PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs PB 23


__ADS_3

Setengah jam berjalan, Alexa masih was-was di dalam kamar hotel tersebut. Dia berjalan mondar-mandir sama sekali tidak tenang. Lalu, pintu kamar terbuka. Ada seorang pria masuk ke dalam, ia berjalan pelan-pelan menuju ke arah Alexa.


Alexa yang gugup pun berjalan mundur. Dia belum melihat wajah pria yang sedang mendekat itu. "Halo Baby, apakah kamu sudah menungguku lama? Apa kamu yang menelepon para polisi tadi? Aku peringatkan jangan pernah macam-macam di sini. Kalau tidak, kamu bisa mati," ucap pria itu, ia mengancam Alexa agar lebih menurut.


"Kamu jangan mendekat." Alexa terus mundur hingga dirinya sampai di pinggir tembok.


Pria itu tersenyum melihat Alexa yang ketakutan. Ia sangat menyukai gadis yang ada di depannya itu. "Kemarilah, Baby! Aku tidak akan menyakitimu, jika menurut," ucap pria itu.


"Aku tidak akan menuruti perkataanmu. Aku ingin keluar dari sini." Alexa berteriak ketika pria itu semakin mendekat.


"Aku akan mengeluarkanmu, setelah kamu bisa membuatku senang," sahut pria itu.


Pria itu langsung menarik paksa tangan Alexa dan menghempaskannya di atas ranjang dengan kasar. Pria itu langsung mengunci kedua tangan Alexa hingga tidak bisa bergerak.


"Lepaskan aku! Jangan berani macam-macam karena kekasihku akan segera ke sini," teriak Alexa pada pria itu.


"Hahaha, kekasih? Apa maksudmu adalah polisi yang tadi ke sini? Dia sudah aku usir, dan kamu tidak akan bisa lepas dariku," balas pria itu angkuh.


Pria itu mulai memaksa, ia mencium paksa bibir dan juga leher Alexa. Ia juga ingin membuka dress yang dikenakan oleh gadis itu. "Hei, diam dan menurut lah, aku sudah membayar mahal untuk malam ini. Tugasmu hanya melayaniku, setelah itu kamu boleh pergi," seru pria itu dengan nada emosi.


"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Tolong ... Tolong ... Tolong ...."


"Teriak lah sepuasmu, karena tidak akan ada orang yang mendengarnya," seru pria itu dengan penuh napsu.


Alexa terus bergerak menghindari cumb uan pria yang terus memaksanya itu. Sekuat tenaga Alexa terus memberontak hingga akhirnya dia bisa menendang alat vital pria itu dengan kakinya.


Pria itu mengerang kesakitan dan terjungkal ke belakang. Alexa segera bangkit dan mencari sesuatu untuk melindungi diri.


"Beraninya kamu melawanku gadis sialan! Aku tidak akan berbuat lembut padamu." Pria itu bangkit dan kembali menghampiri Alexa.


Dia menarik paksa gadis itu, akan tetapi Alexa bertahan dia tidak mau jalan. Sehingga pria itu kehilangan kesabaran dan mengangkat tubuh ramping Alexa lalu membantingnya lagi di atas ranjang.


Pria itu masih tetap berusaha untuk melumpuhkan Alexa. "Aku tidak akan mengampuni mu kali ini. Diam dan rasakan kehangatan ini, gadis sialan!"

__ADS_1


Disaat pria itu mulai melucuti pakaian Alexa. Datanglah, Excel mendobrak pintu dengan keras. "ALEXA."


Excel melihat Alexa yang sedang berada di bawah tubuh pria itu.


"Kak El, tolong aku," teriak Alexa.


Excel langsung bergerak menghampiri pria itu ke ranjang dan menariknya ke lantai. "Brengsek apa yang kamu lakukan, bodoh!" teriak Excel. Dia menghajar pria itu dengan memukuli dan juga menendangnya.


"Jangan pernah letakkan tanganmu di tubuhnya," teriak Excel.


Tak lama kemudian datanglah polisi ke kamar itu. Excel langsung berdiri dan membuka jaketnya lalu diberikan kepada Alexa. "Ayo kita pergi dari sini," ucap Excel mengajak Alexa.


"Kamu tidak apa-apa?"


Alexa hanya menggeleng, dia masih takut dan enggan berbicara. Setelah itu, mereka keluar bersama menuju ke mobil. Sesampainya di luar, Excel mencari keberadaan Evelyn. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari adiknya.


"Evelyn," panggil Excel.


Panggilan itu masih belum dijawab oleh sang adik. Excel mencari ke tempat lain. Lalu dia melihat Evelyn sedang memuntahkan isi perutnya di atas tanah.


"Huweek! Apa kamu bodoh? Kamu mengendarai mobil seperti kerasukan, membuatku mual! Huweek! Oh, astaga! Kepalaku berputar-putar," ucap Evelyn dengan terus memuntahkan isi perutnya.


Excel menghela nafas dalam, dia ingin tertawa melihat ekspresi Evelyn. "Oke maafkan, Kakak. Ayo aku bantu berjalan," ucap Excel, dia memapah Evelyn menuju ke mobil.


Sesampainya di sana Alexa melihat Excel sedang memapah seseorang. Dalam hati dia bertanya-tanya siapakah gadis itu. Evelyn pun tahu saat dipandang oleh Alexa. Lalu, dia menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Hai, namaku Evelyn tenang saja aku adalah adiknya pria itu," ucap Evelyn.


Alexa menundukkan kepalanya, dia malu karena telah berpikir macam-macam. Setelah itu mereka semua masuk ke dalam mobil.


"Aku di belakang saja perutku masih mual sekali. Serasa ingin muntah," seru Evelyn, kemudian dia duduk di kursi belakang.


"Kamu tahu berapa dia memacu kecepatan mobilnya tadi? Sangat cepat sampai aku tidak berani memandang ke depan. Sangat gila!" gerutu Evelyn, dia masih kesal karena sang kakak.

__ADS_1


"Ok, Kakak minta maaf karena sangat darurat sekali. Nanti kamu boleh istirahat sesampainya di rumah, "sahut Excel.


"Cih, apa kamu pikir dengan istirahat bisa menghilangkan rasa mua ... Huwek! Oh, sial sekali! Perutku!" Evelyn terus merasakan tidak enak dalam perut dan juga kepalanya.


Alexa merasa tidak enak, merasa sudah terlalu merepotkan. Dia hanya diam karena sekujur tubuhnya mulai terasa sakit. Mobil berjalan menuju ke apartemen. Excel juga sudah mengamankan orang yang hampir memperkosa Alexa.


Kurang dari setengah jam, Excel sampai juga di apartemennya. Evelyn tidak mampu berjalan, sehingga Excel harus menggendongnya.


"Alexa kamu masuk dulu, aku harus menggendong Evelyn. Dia sulit dibangunkan kalau sudah tidur," perintah Excel.


Alexa mengangguk lalu dia masuk ke dalam untuk membukakan pintu. Excel langsung masuk ke dalam dengan Evelyn yang sudah tertidur. Setibanya di dalam, Excel langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia meletakkan Evelyn di ranjangnya.


Setelah itu dia keluar dan segera mengambil kotak obat untuk mengobati memar di wajah Alexa.


"Alexa, kamu dimana?" panggil Excel.


"Iya, Kak." Alexa keluar dari kamarnya.


Excel menuju ke ruang tamu. "Alexa sini!" ucapnya.


Alexa berjalan menuju ke ruang tamu, lalu dia duduk dihadapan Excel. Jantungnya berdegup kencang melihat Excel yang perhatian kepadanya.


"Apa kakakmu berbuat ulah lagi?" Excel bertanya pada Alexa.


Tangan Excel mengompres luka lebam di wajah dan juga bibir Alexa. Dia mengelapnya dengan lembut.


"Maaf sudah merepotkan Kak El," ucap Alexa, dia merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, aku paling benci dengan pria yang memaksakan napsunya pada seorang wanita. Jiwa membunuhku seketika bangkit," jawab Excel. Dia terus mengompres dengan penuh kesabaran.


Selesai mengompres, Excel segera memberi obat merah lalu meminta Alexa untuk segera membersihkan tubuhnya.


"Mandilah, setelah itu istirahat," ucap Excel.

__ADS_1


Alexa berdiri. "Terima kasih Kak atas bantuannya," ucap Alexa, kemudian dia naik ke atas menuju ke kamarnya.


__ADS_2