
Pria itu berdansa dengan memeluk pinggang Evelyn. Semakin lama tangan itu semakin agresif. Ia menarik tubuh ramping itu hingga mepet ke tubuhnya. "Kamu sangat canti sekali, bolehkah aku tahu dimana rumahmu?" tanya pria itu.
Evelyn tersenyum dan menjawab,"Memangnya, Tuan mau apa?"
"Ingin menjadikanmu sebagai sugar baby-ku," jawab pria itu.
Evelyn merasa sangat risih sekali. Dia harus mempercepat aksinya agar bisa terlepas dari orang itu.
"Tuan, aku merasa tidak pantas bersanding denganmu," ucap Evelyn dengan meraba jas milik pria itu.
Dia menatap dalam wajah pria itu untuk mengalihkan topik, kemudian tangan Evelyn merayap perlahan menuju ke saku jas. Setelah sampai, Evelyn langsung memasukkan chipset GPS itu ke dalam sana.
Evelyn tersenyum lebar saat berhasil memasukkan chipset itu ke dalam saku. Akan tetapi, senyuman Evelyn membuat pria itu gemas. Ia meraih dagu Evelyn untuk diciumnya dan tiba-tiba seluruh ruangan itu menjadi gelap.
Kesempatan itu digunakan oleh Evelyn untuk kabur. Baru maju selangkah tangannya sudah di tarik oleh seseorang. Evelyn ingin menarik balik tangannya. Namun, genggaman itu sangatlah kuat.
Akhirnya dia sampai di sebuah ruangan. Lalu semua ruangan terlihat terang. "Lepaskan tanganku," seru Evelyn, dia belum tahu siapa orang yang menarik tangannya.
"Hei, apakah kamu sangat ingin dipeluk oleh orang itu?" Vander membuka suaranya.
"Jaga ucapanmu! Aku merasa jijik dengan tatapannya. Ingin sekali aku memukul wajahnya," seru Evelyn kesal.
Vander berjaga-jaga di ruangan itu dengan raut wajah yang serius. Dia masih kesal dengan pria tadi yang seenaknya memegang tubuh Evelyn.
"Lalu, apa yang kita lakukan sekarang? Kenapa kita sembunyi di sini?" tanya Evelyn polos.
__ADS_1
Merasa sesak, Vander langsung berdiri dan menghimpit tubuh Evelyn ke tembok.
"A-apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku!" teriak Evelyn, dia merasa gugup sekali ditatap intens oleh Vander.
"Stop berbicara karena kamu sangat cerewet sekali malam ini. Aku dalam mode kesal jadi jangan membuatku tambah kesal," ucap Vander. Setelah itu dia melepaskan tangan Evelyn.
Sikap Vander yang aneh membuat Evelyn bertanya-tanya, "ada apa dengannya? Kenapa sikapnya berubah 180°? Jangan-jangan dia cemburu."
Evelyn masih dalam lamunannya. Namun, tiba-tiba saja pintu ruangan itu di dobrak oleh seseorang. Evelyn terkejut dan Vander langsung memasang badan.
"Evelyn cepat pergi dari sini, tunggu aku di lobi. Cepat, tidak ada waktu lagi," teriak Vander dengan sangat keras.
"Ta-tapi bagaimana denganmu?" sahut Evelyn.
Vander mulai berkelahi dengan musuhnya. Dia tidak sempat menjawab ucapan Evelyn. Melihat itu, Evelyn langsung pergi mengikuti arahan Vander.
"Mau pergi kemana kamu? Berhenti dan menyerahkan, jika masih ingin hidup," seru orang itu. Dari tampilannya menunjukkan kalau ia salah satu bodyguard dari rombongan tadi.
"Cih, menyerah pada kalian. Janganlah bermimpi!" ucap Evelyn. Dia mulai menyerang bodyguard itu dengan kekuatannya.
Evelyn melancarkan pukulan kepada mereka. Dia menggunakan kaki dan tangannya untuk menyerang secara brutal. Dalam sekali tendangan, wajah para bodyguard itu terkena high heels yang dipakai Evelyn.
"Rasakan itu bodoh!" Evelyn langsung kabur ketika lawannya terjatuh, dia berlari dengan melepas high heelsnya.
Tak lama kemudian, terlihat Vander keluar dari ruangan tadi. Dia berlari dengan cepat untuk mengejar Evelyn. Kini mereka berdua telah sampai di parkiran, dengan gerak cepat Vander dan Evelyn masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Evelyn langsung menghidupkan mobil itu dan segera meninggalkan pesta yang sudah kacau balau itu.
"Malam ini pasti akan menjadi tranding topik berita esok hari," seru Vander, dia mengeluarkan senjata apinya untuk berjaga-jaga.
"Evelyn kamu fokus menyetir! Sepertinya kita sedang dikejar dari belakang," ucap Vander dengan tatapan penuh waspada.
"Kamu harus membayar mahal atas aksiku ini, karena aku sedang bertaruh nyawa bersamamu," seru Evelyn dengan pandangan fokus ke depan.
Vander tidak menanggapi ucapan Evelyn dia fokus menyerang mobil yang ada di belakangnya. "Tetap fokus karena aku akan mencoba untuk menembakinya."
Baku tembak pun terjadi, Vander mengeluarkan setengah badannya dan dengan berani dia menembak ke arah musuh tanpa memikirkan dirinya tertembak.
Terdengar suara tembakan saling bersahutan. Evelyn hanya bisa memfokuskan pandangan di depan jalanan sangat sepi itu. Kebetulan jalan yang dilalui Evelyn adalah kawasan hutan belantara, dengan sisi kanan kiri jurang yang cukup dalam.
"Vander kamu jangan ambil resiko dengan mengeluarkan setengah badanmu. Itu sangat berbahaya," teriak Evelyn, dia sangat khawatir dengan posisi Vander.
"Jalan di depan semakin gelap, aku mulai tidak fokus karena melihat aksimu yang sangat membahayakan itu." Evelyn terus bicara, akan tetapi tidak dihiraukan oleh Vander. Hingga pada akhirnya mobil Evelyn oleng dan kehilangan keseimbangan karena ban belakang tertembak oleh musuh.
Evelyn langsung membanting stir ke arah kanan dan mobil pun terjun bebas ke dasar jurang. Vander dan Evelyn berteriak keras. Mereka tidak bisa melarikan diri karena laju mobil yang sangat cepat.
"Vander kita akan menabrak batu besar di depan. Mobil ini pasti akan meledak. Ayo kita melompat saja, kalau tidak kita bisa mati ketika mobil ini berhenti," ucap Evelyn dengan begitu panik.
"Baiklah, dalam hitungan ketiga kita melompat keluar. One, two, three, Go!"
Vander dan Evelyn melompat keluar secara bersamaan. Kemudian mobil yang melaju tanpa kendali itu langsung menabrak sebuah batu dan langsung meledak.
__ADS_1
Evelyn berguling-guling di atas tanah dan Vander terlihat pingsan karena kepalanya terbentur sebuah batu besar. Evelyn berhenti ketika tubuhnya menghantam sebuah pohon besar.
"Ahhh." Evelyn melindungi kepalanya agar tetap aman. Sehingga membuat tangannya terluka. Akhirnya Vander dan Evelyn tergeletak di tanah dalam keadaan pingsan satu sama lain.