
Evelyn membuang handphonenya ke sembarang arah. Setelah itu dia keluar kamar untuk menemui Alexa. Evelyn berlari menuruni tangga sembari berteriak,"Alexa , Alexa, kamu dimana?"
Alexa muncul dari dalam dapur. "Ya, aku di sini," jawab Alexa.
Evelyn langsung duduk di ruang tamu, lalu diikuti oleh Alexa. "Sini duduk di sampingku," ucap Evelyn.
Alexa duduk dan melihat wajah serius Evelyn.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Evelyn. "Begini, apa yang kamu tahu tentang Kakakku? Soalnya ada yang berubah darinya, dan akuntidak tahu apa penyebabnya," sambungnya.
Alexa terdiam, dia bingung harus menjawab apa. "Maaf, tapi aku juga tidak begitu mengenalnya. Kak El dan aku hanya sebatas mahasiswa dan dosen saja. Untuk masalah pribadinya aku tidak tahu, karena aku sendiri membatasi diriku," jawab Alexa.
Evelyn ikut terdiam dia mencerna sebentar jawaban Alexa. "Sepertinya aku tidak bisa mendapatkan informasi dari Alexa. Baiklah aku akan menanyakan langsung nanti malam pada Kakak yang menyebalkan itu," gumam Evelyn dalam hati.
"Oke tidak apa-apa, nanti aku akan tanya sendiri padanya. Sekarang kamu cepat ganti baju. Aku ingin jalan-jalan hari ini. Temani aku ya," seru Evelyn. Dia ingin menikmati harinya di New York.
Alexa mengangguk. "Baiklah," jawabnya. Setelah itu dia pergi menuju ke kamar.
Lima belas menit kemudian, Alexa dan Evelyn telah siap untuk pergi bersama. Mereka keluar dari apartemen untuk menuju ke pusat perbelanjaan time square. Evelyn harus naik kendaraan umum karena tidak ada mobil.
"Apa kamu mempunyai teman di sini?" tanya Evelyn pada Alexa.
Alexa menggeleng. "Aku tidak mempunyai teman, karena hidupku sangat miskin jadi jarang sekali ada orang yang mau berteman denganku," jawab Alexa.
"Kamu tahu, aku paling membenci orang-orang yang seperti itu. Kenapa mereka suka membedakan status sosial?" sahutnya. "Tapi tenang saja, aku bukan orang yang seperti itu," sambung Evelyn.
"Ya, aku tahu! Kalian adalah orang baik," seru Alexa dengan semangat.
Evelyn terus menggandeng tangan Alexa, dia sedang mencari sebuah taksi.
Setelah dapat mereka pun langsung naik dan menuju ke Time Square.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sampai juga di pusat perbelanjaan itu. Evelyn terus menggandeng tangan Alexa untuk masuk ke dalam.
"Hari ini aku akan mengajakmu shoping. Kamu pilihlah baju, sepatu, atau apapun yang kamu sukai. Aku yang akan bayar," ucap Evelyn sembari menunjukkan black card miliknya.
Alexa diam dia merasa tidak enak kepada Evelyn yang terlalu bar-bar itu. Dia hanya mengikuti langkah kemana Evelyn pergi.
"Kita masuk ke sana dulu, aku ingin membeli baju. Kamu juga pilih ya, minimal dua atau tiga boleh lah. Kalau kamu menolak, itu artinya kamu tidak ingin berteman denganku," seru Evelyn dengan santainya.
Tentu saja itu membuat Alexa semakin bingung. Mau tidak mau dia harus menuruti perkataan Evelyn. Mereka masuk ke dalam salah satu store pakaian branded di sana.
Evelyn berkeliling melihat-lihat semua baju yang ada di sana. Setelah itu dia memilih beberapa stel yang disukainya. "Alexa kamu cepat pilih, setelah ini kita makan siang," seru Evelyn kepada Alexa.
Mau tidak mau, Alexa langsung memilih 3 stek baju. Dia membawa baju itu ke kasir. Pada saat yang sama, Evelyn juga selesai memilih. Dia pergi ke kasir dan membayar semuanya.
Selesai membayar, Evelyn menarik tangan Alexa lagi. Mereka keluar dan langsung mencari restoran. "Enaknya makan apa ya? Kamu tahu makanan paling enak di sini?" tanya Evelyn.
Alexa berpikir sejenak. "Ada satu restoran yang menurutku sangat enak. Aku dan Kak El pernah ke sana," jawab Alexa.
Mereka berdua langsung menuju ke restoran tersebut. Sesampainya di sana Evelyn langsung memesan menu favorit. Sembari menunggu, Evelyn mengaktifkan handphone. Banyak sekali pesan yang masuk dari Vander.
Evelyn membiarkan semua pesan itu tanpa membukanya sedikit pun. "Akan aku buat kamu depresi, Vander. Aku yakin kamu akan semakin gila jika aku melakukan ini," gumam Evelyn dalam hati.
Evelyn senyum-senyum sendiri, lalu senyuman itu menghilang saat melihat kakaknya masuk dalam restoran tersebut. "Astaga, gawat Kakakku ada di sini. Alexa kita pindah tempat duduk saja," bisik Evelyn.
Alexa langsung berdiri untuk pindah tempat, tetapi Evelyn langsung mencegahnya. "Stop, stop! Tunggu, lebih baik kita di sini saja. Aku ingin tahu tentang percakapan mereka," ucap Evelyn, dia kembali duduk di kursinya.
Di kursi lain.
Excel sedang bersama dengan Renata. Gadis itu selalu menempel dan membuat Excel kesal. "Eldric, kenapa kamu membawaku ke tempat yang seperti ini? Tempatnya tidak nyaman sekali," rengek Renata.
Evelyn yang mendengar itu langsung mengikuti gaya bicara Renata, sehingga membuat Alexa tertawa.
__ADS_1
Excel menjawab ucapan Renata. "Aku ajak kamu ke sini karena makanan di sini enak, Sayang!"
Evelyn melotot mendengar itu, hingga dia merasa mual dan ingin muntah karena sikap manis kakaknya.
"Sial aku tidak percaya jika Kak Excel bisa bersikap seperti itu pada seorang wanita," gumam Evelyn, ingin rasanya dia tertawa.
Tak lama kemudian makanan yang dipesan Evelyn pun tiba. Setelah itu, dia makan sembari mendengarkan pembicaraan sang kakak.
Excel mengobrol dengan serius untuk menghibur Renata. "Ayo ceritakan semuanya padaku! Bagaimana aku harus bersikap jika aku datang ke rumahmu?" tanya Excel.
"Kamu hanya perlu bersikap sopan saja di depan Daddy. Nanti biar aku yang menjelaskan semuanya, agar Daddy kembali percaya padamu," jawab Renata.
"Baiklah, besok aku akan datang ke rumahmu. Aku ingin mengakhiri salah paham ini," sahut Excel dia sangat serius sekali.
Renata terus menggenggam tangan Excel, hingga membuat Alexa sedikit cemburu. Dari kejauhan dia juga ikut mengamati gerak-gerik Excel. Renata berdiri dan dengan cepat mencium bibir Excel.
Alexa terkejut dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Evelyn bertanya-tanya. Dia bermain mata dengan Alexa untuk menanyakan apa yang terjadi.
Alexa hanya menggeleng dan meminta Evelyn untuk melihat sendiri. Evelyn langsung menoleh, dia melihat Excel dan Renata sedang berciuman bibir.
Evelyn langsung berbalik dan meminum gelas yang ada di depannya. Dadanya sesak melihat sikap romantis Excel.
"Kakak, kenapa kamu berhubungan dengan nenek sihir itu. Awas saja kalau kamu pulang nanti. Aku akan menghajarmu." Evelyn mengambil garpu dan langsung menghujamkannya di atas piring dengan penuh kekesalan.
Renata mengakhiri ciuman itu. Lalu dia kembali duduk. "Aku merindukanmu, Eldric. Aku menginginkanmu malam ini," ucap Renata dengan penuh harap.
Excel tersenyum. "Baiklah malam ini aku akan membantumu melepaskan rindu itu. Kita akan bertemu di tempat biasa."
"Iya, Baby. I love you," sahut Renata.
Hal itu semakin membuat Evelyn kesal. Dia baru tahu dengan sikap kakaknya yang sudah terlampu jauh. "Aku tidak akan membiarkan mereka bersama. Kakak tunggu aksiku," ucap Evelyn dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu mereka semua makan siang dalam obrolan masing-masing.