PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR

PRIA DINGIN Vs GADIS BAR-BAR
PD vs GB 18


__ADS_3

Sekitar jam 02.00 dini hari, Evelyn bangun dari pingsannya. Dia memegang tangannya yang sakit. "Ssshh, aduh tanganku," desis Evelyn pelan.


Evelyn mencoba untuk bangun. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak bisa melihat apapun. Dalam hutan itu sangatlah gelap sekali. "Vander dimana dia?" gumam Evelyn pelan.


Setelah itu, Evelyn mencoba untuk berdiri. Dia menggunakan sinar bulan untuk mencari Vander. "Oh, Shitt! Sakit sekali kakiku," ucap Evelyn.


Evelyn mengingat tempat di mana dia melompat. Lalu samar-samar dia melihat Vander yang sedang tergeletak di tanah. Evelyn pun menghampirinya, dia berjalan tertatih-tatih untuk sampai di tempat Vander.


"Vander, bangun!" Evelyn mencoba untuk membangunkan Vander. "Darah ...!" ucap Evelyn sangat terkejut.


Vander terluka sangat parah sekali. Bagian kepalanya bocor dan darah mengalir banyak sekali. Evelyn menyobek dressnya untuk membalut kepala Vander.


"Bertahanlah, pria bodoh! Jangan mati saat bersamaku," seru Evelyn, dia sangat ketakutan sekali.


Evelyn sudah membalut kepala Vander yang terluka. Setelah itu dia duduk bersandar di batu besar itu. Tubuhnya terasa sakit dan sangat lemas sekali. Evelyn juga mengangkat kepala Vander di atas pangkuannya.


"Bertahanlah, jika matahari sudah terbit aku akan membawamu keluar dari sini," ucap Evelyn, dia mencoba untuk memejamkan matanya.


Di Tempat Lain.


Tengah malam Excel masih berada di ruang penelitiannya. Tiba-tiba perasaannya sangat tidak enak sekali. Lalu pikiran yang mengarah ke Evelyn.


"Perasaan apa ini? Kenapa dadaku terasa sesak sekali?" ucap Excel pelan.


Akhirnya Excel memutuskan untuk mengakhiri penelitiannya. Dia ingin pulang untuk beristirahat. Excel merapikan meja kerjanya. Setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut menuju ke parkiran mobil.

__ADS_1


Sesampainya di parkiran, Excel langsung masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, Excel pulang ke apartemen. Di dalam mobil Excel masih sangat cemas sekali. Lalu, dia mengambil handphone untuk menghubungi Evelyn. Akan tetapi, panggilan itu tidak terjawab bahkan nomornya pun tidak aktif.


"Di mana anak itu? Sangat suka membuatku cemas," gumam Excel.


Excel meletakkan handphonenya di dashboard mobil. Beberapa menit kemudian handphonenya kembali berdering. Panggilan itu dari asisten Lucas Group. Excel segera mengangkat panggilan itu.


"Selamat malam, Tuan? Ada apa, sampai malam begini anda menelepon saya?" tanya Excel.


Di seberang sana asisten Lukas Group menginformasikan kalau Evelyn hilang. Tentu saja kabar itu membuat Excel terkejut. Dia pun mengerem mobilnya secara mendadak.


"Apa? Lalu bagaimana kabar terkininya? Apakah sudah ada info dalam pencarian?" tanya Excel dengan sangat panik.


Asisten itu menjawab belum ada kabar terkini dalam pencarian. Lalu asisten Lucas Group meminta Excel untuk datang ke San Francisco.


Setelah itu panggilan pun berakhir. Excel memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tangannya menggeram kuat di setir mobil.


"Evelyn, apakah ini tujuanmu pergi ke Afrika? Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan dirimu. Cukup sekali aku kehilangan, dan aku tidak ingin lagi ditinggalkan oleh orang yang paling kusayang," gumam Excel dalam hati.


Excel sangat peduli dengan Evelyn. Meski jarang bertemu tak membuat rasa sayangnya itu hilang. Dia sudah berjanji akan selalu melindungi adik tercintanya itu.


Beberapa saat kemudian, Excel sampai di apartemennya. Dia keluar dari mobil dan segera naik ke atas. Sesampainya di atas, Excel langsung masuk ke dalam apartemennya. Ruangan tampak gelap sekali, Excel menghidupkan lampu di bagian ruang tamu. Lalu dia mendapati Alexa sedang tertidur di sofa.


Excel menghampiri Alexa dan membangunkannya. "Alexa bangun, kamu pindah di kamar, jangan tidur di sini!"


Alexa terbangun dan mengerjapkan matanya. "Kak El sudah pulang? Maaf aku ketiduran di sini. Kak El, apa sedang ada masalah? Kenapa terlihat sangat cemas sekali?" tanya Alexa dengan suara khas bangun tidur.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Oh ya besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke San Francisco. Jadi kamu harus jaga rumah, jangan membiarkan orang masuk. Kalau ada orang yang datang, jangan bukakan pintu. Mengerti!" ucap Excel, raut wajahnya sangat serius sekali.


"Kalau begitu kembalilah di kamar. Jangan tidur di sini nanti kamu bisa masuk angin," sambungnya.


Setelah berpesan pada Alexa, Excel pun masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu tambah bingung dengan sikap Excel. Timbul beberapa pertanyaan dalam pikirannya. "Aku yakin pasti Prof. Eldric ada sebuah masalah yang tidak boleh diketahui. Wajahnya tampak cemas sekali," gumam Alexa, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya sesuai perintah Excel.


Sesampainya di dalam kamar, Excel segera menyiapkan tas untuk perjalanannya ke San Fransisco besok. Dia membawa barang-barang yang menurutnya sangat penting. Setelah itu Excel bergegas mandi dan bersiap untuk tidur. "Evelyn Semoga kamu tidak apa-apa. Setelah menemukanmu, aku berjanji tidak akan membiarkanmu pergi sendirian lagi apapun alasannya," gumam Excel dalam hati.


15 menit kemudian Excel keluar dari kamar mandi. Setelah mengeringkan rambut, dia menuju ke ranjang dan bersiap tidur. Excel mengambil handphonenya. Dia melihat tiga panggilan tak terjawab dari sang ayah.


"Daddy, ada apa dia meneleponku? Apa karena Evelyn?" batin Excel. Setelah itu dia memberanikan diri untuk menghubungi sang ayah.


Setelah panggilan tersambung Excel pun mengobrol dengan ayahnya. "Halo, ada apa?" tanya Excel pada sang ayah.


[Excel, apa kamu sudah tahu kabar Evelyn? Dia kabur dari rumah tanpa meminta izin dulu dari Daddy. Tadi malam Daddy melihat siaran langsung di televisi. Ada acara pelelangan di sebuah pesta. Daddy melihat kekacauan di sana, dan yang lebih mencengangkan lagi, Daddy melihat Evelyn berada di sana dengan seorang pria. Daddy sudah berusaha menghubungi Evelyn berkali-kali akan tetapi handphonenya tidak aktif. Jadi minta tolong sama kamu untuk mencarinya. Kali ini saja kamu bantu, Daddy.] ucap sang ayah dari Italia.


Excel terdiam dan belum menjawab. Matanya tampak berkaca-kaca, karena sekilas dia mengingat tentang masa lalunya yang kelam. Excel belum terlepas dari bayang-bayang masa lalu.


"Aku sudah tahu kabar tentang Evelyn. Besok aku akan mencarinya, jadi janganlah khawatir! aku pasti akan menemukannya," ucap Excel datar.


[Terima kasih. Jika sudah mendapatkan informasi, tolong secepatnya kabarkan pada Daddy.]


"Baiklah," jawab Excel singkat. Setelah percakapan selesai, Excel menutup panggilan teleponnya.


Sejak bertahun-tahun, baru kali ini Excel mengangkat telepon dari sang ayah. Sebelumnya, Excel tidak pernah melakukan hal itu. Dia meletakkan handphonenya di atas meja kemudian bergegas untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2