PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 32


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke rumah, Evelyn terus menekan dahinya yang sedikit benjol. Vander memperhatikan itu dan berkata,"Sesampainya di rumah nanti kamu harus mengompres dahimu agar tidak membekas."


"Sudah, aku tekan-tekan nanti juga membaik kok," sahut Evelyn santai. "ternyata kamu juga anak Daddy, ya! Sama sepertiku."


Vander menoleh dan tersenyum tipis. "Tebakanmu salah, aku bukan anak manja sepertimu. Daddy mencariku karena dia tidak ingin aku mengikuti jejak kakak. Tapi aku tidak peduli karena menyukai kebebasan. Aku tidak suka dikekang dan diatur," jelas Vander.


"Kamu tidak suka diatur, bahkan orang tuamu saja tidak kamu pedulikan. Bagaimana nanti jika ada seseorang yang akan bersamamu? Apa kamu juga tidak akan mempedulikannya?" balas Evelyn tanpa melihat Vander.


Mendengar ucapan itu membuat Vander langsung menghentikan mobilnya. Hingga membuat Evelyn terkejut. "Hei, apa kamu ingin membuatku mati?" teriak Evelyn kesal karena kepalanya hampir terbentur dasbor mobil.


Vander langsung mendekatkan tubuhnya ke Evelyn yang terlihat marah. "Apa maksud dari ucapanmu? Apa kamu sudah mengakuiku sebagai kekasihmu?" tanya Vander semangat.


Evelyn membulatkan matanya, dia tersadar dan langsung mengingat apa yang telah diucapkannya tadi. "Memang apa yang aku ucapkan tadi? Aku bahkan tidak ingat," jawab Evelyn mengalihkan pembicaraan.


Vander semakin melebarkan senyumannya. "Tidak apa-apa jika kamu lupa, yang penting aku susah tahu maknanya. Terima kasih atas jawabannya, " ucap Vander percaya diri.


Evelyn semakin salah tingkah melihat Vander yang tersenyum manis padanya. "Minggir, siapa juga yang memberimu jawaban. Cepatlah menyetir! Aku ingin cepat sampai rumah," seru Evelyn, dia mendorong lengan Vander agar menyingkir.


"Oke my queen, aku akan mengantarmu pulang ke rumah dengan selamat, "sahut Vander, dia mulai menjalankan mobilnya lagi.


Sepanjang perjalanan wajah Vander full senyum. Sesekali dia melirik ke arah Evelyn yang terus menoleh ke luar jendela.


Setengah jam kemudian, mobil Vander sampai di apartemen. Vander keluar dan membukakan pintu untuk Evelyn. "Selamat malam, Baby. Aku tidak ikut ke atas, selamat istirahat ya," ucap Vander dengan hati yang senang.


Evelyn keluar dengan malas, dia benar-benar dibuat salah tingkah dengan sikap Vander yang berubah menjadi manis.


"Kamu hati-hati di jalan," ucap Evelyn sebelum masuk ke dalam.


Vander tersenyum lebar. "Baiklah, besok kita ketemu lagi. Aku akan menjemputmu," balas Vander.


Evelyn tak menjawab, dia langsung masuk ke apartemennya. Setelah itu, Vander memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat.

__ADS_1


Sesampainya di atas, Evelyn langsung masuk ke dalam rumah. Dia melihat Alexa yang sedang duduk menunggu di ruang tv.


"Alexa, kamu belum tidur?" tanya Evelyn.


Alexa menjawab, "Aku sedang menunggumu pulang."


"Menungguku? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Evelyn.


"Ya, kamu duduklah di sini." Alexa meminta pada Evelyn.


Evelyn pun duduk di kursi untuk mendengarkan sesuatu yang akan disampaikan oleh Alexa.


"Begini, besok aku ingin kembali ke rumah. Aku sudah izin pada kak Excel. Terima kasih sudah baik padaku, " ujar Alexa.


Evelyn tersenyum. "Sama-sama, aku senang kamu ada di rumah ini. Kapan-kapan aku juga ingin berkunjung ke rumahmu. Boleh 'kan?" tanya Evelyn.


Alexa mengangguk senang. "Tentu saja boleh, aku akan menunggumu dengan kak Excel ya," sahutnya.


"Ya mungkin agak lama, Mom ku sedang sakit. Jadi, aku harus merawatnya sementara waktu," jawab Alexa.


Evelyn mengangguk dan memeluk Alexa. "Kalau kau butuh bantuan telepon saja aku atau kakak. Pasti kami akan datang membantu, " ucap Evelyn.


"Terima kasih atas kebaikan kalian," balas Alexa, dia sangat terharu. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.


Keesokan harinya.


Semua orang sudah berada di meja makan untuk sarapan. Excel dan Alexa sedang makan dengan santai. Sedangkan Evelyn masih menguap di tempatnya.


"Evelyn, cepat sarapan atau tidak cepatlah mandi. Apa tidak sadar kalau wajahmu itu sangat jelek sekali, " seru Excel menegur adiknya.


"Ck, malas sekali bangun pagi-pagi, Kak!" desah Evelyn. Sejak kecil dia memang tidak terbiasa bangun pagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian bel pintu pun berbunyi. Alexa berdiri untuk melihat siapa yang datang. Setelah pintu terbuka, terlihat Vander berdiri dengan membawa sarapan pagi.


"Selamat pagi, apa boleh masuk?" tanya Vander pada Alexa yang terbengong.


Alexa mengangguk. "Iya boleh, silakan masuk. Kebetulan kami sedang sarapan pagi," jawabnya ramah.


Tanpa basa basi, Vander langsung masuk ke dalam. Dia tersenyum lebar karena hatinya sangat senang bisa bertemu lagi dengan Evelyn.


"Halo semua, selamat pagi!" seru Vander.


Axcel hanya menatap saja tanpa membalas sapaan itu. Vander meletakkan makanannya di meja. Setelah itu, dia menghampiri Evelyn yang sedang tidur di meja makan.


Vander mengecup pipi kanan Evelyn dengan penuh percaya diri. "Morning Baby, bangunlah aku membawakan sarapan untukmu," bisik Vander pelan.


Excel hanya melihat saja, sepertinya dia sudah merestui hubungan Vander dengan sang adik.


Evelyn menggeliat di tempat duduknya. Lalu, saat membuka mata, Evelyn berteriak kaget, "Vander sejak kapan kamu ada di sini?"


Vander tersenyum senang. "Baru saja, ada apa dengan wajahmu? Apakah boleh seorang gadis sangat kucel di pagi hari?" ucap Vander menyindir.


"Kak, kenapa membiarkan si brengsek ini masuk?" protes Evelyn kesal.


Excel meminum tehnya dengan tenang. "Kenapa? Kamu sepertinya juga terlihat sangat senang sekali, " sahut Excel santai.


"Apa? Kalian berdua menyebalkan sekali," seru Evelyn kesal. Dia turun dari tempat duduknya kemudian berlari masuk ke dalam kamar.


"Sayang, kamu cepat mandi ya. Setelah ini aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan, " seru Vander pada Evelyn.


"Jangan harap bisa mengajakku ke luar hari ini," sahut Evelyn semakin kesal


"Kalau kamu lama, jangan salahkan aku jika menerobos masuk ke dalam kamarmu." Vander terus menggoda Evelyn.

__ADS_1


Evelyn berteriak sekali lagi, "Cobalah kalau berani! Pada saat itu juga aku akan menendangmu ke luar."


__ADS_2