
Excel masih terkejut dengan keberadaan Evelin yang jauh dari rumah. Dia masih menunggu handphonenya berdering. CEO Lucas grup pun menegur Excel yang sedang gelisah. "Tenanglah Prof. Eldric, adikmu akan aman bersama adikku. Dia pria yang baik, aku yakin adikku akan menjaga adikmu," ucap sang CEO.
"Sebenarnya bukan masalah itu, Tuan! Adik saya itu bisa seni bela diri, jadi dia bisa melindungi diri dari bahaya. Hanya saja saya penasaran, apa tujuannya pergi Afrika?" jawab Excel.
"Menurut penjelasan adik saya, adik anda telah menyelamatkan adik saya dari kepungan penjahat. Tetapi anda jangan khawatir, karena saya pribadi telah menyuruh anak buah saya untuk selalu menjaganya. Mungkin ada efek buruk juga, karena adik anda telah dianggap mencampuri urusan dari klan musuh," ucap sang CEO menjelaskan.
"Saya akan mengatur jadwal pertemuan anda dengan adik saya nanti setibanya di San Fransisco. Anda bisa membicarakan secara empat mata dengan adik saya. Kalau begitu pertemuan kita akhiri sampai di sini sampai jumpa lagi di lain waktu Prof. Eldric," sambung sang CEO. Dia berdiri dan menjabat tangan Excel.
Excel membalas jabatan tangan sang CEO. Dia harus bersikap profesional meski dalam hatinya ada sedikit keraguan mengingat Evelyn yang ikut campur dalam urusan bisnis sang CEO.
"Baiklah kalau begitu, Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuan karena telah meluangkan waktu dalam pertemuan ini. Sampai jumpa lagi!" balas Excel.
Setelah itu CEO Lucas grup pergi dari restoran tersebut. Excel kembali mengambil handphonenya, tak lama kemudian panggilan dari Evelyn masuk. Excel segera mengangkat panggilan itu dengan penuh emosi.
"Halo, Evelyn kenapa lama sekali menghubungiku?" ucap Excel dengan nada tinggi.
[Sorry, Kak! Aku tadi menyelesaikan makan siang dulu. Jadi Kakak tenang, oke! Jangan marah-marah seperti itu!]
Evelyn di seberang sana sedang berusaha untuk menenangkan kakaknya.
Excel menelepon dengan mondar-mandir di luar restoran. "Apa kamu bilang Evelyn, tenang? Bagaimana Kakak bisa tenang, di saat aku tahu kalau kamu sedang bersama orang yang berbahaya. Kamu pasti tahu mereka itu siapa? Mereka sangat berbahaya Evelyn. Stop ya! tidak usah banyak drama lagi, sekarang kamu pulang dan pergi dari sana," ucap Excel dengan sangat emosi.
[Kakak, come on! Tujuanku ke Afrika adalah untuk berlibur. Jadi aku tidak ingin pulang sebelum mendapatkan tujuan utamaku. Aku akan menjaga diri di sini Kak. Jadi Kak Excel, please stop jangan khawatir oke!]
__ADS_1
Evelyn langsung mematikan panggilan teleponnya. Hal itu tentu membuat Excel sangat marah. Dia segera menghubungi balik sang adik. Namun, handphonenya sudah tidak aktif.
"Shiit, Evelyn. Kamu benar-benar membuatku khawatir. Kenapa Daddy mengizinkannya pergi sendiri ke Afrika? Tidak mungkin, aku yakin kalau Evelyn pasti kabur dari rumah. Ingin sekali aku pergi kesana dan membawanya pulang," gerutu Excel dengan penuh kekesalan.
Excel mengusap kasar wajahnya. Setelah itu dia pergi dari restoran tersebut, dia ingin menuju ke rumah sakit untuk melakukan penelitian.
Di Tempat Lain.
Evelyn menyimpan handphonenya dalam saku celana. Dia berdecak kesal karena mendapat amarah dari sang kakak. "Kak Excel sangat menyebalkan sekali kalau sedang cerewet seperti itu. Huh!" gerutu Evelyn, dia kembali duduk di meja makan.
Vander memperhatikan wajah Evelyn yang sedang kesal. "Aku tidak menyangka kalau kamu mempunyai seorang kakak. Sangat kebetulan sekali kakakmu ternyata bekerja sama dengan kakakku. Bukankah itu namanya berjodoh?" ucap Vander mencairkan suasana.
"Ck, diamlah kamu tidak usah cerewet seperti kakakku. Berisik sekali dan menyebalkan!" sahut Evelyn dengan nada ketus.
Evelyn menghela napas dan menghembuskan kasar. "Dia ikut berdiri dan keluar dari restoran tersebut mengikuti Vander menuju ke mobil."
Vander memerintahkan anak buahnya untuk pergi ke markas. Sedangkan dia dengan Evelyn pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju yang akan dipakainya di pesta nanti. Di dalam mobil Evelyn fokus dengan handphonenya. Tidak banyak kata dan pertanyaan. Vander menoleh ke arah gadis yang sedang duduk di sampingnya itu. Entah mengapa dalam hatinya tidak suka, jika melihat raut wajah Evelyn yang tidak semangat itu.
"Hei bisakah kamu membuang wajah lesumu itu?" Vander menegur Evelyn.
Evelyn diam tak menjawab, dia pura-pura-pura tidak mendengar teguran Vander. Merasa diabaikan, Vander mengulang lagi tegurannya.
"Hei apa kamu tidak mendengarku?"
__ADS_1
Evelyn menoleh ke arah Vander. Lalu dia menjawab dengan nada ketus, "Siapa yang kamu panggil hei? di dalam mobil ini tidak ada orang yang bernama hei. Mengerti!"
Vander terkejut dengan jawaban Evelyn. Lalu, bibirnya tersenyum smirk. "Kamu benar di dalam mobil ini tidak ada yang bernama hei. Lalu panggilan apa yang pantas untukmu? Bagaimana kalau aku memanggilmu, Baby? Sepertinya sangat menarik, jika aku memanggilmu seperti itu. Bukankah begitu, Baby?"
Mendengar ucapan Vander membuat Evelyn bertambah kesal. Dia langsung melancarkan cubitan ke arah perut Vander dan memutarnya dengan kuat. Tentu saja hal itu membuat Vander sangat terkejut. Pria itu langsung menghentikan mobilnya secara refleks.
"Hei apa kamu sudah gila? Bagaimana kalau kita menabrak sesuatu?" ucap Vander sedikit marah.
"Kenapa sakit? Jangan menggodaku di saat aku sedang marah atau kesal, karena tanganku ini bisa saja berbuat seenaknya," sahut Evelyn.
"Oh jadi begitu, bagaimana kalau cubitanmu tadi memancing sesuatu yang sedang tenang di alamnya. Apakah kamu mau bertanggung jawab jika hal itu terjadi?" Vander memandang Evelyn dengan tatapan nakal.
Evelyn memalingkan wajahnya ketika ditatap intens oleh Vander. Pria itu langsung tersenyum ketika melihat perubahan wajah Evelyn yang sedang tersipu malu.
"Ternyata daya tangkapmu bagus juga. Padahal ucapanku tadi sangat ambigu. Sebaiknya kamu menjaga sikap, karena bagaimanapun juga aku ini adalah pria normal. Kamu mengerti kan maksudku, Baby?"
"Stop dan diam, sekarang cepat lanjutkan perjalanan! Aku ingin shopping sepuasnya hari ini dan jangan marah jika uangmu habis dalam hitungan jam," ucap Evelyn mengalihkan pembicaraan.
Hal itu membuat panda tersenyum. Dia sangat suka melihat wajah Evelyn yang tampak malu. "Kamu shopping lah sepuasnya. Uangku tidak akan pernah habis, jika kamu mau aku juga bisa membeli pusat perbelanjaan itu dalam hitungan jam."
"Hem, bullshiit!"
Vander melanjutkan perjalanan lagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. "Sepertinya aku tidak akan melepaskanmu, Evelyn. Apapun yang terjadi aku akan mencoba untuk mendapatkan hatimu. Selamat kamu berhasil menarik perhatianku," gumam Vander dalam hati.
__ADS_1
Mobil sport itu terus melaju menuju ke pusat perbelanjaan. Vander yang sedang berbunga-bunga, dengan sekejap bisa melupakan tugas berat dari sang kakak. Berbeda dengan Evelyn, dia masih memikirkan kekesalan kakaknya. Sudah menjadi sifat Evelyn sejak kecil, keras kepala dan susah diatur.