
Menjelang malam, Vander keluar dari hotel. Sepulang dari pertemuan dengan Excel dia langsung mencari penginapan. Kini dia sampai di mobil yang sudah di persiapkan oleh kakaknya. "Saatnya menjemput My Queen," seru Vander sembari masuk ke dalam mobilnya.
Setelah masuk Vander melajukan mobil menuju ke apartemen Excel. Perjalanan yang di tempuh tidaklah jauh, karena Vander memilih hotel yang dekat dengan tempat tinggal Evelyn.
Dalam 15 menit, Vander telah sampai di bawah apartemen Excel. Dia keluar dan langsung menuju ke atas. Sesampainya di atas, Vander segera menekan bel dan tak lama kemudian pintu terbuka.
"Hai, aku ingin bertemu dengan Evelyn. Apa dia sudah bersiap?" tanya Vander pada Alexa yang sedikit bingung.
"Kamu siapa? Itu, Evelyn ada di dalam," jawab Alexa gugup.
Mendengar ada suara, Evelyn menyahut dari dalam, "Ada siapa, Lexa?"
Vander menampakkan dirinya dan kembali menyapa Evelyn, "Hai Baby, aku datang!"
Evelyn langsung berhenti mengunyah cemilannya. Emosinya terpancing kembali. "Mau apa kamu ke sini? Sana pergi, kamu adalah tamu yang tak diundang," seru Evelyn ketus.
Melihat itu membuat Vander semakin gemas. Dia menerobos masuk ke dalam dan langsung menghampiri Evelyn.
"Hei, aku suka raut wajahmu yang seperti ini, sangat menggemaskan," ucap Vander menggoda.
Alexa tersenyum tipis melihat wajah Evelyn yang kesal. Tentu saja hal itu membuat Evelyn semakin salah tingkah. "Vander, aku mohon kamu segera pergi dari sini. Sebelum aku marah," ucap Evelyn ketus.
Vander mengerucutkan bibirnya. "Aku ke sini ingin menjemputmu untuk dinner. Ayolah! Cepat ganti baju! Aku akan menunggumu di sini," ucap Vander dengan memohon.
Sikap Vander yang manis membuat Evelyn bingung dan heran. "Apa-apaan dia, ada apa dengannya? Kenapa seperti anak kecil seperti itu," gumam Evelyn dalam hati.
"Aku tidak ingin pergi dinner sama kamu. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini. Sana pergi!" Evelyn mendorong pelan punggung Vander.
"Baby, please ayo kita dinner bareng ya. Aku janji minggu depan kita pergi ke Afrika lagi, aku akan menemanimu berpetualang," seru Vander, dia mencoba untuk merayu Evelyn.
Evelyn tersenyum sinis. "Kamu pikir aku akan tertarik. No, aku tidak akan pergi denganmu dan aku sudah tida tertarik lagi untuk pergi ke Afrika," balas Evelyn dengan santainya.
Vander semakin tidak sabar dengan penolakan gadis pujaannya. Dia berdiri dan memandang Evelyn yang ingin pergi meninggalkannya. Lalu, Vander mempunyai sebuah ide.
Dia berjalan cepat dan menggendong Evelyn dari belakang. Evelyn pun terkejut dan berteriak mengumpat Vander yang berani padanya.
"Shiit, Vander! Beraninya kamu memaksaku," seru Evelyn dengan menggerakkan tubuhnya.
Vander tergelak. "Maaf Baby, aku hanya ingin dinner bersamamu saja. Tapi membujuk mu dengan lembut tidak efektif sama sekali. Jadi terpaksa aku menggunakan cara seperti ini. Patuh ya, Sayang!" ucap Vander semakin berani.
__ADS_1
Akhirnya Vander bisa membawa Evelyn keluar dari apartemennya. Alexa hanya bisa tersenyum melihat tingkah keduanya. Dia menutup pintu sembari berkata, "Kelihatannya mereka pasangan yang serasi. Kedua karakter yang berbeda tapi terlihat sangat lucu."
Di Tempat Lain
Di dalam lift, Vander menurunkan Evelyn yang terlihat semakin marah. Dia mencoba untuk menenangkan gadis itu. "Evelyn, please dengarkan aku! Aku hanya ingin dinner sama kamu saja, tapi kenapa kamu bersikap seperti ini? Apa aku terlihat jahat di hatimu?"
Evelyn terdiam dan menatap mata Vander yang mengisyaratkan ketulusan. Setelah itu dia memalingkan wajahnya dan bersikap lebih tenang.
Vander tersenyum lagi karena bisa menenangkan sikap bar-bar Evelyn. "Nah, kalau begini 'kan terlihat manis sekali," seru Vander senang.
Evelyn menarik napas dalam."Baiklah, akan aku turuti kamu malam ini pria bodoh. Bahkan dia tidak mengizinkan aku untuk berganti baju," gerutu Evelyn dalam hati.
Sesampainya di bawah, kedua pasangan itu langsung masuk ke dalam mobil. Evelyn keluar hanya dengan mengenakan celana pendek dan kaos crop top serta sandal berbentuk kelinci.
"Apa kamu tidak malu keluar denganku yang berpenampilan seperti ini?" Evelyn bertanya pada Vander.
"Tentu saja tidak, kamu berpakaian apapun juga terlihat sangat menawan untuk dilihat," balas Vander dengan memuji Evelyn.
"Cih, pujian yang sangat konyol," sahut Evelyn.
Vander tidak menanggapi lagi pertanyaan Evelyn. Dia fokus menyetir karena jalanan cukup ramai. "Kamu ingin makan apa, Baby?" tanya Vander.
"Terserah padamu saja," sahut Evelyn. Dia terlihat sangat santai dan berbeda dengan tadi.
Tak lama kemudian, Vander dan Evelyn sampai juga di restoran tersebut. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. "Boleh juga pilihanmu, kamu tahu sekali seleraku. Baiklah aku akan baik kali ini. Awas saja kalau kamu melakukan kesalahan lagi maka aku tidak akan memaafkanmu."
Vander tersenyum dan berkata, "Tentu saja tidak, kali ini aku akan baik padamu, Baby."
Setelah itu mereka duduk dan segera memesan makanan. Evelyn langsung memesan menu favoritnya. Vander terus memandangi wajah Evelyn yang sedang sibuk memilih makanan. Dia benar-benar terpesona dengan gadis itu.
Evelyn tahu jika dia sedang di perhatikan oleh Vander. "Apakah matamu itu tidak bosan sejak tadi terus memandangiku?" seru Evelyn pada pria yang ada di depannya.
Vander terkekeh. "Tentu saja tidak, aku tidak akan bosan memandangimu," jawab Vander.
"Cih, menyebalkan sekali," seru Evelyn.
Tak lama kemudian, makanan yang di pesan tiba. Mata Evelyn sangat antusias sekali. Dia sangat suka dengan menu yang dipilihnya.
"Hei, apa urusanmu mencari kakakku? Apa ada hal penting yang kalian lakukan?" tanya Evelyn penasaran.
__ADS_1
Vander menghentikan kunyahannya. Dia sudah menduga kalau Evelyn akan menanyakan hal itu.
"Ada masalah bisnis yang harus aku bicarakan dengan kakakmu," jawab Vander.
Evelyn menarik napas dalam, tentu saja mereka tidak akan memberitahukan masalah itu padanya. "Baiklah aku tidak akan menanyakan lagi. Percuma saja aku bertanyapada kalian," seru Evelyn.
Tidak mau pujaan hatinya kecewa, Vander langsung mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, siapa gadis yang ada di apartemenmu tadi?" tanya Vander.
Evelyn menjawab, "Dia mahasiswa kakakku, tapi sepertinya hubungan mereka itu tidak biasa. Aku tahu kak Excel itu bagaimana orangnya. Dia tidak gampang dekat dengan eorang gadis."
"Tentu saja kakakmu itu sama sepertiku, sangat pemilih untuk seorang gadis," sahut Vander memuji dirinya sendiri.
Evelyn hanya tersenyum menanggapi keopercayaan diri Vander. Setelah itu mereka melanjutkan lagi makan malam tersebut.
Di tempat lain.
Excel sudah sampai di apartemennya. Dia turun dan keluar dari mobil, kemudian naik ke atas. Sesampainya di atas, Excel masuk ke dalam dan melihat Alexa sedang duduk sendiri di meja makan.
"Alexa apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Excel semnbari meletakkan tasnya di sofa.
Alexa berdiri dari tempatnya. Dia datang menghampiri Excel yang berdiri di ruang tamu.
"Aku ingin makan tapi menunggu kamu pulang, karena Evelyn sedang makan malam bersama temannya," jawab Alexa.
Excel tersenyum tipis lalu berjalan menuju ke meja makan. "Baiklah kalau begitu makanlah bersamaku," jawab Excel. Dia duduk di meja makan bersama dengan Alexa.
Alexa tersenyum senang karena Excel ramah kepadanya. Jarang sekali dia bersikap seperti itu.
"Ada apa, tumben sekali kamu masak sebanyak ini?" tanya Excel heran.
Alexa menjawab, "Besok aku ingin pulang ke rumah, sudah lama aku tidak melihat ibuku. Jadi aku masak spesial hari ini untuk kalian. Tapi, tiba-tiba ada yang mengajak makan malam Evelyn."
"Apa kepulangnmu akan lama?" tanya Excel pelan.
Alexa tersenyum dan menjawab,"Tergantung bagaimana keaadan ibuku? Sepertinya dia sedang sakit."
Excel mengangguk dan menyetujui rencana Alexa pulang ke rumah. "Oke, kamu harus hati-hati ya. Kalau butuh apapun itu segera hubungi aku. Sebisa mungkin aku akan membantumu," ucap Excel.
"Terima kasih sudah banyak membantuku. Aku sangat bersyukur sekali bisa mengenalmu," sahut Alexa.
__ADS_1
"Sama-sama, bolehkah aku minta alamat rumahmu? Siapa tahu nanti aku memiliki waktu luang untuk mengunjungimu," ucap Excel penuh harap.
Alexa mengangguk dan berkata, "Nanti akan aku kirim lewat chat, kita selesaikan makan malam ini dulu."