
Keesokan Harinya.
Excel bangun pagi sekali. Dia segera menyiapkan sarapan pagi untuk kedua gadis yang sekarang berada di apartemennya. Excel berada di dapur membuat spaghetti kesukaan adiknya.
Di saat yang sama, Alexa juga sudah bangun. Dia langsung menuju ke dapur karena mendengar suara orang memasak. "Kak El, kamu sedang apa?" tanya Alexa.
Excel sedikit terkejut. "Aku sedang membuat sarapan untukmu dan juga Evelyn," jawab Excel.
Alexa mendekat dan melihat masakan Excel. "Kakak bisa membuat spaghetti ini? Sepertinya sangat enak," ucap Alexa dengan mencium aroma masakan Excel.
"Ya ini sangat mudah, karena aku sudah terbiasa membuatkan untuk adikku," jelas Excel.
"Bersiaplah, aku akan menyiapkannya di meja," sambung Excel.
Alexa menurut dan duduk di meja makan. Setelah itu, Excel menyiapkan semuanya di meja. Dia begitu sabar dan telaten sekali. Alexa memerhatikan pria yang ada di depannya itu dengan pandangan penuh kasih. Dia terpesona sesaat dengan ketampanan Excel. Tiba-tiba lamunan Alexa buyar ketika suara Evelyn menggema dari lantai atas.
"Kakak, perutku lapar," seru Evelyn manja. Dia berjalan sempoyongan menuruni tangga.
"Cepat turunlah! Aku sudah membuatkan spaghetti untukmu," ucap Excel.
Evelyn turun dan sampai di meja makan. Dia duduk dan segera meminum susu yang ada di gelas. "Kakak, apa kamu akan pergi mengajar hari ini?"
"Iya, aku akan pergi mengajar hari ini. Kamu di rumah dengan Alexa, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," jawab Excel.
Evelyn melirik ke arah Alexa yang sedari tadi diam. Sepertinya dia sedikit takut dengannya. Lalu, Evelyn mencoba menanyainya untuk mencairkan suasana.
"Apa kamu sudah lama tinggal bersama kakakku?" tanya Evelyn dengan memutar-mutar garpunya.
"Hem, baru beberapa minggu aku tinggal di sini, Kak," jawab Alexa gugup.
__ADS_1
Evelyn memakan spaghettinya dengan sikap cueknya. "Panggil saja namaku Evelyn, agar terlihat lebih akrab," sahut Evelyn.
Melihat Evelyn yang terlihat acuh membuat Excel langsung menegurnya. "Tidak bisakah kamu bersikap ramah pada Alexa? Dia akan takut kalau kamu bersikap seperti itu."
"Kakak, come on! Bukannya aku tidak bersikap ramah, akan tetapi kepalaku masih sakit," balas Evelyn.
Excel mengalihkan pandangannya kepada Alexa. "Kamu tenang saja tidak usah takut dengannya. Adikku sangat baik, nanti kamu akan betah bila dengannya," jelas Excel. "Hari ini kamu beristirahatlah dulu. Masuk kuliah besok saja," sambungnya.
Alexa mengangguk paham, setelah itu dia melanjutkan sarapannya kembali. Selesai sarapan, Excel langsung bersiap untuk berangkat ke kampus. "Alexa, aku minta tolong bereskan piring dan juga peralatannya dapur ya. Aku sudah terburu-buru soalnya," ucap Excel.
"Iya, Kak. Aku akan membereskan semua ini," jawab Alexa.
"Oke, terima kasih. Kalau begitu aku berangkat dulu, bye!"
"Bye."
Di saat yang sama, Evelyn keluar dari kamarnya dengan rambut setengah basah. Dia mendengar suara bel pintu berbunyi. Evelyn melihat ke monitor untuk mengecek siapa yang datang.
"Wanita? Siapa dia?" gumam Evelyn. Akhirnya dia membuka pintu tersebut untuk mengetahui siapa wanita tersebut.
"Halo? Cari siapa?" sapa Evelyn.
Wanita itu terkejut melihat Evelyn yang berada dalam rumah Excel. Dia adalah Renata, sudah beberapa hari dia tidak bisa menghubungi Excel. Jadi, Renata nekat mendatangi apartemen Excel.
"Kamu yang siapa? Kenapa bisa ada di dalam apartemen kekasiku? Dimana Eldric, aku ingin bertemu dengannya? Cepat, panggikan dia untukku!" ucap Renata dengan sangat angkuh.
Tentu saja hal itu membuat, Evelyn kesal. Lalu muncul ide jail dalam kepalanya. "Apa aku tidak salah dengar? Kau bertanya aku siapa? Seharusnya kamu tahu, aku adalah tunangan pemilik apartemen ini. Jadi tidak mungkin kamu adalah kekasih dari tunanganku. Lebih baik kamu pergi dari sini karena aku tidak ada waktu meladenimu."
Evelyn langsung menutup pintu tanpa mendengarkan lagi ucapan Renata. Di luar, Renata kesal bukan main. Dia semakin emosi karena sikap jail Evelyn. Setelah itu dia memutuskan pergi dan ingin menyusul Excel ke kampus.
__ADS_1
"Aku harus pergi ke kampus mungkin dia sedang ada di sana," gumam Renata.
Di dalam Evelyn sedang berpikir. Dia bingung dengan sikap kakaknya yang di luar dugaan. "Kira-kira apa yang dilakukan kakak? Kalau wanita itu adalah kekasihnya, lalu siapa Alexa? Tidak mungkin Kak Excel membiarkan orang asing tinggal di tempatnya kalau dia tidak menyukainya. Kalaupun Kak Excel menyukai Alexa, lalu siapa wanita tadi? Wanita tadi sangat menyebalkan, awas saja kalau memang benar wanita itu adalah kekasihnya. Aku tidak akan merestui hubungan kalian," gumam Evelyn dengan terus berpikir.
Dari lantai atas, Alexa melihat Evelyn yang tengah berpikir. "Kamu sedang apa, Evelyn?" tanya Alexa penasaran. Dia turun menghampiri Evelyn yang duduk di kursi.
"Kamu sudah berapa lama kenal Kakakku?" tanya Evelyn.
"Sudah hampir sebulan, kenapa?"
"Apa kamu adalah kekasih Kakakku?" Evelyn bertanya semakin serius.
Pertanyaan itu membuat Alexa terkejut. "Tidak, itu tidak benar. Aku adalah mahasiswi di kelas Kak El. Aku tinggal di sini karena ada beberapa kejadian buruk menimpaku. Itu saja!" jelas Alexa.
"Kak El, kenapa Alexa memanggil kakak dengan nama El? Aku semakin penasaran ada apa dengan semua ini?" gumam Evelyn dalam hati.
"Oh ya, apa kamu pernah lihat kakaku sedang bersama seorang wanita?" sambung Evelyn.
Alexa menjawab, "Ada satu wanita yang selalu menempel pada Kak El. Mungkin wanita itu adalah kekasihnya," jawab Alexa.
Evelyn mengangguk-angguk. "Nanti malam aku akan menginterogasinya. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku," ucap Evelyn dalam hati.
"Alexa terima kasih atas informasinya. Aku ke kamar dulu, kalau membutuhkan bantuan cari saja aku."
Alexa tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Evelyn masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Di meja makan, Alexa masih berpikir tentang semua pertanyaan yang diajukan oleh Evelyn.
"Apa ada masalah? Sehingga membuat dia bertanya seperti itu. Aku hanya takut kalau salah jawab saja," ucap Alexa pelan.
"Mereka saudara kembar, tapi masing-masing mempunyai aura tersendiri. Aura mereka sangat kuat, sehingga aku merasa gugup setiap kali diajak berbicara. Kenapa aku se-grogi ini?" Alexa terus bergumam dalam hatinya. Dia hanya takut kalau salah bicara.
__ADS_1