PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 7


__ADS_3

Evelyn melajukan mobil sport itu sejauh-jauhnya. Dia mengemudi dengan menahan sakit di bagian perut. Sepanjang perjalanan, Evelyn terus diam hingga membuat pria yang ada di sebelahnya itu protes.


"Hei, kamu mau mengemudi sampai mana?" seru Vanderick pada Evelyn.


Vander memperhatikan raut wajah Evelyn yang semakin pucat. Lalu pandangannya mengarah ke arah perut dan ada darah yang mengalir dari dalam baju Evelyn.


"Kamu juga terluka? Perutmu berdarah. Stop! Berhentilah, jangan memaksa lagi," seru Vander dengan panik.


Evelyn langsung mengurangi kecepatan mobil itu dan berhenti di pinggir jalan. Wajahnya tampak lemas, karena darah yang keluar ternyata sangat banyak. Vander membantu Evelyn melepaskan seatbelt. Setelah itu dia membuka jaket yang dikenakan oleh Evelyn.


"Kamu jangan macam-macam," sentak Evelyn.


"Ck, bodoh! Perutmu terluka dan aku harus membalutnya agar kamu tidak kehilangan banyak darah," sahut Vander dengan tetap membuka jaket Evelyn. Pria itu tidak menghiraukan penolakan gadis itu.


Evelyn melawan Vander yang tetap memaksanya. Lalu dia mencoba untuk keluar dan turun dari mobil. "Biarkan aku pergi, kamu tidak perlu membalut lukaku," ucap Evelyn menjauh dari mobil.


Vander merasa geram, dia berjalan dengan membawa tas Evelyn. Pria itu berjalan mengikuti Evelyn yang sedang berdiri sempoyongan. "Hei tunggu, apa kamu tidak menginginkan tas ini?"


Evelyn diam, matanya berkunang-kunang dan semakin kabur. Setelah itu dia pingsan dan kehilangan kesadaran. Vander terkejut dan langsung menghampiri Evelyn.


"Shiit, keras kepala sekali dia. Handphone, aku harus mencari handphonenya. Aku harus segera mencari bantuan." Vander mencari handphone di dalam ransel Evelyn. Setelah dapat, dia menggunakan jari Evelyn untuk membuka sandi handphone.


Vander mengetik nomor lalu menghubungi anak buahnya. Setelah itu dia membalut luka Evelyn dan segera pergi dari tempat itu. Vander menggendong Evelyn, meski tangannya juga terluka. Tak lama kemudian, ada sebuah mobil berhenti. Vander pun langsung masuk ke dalam mobil itu. Mobil itu langsung pergi meninggalkan tempat itu. Vander membawa Evelyn ke markasnya.


Vanderick Aerosmith adalah pria berkebangsaan Amerika. Dia tinggal di kota San Fransisco. Tujuannya di Afrika Selatan adalah menjalankan misi dari sang Kakak yang berprofesi sebagai seorang ketua mafia.


Tugas berbahaya seperti ini sudah sering dia jalani. Namun hari, ini dia sangat sial. Vander terdesak musuh ketika sedang bertransaksi dengan salah satu pelanggan. Dia dijebak dan masuk dalam perangkap. Jadi Vander sangat beruntung bisa bertemu dengan Evelyn kali ini.


"Siapa gadis itu Tuan?" tanya salah satu anak buah Vander.


"Dia adalah malaikat penolongku. Cepatlah dia sedang terluka." Vander memerintahkan anak buahnya.


Beberapa menit kemudian, Vander sampai di sebuah rumah yang terletak di pedalaman hutan. Dia berjalan menyusuri jalan setapak dengan menggendong Evelyn yang masih pingsan.


Setelah sampai, Vander masuk ke dalam dan disambut oleh para anak buahnya. Mereka semua masih dalam mengerjakan misi, karena Vander membagi kelompoknya menjadi dua bagian.

__ADS_1


"Ambilkan aku kotak obat dan juga jarum jahit. Aku akan menolong gadis ini," ucap Vander masuk ke dalam sebuah kamar.


Vander mempunyai keahlian dalam bidang medis, jadi untuk luka sayatan dia bisa mengatasinya. Vander meletakkan tubuh Evelyn di atas ranjang. Setelah itu, anak buahnya masuk ke dalam dengan membawa barang yang dibutuhkannya.


"Kalian keluar, jangan masuk jika aku belum keluar." Vander mulai bersiap untuk mengobati luka Evelyn.


Setelah anak buahnya keluar, Vander membuka kaos Evelyn yang penuh dengan noda darah. Sayatan yang cukup panjang dan dalam. Vander menyuntikkan cairan bius agar Evelyn tidak merasakan sakit ketika kulitnya dijahit nanti.


Vander membersihkan permukaan perut Evelyn dengan cairan khusus. Setelah bersih, dia mulai menjahit bagian yang terluka itu dengan sangat hati-hati. Setengah jam kemudian, jahitan itu pun selesai. Vander berdiri dan menutupi tubuh Evelyn dengan selimut.


"Beristirahat lah My Angel, terima kasih untuk keberanian mu malam ini. Aku sangat terkesan sekali," ucap Vander pada Evelyn yang masih pingsan.


Setelah itu dia keluar kamar dan membereskan semua peralatan medis yang dia gunakan. Vander membiarkan Evelyn beristirahat.


Di Tempat Lain.


Alexa siap berkemas dan pulang ke rumah. Pekerjaannya hari ini cukup baik dan menyenangkan untuknya. "Akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan sampingan ini. Bayarannya juga lumayan, bisa aku kirim untuk Mom juga. Aku ingin sekali cepat lulus agar bisa memberi pengobatan pada Mommy."


Alexa masih memiliki seorang ibu. Dia tinggal sendiri di pedalaman kota Nevada. Keadaan yang miskin harus membuat Alexa membanting tulang agar kebutuhannya tercukupi. Selama ini dia menumpangkan seluruh ke hidupnya pada sang ibu. Kini giliran dia yang akan membalas semua jasa itu.


Sejak kejadian di club malam itu, Alexa mulai menaruh perhatian kepada Excel. Tidak bisa dipungkiri kalau Alexa memang terpesona dengan dosen tampan itu. Alexa mempercepat langkahnya agar cepat sampai di rumah. Badannya sudah lelah sekali harus membagi waktu kuliah dan bekerja.


Keesokan harinya.


Excel sedang geram sekali karena nomor Evelyn tidak bisa dihubungi. Dia tiba-tiba saja merasa khawatir terhadap adiknya itu. Perasaan itu sama seperti kejadian di masa kecilnya dulu. Dimana Evelyn dalam bahaya.


"Evelyn kamu dimana? Kenapa nomor handphone mu tidak aktif?" ucap Excel sangat khawatir.


Satu-satunya cara adalah dengan menghubungi ayahnya. Namun, Excel masih terlalu gengsi dan lebih menahan diri. Akhirnya, Excel mengurungkan niatnya untuk menghubungi sang adik. Dia memilih bersiap untuk ke kantor karena hari ini dia libur mengajar.


Hari ini dia ada pertemuan dengan asisten Lucas Group Internasional. Dia ingin mengkonfirmasi tentang rencananya mengakuisisi perusahan yang dikelola oleh Renata. Excel sudah berpakaian rapi, kini dia bersiap untuk berangkat ke kantor.


Excel mengemudikan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan di area Time Square. Kliennya menentukan tempat disana karena mereka suka dengan tempat yang bersifat umum. Hal ini tentu bertentangan dengan sifat Excel yang tertutup, karena dia tidak suka keramaian.


Sekitar 20 menit, Excel sampai di Time Square area. Dia langsung menuju ke sebuah restoran ala Korea di tempat itu. Ternyata asisten dari Lucas Group sudah menunggu di sana.

__ADS_1


"Selamat siang, Prof. Eldric!" ucap asisten itu.


Excel berjabat tangan dan menjawab, "Selamat siang, Tuan Andrew. Maaf apa saya terlambat?"


"Oh tidak, saya yang datang terlalu awal. Kalau begitu kita mulai pembahasannya sekarang, Prof."


Setelah itu Excel langsung membahas rencananya. Begitu banyak yang harus dia lakukan agar semua niatnya itu tercapai. Bahkan ada rencana sadis yang terselip di dalamnya. Meski begitu, tak membuat Excel mundur. Dia tetap maju agar dendamnya bisa terbayar dengan melihat kehancuran orang yang sangat dibencinya itu.


"Kapan saya bisa berkunjung ke San Fransisco, Tuan. Saya sangat penasaran dengan pemilik Lucas Group sesungguhnya. Saya mengira CEO yang kemarin itu adalah pemilik perusahaan, ternyata dia hanya tangan kedua," ucap Excel pada asisten itu.


Asisten itu pun tersenyum. "Tuan kami sangat pemilih untuk bertemu dengan seseorang, Prof. Tapi, Tuan kami sangat menyukai and. Kalau tidak saya tidak akan sampai dihadapan anda sekarang," balas si asisten.


"Iya-iya saya paham dan mengerti. Kalau begitu sampaikan rasa terima kasih saya pada Tuan anda." Excel berdiri dan menjabat lagi tangan kliennya.


"Baik nanti akan saya sampaikan pada Tuan saya. Saya permisi dulu, Prof. Terima kasih atas waktunya."


Setelah berjabat tangan, asisten itu pergi meninggalkan Excel. Tak lama kemudian, Excel ikut pergi dari restoran itu. Dia berjalan, menuju ke lift. Namun, dari kejauhan dia melihat orang yang dia kenal.


Excel melihat Alexa sedang dikejar oleh beberapa pria berbadan besar. Gadis itu berlari ketakutan dan terlihat sangat panik.


"Hei berhenti kamu," teriak salah satu pria yang sedang berlari mengejar Alexa.


"Oh, tidak. Jangan sampai aku tertangkap. Aku ... aku harus bersembunyi dimana?" gumam Alexa pelan.


Alexa terus berlari, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang dan bersembunyi dibalik tembok. Alexa panik dan ingin berteriak. Namun mulutnya langsung dibungkam oleh pria yang menarik tangannya.


"Ssst, diam atau mereka menemukan mu," ucap pria itu. Dia menutup mulut Alexa dengan tangannya.


Mata Alexa terkejut karena yang menolongnya adalah Excel. Orang-orang yang mengejar Alexa pun kebingungan karena tak menemukan gadis yang mereka kejar.


Excel langsung menarik tangan Alexa untuk pergi dari tempat persembunyiannya. Dia mengajak Alexa kabur dari tempat itu. Namun, keberuntungan tak memihaknya. Orang-orang tersebut berpencar dan mengetahui keberadaan Excel juga Alexa.


Excel pun panik dan langsung menghentikan langkahnya. Dia memepet tubuh Alexa ke tembok. Lalu, Excel mengangkat dagu Alexa dan dengan cepat dia mencium bibir Alexa itu dengan lembut.


Alexa terkejut dan membulatkan matanya. Namun, dia melihat ada orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Alexa langsung menutup matanya dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Excel sehingga ciuman itu terlihat sangat int!m.

__ADS_1


Orang itu lewat dan tidak mengetahui bahwa gadis itu adalah orang yang mereka cari. Setelah penjahat itu lewat, Alexa melepaskan tautan bibirnya dengan Excel. Dia merasa sangat canggung dan malu. Begitu pula dengan Excel, baginya itu adalah ciuman pertamanya bersama seorang gadis.


__ADS_2