
Setelah perjalanan panjang yang sangat melelahkan, helikopter yang dinaiki Evelyn sampai juga di rumah sakit San Fransisco. Semua orang turun dari helikopter dan di bawah sudah ada para perawat yang menunggu.
Evelyn berjalan menunduk menuruni anak tangga. Lalu, saat melihat ke arah depan Evelyn langsung terkejut melihat seseorang yang telah menunggunya. Dia melihat sang Kakak tengah berdiri tegap menatap tajam ke arahnya.
"Kakak," ucap Evelyn. Dia berjalan menghampiri Excel.
Evelyn tersenyum canggung, lalu menyapa Kakaknya, "Kakak, bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu."
Excel terus menatap Evelyn dengan wajah datar. Evelyn pun langsung tahu kesalahannya. Dia segera meminta maaf pada sang kakak.
"Oke, aku bersalah. Aku minta maaf sama Kakak, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sudah ... Puas 'kan?" seru Evelyn kesal.
Setelah itu ada salah satu suster menghampiri Evelyn. "Nona, mari ikut kami untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucap suster itu.
Evelyn mengangguk dan segera menggandeng tangan sang kakak. "Ayo, temani aku periksa Kakak. Tidakkah kamu khawatir dengan adikmu yang manis ini," ucap Evelyn manja.
Excel hanya bisa menahan emosi. Meski dia ingin sekali marah, tetapi tidak bisa karena Excel begitu menyayangi adiknya. Akhirnya, Excel tetap mengiringi adiknya berjalan menuju ke tempat pemeriksaan.
Sesampainya di ruang rawat, Evelyn segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangan dan kakinya penuh dengan luka lecet disertai lebam. Tak lama kemudian, masuklah seorang dokter dan juga CEO Lucas Group.
"Halo, Prof," sapa sang CEO.
"Halo selamat siang, Tuan," balas Excel, tidak bersemangat.
Sang CEO berjalan menghampiri Evelyn yang tengah diperiksa oleh dokter. "Hai, cantik! Apakah kamu yang menjadi malaikat penyelamat adikku?" tanya CEO itu.
Evelyn mengangguk pelan, dia sedikit terpesona dengan kewibawaan kakak Vander.
"Terima kasih telah mengorbankan nyawamu untuk adik bodohku itu," ucap sang CEO.
Evelyn menjawabnya santai, "Ya anda benar sekali. Vander itu memang sangat bodoh."
Excel mendelikkan matanya mendengar perkataan Evelyn. Dia tidak menyangka kalau sang adik akan seberani itu.
__ADS_1
"Bagiamana keadaannya, tidak parah 'kan luka yang ada di kepalanya?" tanya Evelyn.
"Dokter sedang memeriksanya, dan hasilnya belum keluar. Kamu istirahatlah dulu, jangan terburu-buru pulang. Aku izinkan kamu pulang jika sudah sembuh total. Mengerti?" jawab sang CEO.
Evelyn mengangguk dan tersenyum tipis. Dia kembali menoleh kakaknya yang diam seribu bahasa. Tentu saja sikap yang seperti itu membuat Evelyn sangat takut.
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu Prof. Bantu saya menjaga adikmu, jika membutuhkan apapun, bilang saja dengan asisten."
"Baik, Tuan. Terima kasih," jawab Excel.
"No, jangan mengucapkan terima. Saya telah membuat adik anda terluka. Jadi saya lah yang seharusnya minta maaf,"ucap sang CEO itu dengan sungkan.
Excel membungkukkan badan, tanda dia menghargai ucapan klien bisnisnya itu. Kemudian, sang CEO pun pergi meninggalkan ruang rawat Evelyn.
"Luka sudah dibersihkan semua. Nona hanya perlu istirahat dan jangan beraktivitas berat dulu agar tangan Nona cepat pulih," ucap sang dokter.
"Baik, terima kasih dokter!" balas Evelyn. Setelah itu, dokter pergi keluar dari ruangan Evelyn.
Excel masih terus diam, tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan. Evelyn pun semakin gemas dengan sikap kakaknya itu. Dia protes dengan sikap manjanya.
Excel menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. "Kamu tahu kenapa aku diam, Evelyn?"
Evelyn menggeleng dengan bibir mengerucut. Dia tidak berani menatap mata sang kakak.
"Luka di tubuhmu mengingatkan kejadian penculikan kita di masa kecil. Kamu berjuang menyelamatkan Kakak, dengan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri. Lalu, kejadian itu juga yang membuat Mommy meninggalkan kita, Evelyn. Apakah kamu tidak ingat?" Excel berkata dengan mata berkaca-kaca.
Evelyn tersentak mendengar curahan hati sang kakak. Memang selama ini Excel tersiksa dengan kepergian sang Ibu. Dia belum bisa menerima kenyataan yang ada.
"Kakak, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan bersedih, Kak. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Promise!" ujar Evelyn mencoba menyakinkan Kakaknya.
"Baiklah, kali ini Kakak pegang janjimu. Sekarang telepon Daddy, beritahukan keadaanmu padanya."
Excel memberikan handphonenya kepada sang adik untuk menghubungi ayahnya. Evelyn menerima handphone itu dan ada sedikit keraguan untuk menghubungi ayahnya.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu takut berbicara dengan Daddy? Apa kamu tahu kalau sudah membuat semua orang khawatir, Evelyn? Please, buang sikap keras kepalamu itu," ucap Excel dengan nada tinggi.
Evelyn semakin terpojok dengan ucapan sang kakak. Dia diam sembari menatap handphone yang digenggamnya itu.
"Cepatlah, hubungi Daddy. Dia sangat mengkhawatirkanmu."
Evelyn mencari kontak nomor sang ayah. Setelah itu dia menekan tanda panggilan itu. Tak lama kemudian, telepon itu terhubung.
[Halo, Excel. Bagaimana? Kamu sudah menemukan adikmu?] tanya sang ayah dari Italia.
"Daddy, ini aku!" jawab Evelyn sangat pelan.
Excel mengembuskan napas kasar mendengar ucapan Evelyn. Dia masih merasa kesal. Kemudian, Excel keluar dari ruangan itu.
[Evelyn, apa kamu sudah tidak menyayangi Daddy lagi? Apa kamu ingin meninggalkan Daddy seperti Mommy mu? Apa kamu tahu betapa khawatirnya Daddy, saat mengetahui kamu kabur dari rumah? Daddy hampir bertengkar dengan Grandma, Evelyn.]
"No, Dad. Aku sayang Daddy. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Daddy bisa pegang janjiku, maafkan aku, Dad! Please, Daddy jangan bersedih lagi," ucap Evelyn memohon. Dia menyesal telah berbohong.
[Sekarang pulanglah! Daddy sangat merindukanmu.]
"Aku pulang nanti, Dad. Aku akan tinggal bersama Kak Excel untuk sementara waktu. Boleh 'kan, Daddy!"
[Baiklah, Daddy tenang jika kamu bersama Excel. Kalau begitu istirahatlah, Daddy tutup dulu teleponnya.]
"Bye, Daddy. Love you!" Setelah itu panggilan telepon selesai. Evelyn merasa lega, karena sang ayah selalu pengertian dengannya.
Melihat percakapan sang adik selesai, Excel langsung masuk ke dalam. Dia mengambil kembali handphonenya di atas meja.
"Apa Daddy marah padamu?" tanya Excel.
Evelyn tersenyum lebar. "No, Daddy tidak bisa marah padaku. Kakak tahu 'kan kalau adikmu ini adalah putri kesayangan Daddy dan adik manis kesayangan kakak jelek," ucap Evelyn menggoda sang kakak.
Excel langsung pergi melihat kepercayaan diri Evelyn. Dia merasa aneh ketika sang adik mulai memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hei, dasar patung es! Sekali-kali tersenyum lah untukku, Kak. Kakak, berhenti! Jangan tinggalkan aku! Tidakkah kakak merindukan aku yang cantik ini. Kakak, come back!" teriak Evelyn sangat kesal.