
Vander menyetir mobil sportnya menuju ke sebuah hotel bintang lima. Kurang dari setengah jam mereka sampai di tujuan. Vander keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Evelyn.
Evelyn pun langsung keluar dari dalam mobil. Vander mengulurkan tangannya kepada Evelyn. Dia seperti seorang pangeran yang sedang menyambut sang putri. Evelyn menerima uluran tangan itu dengan sikap elegan. Vander mengapit tangan Evelyn, setelah itu mereka berjalan seperti pasangan yang terlihat sangat serasi.
"Lihatlah semua orang sedang memandang kita," ucap Vander dengan pandangan lurus ke depan.
Evelyn pun menjawab dengan percaya diri. "Tentu saja semua orang melihat ke arah kita, karena memang aku sangatlah memesona," ucap Evelyn.
Vander tersenyum. "Kalau begitu jadilah kekasihku, sepertinya kamu kandidat yang cocok," sahut Vander pelan.
"What? Kamu ingin menjadikan aku sebagai kekasihmu. Bermimpilah karena itu tidak akan terjadi. Kamu bisa menjadikan aku kekasih, kalau aku sendiri yang jatuh cinta padamu," jawab Evelyn dengan sarkas.
"Kalau begitu baiklah aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Tunggu tanggal mainnya akan aku buat kamu bertekuk lutut di hadapanku."
"Cih, janganlah terlalu percaya diri," sahut Evelyn, dengan acuh.
Kini Vander dan Evelyn telah sampai di dalam ruangan pesta. Mereka berdua disambut baik oleh penanggung jawab pesta. "Selamat datang tuan Vander, senang melihat kehadiran anda di pesta ini," ucap seorang pria paruh baya itu.
"Terima kasih, pestanya terlihat sangat meriah sekali. Pasti banyak orang-orang penting yang akan hadir di pesta ini," jawab Vander.
"Iya Tuan, kebetulan malam ini ada sebuah pelelangan kecil. Tuan bisa ikut dalam acara pelelangan itu, karena hasil yang didapatkan saat pelelangan nanti akan disumbangkan ke sebuah yayasan di kota pedalaman Cape Town," balas pria itu.
Vander mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oke saya akan ikut andil dalam pelelangan nanti, tentu saja jika ada barang yang menarik perhatian saya," ucap Vander dengan mata melirik Evelyn.
"Silakan menikmati pesta, Tuan. Silakan makan hidangan yang telah disajikan. Saya tinggal dulu ke sana." Pria itu pun pergi meninggalkan Vander dan Evelyn.
"Dari apa yang aku lihat sepertinya tidak ada yang mencurigakan di sini," ucap Evelyn dengan pandangan menyelidik.
Vander melepaskan tangannya. Dia berjalan menuju ke sebuah meja yang tersaji beraneka makanan dan minuman. Vander mengambil dua gelas red wine, lalu diberikannya gelas itu kepada Evelyn.
"Target kita belum datang. Jadi sebaiknya kita bersantai dulu sejenak. Karena setelah mereka datang nanti, kita tidak ada waktu untuk menikmati semua hidangan ini," dengan menenggak segelas red wine itu.
__ADS_1
Evelyn ikut menenggak red wine yang diberikan oleh Vander. Dia tampak tenang sekali dan tidak mengkhawatirkan masalah yang akan terjadi nanti.
"Kamu tahu kalau pesta ini disiarkan secara live di televisi. Tentu saja ini akan mempermudah langkah kita untuk merekam jejak musuh. Pesta ini sudah ditunggu sejak lama oleh Kakakku. Jadi kita harus berhasil menyelesaikan misi ini tanpa melakukan kesalahan."
Evelyn berjalan dan berdiri di samping Vander. "Aku akan mengikuti misimu ini, tetapi kamu jangan lupa untuk membawaku ke Padang Savana jika misi ini selesai. Aku ingin segera pulang karena keadaanku di sini sudah tidak aman," ucap Evelyn.
"Why? Mengapa kamu ingin cepat sekali pulang? Apa karena kakakmu?" tanya Vander penasaran.
Evelyn menarik nafas dalam. " Ya kamu tidak tahu sebagaimana mengerikannya Kakakku itu ketika dia marah."
"Jadi kamu takut dengannya?"
"No, Aku hanya takut dia mengabaikanku. Karena aku tidak suka diabaikan. Sudahlah jangan jadi wartawan di depanku!" Evelyn mengakhiri pembicaraannya dengan Vander.
Tidak lama kemudian ada sebuah rombongan yang masuk ke dalam pesta. Mereka terdiri dari orang-orang penting, melihat banyak sekali bodyguard di belakangnya. Vander dan Evelyn memilih berdiri di tempat yang aman. Mereka mengamati rombongan itu dari kejauhan.
"Look, mereka sudah datang," ucap Vander pelan.
Mata Evelyn masih fokus melihat rombongan itu. Dia bertanya kepada Vander, "jadi yang mana targetmu? Apakah pria yang memakai jas warna merah hati itu? Karena dia sangat mendominasi dalam rombongannya."
Evelyn masih dengan rasa penasarannya. Dia terus bertanya seluk beluk permasalahan kepada Vander,"memangnya ada masalah apa di antara klan kalian. Kalau kamu tidak menjelaskannya padaku aku tidak akan mengerti dengan misimu. Setidaknya kamu memberitahuku dasar-dasar permasalahan ini. Agar aku bisa memposisikan diriku sendiri tanpa menunggu aba-aba darimu."
"Oke akan aku jelaskan dan dengarkan baik-baik," ucap Vander. Setelah itu dia menjelaskan semuanya pada Evelyn. Gadis itu pun mengangguk-angguk mengerti. Penjelasan Vander yang panjang dan lebar membuat Evelyn harus berpikir secara keras, karena permasalahannya tidak semudah yang dia pikirkan.
"Oke aku mengerti, jadi tugasku adalah untuk berpura-pura jatuh dihadapannya. Lalu memasukkan GPS ini dalam sakunya. Benar begitu?" ucap Evelyn menjelaskan semua yang didengarnya.
Vander menjawab pertanyaan Evelyn dengan raut wajah yang sangat serius,"Benar, itu tugasmu. Agak sedikit beresiko, akan tetapi aku yakin kalau kamu bisa melakukannya. Jujur aku sangat tidak rela kamu berakting di depan pria itu, karena aku tidak suka orang lain melihat wajah cantikmu ini."
"Cih, lebih baik kamu buang jauh-jauh bualanmu itu," sahut Evelyn, dia menampik pujian yang dilontarkan oleh Vander.
"Aku serius, Evelyn. Baiklah, kita beraksi nanti setelah acara pelelangan dimulai. Sekarang kita nikmati dulu hidangan ini untuk mengisi energi." Vander menarik tangan Evelyn untuk mengambil makanan.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian acara pelelangan pun dimulai. Semua orang berkumpul di tengah. Ada lima barang yang akan dilelang dalam pesta tersebut. Barang-barang yang dilelang bersifat langka. Jadi hanya ada satu dan tidak ada imitasinya.
Evelyn menikmati pesta itu dengan santai. Dia memakan kue dan juga dessert yang disediakan di sana. Evelyn ingin menggigit sepotong cake, akan tetapi potongan cake itu disambar oleh Vander.
"Stop Evelyn, jangan banyak makan yang manis-manis. Aku tidak mau jalan kekasihku berbadan gemuk," ucap Vander, dia memakan cake dari tangan Evelyn.
Hal itu membuat Evelyn terkejut. Sikap Vander, seperti sudah terbiasa dengannya bahkan tidak ada basa-basi lagi. "Apa ada masalah di hidupmu? Terserah aku ingin makan sebanyak apapun. Semua itu tidak ada hubungannya denganmu. Jadi stop melarangku," ucap Evelyn ketus. Dia mengambil sepotong cake lagi untuk dimakan.
Vander pun dengan sengaja mengambil potongan cake itu. "Sudah aku bilang stop memakannya, marilah kita memulai misi kita."
Evelyn menarik nafas dalam. Dia mencoba mengatur emosinya. "Baiklah aku akan memulai misi ini, dan lihat apa yang aku lakukan sekarang," ucap Evelyn. Dia membalikkan badan dan berjalan menuju ke pria yang menjadi targetnya.
Vander hanya melihat dari kejauhan dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Evelyn. Gadis itu terus berjalan dengan membawa segelas minuman dan menghampiri pria yang jadi targetnya. Evelyn berdiri tak jauh dari pria tersebut. Dia berdiri dengan sangat anggun dan juga elegan membuat semua pria tertuju padanya.
Akhirnya pria tersebut tertarik dengan pesona Evelyn. Dia berjalan dengan bibir tersenyum menghampiri Evelyn yang sedang minum segelas red wine.
"Selamat malam Nona!" sapa pria itu.
Evelyn menoleh dan menjawab, "Selamat malam, Tuan. Ada perlu apa?"
Pria itu tersenyum dan menjawab, "Tidak ada, hanya saja saya tertarik karena wajah anda yang begitu cantik di pesta ini."
"Pujian anda terlalu berlebihan Tuan. Saya hanya ingin melihat pesta pelelangan mewah ini," jawab Evelyn dengan sangat ramah.
"Apa Anda datang dengan seseorang? Kalau tidak apakah anda mau berdansa dengan saya?" tanya pria itu penasaran.
Evelyn tersenyum dengan ramah. "Kebetulan saya datang sendiri Tuan."
"Kalau begitu mari kita berdansa," ucap pria itu dengan mengulurkan tangannya.
Every langsung menyambut uluran tangan itu, kemudian pria itu mengajak Evelyn ke tengah untuk berdansa. Bahkan pria itu berani menggamit pinggang ramping Evelyn hingga membuat Vander cemburu.
__ADS_1
"Sial berani-beraninya dia menyentuhnya," umpat Vander, dia sangat kesal sekali.
Meski begitu Vander mencoba untuk tenang. Dia ingin misi kali ini berhasil tanpa ada halangan. Vander tetap mengamati dari kejauhan, dan Evelyn sedang berusaha melancarkan aksinya. Dia berdansa dengan pria yang menjadi target incarannya itu.