu dengan muka tanpa bersalah.
Evelyn semakin kesal dan melempari Vander dengan paper bag tadi. "Sialan kamu pria m3sum. Pergi kamu dari sini!"
Vander segera menutup pintu dan Evelyn terus mengumpatnya dari dalam. Di balik pintu, Vander tersenyum. Dia cukup terkesan dengan Evelyn. "Menarik! Sepertinya aku mempunyai seseorang yang menyenangkan," batin Vander.
Beberapa saat kemudian, Evelyn selesai memakai baju. Dia langsung menarik pintu hingga membuat Vander jatuh ke pelukan Evelyn. "Bukan aku yang salah, kamu yang mengagetkan ku," ucap Vander dengan tenangnya.
Evelyn mengepalkan kedua tangannya dan melayangkan sebuah pukulan ke arah Vander. Namun, dengan cepat pria itu menangkis tangan Evelyn. "Kamu pikir bisa semudah itu melawanku? Aku bisa melumpuhkan mu di sini jika aku mau," ucap Vander dengan senyum seringainya.
Vander terus menahan tangan Evelyn, dia memandangi wajah kesal itu. Evelyn menarik tangannya dan mengumpat kesal. "Lepaskan tanganku, Bodoh! Jaga pandanganmu atau kupukul wajahmu."
Vander mengalihkan pandangannya. Dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Dia mengajak Evelyn keluar dari kamar untuk makan siang. "Keluarlah ayo kita makan siang!"
"Siapa juga yang mau makan bersamamu? Aku ingin pergi dari sini, dan kembalikan ransel juga handphone ku," sahut Evelyn tegas.
Vander menarik nafas panjang, dia merasa tidak sabar dan langsung menarik tangan Evelyn keluar dari kamar. Hal itu membuat Evelyn semakin kesal dan berontak.
__ADS_1
"Hei, berhenti! Kamu pikir kamu siapa? Seenaknya menarik tangan orang sembarangan. Aku bilang berhenti! Hei, stop dan lepaskan tanganku!" Evelyn terus protes, namun tidak di dengarkan oleh Vander. Pria itu terus menarik Evelyn ke lantai bawah. Hal itu menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
Vander melepaskan tangan Evelyn ketika sampai di meja makan. "Duduk, dan makanlah dengan tenang. Kamu tahu, baru kali ini aku bertemu dengan gadis yang liar seperti mu. Jadi diam dan menurutlah agar kamu terlihat cantik."
Evelyn berdecih mendengar ucapan Vander yang menurutnya sangat arogan. "Cih, persetan dengan ucapanmu! Aku hanya ingin pergi dari sini. Mengerti!"
"Baiklah kamu makan dulu, setelah makan kamu boleh pergi," jawab Vander dengan sangat tenang.
Evelyn langsung duduk di kursi. Dia menyantap makanan yang tersedia di meja. Matanya masih menyorot tajam ke arah Vander yang sedang makan dengan tenang.
"Aku tahu, kalau wajah ku ini sangatlah tampan. Aku juga tahu kamu terpesona dengan ketampanan ku ini. Tidak ada satu pun wanita yang bisa menghindar dari pesonaku," ucap Vander dengan sangat percaya diri.
Mata Evelyn membulat dia benar-benar tidak percaya kalau pria yang ada di depannya itu mempunyai kenarsisan tingkat tinggi. Evelyn menancapkan garpu di steak daging yang ada di piringnya dengan penuh kekesalan.
Setengah jam kemudian, Evelyn selesai makan dan beranjak dari tempat duduknya. Dia menagih ransel dan juga handphonenya. "Aku sudah selesai, sekarang berikan ranselku."
Vander berdiri dan mendekati Evelyn yang masih bersikeras untuk pergi. "Jadi kamu ingin tetap pergi dari sini? Kalau begitu baiklah, aku tidak akan menahan mu. Kamu ambil ransel yang aku bawa kemarin dan berikan padanya," ucap Vander pada anak buahnya.
"Sebelum kamu pergi perkenalkan dirimu, agar aku bisa mengenang jasamu," sambung Vander dengan mengulurkan tangannya.
Evelyn membuang muka, dia mengabaikan jabatan tangan Vander. "Apa sebuah nama begitu penting? Aku berharap kita tidak saling mengenal," sahut Evelyn ketus.
Vander menarik lagi tangannya, baru kali ini dia di tolak oleh seorang gadis. "Wow, sangat berani sekali hingga membuat ku terkesan," gumam Vander pelan.
__ADS_1
Anak buah Vander pun datang membawa ransel Evelyn. Ia menyerahkan ransel itu pada bosnya. Vander menerima ransel itu dan memberikannya pada Evelyn. "Ini ransel dan handphone mu ada di dalam. Aku hanya ingin berkata kalau markas ini masih bisa menerima mu jika kamu berubah pikiran. Aku akan bersikap baik dengan gadis yang telah menyelamatkan nyawaku."
Evelyn menarik ransel itu secara kasar. Dia mengambil handphone dan langsung mengaktifkannya. "Aku tidak akan berubah pikiran," sahut Evelyn dengan tegasnya.
Vander tersenyum, melihat Evelyn yang pergi dari hadapannya. Gadis itu berjalan mendekati pintu dan membukanya lebar. Matanya terbelalak ketika melihat keadaan di luar yang ternyata adalah hutan belantara.
Evelyn langsung membalikkan badannya melihat ke arah Vander yang tengah tersenyum penuh kemenangan. "Tempat apa ini? Kenapa bisa di tengah hutan seperti ini?"
Vander menaikkan alisnya, dan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Dia berjalan dengan tenang menghampiri Evelyn yang sedang terkejut itu. "Pergilah! Bukankah kau ingin pergi dari sini. Ya, aku tidak bisa menjamin kamu bisa keluar dengan selamat. Rumah ini berada di tengah hutan jadi perlu berjalan ratusan meter untuk sampai di luar. Kebetulan juga di hutan ini ada banyak hewan buas dan liar. Jadi pergilah, jika kamu ingin pergi. Kalau kamu berubah pikiran, kamu masih mempunyai satu kesempatan dariku."
Evelyn menarik nafas dalam. Kekesalannya semakin memuncak. "Oke Fine! Kamu menang," ucap Evelyn dengan melemparkan ranselnya pada Vander.
Vander menangkap ransel itu dan tersenyum senang. "Ternyata membuatnya kesal itu sangat menyenangkan," gumam Vander dalam hati.
"Hei, bersikap baik dan menurutlah. Aku akan membawamu ke luar kalau lukamu sudah sembuh. Jadi kamu harus mendengarkan ucapanku!"
"Persetan dengan ucapanmu," teriak Evelyn kesal. Dia kembali ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam, Evelyn mengumpat kesal. "Sial, sial, sial. Kenapa dengan liburanku? Apa ini balasan karena aku telah berbohong pada Daddy? Ahhh, menyebalkan! Daddy maafkan aku, kini aku mengerti kalau Daddy tidak bisa dibohongi. Daddy, maafkan aku."
Evelyn merebahkan tubuhnya di atas kasur dan terus menggerutu. Dia menyesal karena tidak mendengar nasehat sang ayah.
Evelyn terbangun lagi, dia mencoba untuk menghubungi kakaknya. Namun dalam handphonenya tidak ada jaringan internet. "Oh, tidak! Bencana apa lagi ini? Aku sedang dalam hutan jadi tidak ada jaringan apapun. Kakak, selamatkan aku," ucap Evelyn dengan menatap handphonenya. Rasanya dia ingin menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1